Sepanjang kendaraan roda empat yang membawa Sachiko pergi itu melaju, kedua manusia yang berada di dalamnya tak terlibat sebuah percakapan. Bahkan keduanya sampai detik ini belum berkenalan.
Pria tersebut tak berniat memberitahukan identitasnya karena Sachiko tak bertanya dengannya. Padahal wanita dengan wajah manis berkulit bersih itu sudah memperkenalkan diri saat kemarin berpapasan di toilet restoran, meskipun dirinya tak bertanya pada Sachiko.
Sachiko justru terlihat memejamkan mata seraya memijat pelipis yang mulai merasakan denyutan pusing akibat terlalu lama menangis. Dia sampai tak sadar jika kendaraan yang bersedia mengantarkan dirinya itu sudah berhenti, padahal belum lama mereka keluar dari bandara.
Sampai suara pria itu membuat Sachiko membuka mata dan memfokuskan pandangan pada sosok gagah penuh wibawa.
"Kamu mau turun atau tidak?" tawar pria tersebut setelah tubuhnya sudah berada di luar kendaraan pribadi miliknya. Dia belum menutup pintu mobil agar bisa berkomunikasi dengan Sachiko.
Sachiko mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru arah. Rumah khas Bali dengan gapura yang memiliki aksen kental daerah sana sebagai pintu masuk tempat tinggal tersebut. "Ini di mana?" tanyanya dengan wajah bingung.
Mata Sachiko yang bengkak menatap curiga ke arah pria yang seharusnya tak langsung dia percayai begitu saja. Tapi karena sangat membutuhkan tumpangan, dirinya sampai mengesampingkan jika orang tersebut adalah asing baginya.
"Rumah sementaraku selama di Bali," jawab pria itu.
Sachiko dengan percaya diri menyilangkan kedua tangannya di depan d**a yang memang nampak menonjol. Apa lagi saat ini masih memakai baju tidur yang kainnya lumayan tipis dan sedikit menerawang jika terkena cahaya. "Kamu tak berniat melecehkan aku, bukan?" Tatapan menyelidik tersirat pada sorot matanya.
Pria itu terkekeh samar. Wanita yang dia baru temui itu cukup lucu karena seperti tak memiliki rasa malu sedikit pun padanya dengan menanyakan hal sefrontal itu. Padahal keduanya sama-sama asing dan baru bertemu saat di Bali.
"Yang kamu cemaskan sama saja menggambarkan isi otakmu. Ternyata hanya ada kata m***m dalam benakmu," ejek pria itu.
Sesaat Sachiko melupakan kesedihannya karena terpantik oleh ucapan pria tersebut yang membuatnya kesal. Sama saja dirinya dihina karena berpikiran jelek. "He, kamu! Dengar! Ini namanya antisipasi agar tak terjadi hal yang merugikanku, tahu?!" Dia mencoba menjelaskan hingga otot di lehernya sedikit timbul.
Sachiko justru ditertawakan tapi mengandung ejekan. "Bahkan aku tak bernapsu dengan tubuhmu yang kurus itu. Seperti tak pernah diberi makan saja."
Sachiko mengepalkan tangannya dan terangkat ke atas. Rasanya ingin menjitak pria yang tadinya dikira dingin tapi semakin ke sini justru terlihat memiliki sisi tengil. "Kamu jangan body shaming! Ini namanya body goals, semua wanita di kampusku menginginkan badan seperti aku!" elaknya penuh percaya diri seraya menarik ujung bajunya ke belakang hingga membuat lekuk tubuh tercetak jelas beserta dua buah kembar yang selalu membusung seolah menantang lawan jenis.
Ludah pun begitu sulit rasanya tertelan di tenggorokan pria menyebalkan itu saat menatap Sachiko. "Sekali jelek, tetap jelek!" Dia terus berusaha tak setuju dengan yang dilontarkan oleh Sachiko. "Sudahlah, jika kamu tak mau ikut turun, maka tunggu saja di dalam mobil." Tangannya memutuskan untuk menutup pintu kendaraan pribadinya. Dan berjalan memasuki sebuah bangunan yang terbuat dari batu bata tanpa diplester oleh semen, namun tetap nampak indah meskipun tak dicat.
Sachiko menatap punggung pria itu dan melihat jelas jika orang tersebut menggelengkan kepala. "Pasti dia mengejekku lagi," gumamnya.
Tak berselang lama, pria itu pun kembali lagi dan memasukkan sebuah koper ke dalam bagasi. Sachiko hanya melirik sinis, belum berkomentar apa pun. Padahal sangat ingin bertanya.
"Apa?" tegur pria itu saat sorot mata keduanya saling bertubrukan.
Sachiko melengos, masih cukup sebal dirinya setelah merasa seperti baru saja dipermainkan oleh pria itu. "Tidak ada," bohongnya.
Pria itu mengedikkan bahu dan melajukan mobilnya membelah jalanan beraspal.
Satu jam sudah perjalanan dilalui. Tapi hening tetap melanda keduanya. Sachiko sampai bosan karena tak ada obrolan. Dia tak bisa menangis lagi karena sudah kering air matanya. Biasanya selalu bertukar pesan dengan sang kakek, tapi orang yang selalu mencurahkan perhatian padanya itu sudah tak ada lagi.
Sachiko membuka ponselnya. Berharap ada pesan dari teman-temannya. Tapi ternyata kosong. Dan helaan napas yang terdengar kecewa pun lolos dari bibirnya.
Tidur tak bisa, dan terlalu lama bermain ponsel di dalam mobil pun membuatnya pusing. Daripada Sachiko bingung ingin melakukan apa disepanjang perjalanan, akhirnya dia menyerah untuk mendiamkan pria itu.
"Aku bosan, kita seperti musuh yang saling mogok bicara," ucap Sachiko mulai membuka topik. Dan pria yang duduk di sampingnya mengalihkan pandangan padanya untuk sekilas, karena kembali fokus ke jalan.
Merasa tak ditanggapi, Sachiko melanjutkan bicaranya. "Bagaimana kalau kita berkenalan?"
"Aku sudah tahu namamu!"
Mulut Sachiko terbuka, namun belum ada suara yang terdengar keluar. Dia baru ingat jika sudah memperkenalkan diri pada pria itu. "Kenapa kamu tak memeberi tahu aku siapa namamu? Ini namanya tak adil. Kamu sudah tahu tentang aku, tapi aku tidak," protesnya.
"Kamu tidak bertanya."
Jawaban menyebalkan macam apa itu? Sachiko mencebikkan bibirnya karena kesal. Sudah wajah pria itu terlihat dingin, tapi ternyata mampu membuatnya emosi jika sudah berbicara.
"Oke, kalau begitu. Siapa namamu?" Agar lebih ringkas tanpa banyak berdebat, Sachiko memilih mengalah saja.
"Alvito," jawabnya singkat dan seperlunya.
"Nama lengkapmu! Pelit sekali kamu memberikan informasi," gerutu Sachiko dengan banyak protesnya.
"Alvito Aparicio."
Sachiko menganggukkan kepala. "Nama yang bagus," pujinya. Matanya langsung melirik lagi ke arah Alvito. "Jangan besar kepala, namamu saja yang bagus, tapi orangnya sama sekali tidak!" imbuhnya agar Alvito tak menjadi sombong.
Alvito mengedikkan bahu dan enggan untuk menanggapi. Fokusnya lebih tertuju pada jalanan.
Satu sudut bibir Sachiko terangkat karena habis sudah obrolan keduanya. Namun dia memikirkan topik lain agar suasana di sana tak terlalu sunyi. "Oh iya, kenapa kamu membawa koper besar?"
"Aku juga ingin ke Malang. Tujuan kita sama," jelas Alvito. Dia enteng sekali saat menyanggupi permintaan Sachiko karena hari ini pun jadwalnya harus berangkat ke kota yang ingin dituju oleh wanita dengan kadar kepercayaan diri yang tinggi itu.
"Untuk?" Semakin ingin tahu saja Sachiko. Dia sudah seperti wartawan, banyak bertanya.
"Aku dipindah tugaskan ke sana."
"Oh...." Kepala Sachiko mengangguk paham. Tapi ada yang aneh. Bukankah pria itu bertemu dengannya di depan bandara? Kenapa justru berangkat ke Malang menggunakan mobil bersamanya.
Dan akhirnya si banyak ingin tahu itu pun mengajukan pertanyaan lagi. "Lalu, untuk apa kamu ke bandara?"
"Mengantarkan adik sepupuku. Dia tak ingin pulang naik mobil karena tak mau kelelahan di jalan." Alvito memang pria yang seperti itu. Jika ditanya, maka akan dijawab. Tapi kalau tidak, dia tak akan memberi tahu tentang dirinya.
"Memangnya apa pekerjaanmu? Pegawai negeri?"
"Kamu kira-kira saja sendiri apa profesiku."
Sachiko memicingkan mata, menilai dari atas sampai bawah tubuh Alvito. Lalu terakhir menangkap sesuatu di bagian depan dekat kaca yang ada di hadapan Alvito, sebuah topi berwarna hijau ciri khas suatu profesi yang sangat populer di Indonesia. "TNI?" tebaknya.
Alvito menganggukkan kepala. "Benar sekali."
"Kenapa kulitmu tak gelap seperti kebanyakan tentara di sini? Apa kamu hanya TNI gadungan seperti banyaknya kasus penipuan yang sudah marak di berita itu?" tuduh Sachiko dengan bibirnya mencibir. Dia akhirnya bisa membalas mengejek Alvito.
"Kulitku memang seperti ini, mau dipapar sinar matahari selama apa pun juga tak akan bisa menghitam," jelas Alvito. "Lagi pula untuk apa juga aku menipu orang, tanpa mengaku sabagai TNI pun sudah banyak wanita yang terpikat denganku," imbuhnya.
"Dan aku bukan termasuk wanita itu!" tampik Sachiko. Ternyata sebal juga menghadapi seseorang yang terlalu percaya diri. Padahal dirinya juga seperti itu. "Aku tak akan terhanyut dengan rayuan dan tipu muslihatmu yang pastinya sangat norak," imbuhnya mencibir.
"Kita buktikan saja suatu saat nanti. Jangan sampai kamu termakan omonganmu sendiri dan mengemis cinta padaku," peringat Alvito. Semakin lama bersamanya, ternyata sifat asli keluar juga. Dia tak sedingin yang Sachiko kira.