Hangat selimut Daviant pagi itu terasa berbeda, Ia seperti di dekap lebih hangat oleh wangi familier yang dulu Ia hafal di luar kepala. Masih terasa enggan membuka mata kala otak pintarnya membuka kilas memori semalam. Terasa seperti mimpi yang menjadi buih nyata ketika Ia melihat sang mama tengah duduk dengan anggun menanti kepulangannya dari sekolah sore kemarin. Daviant tak banyak bertukar cerita dengan wanita kesayangannya tersebut, Ia hanya memandangi sang mama selama bermenit-menit. Mencoba menggali kembali memori wajah wanita yang melahirkannya tersebut. Sebelum akhirnya tanpa kata Daviant jatuh tertidur di pangkuan Ibunda tercinta. Bersama air mata kelegaan yang tanpa Ia sadari telah membanjiri kedua permukaan pipinya. Benar. Sejak senja Daviant jatuh tertidur dalam belai hang

