Sebuah Persaudaraan

1916 Kata
Shuttle Racing Arena – Jakarta Pusat 2021 Dengan cara mengemudi seorang Mario Mannuel yang kebut-kebutan dengan speedometer berada di atas rata-rata yang di sarankan, tapi gak sampai juga melanggar aturan traffic light mereka berhasil memangkas waktu perjalanan menuju Shuttle Racing yang awalnya tiga puluh menit menjadi hanya dua puluh menit, laju motor yang di kemudikan Mario melaju pelan begitu mereka memasuki gerbang markas Shuttle Racing yang di jaga oleh beberapa orang pria berpakaian serba hitam. Setelah lolos melewati Security check mereka dipersilahkan untuk masuk ke dalam gedung. Sebenarnya Gedung Shuttle Racing hampir mirip seperti sebuah Mansion ataupun manor old Europe classic kebanyakan – sebuah bangunan berarsitektur klasik yang berdiri di tepi jalan utama, jarak antara gerbang dan bangunan sedikit jauh lebih mungkin lebih dari setengah kilometer namun walaupun begitu dari gerbang utama hingga bangunan Mansion utama sepanjang jalan berjajar mobil-mobil sport mewah dengan para pemiliknya yang bercengkerama di sekitar mobil dengan diiringi sayup-sayup dentuman musik Electronic Dance Music. Mario memelankan laju motornya sebelum benar-benar berhenti tepat di kanopi bangunan lalu parkir tepat ditempat yang sangat padat oleh mobil mewah lebih mewah dari yang terparkir di sepanjang jalan –kalau yang berada di sepanjang jalan tadi adalah mobil modifikasi maka yang ada di kanopi adalah mobil original yang harganya berkali-kali lipat. Suara musik dak keriuhan yang sebelumnya terdengar sayup-sayup sekarang sekarang terdengar sangat keras dengan dentuman bass yang menggetarkan jantung. Bagi yang memiliki masalah jantung mendengar ini dapat dipastikan mereka akan segera usai. Begitu turun dan dan berjalan menuju pintu masuk sekali lagi mereka harus menjalankan Security Check sebelum mereka berdua di ijinkan untuk dapat memasuki gedung. “Hei Ed!” sapa Arunika sembari menampakkan wajahnya di depan salah satu penjaga, saat keduanya akan di geledah. “Oh Nona Arunika Hi! come in.” begitu penjaga yang dipanggil Ed itu mengenali Arunika ia mengurungkan niatnya untuk melakukan Security check dan langsung mempersilahkan Arunika untuk masuk ke dalam – perlakuan khusus yang hanya di dapatkan oleh seorang VVIP – “He comes with me.” kata Arunika saat Mario hendak di geledah, Ed menghentikan apa yang ingin ia lakukan dan mempersilahkan keduanya untuk masuk. Mereka berdua bersisian berjalan memasuki bangunan tersebut. “Yeokshi! memang ya kalau dengan Lo gue gak perlu di geledah.” Mario bergumam, namun itu cukup di dengar oleh Arunika. mendengar hal itu Arunika secepat mungkin menoleh dan menatap tajam Mario, “Jadi Lo memanfaatkan gue gitu ya untuk masuk ke sini!!” Mario cengengesan di tempatnya dan mengangkat jarinya membentuk peace, “Kan sekalian Ka, gue nganterin Lo win win solution.” Arunika mengabaikannya dan berjalan lurus, Arsitektur yang didominasi gaya eropa klasik menyambut mereka begitu pintu utama di buka juga jangan lupakan di dalam tampak puluhan manusia kebanyakan masih muda lelaki perempuan bergoyang seirama dengan dentuman musik. “Wah mereka benar-benar sedang berpesta.” Mario yang berada di samping Arunika bertepuk tangan dengan tatapan berbinar-binar, Shuttle Racing jarang mengadakan pesta besar seperti ini jadi Arunika juga cukup terkejut karena yang sudah-sudah mereka hanya berfokus melakukan balapan dan tidak –jarang merubah markas menjadi klub malam seperti ini dan biasanya tidak terbuka untuk umum! Mengabaikan Mario yang masih terkagum-kagum dengan keadaan Arunika mulai berjalan lebih jauh menerobos segerombolan orang-orang yang sedang berpesta untuk naik ke lantai dua setelah memperlihatkan ID miliknya– lantai eklusif untuk pemain tetap Shuttle Racing dan tamu VVIP. Suasana lantai dua memang tidak seramai lantai satu tapi disini mereka juga berpesta bedanya dengan lebih eklusif, setiap orang duduk di sofa masing-masing dengan bartender eklusif hanya untuk mereka sendiri tipikal orang kaya! Arunika mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Eclair team dan ia menemukannya, di sofa hitam didekat jendela, Benjamin Nelwan si teknisi Eclaire dengan dua wanita yang tidak dikenal Arunika tengah berbincang tampak begitu akrab membuat Arunika jadi bertanya-tanya dimana Keira Saseki – Pacar Benjamin dan juga merupakan Team Eclair juga yang bertanggung jawab di bidang pe- lobby. Lalu di sudut bar Rowan sedang tertawa dengan beberapa temannya mereka sedang minum alkohol. Dan yang terakhir adalah Arellio yang sedang mengobrol dengan seorang pria yang Arunika ketahui merupakan salah satu pengusaha batu bara yang baru menikah dengan artis ibukota, Arellio adalah orang yang menurut Arunika paling normal di antara mereka semua, mereka duduk di meja bar dengan obralan yang dapat dipastikan sangat membosankan karena pasti membahas seputar bisnis keduanya. Memang apa yang kamu harapkan dari dua orang pengusaha paling terkenal di Ibukota?! Baru Arunika ingin mendudukkan tubuhnya di sofa di ujung ruangan panggilan yang terdengar cukup keras menyerukan namanya menyapu gendang telinganya membuat dirinya mau tidak mau menoleh ke arah sang pemanggil. “Nika!.” Arunika tersenyum tipis membalas panggilan Arellio dengan lambaian tangan sebelum melangkah pelan menghampiri pria itu, begitu ia sampai di samping Arellio, pria itu menarik Arunika lembut untuk duduk disampingnya. Tangan Arellio yang bebas memeluk erat pinggang Arunika – kebiasaan buruk Arellio yang selalu pria itu lakukan dimana pun dan kapan pun walau pun Arunika risih dengan skin ship itu dia tidak bisa protes. Karena protes pun percuma pria itu akan tetap melakukannya lagi dan lagi. “Kenapa gak menghampiri Saya?.” Tanyanya dengan suara yang terdengar jelas karena pria itu memiringkan kepalanya hanya untuk melihat wajah Arunika. “Saya pikir kamu sedang membicarakan bisnis.” Balas Arunika seadanya, malam ini Arellio cukup tampan seperti biasanya dengan kemeja putih dengan dua kancing teratas dibiarkan terbuka, celana bahan hitam dan sepatu pantofel mengkilap dan jas keluaran Versace yang tersampir di kursi sampingnya – dia pasti baru pulang bekerja. “Sepenting apa pun bisnisnya, Arellio pasti akan meluangkan waktu untuk kamu Miss.” Sahutan dari arah depan membuat Arunika menaruh atensi penuh kepada lawan bicara Arellio sebelumnya. Arellio hanya terkekeh membalas sahutan lawan bicaranya. “Tidak mungkin Sir, Glorious Life akan selalu menjadi prioritas Sir Arellio.” Kata Arunika dengan mantap, dia seratus persen yakin dengan itu. Glorious Life – perusahaan perhiasan Arellio tidak mungkin dapat dibandingkan dengan dirinya yang bukan siapa-siapa. “Kekasih kamu terlalu merendah Arellio.” Ucap Bara dengan senyum di akhir kalimatnya, membuat Arunika tidak bisa untuk tidak memutar bola matanya. “Dia memang selalu seperti itu Bara.” Arunika hanya mendengarkan dengan khidmat tanpa menyanggah perkataan siapa pun karena ia sudah terbiasa dianggap kekasih oleh rekan bisnis Arellio jadi bukan hal yang baru. Dulu Arunika sempat menyanggah namun berakhir tidak bisa meyakinkan siapa pun karena Arellio mematahkan segala penjelasan yang dia punya baginya Arunika adalah kekasihnya pendampingnya agar tidak kelihatan ngenes karena gak punya gandengan padahal banyak rekan bisnis pria itu banyak yang sudah menikah. Saat mereka akan membicarakan bisnis kembali Arunika terlebih dulu menyela dengan menarik pelan kemeja pria itu membuat perhatiannya teralih kepadanya sepenuhnya. “Aku mau ke yang lain dulu.” pamit Arunika sedikit berbisik kepada Arellio. “Oke, nanti pulang Saya antar kamu tidak bawa mobil kan?” tanya Arellio kembali memastikan. “Iya.” Jawab Arunika manut. “Okay sana bersenang-senang.” Kata Arellio dengan pelan. Arunika mengangguk lalu berdiri tak lupa membungkuk sedikit sebagai salam perpisahan kepada Sir Bara sebelum kabur menghampiri Rowan yang masih bertahan di meja bartender. “Hoi.” Tepuk Arunika dengan ringan berusaha mengejutkannya dan sukses pria itu terperanjat sebelum berbalik melihat Arunika dengan sangat kesal, “Lo setan ya! Kalau datang bersuara dong.” Sembur Rowan kesal. Arunika terkekeh kecil, “Tadi kayaknya Lo asik dengan teman-teman Lo mana mereka sekarang?” “Teman ndas mu itu, mereka datang hanya mau pamer aja ... Drink?” tanya Rowan mengulurkan gelas berisi Tequila pada Arunika. “Rowan ... sudah berapa kali Saya bilang kalau Arunika tidak minum ... Arunika Gauri jangan minum ya kamu!” Dari kejauhan mereka mendengar teriakkan Arellio dengan sangat jelas membuat Rowan mengangguk segan kepada boss nya itu lalu mengangkat gelasnya dan meminumnya sendiri. Ha ha ha ha ”Iya!” Setelah Arellio kembali memusatkan perhatiannya kepada Bara lawan bicaranya, Rowan mendekat pada Arunika dengan tampang jengah yang tidak lagi ia tutup-tutupi, “Gue heran kenapa semua hal yang menyangkut Lo si Bos peka banget sih, Lo yakin gak dipasangin penyadap?” Tanyanya pria itu meraih clutch Arunika yang tergeletak di atas meja bar dan mengobrak-abrik nya dengan sembarang mencari penyadap yang dia maksud. Arunika menampar tangan Rowan dengan keras, “Balikin, jangan diobrak-abrik! Gak ada apa-apanya ya!” Rowan mengangkat tangannya ke atas pertanda menyerah, “Iya iya nih gue balikin ... eh tapi Gue selalu penasaran dengan satu hal selama satu tahun ini.” Katanya dengan serius. “Apa?” “Lo beneran gak ada hubungan apa-apa sama si bos Arellio nih Ka?” “Gak lah! Lo udah nanya gue berapa kali sih Arellio baik ke Gue itu ya karena dia itu kan baik hati.” Rowan terkekeh, “Baik hati mata mu itu.” “Yoo,” Suara Benjamin menyeruak dari belakang, diikuti dengan tangan berototnya yang nangkring di atas pundak Arunika dan Rowan tanpa beban “Hei ma Friends how's life?.” “Anjir jauh-jauh Lo dari gue tangan Lo penuh dengan kuman!” Rowan menepis kasar lengan Benjamin membuat pria berotot blasteran Amerika itu tertawa keras, Rowan dan Benjamin itu benar-benar seperti dua kutub yang saling berseberangan. Benjamin yang super friendly kebangetan dan Rowan yang julid abis, Benjamin yang suka nya dekat dan main perempuan walaupun sudah punya pacar, Rowan yang sangat anti dengan perempuan. “Pawangnya kemana sih?” Tanya Arunika pada Rowan, yang ditanyai mengangkat bahunya tidak tahu. “Pacar Lo kemana Ben?” Tanya Arunika akhirnya, celingukan ke kanan ke kiri mencari keberadaan Keira Saseki. “Katanya datang terlambat atau gak datang gak tahu lah gue tadi pagi pamitnya habis nge lobby... Tapi udah berapa kali gue bilang sih Arunika! Panggil gue itu Bang, Mas atau Kak kek Lo itu yang paling muda gak ada akhlak Lo.” Arunika tersenyum lebar melambaikan tangannya kepada Benjamin menyuruhnya untuk mendekat, “Lo gak tahu istilah maknae on top?” “Apa, what is that bahasa apa sih itu?” Tanya Benjamin. “Google it lah kayak hidup di zaman megalitikum aja lo.” Katanya menunjukkan ponsel yang ada digenggaman nya membuat Benjamin mendengus kesal. “Ngomong-ngomong kenapa Lo kelihatan lesu banget gitu.” Tanya Benjamin, pria itu beralih duduk di samping Arunika memesan tequilla kepada bartender dan melihat Arunika dengan seksama. Arunika yang mendapatkan perhatian secara tiba-tiba itu menggelengkan kepalanya, mereka itu terlalu peka dan itu kadang menjadi sedikit menyebalkan untuk Arunika. “Gak apa-apa.” Jawab Arunika dengan sok meyakinkan. “Yang bener?” tanya Rowan ikut-ikutan mereka mengobservasi Arunika membuat wanita itu menghela nafas kesal. “Gak apa-apa hih jangan ngelihat gue kayak gitu ya Oppa-deul!” “Gaya-gayaan aja lo pake bahasa korea.” kata Rowan dengan sebal, pria itu yang blasteran Korea asli tentu aja gak terima dengan logat Arunika yang aneh dan menyebalkan. “Sirik banget sih Lo jadi orang.” balas Arunika dengan senyuman kecil, she always like that bersama dengan anggota yang Eclaire membuat dirinya nyaman! she found a new home! karena apa yang awalnya kecil dan bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa berubah menjadi sebuah persahabatan, persahabatan berubah menjadi sebuah ikatan. Dan ketika persaudaraan lebih di dahulu kan, maka batas itu tidak akan pernah di lewati she love it! “Ih malah mengalihkan pembicaraan, tapi Lo tadi beneran lesu gak apa-apa atau ada masal–” “Kesini bentar kalian.” Arellio mengintrupsi perkataan Benjamin membuat Arunika menghela nafas lega di dalam hati nya. Thanks god I am safe. – setidaknya untuk sekarang dia aman baik-baik saja dan tidak perlu khawatir untuk malam ini ... ya hanya untuk malam ini saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN