"Saka, aku–" "Ssstts ... jangan dijelaskan, Mbak. Biar aja semuanya berjalan apa adanya," bisik pria itu. Napas Sania memburu. Terlebih ketika tangan pria di depannya tak lagi mengekang. Namun, dengan lembut menyentuh rahang dan bermuara di bawah telinga Sania. Wanita itu memejam sesaat dan membuka mata ketika napas Saka terasa hangat menampar wajahnya. Pria itu menempelkan bibirnya perlahan. Begitu lembut hingga Sania memilih untuk melepaskan semuanya. Ia pernah merasakan ini. Ya, malam itu dalam mimpi. Sania tak pernah memungkiri jika ia rindu diperlakukan begini. Ia masih normal dan mulai merasakan semuanya naik ke ubun-ubunnya. Saka sendiri tak bisa mengontrol tubuhnya. Niat awalnya, ia tak mau sejauh ini karena tak yakin jika Sania akan menerimanya. Namun, melihat respons wanit

