Semuanya Berawal Dari Hal Sepele

1099 Kata
Terbangun dengan kondisi tubuh yang sangat segar adalah keinginan setiap orang. Kini itulah yang dirasakan oleh Iselin. Setelah hari-harinya belakangan ini dipenuhi dengan gonjang-ganjing kehidupan, kini di rumah orang tuanya ia bisa hidup lebih tenang. Meskipun … tak pernah sekali pun ia melupakan fakta bahwa Rhaevan dengan kesadaran diri memilih perempuan lain ketimbang rumah tangga mereka. Apakah begitu sepelenya rumah tangga mereka? Alih-alih terus menerus tenggelam dalam pikiran yang menjengkelkan itu, Iselin bergegas membersihkan dirinya dan pergi keluar kamarnya. Aroma masakan mama yang selalu ia rindukan terhindu oleh penciumannya, ia pun segera berlari kecil menuruni anak tangga. Samar-samar Iselin mendengar suara kakaknya, tapi saat ia selesai menuruni tangga hanya melihat sang kakak sedang asik bermain PS di ruang keluarga. “Kak, telfon siapa?” tanya Iselin. Ia ingin tahu apakah Rhaevan mencarinya melalui Rune. Sejak datang ke tempat ini Iselin telah mematikan ponselnya. Tidak ingin diganggu oleh siapapun. Sebelum pergi pun Iselin sudah berpamitan pada managernya, ia akan mengambil libur sampai selesai liburan tahun baru. “Itu Maha …,” balas Rune seadanya. Mendengar nama itu Iselin agak merasa kecewa, ia pikir suaminya yang mencarinya melalui Rune. Harapannya pupus sudah, sepertinya Rhaevan sama sekali tidak peduli padanya. Buktinya ia sudah pergi selama tiga hari tapi tidak dicari. “Kenapa wajahmu begitu?” tanya Rune setelah sesaat memperhatikan raut wajah adiknya. “Tidak apa-apa, kukira ….” “Kau kira suamimu yang telfon?” Seperti seorang dukun, begitulah Rune yang selalu mudah membaca pikiran Iselin. Baginya sang adik seperti sebuah buku yang terbuka, sangat mudah untuk diterka. Iselin mengangguk pelan. “Kenapa Rhaevan tidak menelfonmu sendiri?” suara Mama yang terdengar tiba-tiba membuat Iselin terlonjak hingga ia berbalik dengan seketika. “Mama! Kau mengejutkanku.” Iselin menghela pelan, ia melihat Sarwendah membawa mangkuk besar berisi lauk-pauk itu langsung mendekatinya. “Apa ini?” Iselin melihat ke arah mangkuk yang berisi ikan kukus kesukaan Iselin. “Wah, sepertinya ini lezat.” Mata Iselin berbinar-binar melihat makanan kesukaannya tersaji di atas meja makan. “Jangan mengalihkan pembicaraan, mama bertanya padamu.” Sarwendah baru saja meletakkan mangkuk, dan ia berkacak pinggang sedang menginterogasi Iselin. “Ini karena si bod0h ini merusakkan ponselnya.” Tiba-tiba dari belakang, Rune mengacak-acak rambut adiknya lalu dengan acuh duduk di salah satu kursi. Untuk beberapa saat Iselin tertegun, kakaknya memang selalu menjadi kakaknya. Sejak dulu hingga sekarang. Orang yang akan membelanya, orang yang akan menjadi garda terdepan saat dia dilukai, orang yang menggendongnya saat ia terluka, tapi ia juga orang pertama yang suka menggodanya, membullynya. Iselin menatap Rune untuk sesaat, berterima kasih karena telah membantunya keluar dari interogasi sang mama. “Apa kau lihat-lihat… duduk dan makan, nanti dingin!” kata Rune acuh tak acuh. “Tunggu papamu!” Mama menepuk pundak Rune. “Papa dataang!” dan datanglah Gunawan yang membawa irisan buah di dalam mangkuk. Mereka mulai untuk sarapan bersama. Mama mulai membagikan ikannya kepada anak-anak dan kepala keluarga. Memberikan sedikit lebih banyak pada Iselin. “Is, sudah dua hari di sini kenapa belum pergi ke rumah neneknya Rhaevan?” tanya Gunawan di sela-sela makannya. “Hmmm.” Iselin hanya bergumam tanpa menjawab. “Kenapa?” Gunawan tampak tidak puas. Tentu saja, siapa yang akan puas mendapat jawaban seperti itu. “Biarkan anak itu makan, papa juga fokus makan.” Sarwendah menyela. “Tidak biasanya anak ini, sebenarnya kau punya masalah apa dengan Rhaevan?” Akhirnya apa yang ada di dalam pikiran Gunawan itu dikeluarkan juga. Sebenarnya sejak kedatangan Iselin dan Rhaevan yang tiba-tiba tanpa pemberitahuan dan melihat bekas luka yang samar-samar di wajah Iselin ada pertanyaan besar yang menggelayut dalam pikirannya sebagai seorang ayah, bahkan bukan hanya dirinya, sang istri pun merasakan hal yang sama. Hanya saja melihat keadaan Iselin yang tampak bahagia dan sumringah saat pulang, tak sampai hati mereka bertanya. Mereka menunggu Iselin agar mengatakannya sendiri, tapi sampai dua hari di rumah ini pun tidak ada pergerekan dari putri kecil mereka. Hanya ini yang bisa dilakukan oleh Gunawan sebagai seorang ayah. “Apa Rhaevan memukulmu?” tanya Gunawan lagi. “Tidak!” sangkal Iselin sedetik berselang. Ia langsung mengangkat wajahnya meski pipinya masih menggembung dan di mulutnya masih ada makanan. “Selesaikan dulu makananmu,” ujar Mama. Susah payah Iselin menelan makanannya meski Gunawan sabar untuk menunggu. Setelah melihat putrinya selesai dengan sisa makanan di mulut, Gunawan kembali membuka suara. “Jadi sebenarnya apa yang terjadi, Iselin? Kau dan kakakmu tiba-tiba datang, wajahmu terluka, dan kau pulang tanpa suamimu. Apa dia melakukan KDRT?” tanya Gunawan yang berusaha tidak meninggikan suaranya. Karena jelas terlihat ia sangat siap untuk menumbangkan siapapun yang telah melukai putrinya. Iselin menggelengkan kepalanya. “Aku dan Rhaevan baik-baik saja, sungguh.” Iselin membulatkan matanya, berusaha terlihat jujur. “Lalu, kenapa wajahmu memar?” “Pa … dia…” “Dia punya mulut Rune, biarkan adikmu bicara untuk dirinya sendiri.” “Aku jatuh saat di bar empat hari yang lalu,” Iselin mengakui dengan malu-malu meski setengah dari ucapannya itu adalah kebohongan. “Ini memalukan,” gerutu Iselin sambil menutup matanya. “Ada orang yang berusaha melecehkannya di bar, saat dia akan pergi dia terjatuh.” Rune membantu menjelaskan. “Kak!” Iselin benar-benar merasa semakin malu apalagi Rune malah mengungkapkan setengah kebohongan lainnya. Rune hanya mengendikkan bahunya. “Benarkah? “Benarkah seperti itu?” Gunawan dan Sarwendah secara kompak menjawab. “Jadi bukan karena Rhaevan KDRT?” tanya Sarwendah lagi. “Ma!” “Ah, syukurlah kalau memang begitu.” Gunawan akhirnya bisa menghela nafas lega. Tak hanya dirinya tapi juga semua orang di sana. Setidaknya menantu yang ia banggakan tidak memukuli putrinya. Di sisi lain, Iselin dan Rune saling menatap penuh makna. Hari ini mereka bisa berbohong tentang keadaan rumah tangga Iselin, entah sampai kapan mereka bisa menyembunyikan kebenarannya dari orang tua mereka. “Kapan kau akan mengunjungi nenek Rhaevan?” tanya Mama ketika sedang membersihkan meja. “Mungkin nanti sore, Ma. Aku sudah lama sekali tidak pergi ke sana.” “Tentu saja … kau hanya pulang dua kali dalam satu tahun.” “Rhaevan juga sangat sibuk,” balas Iselin dengan suara yang lirih. “Meski begitu kau dan suamimu itu harus sering-sering mengunjunginya … neneknya itu sudah tua, beberapa hari yang lalu dia pingsan di halaman rumahnya, untungnya ada Papa saat itu sedang lewat jadi berhasil dibawa ke rumah sakit segera. Bayangkan kalau terlambat sedikit saja …,” tutur Sarwendah. “Aku tidak mau membayangkannya,” balas Iselin sambil membawa piring kotor ke dapur untuk dicuci. “Benar, jangan membayangkannya.” Mama menyusul dengan perkakas lain. “Nanti saat kau ke sana bawakan lauk, aku membuatnya semalam.” “Iya, Ma.” Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN