Ajakan Menikah

1511 Kata
"Hey Cesi, sepertinya kamu terlalu bersemangat bertemu denganku sampai lupa mepakai celana?" Alex menyapa Ceicil dengan nada menggoda dan senyuman penuh pesona. Masih dengan panggilan sama yang dulu diberikan kepadanya, Cesi. "Oh crap!" Ceicil mengumpat frustasi saat melihat bagian bawah tubuhnya sendiri. Buru-buru dia menarik turun t-shirt yang dia kenakan agar bisa lebih banyak menutupi kedua paha mulusnya yang terbuka. Ceicil menyesali kebodohannya yang berpakaian sekennya tadi. Jauh sekali dari image yang biasa dia tampilkan dalam keseharian sebagai wanita sempurna dan elegan di setiap kesempatan. Sementara Alex yang berdiri di hadapannya malah mengenakan setelan mansuite yang rapi. 'Astagaaaaa! Kenapa Alex harus melihatku dengan penampilan tidak layak seperti ini?' "Sedang apa kamu di sini?" Ceicillia bertanya setelah dapat mengatasi kecanggungan. "Apa aku tidak boleh mengunjungi teman lamaku?" Masih dengan senyuman terkembang di bibir, Alex menjawab. "Tentu boleh." Sesuai norma kesopanan, Ceicil tidak dapat menolak. Akan tetapi dirinya masih merasa curiga dengan kedatangan Alex tanpa adanya pertanda angin dan hujan ini. Ceicillia pun mengamati dengan seksama pria yang berdiri di hadapannya itu. Alexander Goldman terlihat lebih matang dan dewasa dengan tatapan mata yang tajam. Setelah cukup lama tidak bertemu, Ceicillia tidak mengira bahwa Alex kini terlihat lebih tampan daripada yang pernah diingatnya dulu. "Apa kamu tidak akan mempersilahkan aku masuk?" tanya Alex membuyarkan lamunan Ceicillia. "Ah, iya silahkan masuk ..." Ceicil mempersilahkan Alex masuk. Pria itu pun mengikuti langkahnya sampai ke ruang tamu. "Silahkan duduk, lalu ijinkan aku permisi untuk berganti pakaian sebentar." "Tentu saja, tapi sebenarnya kamu tidak perlu repot berganti baju pun tidak masalah. Aku sama sekali tidak keberatan." Alex menjawab santai sambil mengambil duduk di salah satu sofa. "Enak saja. Aku yang keberatan!" Ceicil memutar bola matanya sambil berkacak pinggang. Dan Alex pun tergelak saat gadis itu berjalan cepat ke arah salah satu kamar. Kali ini Ceicillia tak mau asal memilih baju lagi, dia sengaja mengambil jumpsuit berbahan sutra yang melekat pas di tubuh. Pakaian casual namun juga elegan dan memancarkan aura kecantikan yang dinamis. Ceicillia kembali ke ruang tamu di mana Alex menanti dengan sabar. Saat menyadari langkah kaki wanita yang dinantinya, Alex menaikkan pandangan mata. Kemudian tersenyum puas, seolah penantiannya terbayar seketika demi melihat penampilan cantik Ceicillia. "Meskipun aku suka dengan gayamu yang tanpa celana, tapi harus kuakui jika kamu terlihat sangat menawan kali ini." Alex memberikan pujiannya. "Memang biasanya aku tidak menawan?" "Biasanya kamu terlihat terlalu formal dengan setelan kerja. This is a nice change." "Sekarang kan bukan lagi di kantor. Aku juga bisa berpakaian santai saat di rumah." Ceicil menjawab sambil tertawa ringan karena menganggap ucapan Alex lucu. 'Jadi kamu kira aku tidur dengan mengenakan work suit?' Gadis bertubuh langsing itu mengambil duduk di sofa yang berhadapan dengan Alex sebelum bertanya, "So? what brings you here?" Alex kembali tersenyum mendengar pertanyaan to the point dari Ceicillia. Dia tahu benar bahwa gadis itu adalah seorang bisnis woman sejati yang tidak suka berbasa-basi. Tak ingin membuang waktunya yang berharga sedetik pun. "Tidak bolehkan aku datang dan mengunjungi mantan kekasihku?" 'Kekasih? Jangan ingatkan aku dengan kejadian di masa lalu.' Ceicillia membatin, teringat akan hubungan mereka berdua waktu muda. Hubungan asmara Ceicillia dan Alex beberapa tahun yang lalu bisa dibilang sangat ideal. Mereka setara secara fisik, emosional bahkan finansial. Ceicillia berparas cantik, Alex pun memiliki wajah menawan. Keduanya sama-sama menempuh pendidikan yang setara bahkan berasal dari keluarga yang sepadan. Ceicillia adalah pewaris dari keluarga Tang yang memiliki perusahaan di Amerika, serta dari keluarga Ciputra yang merupakan grup raksasa di Indonesia. Sementara Alex berasal dari keluarga Goldman yang merupakan salah satu old money kota New York. Hubungan mereka mendapat dukungan dari kedua belah pihak keluarga, terutama ayah Ceicillia dan Alex yang merupakan kolega. Baik keluarga Tang maupun Goldman sangat bersemangat untuk menjodohkan Ceicil dan Alex, menyuruh mereka bertunangan bahkan menikah. Namun kedua anak muda yang dipasangkan sama sekali tidak ada niatan untuk menikah delapan tahun yang lalu. Keduanya sama-sama masih idealis dan ingin mengejar mimpi tanpa terikat suatu hubungan yang rumit. "Oh mantan kekasihku tersayang, aku benar-benar merindukanmu." Ceicil membalas dengan nada sarkas. "Apa kamu pernah merindukan saat-saat kita bersama, Cesi?" Alex lanjut bertanya tanpa mengindahkan sarkasme dari lawan bicaranya. Entah mengapa ada satu sisi di relung hati Ceicil yang terketuk karena pertanyaan itu. Tak dapat dipungkiri bahwa dirinya juga merindukan Alex dan saat-saat kebersamaa mereka. Saat mereka berdua masih naif dan tidak memikirkan apapun selain kuliah, cinta, kesenangan dan cara menikmati hidup. Sampai akhirnya masa studi mereka berakhir, dan harus kembali berhadapan dengan kerasnya dunia. Selama kuliah Ceicillia tinggal di Amerika bersama ayah dan kakaknya, tapi setelah lulus dia harus kembali ke Indonesia. Kemudian dia disibukkan dengan berbagai urusan bisnis, pekerjaan dan persiapan untuk menjadi memimpin perusahaan Ciputra. Sementara Alex juga disibukkan dengan urusannya sendiri di Amerika. Entah urusan pekerjaan atau asmara. Dengan mencari dan berpindah-pindah dari satu cinta ke cinta lainnya. Sehingga lama kelamaan baik Ceicil maupun Alex kehilangan kontak satu sama lainnya. "Merindukan saat kita bersama dan masih naif?" Ceicil tak ingin larut dalam masa lalu. "Membalikkan pertanyaan dengan pertanyaan lain. As expeced dari Ceicillia Tang yang cerdas." Alex berdecak mengagumi gadis cerdas dan rasional di hadapannya sebelum akhirnya mau mengakui tujuan kedatangannya. "Aku ingin mengajakmu berkencan." "No." "Why not?" Alex tidak terima dengan penolakan mentah-mentah dari Ceicillia. Dengan penampilan fisik dan kekuatan finansial sebagai anggota keluarga Goldman, dia dapat dengan mudah menggaet gadis manapun untuk menjadi kekasihnya dan mengajaknya berkencan. Namun kali ini dia gagal total dalam mengajak seorang Ceicillia Tang. Ceicillia menghela napas sebelum menjawab, "Yang pasti, aku tidak mengundangmu." "Aku mengundang diriku sendiri. Kita perlu bicara, ini masalah penting." Alex sepertinya mulai kehilangan kesabaran. Dia melipat kedua lengan di depan d**a sambil menunggu jawaban. 'Dasar sultan, selalu saja keras kepala dan mau seenaknya sendiri,' gerutu Ceicillia dalam hati. Dia sudah hafal dengan sifat Alex, yang tidak akan mau beranjak sebelum mendapatkan apa yang diinginkan olehnya. "Kamu sangat menyebalkan ... Baiklah aku beri waktu lima menit untukmu." "Galak sekali! Pantesan saja kamu masih single sampai sekarang." "Bukan urusanmu!" Hardik Ceicil dengan suaran naik satu oktav. Merasa Alex sudah melewati batas ke ranah privasi. "Unfortunatly, it is." Alex menjawab tanpa ekspresi. "How so?" "Karena aku ingin menikah denganmu." Kali ini Ceicillia terdiam dengan rahang ternganga, saking kagetnya mendengar ucapan Alex. Apalagi pria itu mengatakannya dengan mimik wajah yang sangat serius, sama sekali tidak terdengar sedang bercanda. 'Apakah dia serius? Bukannya dulu mereka berdua ingin membatalkan wacana pertunangan yang digagas oleh kedua pihak keluarga?' 'Alexander Goldman adalah pria modern yang sangat idealis. Dia tidak akan pernah setuju akan wacana perjodohan.' "What a nice prank." Masih berusaha tetap rasional, Ceicil menganggap bahwa Alex sedang bercanda dan melakukan prank kepadanya. "Aku sedang tidak bercanda, Cesi." Alex menjawab dengan nada berdesis rendah dan tatapan mata setajam silet, tanda bahwa dirinya sedang serius. "Get real Mr. Alexander Goldman, kita berdua sudah bukan remaja lagi seperti saat bersama dulu. Kita juga sudah memiliki dan menikmati dunia kita masing-masing saat ini. Jika dahulu kita sepakat untuk menolak perjodohan, lalu kenapa sekarang kamu tiba-tiba ingin menikah?" Rasanya segala tindakan Alex hari ini, terlebih ajakan menikah memang sungguh tidak masuk akal bagi Ceicillia. Sudah lebih dari tujuh tahun mereka berpisah dan tidak berhubungan sama sekali. Tidak ada pendekatan, kencan atau sekedar sapaan untuk bertanya kabar. Lalu bagaimana mungkin sekarang pria itu tiba-tiba mengajaknya menikah? Alex sudah membuka mulutnya hendak memberikan jawaban, saat bunyi lain yang lebih keras mengalahkan suaranya. Suara bel rumah. DING_DONG! "Siapa itu?" Alex bertanya kesal karena interupsi. "Mungkin makanannku, tadi aku memesan delivery order, Chinesee Food saat pulang kerja." Tanpa sepatah kata, Alex berjalan ke arah pintu. Dia membukannya, menerima makanan yang dipesan oleh Ceicillia dan membayarnya. Mungkin untuk sedikit memperbaiki mood yang mulai jelek saat ini. "Kalau begitu kita makan dulu saja. Di dapur ya?" Alex kembali dengan bungkusan makanan yang cukup banyak jumlahnya. Porsi jumbo yang sengaja Ceicil pesan untuk meredakan stress paska rapat dewan. Ceicillia menunjuk arah dapur dan mengikuti langkah Alex ke sana dengan goyah. Masih merasa syok dengan kenyataan bahwa Alex sepertinya sedang tidak bercanda saat ini. Selanjutnya dia mengambil duduk di kursi kitchen island, kemudian berkutat untuk membuka bungkus dan mempersiapkan makanan untuk mereka berdua. "I'm an i***t, Sorry. Aku tidak bermaksud membuatmu syok begini." Alex berkata dengan nada lebih halus. Dia mengamati Ceicil dan menjadi sedikit khawatir melihat mimik wajah gadis itu sedikit pucat. "How about some water?" Alex menawarkan. Ceicil hanya mengangguk pelan saat Alex menuangkan air mineral dalam jug ke sebuah gelas dan menyerahkan kepadanya. Kemudian pria itu duduk di hadapannya sambil terus memperhatikannya meneguk segelas air tadi. "Kamu tidak serius kan?" Ceicil langsung bertanya untuk mendapatkan kepastian. "Apa kamu sedang berusaha membuat gadis lain cemburu?" "No," jawaban singkat dari Alex. "Jangan bilang kalau ini Business Proposal." "Err ... Not really, No." "Lalu apa?" Ceicillia semakin penasaran menebak alasan Alex. "Jangan bilang kamu sedang sekarat? Kamu sakit parah dan akan segera mati?" "Astaga ... No, Cesi." Alex tertawa garing menanggapi tebakan-tebakan Cecicillia yang semakin dramatis. "Jangan khawatir, aku sehat kok. Sepertinya tidak akan mati dalam waktu dekat." Untuk sesaat Ceicillia menghela napas lega mengetahui bahwa Alex baik-baik saja. Kemudian dia kembali ke mode serius dan melanjutkan pertanyaan. "What's going on? For real now!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN