Bab. 5 Bartemu Yolanda

1093 Kata
Chiiittt…. Ardian menghentikan laju mobilnya di sebuah parkiran Family resto. Karena ini bukan malam Minggu jadi pengunjung pun tak terlalu banyak. Di sampingnya sudah berhenti mobil Yolanda yang sudah sampai terlebih dahulu. Ardian tersenyum menatap sosok Yolanda yang sudah keluar dari mobil di depannya. Ia merasa semakin kagum saja dengan penampilan wanita itu yang terlihat semakin menarik. 'Padahal, dulu dia nggak secantik itu,' batin Ardian. Lelaki itu pun segera turun dari mobilnya dan mengejar wanita yang dulu pernah dijodohkan oleh Mamanya itu. Dan saat itu ia memang tak menerima perjodohan dengan Yolanda. Karena lebih memilih menikah dengan Saskia. Wanita yang tengah menjadi kekasih hatinya sejak semester delapan di masa kuliah itu. Dan mulai saat itu. Hubungan Ardian dan keluarganya pun retak. Sang Mama benar-benar tidak mau tau urusan keluarga kecil Ardian. Bahkan, keluarga Ardian pun belum tau. Jika mereka sudah memiliki sepasang anak yang lucu-lucu. Kembali pada Ardian yang sedang berjalan memasuki area Family resto. Setelah celingukan beberapa kali, akhirnya Ardian pun menemukan sosok Yolanda yang sudah duduk manis di salah satu meja di dalam resto itu. Tanpa basa-basi Ardian pun berjalan mendekatinya. "Kenapa memilih meja ini? Kan meja yang lebih dekat dengan jalan keluar banyak yang kosong?" tanya Ardian sambil duduk di salah satu kursi di meja itu. "Suka aja. Lihat deh! Kalau dari sini jalanan ibukota yang tak pernah sepi kan bisa terlihat jelas," jelas Yolanda sambil menunjuk keluar jendela. Mau tidak mau Ardian pun menatap ke arah yang sama. "Mau pesan apa, Kak? Silahkan pilih menunya," ujar seorang pelayan sambil memberikan daftar menu di restoran itu. Ardian dan Yolanda pun langsung meraihnya. Setelah melihat berbagai menu andalan di restoran ini. Akhirnya Ardian pun memilih mie Ongklok khas Wonosobo dengan sebuah es jeruk. Sedang Yolanda pun memesan satu porsi karedok dan jus mangga. Restoran ini memang menyediakan masakan khas Nusantara dari sabang sampai merauke. Makanya diberi nama Family resto. Sebab, di tempat makan ini menyediakan makanan khas yang biasanya disukai banyak keluarga di Indonesia. Tak butuh waktu lama masakan yang mereka pesan pun datang. Lalu untuk beberapa menit pun keduanya sibuk dengan makanan masing-masing, tapi pada menit berikutnya Ardian pun membuka pembicaraan setelah sempat terdiam beberapa saat. "Bagaimana kabar kamu Yo?" tanya Ardian basa-basi. Seketika Yolanda pun menghentikan aktivitasnya. Sebelum menjawab ia pun menyeruput jus mangga kesukaannya. "Yah, seperti yang kamu lihat sekarang. Aku baik-baik saja," jawabnya sambil tersenyum simpul. "Bukan. Bukan itu maksudku. Maksudku bagaimana kabar pernikahanmu? Kamu sudah memiliki anak berapa?" tanya Ardian lirih. Takut membuat Yolanda terluka hatinya. "Oh… tentang itu," balas Yolanda sambil menegakkan badannya. Ia pun meraih sebuah tisu lalu mengelap bibirnya yang tidak belepotan. 'Sungguh wanita berkelas,' batin Ardian sambil terus memandangi Yolanda tanpa kedip. "Aku belum punya anak," jawab Yolanda singkat. Namun, sambil tersenyum bangga. Seakan keadaan itu memanglah yang diinginkannya. "Belum punya anak?" pancing Ardian lirih. Lagi-lagi Yolanda pun tersenyum. "Belum. Buat apa? Aku enjoy dengan hidupku sekarang. Bisa berangkat kerja sesuka hati. Pulang sesuka hari. Main kemana juga hanya berdua dengan suami. Nggak ada yang mengganggu. Suamiku juga gitu. Dia memang nggak terlalu menuntutku untuk segera memberinya keturunan. Maklumlah, dia sekarang menjabat sebagai Dirut salah satu perusahaanku. Jadi, dia pun tau betapa sibuk dan repotnya aku mengurusi beberapa perusahaanku yang tak hanya di satu kota saja. Makanya, dia tidak mau melihatku semakin pusing karena harus mengurus anak pula di rumah," ceritanya panjang lebar. Tapi, berhasil membuat mulut Ardian menganga. Baru kali ini ia mendengar ucapan yang seakan menjadi jawaban dari keluh kesahnya akhir-akhir ini. 'Benar juga ucapan Yolanda. Andai gue nggak memiliki anak. Mungkin sekarang hidup gue nggak sekacau ini. Lagian Saskia pun bisa melayani gue dengan maksimal. Tanpa harus repot-repot membaginya pada anak-anak. Apalagi dua anak balita seperti sekarang,' sesal Ardian mulai terpengaruh dengan ucapan Yolanda tadi. "Terus bagaimana sama kamu? Udah punya berapa anak?" tanya Yolanda balik. "Eh… ehm…. Dua," balas Ardian sedikit gelagapan. Karena ia sedang melamun tadi. "Dua? Bukanya kamu baru empat tahunan menikah? Berarti anak-anak kamu masih kecil-kecil?" ucap Yolanda setengah tidak percaya. Ardian pun enggan menjawab. Ia hanya mengangguk lemah. "Ya, gitu deh. Anak pertama umur tiga tahunan dia cowok namanya Danu. Dan tanpa kami sengaja. Istriku kebobolan. Lalu hamil lagi anak kedua. Namanya Naya, dia baru saja berumur delapan bulan," jelas Ardian dengan tak bersemangat. "Ck. Sungguh. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana sibuknya menjadi istrimu. Dan pastinya, kamu kurang diperhatikan, kan sama dia?" ucap Yolanda yang membuat Ardian semakin tersudut. "Heh. Pantas saja kamu terlihat kurus dan dekil gini. Istri kamu kurang memperhatikan kamu sih," tambah Yolanda sambil menggelengkan kepalanya. ****** Sampai rumah, ucapan Yolanda tadi masih terus terngiang-ngiang di telinga Ardian. Sampai-sampai saat ia masuk ke dalam rumahnya dengan langkah yang tidak semangat. Brukk!!! Ardian pun melempar tas kantornya ke sofa di ruang tamunya. Lalu ia pun menyandarkan punggungnya dulu di sandaran sofa. Tak seperti biasanya yang langsung melepas sepatu lalu mencari keberadaan kedua buah hatinya. "Sudah pulang, Mas?" tanya Saskia yang berjalan dari dalam rumahnya. Seketika Ardian pun menegakkan punggungnya. Lalu ia pun menoleh ke arah Saskia yang datang sambil menggendong dedek Naya yang minta digendong sebelum bobok. Sekilas ia pun membedakan penampilan Saskia yang lebih suka menggunakan daster lengan panjang dan badan yang terlihat kusam tak pernah terawat. 'Sangat berbeda dengan penampilan Yolanda yang sangat cantik, elegan dan juga terawat,' batin Ardian tanpa sadar. "Adek mau bobok?" balas Ardian tak menghiraukan pertanyaan Saskia barusan. Dari nada bicara Ardian yang kurang semangat. Membuat hati Saskia sedikit bergetar. Seakan menangkap sinyal aneh yang dipancarkan sang suami. "Iya. Biasa sebelum bobok ya dia minta digendong dulu," balas Saskia. "Harusnya kamu jangan dibiasakan dia tidur sambil digendong terus. Pekerjaan rumah tangga kan nggak hanya ngurus anak doang," ucap Ardian sambil mengangkat sepatunya untuk ia letakkan di rak. Lelaki dua puluh delapan tahun itupun kemudian meninggalkan istrinya dengan segudang pertanyaan yang membelenggu di pikirannya. 'Apa yang salah denganku? Kenapa Mas Ardian menjadi aneh akhir-akhir ini? Bukankah apapun yang kulakukan saat ini sebagai bentuk pengabdianku padanya? Untuk mengurus anak-anak dan juga dirinya. Tapi kenapa ia seakan terus menyalahkanku atas perbuatan yang aku sendiri pun tidak tau?' tanya Saskia pada dirinya sendiri. Tak terasa air matanya pun meleleh begitu saja. Dan saat bayi lucu di gendongannya sedikit menggeliatkan tubuh kecilnya, Saskia pun mencium ujung kepalanya. Ia merasa hanya anaknya lah yang akan mengerti keadaannya di rumah ini. Lalu Saskia pun segera menyeka butiran bening yang berkumpul di pelupuk matanya. Ia tidak mau Ardian melihatnya sedang menangis. Selain itu, Saskia pun masih punya pekerjaan lain yaitu menghangatkan makanan untuk makan malam Ardian. 'Dia pasti lapar setiap pulang lembur gini,' batin Saskia sambil menyalakan kompor.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN