Zee sudah selesai memberikan Regan obat dan dia juga sudah mengompres dahi Regan agar panasnya turun. Ternyata, Regan juga demam karena hujan-hujanan kemarin. Sial, sekarang jangan ditanya perasaan Zee sekarang karena kini dia sangat merasa bersalah. Zee duduk di samping Regan yang sudah tertidur di sofanya dari tadi. Melihat wajah pria itu ketika tidak sadarkan diri apalagi saat dia sakit, membuat wajah menyebalkannya hilang entah kemana. Regan seperti anak kecil tidak berdosa sekarang. Zee menggelengkan kepalanya pelan karena berlebihan memikirkan Regan. Dia akan bangkit dari duduknya untuk mengganti pakaian, namun diurungkan ketika Regan menahan pergelangan tangannya. Zee tersentak. Dia menoleh pada Regan di mana pria itu masih memejamkan matanya. “....kamu mau...ke mana?” tanya Regan

