Pulang Ke Rumah

1347 Kata
– Ternyata hingga saat ini, rumah yang paling aman untukku hanya pelukan Mama – –Iselin Lakshita– * Jengah dengan keheningan di dalam mobil sejak mereka melakukan perjalanan setengah jam yang lalu, akhirnya Iselin pun memutar musik dengan menyambungkannya ke ponsel miliknya. Ia memutar musik klasik, Rune tak bisa protes meski ia tak menyukainya. Saat ini suasana hati adiknya lebih penting daripada berdebat soal musik. Setelah kejadian pagi itu, Rune akhirnya menuruti Iselin untuk pulang ke rumah orang tua mereka. Kebetulan sekali saat ini mendekati tahun baru, sehingga kepulangan mereka kali ini bisa memakai alasan liburan tahun baru seperti setiap tahun. “Bagaimana jika papa dan mama menolaknya? Bercerai bukan hal yang mudah.” Rune memulai percakapan dengan pandangan tetap berada lurus ke depan. “Aku juga tidak tahu, Kak.” “Rhaevan bisa berbalik menyalahkanmu, aku tidak habis pikir bagaimana dia bisa sejauh itu. Maksudku … dia selalu baik selama ini, tapi aku baru tahu perangainya bisa seperti itu.” Setelah apa yang terjadi di rumah Mahaksha, ia tidak habis pikir jika Rhaevan yang tampak selalu baik, bertanggung jawab, dan tenang, bisa semudah itu tersulut emosinya dan tampaknya kemarahannya pun tak terbendung. “Aku tidak tahu, mungkin karena aku memergokinya berselingkuh.” “Apakah dia benar-benar melakukannya?” tanya Rune sembari menoleh untuk beberapa detik. “Ya, semua buktinya ada.” “Apakah kejadian pagi itu adalah rencanamu dengan Mahaksha? Agar kau disalahkan atau agar dia marah?” “Kakak. Apa kau sudah kehilangan otakmu? Kak Maha sudah menjelaskannya padamu tadi.” Sebelumnya Mahaksha memang sudah menjelaskan apa dan bagaimana pertemuan mereka terjadi. Semuanya hanya kebetulan semata. Bagaimana pun, Iselin sudah tak bertemu dengan Mahaksha selama tiga tahun. Dan Mahaksha baru kembali ke Indonesia seminggu yang lalu, pria itu mengundang Rune dan Rhaevan ke apartemennya untuk merayakan kepulangannya. Tidak ada yang menyangka jika Mahaksha akan bertemu dengan Iselin dalam keadaan yang buruk saat Iselin akan dilecehkan oleh seseorang. Bahkan Mahaksha yang menjaga Iselin semalaman setelah gadis itu akhirnya pingsan. “Dia tidak bisa menjelaskan kenapa bajunya bisa kau pakai.” “Aku merebutnya, kurasa.” Iselin pun tidak yakin. Karena saat ia hendak mengganti pakaian, nyatanya di dalam kemeja longgar itu ia masih mengenakan dress mini yang ketat. Berarti ia tak melepaskan pakaiannya sama sekali. “Kau tahu kebiasaan minumku sangat buruk sekali.” “Ya, sebaiknya kau tidak melakukannya lagi.” “Hmm.” “Bagaimana dengan pertunjukkanmu?” tanya Rune lagi. Biasanya menjelang tahun baru begini jadwal pertunjukkan Iselin akan padat, sebagai penyanyi opera, pertunjukkan akhir tahun selalu ditunggu-tunggu oleh penikmatnya. Bahkan ia bisa berada di luar kota jika jadwalnya ramai. “Tidak ada jadwal sampai seminggu setelah tahun baru.” “Oh, baiklah. Yang penting apapun masalahnya, kau tidak boleh melupakan jati dirimu dan meninggalkan segala yang telah kau upayakan.” Iselin memandang ke luar jendela. “Aku pun sudah mengupayakan Rhaevan, tapi dia melemparkan segalanya kembali ke mukaku.” “Tidak perlu membahasnya. Kita pikirkan caranya setelah tahun baru.” “Hmmm.” Iselin berusaha untuk menikmati pemandangan yang ada di luar jendela mobil. Tiba-tiba air matanya kembali mengalir, ingatanya melayang pada masa lalu, di mana semuanya terasa begitu menyenangkan. Saat ia merasa cinta Rhaevan hanya untuk dirinya, saat kehangatan tubuh Rhaevan hanya untuknya. Namun kini semuanya terasa menyesakkan, semuanya hancur. Rune menoleh ke arah Iselin. Adiknya tertidur bersandar di jendela, dengan mata yang masih tampak sembap meski kini terpejam. Ada bekas air mata yang sudah kering di pipinya, dan rambutnya berantakan menutupi sebagian wajahnya. Pemandangan itu membuat d**a Rune terasa sesak—rasa iba yang selama ini berusaha ia tekan, kini muncul begitu saja tanpa bisa ia tahan. Mereka sering bertengkar. Hal-hal sepele bisa berubah jadi perdebatan panjang, dan Rune selalu menganggap Iselin keras kepala. Tapi malam ini… melihat adiknya tertidur dalam kelelahan dan duka, semua amarah yang pernah ia simpan seolah tak berarti. Ia tahu, di balik sikap keras kepala itu, Iselin hanyalah seseorang yang sedang berusaha bertahan di tengah hidup yang terus menamparnya tanpa ampun. Rune menarik napas pelan, menatap kembali ke jalanan yang memanjang di depan. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, menuntunnya pulang ke kota yang menyimpan terlalu banyak kenangan—baik yang ingin ia kenang maupun yang ingin ia lupakan. Ia tidak membangunkannya. Tidak kali ini. Untuk sekali saja, Rune ingin membiarkan Iselin beristirahat tanpa perlu berjuang, tanpa perlu menahan tangis atau berpura-pura kuat. Mata sembab milik Iselin perlahan-lahan mengerjap, menyadari bahwa mobil yang ditumpanginya tak lagi melaju. Iselin melihat ke luar jendela mobil dan langsung mengenali lingkungan tempatnya tumbuh. Langit yang sudah mulai gelap itu membuatnya bertanya-tanya kapan mereka sampai di tempat itu? Iselin menoleh ke arah Rune dan melihat pria itu sedang terlelap dengan kedua tangan yang bersilang. Pasti Rune yang membiarkannya tertidur dan dia ikut tidur meski mereka sudah sampai di tempat tujuan mereka. “Kak…” Iselin memanggil sang kakak. Entah karena suaranya terlalu lemah atau memang Rune yang susah untuk dibangunkan, pria itu sama sekali bergeming. “Kakak.” Kali ini Iselin bernada lebih tinggi sambil menggoyang lengan Rune. Pria itu lantas membuka matanya bersamaan dengan seseorang yang mengetuk kaca jendela hingga membuat keduanya terlonjak kaget. Namun setelah beberapa saat dan menyadari siapa orang di balik kaca jendela mobil itu, Rune langsung menurunkan kaca jendelanya. “Kalian kapan datang? Kenapa tidak ada yang memberi kabar?” seorang pria paruh baya dengan garis rambut yang mulai mundur dengan beberapa uban di samping kanan dan kiri rambutnya. Pria itu adalah Gunawan Tan, ayah Rune dan Iselin. Melihat ayahnya yang mengetuk pintu, keduanya segera keluar dari mobil. Iselin yang semula tampak murung kini bibirnya tertarik ke belakang membentuk sebuah senyum yang ceria. “Papa!” ia berlari kecil dan memeluk tubuh Papanya yang masih begitu fit meski umurnya bisa dibilang tak lagi muda. “Ooohh peri kecil Papa.” Gunawan membalas pelukan putrinya dengan hangat. Jika dulu ia akan mengangkat Iselin dan memutar tubuhnya, kini ia hanya bisa memeluknya dengan erat sembari menciumi puncak kepala Iselin. “Aku sengaja datang tidak memberi tahu, untuk kejutan!” seru si peri kecil Gunawan. “Oh begitukah?” Gunawan melirik ke arah Rune. Karena semenjak anak-anaknya dewasa, mereka tak lagi pernah datang tanpa pemberitahuan, membuat sebuah kejutan ini memang cukup mengejutkan. “Jangan salahkan aku … dia yang menyeretku untuk pulang,” canda Rune yang enggan disalahkan atas kepulangan mereka yang lebih awal dari liburan yang seharusnya. Sambil mengangkat kedua tangannya tanda tidak mau ikut campur ia langsung bergegas ke belakang untuk mengambil barang bawaan mereka dari bagasi mobil. “Aku sangat-sangat-sangat-sangat merindukan papa dan mama, jadi aku minta kakak untuk antar aku pulang,” ucap Iselin manja setelah mendapat sorot mata penuh tanya dari sang Papa. “Sungguh, aku tidak berbohong, Pa.” begitu ia melanjutkan dengan nada manja. “Iya-iya, papa tahu… sudah sana temui mama. Dia pasti akan sangat kaget melihatmu.” Iselin langsung memasang seringaiannya lalu berlari kecil memasuki halaman rumahnya yang tidak terlalu luas, sementara Papa dan kakaknya mengambil barang-barang. “Mama! Mama!” Seruan Iselin tampaknya bisa terdengar oleh tetangga, tapi perempuan itu tidak peduli. Saat ini dirinya hanya ingin kembali ke rumahnya, ke tempat dimana ia diterima sepenuhnya. Pintu depan rumah sederhana itu terbuka, menampilkan sosok seorang perempuan paruh baya. Melihat mama menyambutnya, Iselin langsung memeluknya. Ada haru yang ia tahan, ada air mata yang ia sembunyikan di balik senyum lebarnya. Sekuat tenaga Iselin tak menjatuhkan sebutir pun bening dari matanya. “Anak mama, kenapa tidak kasih kabar?” tanya Sarwendah sambil mengusap punggung putrinya. “Sengaja, mau kasih mama kejutan,” balas Iselin dengan nakal. “Dasar anak bandel! Mana suamimu?” tanya Sarwendah saat melihat ke belakang tubuh Iselin dan tidak mendapati menantunya ada. “Menantu mama itu sibuk sekali, super duper sibuk.” Bukan Iselin yang menyahut tapi Rune. Pria itu menyadari bahwa pertanyaan itu akan sulit dijawab oleh Iselin untuk saat ini. “I-iya … nanti dia pasti akan pulang.” “Yasudah, ayo masuk dulu semuanya.” Tentu saja Iselin dengan senang hati masuk ke rumahnya, disusul oleh kakak dan papanya di belakang. Sementara dirinya bergelayut manja di rumahnya yang paling aman. bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN