Tanpa mempedulikan Maira yang menatapnya heran, Arman berjalan gontai menuju tempat tidurnya. Kekesalan masih tercetak jelas dari raut wajahnya. "Apa lihat-lihat?" tanya Arman ketus. Ini kali pertama Arman bicara seperti itu pada Maira. Biasanya Arman akan selalu berkata manis dan lembut, tak peduli bagaimana kata-kata Maira padanya. Dada Maira berdenyut sakit. Tapi sebisa mungkin ia tahan. Perlakuan yang tidak biasa dari Arman, membuat Maira sedikit kikuk. "Siapa yang melihat Bapak?" tanya Maira, mendengus kesal. Arman membuang muka ke arah lain. Nafasnya masih memburu. Kejadian tadi masih membuat emosinya menggebu-gebu. "Kalau tidak melihat, kenapa menatapku seperti itu?" sahut Arman, bicara tanpa menatap Maira. "Aku punya dua biji mata, Pak. Memangnya salahnya di mana? Aku ini

