"Naz!"
Nanaz mendongak ketika seorang wanita berparas cantik bak boneka menghampirinya. Nanaz mengenalnya sebagai Milka, salah satu pacarnya Kiano yang ia tahu. Milka berkulit putih nan mulus, hidungnya mancung sempurna dengan bibir yang tampak seksi. Karirnya sebagai brand ambassador salah satu skincare ternama di Indonesia, WADAH, cukup gemilang. Tapi, Nanaz merasa ada yang berbeda dengan sosoknya kali ini. Entah apa.
"Eh, Mbak Milka," sahut Nanaz sopan kepada wanita berusia 31 tahun tersebut.
Milka tersenyum singkat. "Kiano ada, kan?"
"Ada, Mbak. Sebentar, ya, saya kasih tahu kalau Mbak Milka ada di sini," ujar Nanaz seraya berdiri.
"Saya langsung masuk aja." Tanpa menunggu jawaban dari Nanaz, Milka melenggang menuju pintu yang berjarak dua meter di depannya.
Nanaz tak menghalangi, ia hanya mengangguk sembari tersenyum. Tak lama kepergian Milka, Messy si Ratu Gibah datang menghampirinya. Seperti biasa, untuk mengotori jiwa Nanaz yang suci.
"Mbak Nanaz, gibah, yuk!"
"Kagak. Dosa!"
"Aduuuuh, ini tuh gosip ter-update, tau! Sayang banget, Mbak, kalau dilewatin," kata Messy dengan teknik sales marketing yang handal. "Baru netas, nih, Mbak. Masih anget-angetnya."
"Apaan, sih, emangnya? Kayaknya heboh banget!" Akhirnya jiwa gibah Nanaz terpancing.
"Berdasarkan informasi yang ternyinyir abad ini, katanya, si Mbak Milka itu habis operasi p******a, Mbak."
"Hah?"
Messy mengangguk, semakin bersemangat melihat Nanaz yang sepertinya belum mendengar gosip itu. "Iya, Mbak! Perhatiin aja, toketnya makin gede, gitu. Udah kayak buah semangka aja. Nggak berat apa, ya? Messy aja lihatnya cape ...."
"Ya, iya sih, gue tadi juga agak ngerasa ada yang aneh gitu dari dia. Nggak tau apa mungkin gara-gara efek udah lama nggak ketemu, atau kenapa ...."
Messy tertawa. "Terus, itu si Bosque ngapain di dalem? Intip, yuk, Mbak? Lagi belah semangka kali, ya? Hihihihi."
Nanaz mendecih. Malah ia menjitak kepala Messy dengan bolpoin. "Udahlah, ngapain ngurusin mereka! Entar kamu malah kepengen lagi."
"Hihihihi." Messy cekikikan. "Iya juga, sih."
Tak disangka-sangka, pintu ruang kerja Kiano terbuka dan ia muncul dengan wajah masam yang jarang mereka lihat. Beberapa saat kemudian, Milka menyusulnya dengan d**a membusung yang kentara.
Messy bahkan sampai melotot melihatnya.
"Saya ke luar sebentar. Nanti, kalau ada yang nyari, telepon aja," kata Kiano pada Nanaz yang matanya melirik ke d**a Milka yang berdiri di sampingnya.
Kiano menepuk pipi Nanaz sebanyak dua kali dengan pelan. Gerakan itu tentu saja membuat Messy mengerjapkan matanya takjub, pun Milka.
"Fokus. Kamu denger, kan, saya ngomong apa?"
Nanaz mengangguk. "Eh? Iya, Pak, siap!"
Kiano mengangguk dan beranjak diikuti Milka di sampingnya.
"Mbak! Itu tadi habis diapain sama si Bos?" tanya Messy, penasaran dengan sikap Kiano barusan.
"Digampar."
"Mana ada orang digampar kayak gitu. Malahan yang ada kayak dielus-elus."
"Dielus-elus apaan? Orang tadi pipi gue ditepukin sama dia," ucap Nanaz sewot.
"Messy nggak pernah tuh digituin! Malah, Messy kalau salfok gitu dipelototi sama dia."
Nanaz tertawa seraya memukul pelan punggung tangan wanita berkulit putih itu. "Udah sana balik kerja! Jangan ajakin gue gibah melulu."
"Eh, tapi beneren kan, Mbak, yang kita gibahin tadi? Makin gede aja, gila. Tapi, kenapa ya tadi tampangnya si Bos kayak lagi bad mood gitu? Padahal kan, ada Mbak Milka."
Menurut Messy, seharusnya tadi itu Kiano terlihat bahagia lantaran kedatangan Milka yang memang sudah lama tidak muncul di kantornya. Tapi, tadi Kiano justru tampak kesal, entah mengapa.
"Nggak tau tuh. Nggak ngurusin. Udah sana buruan balik kerja!" Nanaz mendorong punggung Messy untuk segera angkat kaki. Kalau dibiarkan, Messy akan betah di dekatnya untuk terus bergosip ria.
"Ya udah deh, Messy balik kerja lagi." Messy pun lantas turun menuju meja kerjanya di ruangan lain.
***
"Kenapa, sih, Sayang? Kok, kamu aneh banget dari tadi?" Milka menyandarkan kepalanya di bahu Kiano.
Saat ini, keduanya sedang berada di apertemen Milka. Sejak setengah jam yang lalu, Kiano terlihat malas untuk merespon setiap perkataannya, juga ciumannya. Milka sudah berusaha memancing gairahnya, namun Kiano tampak tidak terpengaruh sama sekali. Tidak seperti Kiano yang ia kenal.
Bukankah ranjang satu-satunya tempat paling nyaman untuk mereka selama ini? Tetapi, kenapa Kiano malah justru bersikap dingin?
"Aku memutuskan untuk menikah."
Milka terduduk, menatap Kiano dengan wajah berseri-seri. "Huh? Menikah?"
Kiano mengangguk mantap. "Aku mau punya hidup yang teratur, seperti dulu lagi. Punya keluarga yang sempurna. Istri yang baik dan anak-anak yang lucu."
Milka tersenyum lebar. "Terus kapan dong kamu lamar aku? Aku bakal bilang soal ini ke keluargaku dan kita—"
"Bukan kamu, Milka," potong Kiano cepat-cepat.
Raut wajah Milka berubah, keningnya berkerut keheranan. "Maksudnya bukan aku?"
Kiano mendengkus. "Kamu tau kita ini apa. Kita cuma teman kencan. Hanya untuk bersenang-senang. Aku udah bilang ini dari awal, kan?"
Milka mengerjapkan matanya. "But, I love you! Aku pikir, kamu juga cinta sama aku. Terus, sekarang kamu bilang kamu mau menikah tapi bukan sama aku? Kok, kamu tega, sih?"
"Aku nggak akan bilang cinta, kalau aku nggak benar-benar merasakannya. Dan aku nggak pernah bilang itu sama kamu, kan?"
Milka tampak terbata. "Ta-tapi, aku udah berharap banyak sama kamu, Kiano. Kamu tadi bilang mau punya keluarga yang sempurna. Istri yang baik? Memangnya, aku bukan orang baik? Soal anak, aku bisa kasih berapa pun yang kamu mau!"
Kiano menatap Milka dengan sorot simpati. Ia tahu Milka wanita yang baik. Namun, bukan wanita baik-baik. Mana mungkin Kiano bisa menjadikannya istri sementara ia pernah tidur dengan beberapa pria yang dikenalnya. Belum lagi gaya hidup Milka yang terlalu glamor, Kiano tidak menyukai hal itu.
Kiano sadar, ia juga bukan pria baik-baik. Making out dan having s*x dengan beberapa wanita adalah kebiasaannya semenjak menjadi duda. Namun, bolehkah ia menginginkan seorang wanita baik-baik?
Seorang wanita yang siap menerima segala kekurangannya, masa lalunya? Bolehkah ia berharap untuk memiliki keluarga kecil yang bahagia, seperti empat tahun yang lalu?
"Nggak boleh!" Milka berdiri, melipat tangannya di depan d**a. "Kamu nggak boleh nikah sama orang lain, Kian. Ini nggak adil buat aku yang udah lama berharap sama kamu!"
Kiano mendengkus kasar. Ia paling malas dengan drama semacam ini.
"Itulah kenapa jangan berharap terlalu tinggi, karena kalau harapan itu jatuh, kamu yang akan sakit," ucap Kiano kemudian berdiri. "Kita tetap berteman. Jaga diri kamu baik-baik."
"Apa aku kenal siapa orangnya?"
Kiano tersenyum singkat. "Kamu akan tau nanti."
Kiano lantas beranjak, meninggalkan Milka yang kemudian menangis terisak-isak.
Selama ini, ia sudah menyimpan begitu banyak harapan untuk masa depannya bersama Kiano. Menikah dan punya anak. Kiano memang tidak pernah mengatakan kalau ia cinta, namun Milka pikir segala bentuk perhatiannya selama ini adalah cinta yang tak perlu diungkapkan dengan kata. Namun, rupanya ia salah. Kiano menganggap dirinya sama seperti wanita-wanita lain yang bisa ditidurinya sesuka hati.
Wanita manakah yang berhasil mencuri hatinya? Bagaimana bisa ia membuat Kiano berpaling dari dirinya yang sempurna ini? Apakah ia lebih cantik darinya?
Dari sekian banyaknya wanita yang ia kenal dekat dengan Kiano, tidak ada satu pun wajah dari mereka yang melintas di benaknya. Mereka sama seperti dirinya. Jika dirinya saja ditolak, apalagi mereka.
Lalu, siapa? Siapa yang berhasil merebut hati seorang Kiano Sanjaya?
Milka tidak tahu siapa, tapi ia pasti akan mencari tahu.
***
"Kamu di mana?"
"Ya di kantorlah, Pak," sahut Nanaz di seberang sana.
"Hoax. Coba kirim foto kamu."
"Eh? Maksudnya gimana?"
"Kamu itu, kan, suka ngilang nggak jelas. Jangan-jangan kamu lagi di luar sekarang."
"Bapak tuh buruk sangka terus ya sama saya! Okey, ini saya kirim foto saya! Orang lagi di kantor juga! Nggak percaya banget. Heran ...."
Kiano menahan tawanya lalu menekan ikon merah di layar ponselnya. Bisa dibayangkannya bagaimana ekspresi wajah Nanaz yang tengah kesal saat ini. Tak lama kemudian, ada pesan masuk dari Nanaz berisi foto meja kerja dan laptop-nya.
Kiano mendecih lalu kembali menelepon Nanaz.
"Apalagi, Pak?"
"Saya mau bukti yang akurat. Kamu selfie."
"Bapak tuh nggak usah modus, ya! Saya tau nih, Bapak pasti mau santet online saya, kan? Hayo, ngaku!"
"Kamu pikir saya dukun. Saya cuma minta foto selfie kamu buat mastiin kamu memang benar-benar di kantor. Apa susahnya, sih?"
Meski tidak terdengar, ia tahu dalam hatinya, Nanaz pasti sedang mengutuknya.
"Bapak tuh!"
"Apa? Mau ngatain saya apa?"
"Nggak ada!"
Nanaz memutuskan pembicaraan. Beberapa detik kemudian, Kiano mendapat kiriman foto diri Nanaz dengan tampang cemberut. Kiano tersenyum melihatnya, ia lalu menjadikan foto itu sebagai wallpaper ponselnya.
"Kamu tuh meskipun ngeselin, tapi tetap ngangenin."
***