Tak Seindah Angan

1118 Kata
Alin sibuk dengan teman-temannya, sesama model yang menjadi bintang iklan Beauty Skin. Berbincang dan saling bercanda, membuat dirinya sejenak melupakan peliknya perasaannya. "Lin, dicariin Pak Tirta. Gimana neh?" Nina berbisik di telinga gadis itu. "Astaga, gue masih mau main sama anak-anak. Mau ngapain lagi sih?" Alinka memasang wajah cemberut karena kesal. "Ya jangan kesel gitu, gak sekarang juga kok. Nanti malam ajak dinner sama gue. Lo mau kan?" "Terserah deh, kalau gue gak datang yang ada Mama juga mikirnya aneh-aneh. Susah banget jadi gue, Nin!" Wajah memelas Alinka membuat Nina iba. "Sabar yah, habis acara kita balik hotel dulu deh. Lo butuh istirahat sebelum ke Surabaya dan balik Jakarta," ucap Nina lagi. "Itu lebih baik kayaknya, terus, dinner dimana memangnya?" Alinka harus kembali berakting di depan orang-orang Tirta. “Belum tahu, Pak Tirta belum ngabarin lagi,” jawab Nina sambil mengecek ponselnya. “Ya udah yuk, udah pada banyak yang balik. Kita boleh balik hotel kan?” Alin melihat banyak teman-temannya yang sudah berpamitan kembali ke hotel. Sebagian dari mereka akan kembali ke Jakarta. Sedangkan Alin, ia dan Dimas masih harus menjalani syuting di Surabaya lagi. "Boleh, Lo tunggu disini. Gue pamitan ke panitia dulu, sekalian minta jadwal besok gimana," ucap Nina kepada Alinka. Gadis itu menunggu Nina dengan satu cup ice cream dalam genggamannya. Makanan penutup yang membuat Alin berbinar dan ia harap dapat memperbaiki mood nya yang sedang kurang baik. Memandangi para kru yang bertugas di ruangan tersebut. “Ada yang bisa dibantu, Kak?” Salah seorang kru bername tag Jaka bertanya kepada Alin karena melihatnya sendirian. “Gak ada Bang, lagi nunggu manager saya, tuh, lagi ngobrol sama Bu Siwi,” jawab Alin ramah kepada pria itu. “Oh oke, saya tinggal yah,” pamit pria itu kepada Alin. Ia hanya mengangguk sopan kepada pria itu. Nina yang sudah selesai berbicara dengan penanggung jawab acara tersebut, ia kembali menghampiri artisnya. Alinka Hermawan, gadis muda pendatang baru yang mencuri perhatian publik dengan kecantikan dan prestasinya. “Kita balik hotel. Lin. Jam tujuh malam ada sopir Pak Tirta yang jemput kita,” ucap Nina mengajaknya kembali ke ruangan khusus model untuk mengambil beberapa barang milik Alin sebelum kembali ke hotel. “Perasaan tadi gak bawa sebanyak ini, Nin?” Alin merasa sepertinya barangnya bertambah. “Tuh, satu koper itu titipan dari Pak Tirta buat Lo, jangan tanya dulu isinya, gue gak tahu,” jawab Nina terkekeh. “Dih, belum bicara apa-apa udah diduluin,” jawab Alinka manyun. Sedangkan Tirta, ia sedang sibuk menyambut beberapa kolega yang datang khusus untuk mengucapkan selamat kepadanya. Ia menjamu tamunya di hotel tempat ia menginap untuk kenyamanan bersama. “Jadi, resepsi di Jakarta saja?” tanya rekan Tirta kepadanya mengenai rencana pernikahannya dengan seorang janda. “Iya, Yola tidak mau resepsi di Bali. Alasannya yang konyol tapi masuk akal juga, ya sudah, asal dia nyaman dan bahagia saja,” jawab Tirta percaya diri. “Jarang sih, masih ada yang mikirin budget kalau sama Bapak satu ini,” sahut Reyhan menimpali ucapan rekannya. "Padahal kita bebasin, dia mau seperti apa. Tapi, begitulah, sepertinya Yola kurang suka yang begitu-begitu," jawab Tirta tergelak. Notifikasi pesan singkat masuk ke ponselnya, sejenak Tirta menjeda pembicaraan dengan teman-temannya. Mengulir layar ponsel berlogo apel itu, ia tersenyum kecil melihat nama Alinka. Gadis itu hanya mengucapkan terima kasih atas perhatiannya. Walaupun katakanlah Yola yang membeli perlengkapan itu, Alinka yakin, pasti menggunakan uang darinya. "Sama-sama, nanti malam jangan lupa. Saya harus jadi Papa yang baik untuk kamu agar Yola tenang," jawab Tirta kepada Alinka. Ia sendiri masih gamang, rasa seperti ini agak aneh dan sulit untuk dijelaskan. Terlebih, Bianca akhir-akhir ini sering berulah meminta ini dan itu kepadanya. Hatinya tidak karuan memikirkan perasaannya sendiri. Namun, yang jelas, cintanya pada Yola jelas dan tidak perlu diragukan. Karena tidak ada balasan lagi dari Alin, ia kembali berbincang dengan Reyhan. Rekan bisnisnya itu, sepertinya sedang bahagia. "Pasti ada sesuatu yang bikin seorang Reyhan senyam-senyum sendiri," tebakan Tirta memang benar adanya. Reyhan sedang mengagumi ciptaan Tuhan yang cantik dan mempesona. "Sudah jelas, sepertinya Tuhan sedang naik padaku, cewek tempo hari ketemu lagi. Sudah dapat nomornya dong," ucap Reyhan berbinar. "Aih, buruan. Nanti ketikung," sahut Tirta kepada sahabatnya itu. "Hahaha, perlu dicoba sih. Semoga saja cocok," jawab Reyhan terkekeh. Jamuan Tirta untuk teman-temannya berakhir sore hari, ia mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekannya yang memberikan support kepadanya. Cabang Beauty Skin Denpasar dibuka dengan acara yang spektakuler dan diliput oleh beberapa media nasional. Pemberitaan mengenai pembukaan klinik kecantikan Beauty Skin tersebut membuat Yola bangga, bagaimana tidak, sebagai calon istrinya, Tirta meminta ia untuk membantunya mengelola bisnis skincare dan klinik tersebut. “Udah nemuin yang pas, semoga tidak gagal lagi,” gumam Yola sambil menyaksikan tayangan berita di televisi ketika Tirta diwawancara oleh satu satu stasiun tv. Tak lupa, ia menghubungi Tirta untuk menanyakan rencana pertemuannya dengan Alinka malam ini. Di samping khawatir terhadap anaknya, ia secara tidak langsung dapat memantau kegiatan calon suaminya itu. “Hallo sayang, aku lagi siap-siap neh,” jawab Tirta ketika Yola melakukan sambungan video call dengannya. “Oh, sudah mau jalan? Alin sama Nina kan?” “Iya, sabar dulu yah. Nanti kalau sudah bertemu anaknya, kita sambung lagi yah,” tutup Tirta. Pria itu sedang memakai kemejanya di depan cermin sambil menerima sambungan video call dari calon istrinya. “Baiklah, hati-hati, Mas.” Yola mematikan ponselnya lega. Tirta sudah sampai di restoran tempat yang ia tunjuk untuk menjamu anak tirinya sekaligus model iklan utama Beauty Skin. Disambut oleh pemiliknya, Tirta mengucapkan terima kasih atas bantuan reservasi dadakan yang ia minta. “Semoga berkenan, agak buru-buru sih persiapannya. Gimana?” Rekan Tirta tersebut menunjukkan ruangan VIP yang dimintanya disetting dengan beberapa hiasan yang romantis. “Baguslah, lagian memang waktunya mepet, terima kasih, Bro!” Tirta terlihat puas dengan hasil dekor ruangan tersebut. Ia meminta Wawan menyelesaikan administrasi seperti biasa. “Bapak tidak ingin minum dulu kah?” tawar Wawan kepada atasannya. “Boleh, terima kasih, Wan,” jawab Tirta. Seorang wanita cantik memakai gaun berwarna hitam mencuri perhatiannya, tak disangka, Alin begitu cantik memakai gaun sederhana itu. “Astaga, ciptaan-Mu sungguh cantik,” gumam Tirta dalam hati. Ia segera menguasai diri agar tidak merusak suasana. “Makasih Om,” jawab Alin cuek. Ia duduk dengan anggun tepat di depan Tirta. “Ayo, pesan makan dulu. Kamu pasti lapar,” ucap Tirta meminta salah satu pelayan restoran untuk mendekat. “Makasih, Om. Ayo NIna, Pak Wawan, barengan yah,” ucap Alin berusaha mencairkan suasana agar tidak kaku. Kata-kata maaf dan sejumlah ucapan Tirta lainnya, sejatinya sudah ia susun dengan baik sebelumnya. Nyatanya, semuanya tidak semudah di angan-angan pria tersebut. Padahal, ia terbiasa menghandle banyak orang, berhadapan dengan Alin sepertinya seluruh kepandaiannya berkata-kata hilang ditelan bumi. “Astaga, bodoh!” Batin Tirta memaki dirinya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN