Adisa 11

1182 Kata
"Cuman gara-gara dia lucu doang kamu suka?" tanya Haga lagi yang masih tak percaya dengan kata-kata Adisa barusan. "Terus karena apa dong?" tanya Adisa. 'Open your eyes Ca, gue udah suka sama lo dari bertahun-tahun lalu tapi lo nggak pernah notice. Sakit hati banget nih,' batin Haga. "Dasar, padahal gue lebih lucu!" celetuk Haga berusaha menyindir Adisa secara halus. "Ayo Ga, ada PR hari ini aku," ujar Adisa sambil menarik tangan Haga agar berjalan lebih cepat dari sebelumnya. "Eh ngerjain bareng yu Ca? Di café kemarin," "Boleh, sekarang atau pulang dulu?" "Langsung aja, biar cepet selesai," balas Haga lalu mereka berdua mulai menaiki motor dan menjalankan motornya menuju ke Sweetcake by Adhista. *** Beberapa saat kemudian mereka berdua sudah berada di Sweetcake by Adhista, yang lumayan ramai saat mereka baru saja memasukinya. "Kamu keatas duluan aja Ca, aku yang pesen," "Aku yang kayak biasa ya," "Okey," Adisa lalu langsung berjalan keatas mencari tempat untuk mereka berdua duduk. "Eh Ca, dateng lagi nih," ujar Zaki saat melihat Adisa yang baru saja sampai dilantai dua. "Iya nih Om Zaki, mau ngerjain tugas doang sih," jawab Adisa dengan senyum ramah yang membuatnya semakin mirip dengan Adhista. "Oh oke, kalau butuh apa-apa panggil Om aja ya. Kalau nggak yang ada dibawah," "Okey, duluan ya Om!" balas Adisa kemudian lanjut pergi menuju ke rooftop, tempat kesukaan mereka berdua saat mengunjungi tempat itu. Setelah sampai di rooftop yang berisikan tiga orang tersebut, Adisa langsung duduk disalah satu kursi kosong lalu membuka laptopnya untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru kepada murid-murid di kelasnya. "Dis, kemarin gue dapet ppt bagian apa?" tanya Reina yang tiba-tiba menelpon Adisa. "Pokoknya gue dapet bagian Plantae. Lo kayaknya Ekologi, sama kayak Fattah," jawab Adisa. "Ekologi? Gila! Oke thanks Dis. Btw lo lagi sama Kak Haga kan? I see you gurl, bye!" seru Reina dan ia langsung mematikan sambungan teleponnya. "Telepon dari siapa Ca?" tanya Haga yang langsung duduk didepan Adisa. "Oh ini dari Reina," "Oalah oke, nanti kalau ada yang nggak tau tanya aja Ca. Aku disuruh bikin puisi doang sih," jawab Haga. "Puisi?! Nanti aku bantu bikin, sekarang kerjain ini dulu ya," "Cari di google aja Ca, ngapain pusing-pusing bikin?" "Loh katanya disuruh bikin? Kok cari di google?" tanya Adisa bingung. "Eh? Salah ngomong berarti, disuruh baca puisi, tapi pakai intonasi dan mimic wajah yang bener," jelas Haga dan Adisa mengangguk. "Oalah yaudah kamu cari aja dulu puisinya, nanti aku nilai cara bacanya," "Iya bawel!" balas Haga kemudian mencubit hidung mancung Adisa. Adisa menatap Haga beberapa detik tanpa mengedipkan matanya. Rasa itu datang lagi, kupu-kupu didalam perut Adisa datang lagi, setelah beberapa waktu mereka bersembunyi. Mereka berdua masih ditempat yang sama tanpa bergerak sedikit pun. "Apaan sih lo Ga! Suka ya lo sama gue?" celetuk Adisa yang berusaha sekuat mungkin menyembunyikan kegugupannya. "Pede banget lo Ca! Udah cepet kerjain tugas ppt lo, biar bisa selesai bareng-bareng," jelas Haga. "Iya-iya!" "Ca, gue ke kamar mandi dulu. Jangan kabur!" seru Haga dan Adisa membulatkan matanya kepada Haga. "Emang gue buronan apa pake kabur segala!" balas Adisa yang membuat sekeliling mereka terkekeh mendengarnya. "Ya siapa tau lo baper gara-gara gue cubit hidung lo," bisik Haga tepat ditelinga Adisa dan laki-laki tersebut langsung berlari sebelum botol minum milik Adisa melayang ke kepalanya. "Mimpi apa sih gue bisa temenan sama lo Ga?" gumam Adisa kemudian ia langsung mencari materinya di google. So I heard you found somebody else. And at first I thought it was a lie. I took all my things that make sounds. The rest I can do without. Tiba-tiba dari speaker café tersebut, terdengar lantunan lagu dari The 1975 yang berjudul Somebody Else. Lagu keluaran tahun 2016 itu tidak terdengar ketinggalan jaman walaupun sudah tahun 2041. "Lagu angkatan Buna kamu enak ya," gumam Haga saat baru duduk dihadapan Adisa. "Dih sok tau, emang ini lagu angkatan Buna aku apa?" "Iya, barusan aku dikasih tau sama Om Zaki," jawab Haga yang membuat Adisa langsung terdiam tak bisa berkata apa-apa. "Kingdom Plantae adalah," gumam Adisa sambil mencarinya di laptop. "Salah satu organisme eukariotik multiseluler yang mempunyai dinding sel dan klorofil," jawab Haga tak sengaja. Adisa kemudian melirik laki-laki tersebut sekilas, sambil mengoceh didalam hatinya. "Hepaticopsida?" "Lumut hati itu Ca," "Apa sih," ketus Adisa kemudian berusaha tak memperdulikan Haga. "Jenis-jenis tumbuhan Paku." Adisa membaca tulisan tersebut melalui laptopnya dan berniat untuk menyalinnya ke aplikasi PowerPoint. "Paku purba atau Psilopsid. Kedua Paku kawat atau Lycopsida. Ketiga, Paku sejati atau Pteriopsida," jawab Haga namun matanya focus menatap kearah kertas yang sudah berisikan beberapa paragraph puisi yang ia tulis. "Oh My God Mr. Haga Griffin Kendrick Tyaga. Can you sut up your F mouth?!" seru Adisa dengan emosi yang tertahan dan wajah yang mulai merah. "Kenapa? Aku kan cuman jawab yang kamu tanyain ke aku, am I wrong?" tanya Haga dengan wajah polos yang membuat orang-orang bisa gemas saat melihatnya. "Tau lah, terserah kamu. Mentang-mentang pinter jadi sombong, males aku!" ketus Adisa dengan wajah seram seperti Kak Ros yang sedang marah. "Salah lagi, padahal niatnya baik," gumam Haga sambil mengelus-elus dadanya. Setelah kejadian tersebut, mereka berdua berdiam diri tak saling bicara selama beberapa menit kedepan. Adisa dan Haga focus kepada tugasnya masing-masing, Adisa yang sedang mengerjakan tugas tentang Plantae atau tumbuhan, sedangkan Haga sedang berlatih membaca puisi dengan mimic wajah. "Janganlah ragu, Dengan apa yang aku bicarakan. Percayalah, Aku akan menjagamu, hingga waktu yang tepat." "Karya Haga Griffin Kendrick Tyaga," ucap Haga dengan percaya dirinya sambil membungkukkan tubuhnya. Adisa hanya memperhatikan laki-laki dihadapannya ini dengan wajah bingung. "Katanya nggak disuruh bikin, tapi bikin. Aneh!" ketus Adisa sambil menatam tajam kearah Haga. "Orang lagi ada ide, masa dibuang sia-sia?" "Keren Ga, mantap!" ujar Zaki sambil memberikan tepuk tangan untuk Haga. "Thank you," jawab Haga lalu menyuruh Zaki untuk ikut duduk bersamanya. "Ngga usah, ini Om, itu gue cuman mau kasih surat buat Dica. Jangan lupa dibaca ya, kalau mau dbales, kasih ke Om lagi ya Ca," jelas Zaki kemudian memberikan amplop berwarna cokelat yang sangat menarik itu kepada Adisa. "Dari siapa ini Om?" tanya Adisa yang masih membolak-balikkan amplop tersebut. "Udah baca aja, yaudah Om pergi dulu ya. Oh iya Ca, kapan-kapan main ya kerumah Om," "Haha okey siap Om!" balas Adisa dengan mengangkat ibu jarinya. "Coba buka Ca," ujar Haga yang ikut penasaran dari siapa surat tersebut. "Okey," jawab Adisa kemudian ia membuka surat tersebut dengan sangat berhati-hati sambil melihat keseluruhan surat itu. "Hey Love, it's been a long time since 2027. You grow up so fast and be a good girl. I hope you and your little brother Alex always get healthy things. Did you know? I miss you so badly, we miss you so. I want to hug you, kiss you, tell a story to you, but I can't. Ca, if you read this and remember someone, that's me, that's we. We are so coward, because we can't show you that's we. Ca, please tell to Alex, that we are fine and we miss you. Love, D&A." Adisa dan Haga langsung bertatap-tatapan selama beberapa detik. "D dan A?" tanya mereka yang masih memperhatikan surat tersebut. "Adhista dan Diratama?" "Buna? Ayah?" tanya mereka berdua dengan wajah bertanya-tanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN