Beberapa bulan kemudian. Hari ini adalah saat dimana detik-detik menegangkan untuk kelas dua belas yang sedang menunggu pemberitahuan penerimaan mahasiswa baru di Universitas. Mereka semua sedang berkumpul di sebuah kelas yang sangat luas, dengan beberapa guru yang sedang menunggu waktu sambil membenarkan alat-alat agar terlihat lebih jelas. Adisa dan Fattah duduk bersebelahan di kursi paling belakang memperhatikan beberapa guru yang sebentar lagi siap memberitahu kepada mereka semua siapa saja yang berhasil masuk ke dalam Universitas impian. “Firasat gue kok nggak enak ya, Adisa,” gumam Fattah sambil terus menggenggam tangan Adisa dengan sangat erat. “Nggak. Lo pasti ke terima kok Tah, nanti kita barengan lagi. Lagian saingan kita berkurang satu kok haha,” Fattah melirik Adisa sekil

