“Oke, untuk kamu ketahui saja, tempat ini adalah saksi bisu di mana aku mendeklarasikan perang dan menyumpah serapahi kamu saat kita pertama kali makan malam di sini,” ucap Zee seraya tertawa kecil. Sudah lebih dari tiga puluh menit yang lalu mereka ada di sini dan sekarang sedang menyantap makan malam mereka. Regan ikut tertawa karena ucapan Zee—terlebih, jarang sekali Zee ingin membuka pembicaraan terlebih dahulu dengannya. “Well, I’m not going to lie, saat itu aku mengatakan ingin kamu menjadi istri aku, tapi dalam hati juga aku kesal bukan main karena sikap kamu.” Zee melotot. Dengan sengaja dia mengambil salah satu sushi milik Regan dan memakannya tanpa dosa. “Lalu, kenapa kamu memaksa?” “Aku tidak tahu. Sama sekali tidak tahu,” balas Regan seraya mengendikkan kedua bahunya. Zee b

