Bab. 7 Diasingkan

1123 Kata
Gabriel berjalan mengendap setelah ia merasa keadaan aman untuk melanjutkan tujuannya. Perlahan tapi pasti ia melangkahkan kakinya menuju tempat para Dewi tadi berasal. Karena pernah kesini, ia pun menjadi tau kalau di masa seperti ini para Dewi sudah selesai berendam dan bersiap untuk mengerjakan tugasnya masing-masing. Tiba-tiba terdengar sebuah suara merdu nyanyian seekor burung pelangi tak jauh dari tempatnya bersembunyi. Masih dengan gaya mengendap-endap Gabriel pun berjalan ke arah sumber suara. "Ayo, burung! Nyanyikan sekali lagi untukku!" pinta seorang Dewi dengan suara lembutnya. Ia sedang bersantai di atas sebuah bongkahan kristal yang berjajar acak layaknya bebatuan di pinggir telaga yang biasanya ada di bumi. Sedang di dahan pohon di sampingnya, bertengger seekor burung pelangi. Burung yang memiliki bulu-bulu indah nan halus serta corak warna-warni dengan ukuran dan bentuk yang mirip burung cendrawasih di Papua. Dari jarak yang tak cukup jauh, Gabriel pun akhirnya menemukan sosok burung yang sedang diincarnya. Saat si burung tengah menyanyikan suara merdunya. "Wah, hebat! Suaramu sungguh mempesona," puji sang Dewi yang langsung dikenali Gabriel bernama Fortuna. Dewi Fortuna ialah Dewi dari klan Dewi Pembawa Keberuntungan. Dewi Fortuna merupakan secantik-cantiknya Dewi yang satu generasi dengan Gabriel. Bahkan, berulang kali ia selalu menjadi hadiah utama pemenang Jagoan Angkasa Sejati. Hanya saja, sampai sekarang tidak ada yang sanggup mengalahkannya di segmen terakhir perlombaan, yaitu adu kelayakan. Karena Dewi Fortuna menjadi satu-satunya keturunan Sang Ratu Dewi Tertinggi di generasi Gabriel saat ini. Makanya, kelak yang mampu menikahinya akan serta merta menjadi sang penguasa para Dewa. Atau dalam kata lain ia akan diangkat menjadi Rajanya para Dewa. Dan begitupun Gabriel. Dia mengikuti perlombaan Jagoan Angkasa Sejati itu pun karena ia yang sudah lama mendambakan sang Dewi, serta bermimpi ingin menikahinya dengan segera. Krek! Tiba-tiba Gabriel menginjak ranting yang sudah mengering. Hingga Dewi Fortuna pun mengalihkan perhatian dari burung cantik di depannya itu. "Siapa itu?!" tanya Fortuna dengan nada curiga. Karena tidak mau ketahuan Gabriel pun kembali menelungkupkan badannya rata dengan lantai awan. Namun sayang, persembunyiannya kali ini langsung diketahui oleh Dewi yang memiliki pandangan super itu. Fortuna pun segera mendekatinya. "Hei, siapa kamu?" tanya Fortuna lagi. Karena sudah terlanjur tertangkap basah Gabriel pun akhirnya mengangkat tubuhnya. "Hehe. Hai Fortuna," balas Gabriel sambil cengengesan. "Apa yang sedang kamu lakukan disini?!!" tanya sebuah suara yang cukup menggelegar. Jelas saja itu bukanlah suara Fortuna yang lemah lembut itu. "Apa yang sedang kamu lakukan disini?!!" ulang Raja Ramos dengan suara yang masih menggelegar. @@@@@@ Saat langit malam semakin menunjukkan kegelapannya. Dan bintang-bintang yang bertaburan semakin terlihat berkilauan. Satu diantaranya memancarkan sinar yang lebih terang dari yang lainnya. Sinar itu pun semakin membesar, membesar dan kian membesar. Hingga berakhir dengan sebuah kilauan yang melesat menuju bumi. Bak meteor yang terjatuh dari luar angkasa. Brukkk!!! Sinar itu pun terjatuh tepat di halaman belakang rumah Ardian. Karena malam yang sudah larut. Jadi, tidak ada yang menangkap keganjilannya, kecuali dua orang security yang sedang menonton tv di dalam pos itu. "Eh, elo liat kilauan tadi?" tanya si security dengan kumis tebal. "Iya, iya lihat. Sepertinya meteor ya?" balas si badang cungkring. "Heeh. Kayaknya nggak jauh deh. Kita cari yuk," ajak si kumis sambil menggapai senter yang ia letakkan tak jauh darinya itu. "Yuk!" balas rekan kerja sambil meraih pentungannya. Sedang di pekarang belakang rumah Ardian…. "Ampun, Raja. Tapi hamba benar-benar tidak melakukannya. Sungguh, hamba hanya dijebak," ucap Gabriel memohon. "Peraturan tetaplah peraturan, Gabriel. Kau harus diasingkan sampai kau bisa menaklukan kecerobohanmu. Lakukanlah tugas terbaikmu, tolonglah seorang manusia yang berhasil menemukan bulu burung pelangi. Jangan lakukan kecerobohan lagi sehingga membuat manusia lindunganmu semakin terjebak dalam masalahnya. Baru kau bisa kembali ke kerajaan langit keenam. Jika tidak, maafkanlah aku jika kau akan terombang ambing di antara langit dan bumi," balas sebuah suara yang dari sinar terang yang menyilaukan. "Tapi, Raja. Tolong dengarkan aku, Raja. Aku mohon. Dengarkan aku," ujar Gabriel sambil terus memohon. Namun, suara sang Raja tidak lagi terdengar. Malah-malah cahaya yang tadi bersinar-sinar begitu terang kini semakin redup, redup kemudian mati. "Raja jangan tutup pintunya!!!" teriak Gabriel sambil mengepakkan sayapnya dan terbang ke arah cahaya tadi. Namun…. Whusss!!!! Dia kembali terhempas ke permukaan bumi. Gabriel pun tak putus asa. Ia terus melakukannya berulang lagi, tapi tetap saja usahanya tidak pernah berhasil. Justru, sayapnya malah terasa perih. Sebab, banyak bulu yang berguguran. Brukkk!!!! Lagi-lagi Gabriel terjatuh ke tanah. Deru nafas penyesalannya pun kian menjadi. Saat ia tengah menangisi kebodohannya menerima tantangan Lucas tadi. Ia baru sadar jika ada sepasang mata manusia yang tengah mengawasinya. Gabriel pun segera melirik ke arah manusia yang tengah menatapnya dari balik pohon. Kemudian ia pun menghilang, pergi dari tempat itu. Waktu pun kian berlalu. Malam pun sudah kembali ke peraduan. Kegelapan langit malam pun kini sudah berganti dengan awan putih yang terang benderang. Memang hari semakin siang, bahkan burung-burung nuri pun sudah capek berdendang. Namun, Ardian masih enggan keluar dari selimut hitam yang menutupi seluruh tubuhnya dari ujung kaki sampai ujung kepala. Maklum, hari ini libur akhir pekan jadi dia berniat untuk bermalas-malasan seharian. Cekrek!!! Bunyi sebuah decitan pintu saat Saskia mendorongnya dari arah luar. Melihat suaminya masih terlelap di atas tempat tidur mereka berdua, ia pun menggelengkan kepalanya sambil menghembuskan nafas beratnya. Perlahan ia pun berjalan mendekati lelaki yang sudah sah menjadi imam dalam keluarga kecilnya sejak empat tahun yang lalu. "Mas! Mas!" panggilnya lembut sambil menggoyangkan badannya dengan pelan. Merasa ketenangannya sudah diganggu, Ardian pun membuka sedikit selimut yang menutupi wajahnya. "Heem. Ada apa?" balasnya dengan malas-malasan. "Mas. Bukannya kamu sudah janji mau mengantarkan aku dan anak-anak ke rumah ibuku?" ucap Saskia pelan. Takut, lelaki itu langsung membentaknya. "Ck. Badanku lemas banget Sas. Kamu pakai taxi online saja, ya," balas Ardian sambil malas-malasan. "Ya, sudah. Kalau begitu aku berangkat ya. Aku juga sudah masak. Nanti kamu jangan lupa makan ya," sahut Saskia kemudian. Ia tahu suaminya itu pasti kecapean. Apalagi semalaman ia tidak bisa tidur. "Iya. Kamu juga hati-hati di jalan. Kalau repot minta diantar Mbok Inah saja," ucap Ardian sambil merubah posisi tidurnya menjadi membelakangi Saskia. "Iya. Aku berangkat ya," ujar Saskia sambil mengulurkan tangannya ke arah Ardian. Dengan malas Ardian pun mengulurkan tangannya untuk diraih sang istri. Saskia langsung meraih telapak tangan lelaki itu lalu menciumnya dengan penuh rasa hormat. Setelah berpamitan Saskia pun segera keluar dari ruangan pribadinya dengan sang suami itu. Ia bergegas mendekati Mbok Inah yang sedang menjaga kedua anaknya. "Bagaimana, Bu. Bapak jadi mengantar Ibu?" tanya Mbok Inah sambil menimang-nimang Naya yang berada di dalam gendongannya. Saskia pun menggeleng lemah. "Tidak, Mbok. Mbok Inah saja ya yang mengantar saya kesana. Biar saya pesan taxi online dulu," ujar Saskia pada wanita paruh baya yang sebenarnya datang hanya untuk bersih-bersih di rumahnya itu. "Baik, Bu," jawab Mbok Inah dengan penuh rasa hormat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN