Adisa 22

753 Kata
"Kayaknya gue tau siapa yang terhubung sama mereka," gumam Haga lagi lalu Adisa dan Alex langsung menatap wajah Haga dengan mata yang hampir keluar dari tempatnya. "Siapa?" tanya Alex. "Om Zaki," jawab Haga dengan suara yang sangat kecil. "Why? Lo pernah ngelihat sesuatu yang aneh gitu sama dia?" tanya Adisa dan Haga mengangguk. "Mending kita langsung tanya aja sama dia?" usul Alex kemudian Haga dan Adisa dengan bersamaan menggelengkan kepalanya. "Kenapa?" "Pasti Om Zaki nggak akan mau kasih tau, ini permainan Buna sama Ayah," jelas Adisa. "Lagian nggak mungkin sih orang tua kalian sembunyi-sembunyi tanpa alasan yang logis, apalagi mereka udah ninggalin kalian lama. Pasti ada sesuatu dibalik semua ini, iya kan?" sambung Haga. Adisa dan Alex mengangguk secara bersamaan dengan pikiran yang mulai berlarian kesana kemari. "Waktu kita ke Jepang Om Zaki ikut nggak sih?" "Ikut, ikut nggak sih? Kayaknya sih ikut," "Kita telepon aja orangnya, dia nggak akan curiga kan?" sambung Adisa. "Nice idea! Kamu punya nomer teleponnya?" tanya Haga dan Adisa menggeleng. "Gue ada, sebentar gue ambil dulu hp nya," ucap Alex kemudian ia pergi dari kamar Adisa. "Kalo misal mereka masih hidup, pernah kebayang nggak?" tanya Haga lalu laki-laki itu merebahkan tubuhnya di kasur milik Adisa. "Nggak kepikiran sih, soalnya kan kecelakaan pesawat cuma lima persen atau kurang dari itu yang selamat. Kalau misal Buna sama Ayah masih hidup, Alhamdulillah banget. Tapi kenapa mereka nggak langsung temuin aku sama Alex disini? Apa mereka nggak tau kalo aku sama Alex butuh mereka?" "Nih," celetuk Alex saat ia baru saja kembali ke kamar Adisa. Adisa dan Haga kemudian bangun dan langsung kembali duduk melingkar seperti beberapa menit lalu, kemudian mereka bertiga langsung menghubungi Zaki menggunakan ponsel Adisa. "Halo, Adisa? Kenapa?" "Om Zaki baik?" "Baik, tumben nih, ada apa? Perasaan Om jadi nggak enak loh," ucap Zaki lalu Adisa terkekeh. "Emang nggak boleh kalo mau silaturahmi?" "Boleh, sekalian ke cafe aja kalo gitu. Nanti dibikinin kesukaan kamu," 'Cepet Ca,' bisik Haga dan Adisa mengangguk. "Om," panggil Adisa. "Kenapa Ca?" "Om Zaki ikut nggak sih waktu aku, Om Chandra, Oma, Eyang sama Alex ke Jepang bareng keluarganya Haga?" tanya Adisa dan Zaki terdiam mencerna pertanyaan dari anak sahabatnya itu. "Kenapa emangnya Ca? Kamu nggak nemu yang aneh-aneh kan?" jawab Zaki sedangkan Adisa, Haga dan Alex langsung membelalakkan matanya. "Bukan itu maksudnya, maksudnya tuh-- di foto kamu nggak ada penampakan hantu atau apa gitu kan? Soalnya itu juga udah lama Ca, hampir empat tahun yang lalu, Kan?" sambung Zaki dengan terbata-bata diawal kalimat. "Nggak sih, oke berarti Om Zaki ikut ya ke Jepang?" "Iya ikut, emang buat apa sih Ca? Bikin panik tau," "Ini ada tugas menceritakan pengalaman pergi ke negara yang pernah dikunjungi, nah aku lupa Om Zaki ikut nggak waktu itu, karena disuruh sebutin secara detail dan harus ada buktinya. By the way kalo Om Zaki ada foto sama aku waktu di Jepang kirim ke aku ya, buat bukti dokumentasi," jelas Adisa dan Haga mengangkat kedua jempolnya kearah Adisa. "Ada sih kayaknya, yaudah nanti Om cari dulu ya," "Iya Om, makasih ya. Maaf udah ganggu waktunya," ucap Adisa lalu mematikan sambungan teleponnya. "Ca, bagi buku tulis kosong sama pulpen," pinta Haga dan Adisa memasang wajah penuh tanya. "Buat apa?" "Jadi satu buku ini kita simpen buat semua bukti-bukti bahwa orang tua kalian masih hidup, nah kalo misal nanti bukti ini udah lebih dari cukup baru kita tanya ke Om Zaki, dia kan pasti mau nggak mau harus jelasin semuanya, Kan?" jelas Haga. "Ya ampun otak lo encer banget sih Ga, pantes Dica tergila-gila sama lo!" seru Alex kemudian laki-laki itu memberikan tepuk tangan untuk Haga. "Apaan sih lo alay, siapa juga yang tergila-gila sama dia," balas Adisa lalu ia mengambil buku tulis dan pulpennya di meja belajarnya. "By the way Ca, surat dari stranger waktu itu masih lo simpen? Kayaknya itu bisa jadi bukti," "Masih, gue juga beberapa kali dapet surat dari Om Zaki. Om Zaki?" gumam Adisa sambil mengeluarkan sebuah kotak. "Iya juga ya, kenapa semuanya berhubungan sama Om Zaki? Lex, kira-kira Oma sama Eyang tau nggak ya?" tanya Adisa lalu ia membuka kotak yang berisikan surat-surat dari Om Zaki. "Mereka nggak pernah bahas itu sih, mungkin mereka tau kalo itu pembahasan yang sensitif?" "Iya sih, mereka pasti nggak mau membuka luka lama kalian. Jadi mereka diem-diem dan nggak mau bahas kejadian itu? Dan kayaknya menurut gue mereka nggak tau," jelas Haga. "Guys coba deh perhatiin semua surat ini, inisial terakhirnya pasti D dan A, dan nama orangtua kita Adhista dan Diratama. Masuk akal nggak sih?" tanya Adisa sambil membaca inisial-inisial yang ada didalam surat-surat itu. Alex dan Haga kemudian ikut membaca surat-surat dari inisial A dan D tersebut, membaca satu persatu hingga akhirnya mereka menyelesaikan surat yang terakhir. "Baca ini, We are miss you so much, but we cant. Guys?" gumam Haga kemudian mereka bertiga saling bertatap-tatapan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN