"Hei, calon kakak ipar! Jangan hanya menilai buku dari sampulnya saja. Sampul bisa menipu, coba lihat dalamnya! Kalau saya berani melamar, itu artinya saya berani tanggung jawab," ucap Arman, ia benar-benar kesal dengan calon kakak iparnya itu.
"Mas, kenapa dari tadi kamu bicara terus sih? Kita masuk saja kalau begitu!" omel istri Ilham, ia juga kesal melihat tingkah suaminya.
"Bolehkan Yah?" tanya Maira, tidak mempedulikan kata-kata Ilham.
"Silahkan!" jawab sang ayah.
Maira dan Arman beranjak dari duduk mereka. Tujuannya adalah teras. Pembicaraan ini akan dilakukan secara empat mata. Entah apa yang ingin Maira katakan, yang jelas Arman merasa sangat bahagia.
"Aku langsung saja Pak. Aku menerima lamaran Bapak, bukan karena aku suka. Tapi hanya karena sebatas pelarian. Kalau Bapak bersedia jadi pelarianku, maka pernikahan ini akan segera dilangsungkan. Tapi kalau tidak, Bapak bisa pulang!" ucap Maira tegas.
Arman terdiam. Ia tidak menyangka, jika gadis yang ia sukai sampai hati mengatakan kata-kata seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi? Ini kali pertama mereka bertemu. Tidak ada perkenalan, bagaimana mau ada rasa secepat itu.
"Baiklah, mau jadi pelarian atau tidak, terserah saja! Yang jelas, aku ke sini untuk melamar kamu, dan menikah nantinya. Toh, cinta akan datang sendirinya nanti," sahut Arman, sangat yakin dengan kata-katanya.
Mulut Maira terbuka lebar mendengar respon Arman. Ia tak menyangka, jika Arman tetap bertahan pada keputusannya. Ia kira, Arman akan membatalkan lamaran itu karena tidak mau dianggap jadi pelarian. Tapi ternyata ia salah, pria ini benar-benar serius.
"Apa kamu yakin? Maksudku, apa tidak masalah? Ini pelarian loh! Bapak akan dianggap pelarian saja. Itu artinya, aku tidak sungguh-sungguh menginginkan pernikahan ini," ucap Maira, berharap Arman mundur.
"Tidak masalah. Sudah aku katakan, itu tidak masalah sama sekali. Kamu tenang saja!" ujar Arman, dengan santainya.
"Apa aku boleh bertanya? berapa istri Bapak? Maksudku, jika Bapak menikahiku, aku akan dijadikan istri yang ke berapa?" tanya Maira, ia benar-benar menyesal sudah menerima lamaran yang awalnya ia kira akan berjalan sesuai rencananya.
Arman tertawa keras mendengar pertanyaan konyol Maira. "Hei, aku ini masih lajang, bukan berstatus suami orang. Memangnya aku setua itu? Kamu tenang saja, kamu akan aku jadikan istri satu-satunya. Tidak ada istri kedua atau ketiga atau bahkan lebih banyak lagi,"
Maira tak dapat berkutik lagi. Dengan rasa sesal yang dalam, ia memilih kembali masuk ke dalam, bergabung dengan kedua orang tua dan kakaknya. Baru saja mengalami patah hati, sekarang malah mendapat masalah baru.
"Bagaimana Mai? Mana Arman?" tanya sang ayah, mencari keberadaan Arman.
"Saya di sini! Semuanya aman, Maira bersedia menikah. Dia juga bilang, katanya mau secepatnya," sahut Arman, berjalan masuk. Ia mengedipkan satu mata ke arah Maira yang langsung membuang muka.
'Dasar tua bangka sialan! Bisa-bisanya dia mengatakan itu,' batin Maira tak terima.
"Kamu yakin Mai?" tanya Ilham, ia tak menyangka, jika adiknya mengambil keputusan besar itu.
"Benar itu Mai?" Kali ini sang ayah yang bertanya.
Meski ragu dan bimbang, antara ingin menjawab iya atau tidak. Nyatanya otak tidak sejalan dengan hati. Begitu pula dengan pergerakan anggota badannya. Maira mengangguk mengiyakan.
Senyum lebar, terbit di wajah tampan Arman. Impian mempunyai istri dan melepas masa lajang, akhirnya sebentar lagi akan terwujud.
'Tidak sia-sia aku datang ke sini untuk melamar. Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Sebentar lagi aku menikah. Selamat tinggal masa lajang! Selamat tinggal jomblo abadi!" Sorak Arman dalam hati.
---
Hari yang ditentukan akhirnya terjadi juga. Rumah Maira sudah didekorasi sedemikian rupa. Bunga-bunga dan hiasan yang terpajang, membuat rumah itu terlihat cantik dan indah.
Di dalam kamar berukuran sedang. Maira duduk mematut dirinya di depan cermin. Sudah sedari subuh, dia sudah dirias. Dengan menggunakan kebaya putih, Maira terlihat begitu cantik serasi dengan riasan natural yang dipilihnya.
"Eh, yang mau nikah. Yakin kamu Mai, kalau calon yang kedua ini datang? Takutnya kayak calon pertama yang menghilang di hari pernikahan," cibir Dania, berdiri di ambang pintu.
Maira menoleh, ia menatap tajam kakak perempuannya itu. Entah apa kesalahannya, ia selalu saja dimusuhi oleh saudarinya sendiri. Sedari kecil, Dania selalu saja mengganggu dan merampas, apa yang sudah jadi milik Maira. Berbeda jauh dari Anil dan Ilham. Sikap Dania, benar-benar menjengkelkan.
"Mau hilang atau tidak, itu terserah! Toh, kalau memang sudah jodoh, pasti tidak akan ke mana," sahut Maira, mendengus kesal.
"Hahaha... Kamu benar juga. Semoga saja calon yang ini benar-benar tidak kabur. Kan tidak lucu kalau dua calon pengantinnya kabur. Maaf ya Mai, bukannya aku mendoakan kamu yang tidak baik. Tapi, aku kasihan melihat ayah dan ibu. Masa iya pernikahan ini pakai uang mereka semua? Calon suami kamu itu, bahkan tidak ada memberi mahar sama sekali. Yah, mau bagaimana lagi? Kata mas Ilham, suami kamu itu hanya bekerja di kandang ayam, makanya datang melamar dengan tujuan nikah gratis. Kasihan sekali adikku ini," ejek Dania, tersenyum puas melihat wajah Maira yang memerah.
"Lebih baik Kakak keluar, sebelum aku lempar Kakak dengan botol parfum ini!" Ancam Maira, ia benar-benar tidak tahan lagi mendengar ejekan Dania.
Takut Maira benar-benar melakukan itu, Dania segera menjauh. Tawanya masih terdengar jelas, meski sang pemilik sudah tak terlihat.
'Yang kak Dania katakan benar. Apa Bapak itu benar-benar memanfaatkan keadaanku saja? Dia bahkan, tidak memberikan uang mahar untuk semua acara ini. Semuanya menggunakan uang ayah dan ibu. Aduh, kenapa semuanya jadi begini? Tau begini, aku ogah nikah. Masa iya, aku tidak ada harganya sama sekali? Yang berstatus janda saja, masih diberi mahar jika ada yang melamar. Sedangkan aku, malah tidak ada sama sekali,' batin Maira, menundukkan wajahnya.
Sedang galau dengan pemikirannya. Sang ibu masuk mengejutkan Maira.
"Mai, ayo keluar! Pihak pria sudah datang," Ajak sang ibu, mengusap lembut pucuk kepala Maira.
Maira mendongak menatap ibunya. Matanya memerah menahan tangis. Ia merasa bersalah, karena terus-terusan memberi beban pada kedua orang tuanya.
"Eh, kamu kenapa? Kenapa menangis?" tanya sang ibu, memeluk Maira.
"Maafkan Maira Bu, gara-gara pernikahan ini, Ibu dan ayah sampai mengeluarkan uang banyak. Maira minta maaf," lirih Maira, tak kuasa menahan buliran bening itu.
"Jangan menangis Mai! Nanti kalau riasannya luntur bagaimana? Siapa bilang semua ini pakai uang Ibu dan ayah?" tanya ibu Maira, mengusap air mata di pipinya.
Wajah Maira terlihat bingung. Jika semua ini bukan menggunakan uang orang tuanya, lalu menggunakan uang siapa?