Helen dan Arlan

1440 Kata
Warning! Cerita ini bergenre adult dan fantasy, alternative universe dimana semua manusia memiliki identitas serigala di dalam dirinya. . . . .     Helena menatap pantulan dirinya di cermin, mengeluarkan lipstick merah yang baru saja di belikan Arlan untuknya dan mengoleskannya ke bibirnya. Tangannya dengan cekatan mengeluarkan krim penghalang aroma feromon, kemudian mengoleskannya dengan rata di leher dan tangannya, memastikan tidak ada aroma feromon dari dalam dirinya yang bisa tercium oleh orang lain, apa lagi seorang Alpha. Swit swit     Helen berbalik saat mendengar siulan dari seorang pria. Di sana, ada seorang pria yang sudah bersandar dengan tangan di lipat di d**a, tepat di depan pintu toilet apartemennya yang bobrok. "Sayang sekali gak ada yang bisa menghirup wangi feromonmu, Len."     Arlan mendekat, menepis tangan Helen yang masih berada di lehernya, kemudian menunduk untuk menghirup aroma feromon Helen yang masih bisa sedikit tercium. Menggesek-gesekan hidungnya di perpotongan leher Helen, tempat yang paling nyaman untuk meraup aroma feromon Helen sebanyak mungkin.     Feromon Helen selalu bisa menenangkan Arlan, tidak seperti kebanyakan Omega di luar sana yang memiliki aroma feromon terlalu manis. Helen memiliki aroma yang segar, manis dan menenangkan, seperti aroma suasana pagi di pegunungan, dengan sedikit wangi bunga dan kayu manis serta vanila. "hngh~ Arlan!" Helen melenguh saat merasakan geli di perpotongan lehernya.     Arlan berhenti saat mendengar lenguhan Helen, ada kilapan merah di matanya, hanya sebentar, untung Arlan punya kontrol diri yang bagus, sehingga insting Alpha di dalam dirinya tidak sampai mengambil alih. "Hehehehe." Arlan mengecup perpotongan leher Helen sebelum menjauhkan wajahnya dari sana. "Dasar Alpha." Helen mendengus, sebelum mengeluarkan parfum dari dalam tasnya dan menyemprotkannya ke seluruh tubuhnya, membuat aroma feromonnya tertutup sepenuhnya. "Sama sahabat sendiri kok nafsu."     Arlan mendengus mendengar perkataan Helen. "Dasar Omega perawan." "Arlan!"     Arlan cekikikan, berlari keluar dari toilet untuk menjauhi Helen yang paling sensitif dengan topik tersebut, berlari berusaha menyelamatkan dirinya dari amukan seorang Helen. . . "Kapan heat kamu selanjutnya, Len?" Arlan melirik Helen yang sedang memperhatikan jalan di depannya, terlihat tidak semangat dan b*******h, tidak seperti seorang Helen yang biasanya. "Hmmmm....." Helen menimbang-nimbang, mengingat-ingat kapan terakhir kali dia mengalami heat. "Minggu depan?"     Arlan yang sedang menyetir menatap Helen dengan ragu. "Tiga hari lagi." Sambarnya dengan yakin.     Helen menatap Arlan dengan tidak terima. "Tahu dari mana kamu? Kamu Omega?" "Wajahmu pucat, lemas, pilih-pilih makan, manja, dan di toilet tadi-" Arlan berusaha menepis ingatannya akan lenguhan Helen tadi pagi, "kamu sensitif sama sentuhanku." Arlan kemudian menghela nafas, memastikan indra penciumannya masih berfungsi. "Feromonmu masih bisa kucium, Len."     Helen melotot, tiba-tiba tubuhnya duduk dengan tegak, mengendus-endus tubuhnya, dia yakin dia sudah mandi dengan sabun penghalang feromon, dia juga sudah membaluri dengan krim penghalang feromon yang tebal dan parfum yang baunya menyengat. "Beneran?" Helen menatap Arlan yang terlihat nervous, feromonnya pasti memberikan efek pada Arlan yang seorang Alpha.     Arlan mengangguk, kemudian memberhentikan mobilnya di sisi jalan, tidak jauh dari perusahaan tempat Helen bekerja. "Ck, heat sialan!" Helen menendang kakinya kesal. "Supressant?" Helen menatap Arlan penuh harap. "Dokter bilang kamu gak boleh pakai supressant lagi, Len."     Helen mengacak rambutnya frustasi, hari ini adalah hari senin, dan dia ada banyak meeting. Terlebih akan ada tamu dari luar negri yang harus dia urus. Dia tidak bisa kemana-mana kalau feromonnya menguar dengan bebas, akan ada banyak manusia tipe Alpha di sana, dan keselamatan Helen bisa terancam. "Mau aku tutupi?" Arlan menatap Helen dengan ragu, meskipun ini bukan pertama kalinya Arlan menutupi feromon di tubuh Helen dengan aroma feromon miliknya.     Helen kemudian berbalik menatap Arlan, "Kamu gak apa?"     Bukan apa, mereka sudah bersahabat sejak SD, Helen tau Arlan sangat terpengaruh dengan feromonnya. Arlan bisa nafsu dengan hanya menghirup aroma feromon Helen. Meskipun Helen percaya Arlan tidak akan berbuat di luar batas keinginan Helen, tapi Helen selalu merasa kasihan saat harus meninggalkan Arlan yang bagian bawahnya sudah mengeras karena nafsu sendirian.     Omega yang belum memiliki mate memang sangat rentan, aromanya bisa mengundang Alpha dari manapun. Berbeda dengan Omega yang sudah memiliki mate, yang aroma feromonnya sudah saling bercampur satu sama lain. Tapi Helen belum siap memiliki pasangan, satu yang di minta almarhumah ibunya sebelum meninggal adalah menjaga keperawanannya sampai ada orang yang mau menjadi matenya.     25 tahun dan masih perawan, itu lah Helen. Di saat omega lain sudah melakukan s*x demi menghilangkan rasa sakit saat heat, Helen menahannya dengan mengonsumsi supressant. Yang sialnya kini sudah di larang oleh dokternya.     Sejak saat itu Arlan kadang membantu Helen menutupi aroma feromonnya dengan feromon miliknya saat di rasa waktu heatnya akan dekat. Alpha manapun akan menggila saat mencium aroma Omega yang sedang dalam masa heat, mereka bisa hilang kontrol dan mengambil kesempatan. Dan Arlan tidak mau itu terjadi pada Helen.     Setidaknya dengan menyelimuti Helen dengan feromon Alpha miliknya bisa membuat Alpha lain menjauh.     Arlan menatap Helen dengan gugup, tiba-tiba merasakan panas di sekelilingnya. Arlan menarik melonggarkan dasi yang di kenakannya agar bisa mengurangi sedikit rasa panas. "Ayo." Ucap Arlan final, dengan mata yang mengkilap menunujukan nafsu dan perasaan meronta-ronta dari Alpha di dalam dirinya untuk segera menyentuh Omega yang ada di dekatnya. . .     Helen sudah terbaring di kursi belakang mobil, dengan Arlan yang ada di atasnya. "Aku buka?" Arlan menatap Helen dengan tangan yang sudah ada di atas kancing kemejanya, meminta persetujuan dari sang pemilik untuk melakukan aksinya. "Hm." Helen hanya berdehem dan mengangguk, wajahnya memerah semerah tomat, ini bukan pertama kalinya Arlan dan Helen bersentuhan dengan intim seperti ini, bukan tujuan lain selain melindungi Helen dari predator di luar sana tentunya. Tapi Helen selalu merasa gugup dan malu setiap Arlan membantunya.     Di atas Helen, Arlan sedang melepaskan kancing kemejanya satu demi satu setelah mendapatkan persetujuan. "Cium?" Arlan menundukan wajahnya, sampai hanya tinggal beberapa senti saja dari wajah Helen. Helen mangangguk pelan, memberikan ijin bagi sahabatnya untuk mempertemukan bibir mereka. Menurut Helen, setidaknya hanya itu yang bisa dia berikan pada seorang Arlan, sebuah ciuman.     Panggutan itu terjadi, Arlan memanut bibir merah Helen dengan lembut, berusaha menjadi segentle mungkin pada sahabatnya itu. Tangannya dengan cekatan meraba setiap inci tubuh Helen yang sudah tidak tertutupi kemejanya.     Arlan melepas ciumannya, menatap Helen yang.... berantakan.     Lipstick yang berceceran di bibirnya, wajah yang memerah, rambut tebal yang mulai kusut, dan bibirnya yang setengah terbuka sedang terengah. Cantik, Helen memang selalu cantik.     Pandangan Arlan turun pada gundukan kembar di tubuh Helen. Matanya mengkilat kemerahan saat melihat d**a Helen yang bulat dan kencang. Alpha di dalam dirinya sudah meronta-ronta untuk menjamah semua yang dia lihat. "Eungh~ Arlan~" Helen memejamkan matanya saat Arlan menurunkan bra yang dia kenakan dan menjilati putingnya.     Lidahnya dengan lihai menyapu kulit Helen. Kemudian dilihatnya leher jenjang Helen yang putih dan bersih, di benamkan wajahnya di sana. Jilat, kecup, gigit. Memastikan salivanya cukup membuat basah leher Helen.     Arlan menggeram saat menghirup aroma vanila yang kuat, Helen pasti sudah basah di bawah sana. Tidak jauh berbeda dengan Arlan, pre-heat membuatnya lebih b*******h saat ini,kepalanya pening dan tatapannya mengabur saat menghirup aroma feromon Arlan yang terhirup seperti kopi segar di pagi hari. "Arlan.." Helen bergumam, matanya setengah terbuka, pikirannya penuh dengan nafsu. Omega di dalam dirinya memberontak meminta untuk di sentuh lebih jauh, tapi tentu saja akal sehatnya sebagai manusia lebih kuat. "Sini." Arlan dengan cekatan mengangkat tubuh Helen dan memangkunya. Kini Helen sudah berada di atas paha Arlan, saling berhadap-hadapan. "Cantik sekali sahabatku ini." Arlan tersenyum lembut, ibu jarinya di gunakan untuk mengelap ceceran lipstick Helen yang berantakan. Kemudian kembali menciumnya. Tangannya masuk ke dalam kemeja Helen yang masih terpasang di tubuhya, menggerayangi punggung Helen dengan tangannya.     Helen memejamkan mata saat menghirup aroma kopi dan vanila milik mereka yang mulai bersatu, Helen juga dapat merasakan sesuatu yang keras di balik celana milik Arlan. "Arlan." Helen menggenggam tangan Arlan, saat di rasanya aroma feromon Arlan sudah melekat di dirinya.     Arlan mendongak, menatap Helen penuh arti. Nafasnya memburu, dinaikannya sebelah alis, pertanda bingung. "Udah?"     Helen mengangguk.     Arlan mengangguk, mengancingkan kembali satu persatu kancing kemeja Helen. Di belainya rambut Helen, di satukannya kening mereka. "Dengan ini, paling tidak kamu aman sampai tiga hari."     Helen mengangguk, feromon seorang Alpha akan bertahan di kulitnya hanya sampai tiga hari saja, berbeda dengan mereka yang sudah menjadi mate. Arlan menyelipkan untaian rambut Helen ke telinganya, kemudian di kecupnya kening Helen. "One last kiss?" Tanya Arlan penuh harap.     Helen mengangguk, tersenyum menenangkan sebelum menangkup wajah Arlan dan menyatukan kembali bibir mereka.     Begitulah persahabatan Helen dan Arlan. Bersumpah saling melindungi sampai mati, saling menyayangi dan saling memberi. Jika saja Arlan bukan lah sahabat Helen, pasti Helen sudah jatuh hati dengan sikap Arlan yang luar biasa gentle padanya. Dan jika saja Helen bukanlah sahabat Arlan, mungkin Arlan sudah melamar gadis ini sejak lama.     Tapi begitu lah mereka, hanya seorang sahabat yang sebodo amat dengan yang namanya perasaan cinta.     Helen dan Arlan, sepasang manusia bodoh yang sialnya di takdirkan bertemu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN