Angin malam yang berhembus di malam itu tak membuat kedua orang yang sedang berjabat tangan tersebut melepaskan jabatan tangan mereka. Renjana dan Dinar masih saling menatap satu sama lainnya. Darah yang mengalir ke seluruh tubuh Dinar terasa hangat sehangat genggaman tangan sang pengacara itu. Telapak tangan lelaki di depannya seperti memiliki sengatan listrik. Mata keduanya juga saling menatap semakin dalam. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut mereka. Hanya sorot mata dan genggaman tangan mereka yang seolah mewakilkan perasaan masing-masing. Pancaran cahaya rembulan menerangi malam ini hingga wajah keduanya dapat terlihat dengan jelas. Wajah Dinar yang terlihat dengan senyum manisnya itu terpampang nyata di mata Renjana hingga tanpa sengaja laki-laki itu memuci kecantikan Dinar.

