Ketika perawat yang membantu Anggie melepas selang infus dan jarumnya sudah berlalu meninggalkan gadis itu dan Raihan berdua, akhirnya Anggie baru bisa menatap Raihan yang masih diam sejak kepergian Bhumi siang tadi. Dengan kikuk ia mengelus punggung tangannya yang terasa gatal akibat plaster yang menahan jarum infus selama beberapa hari. Anggie ingin menggaruknya, namun kemudian menghentikan niatannya karena ia merasa bicara pada Raihan adalah hal yang utama. Untunglah emak meninggalkan mereka berdua untuk bicara setelah sang emak melihat raut Anggie yang berubah selepas kepergian Bhumi sehingga ia dapat melaksanakan niatnya. Anggie yakin, selama berbicara dengan Bhumi, Raihan sedikit banyak mencuri dengar. Toh pria itu dan emaknya hanya duduk di kursi depan ruang rawat, tempat Raihan s

