Bercerai Saja.

1126 Kata
--Sejak kau menyambut kedatangannya, sejak itu pula aku sudah kalah— -Iselin Lakshita- “Lebih baik kita bercerai saja.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir merah mudah Iselin yang bergetar. Cukup lama baginya untuk membulatkan tekad hingga akhirnya kalimat itu terlontar diiringi debaran jantung yang intens. Seumur hidupnya, Iselin tidak pernah menyangka jika dirinya akan mengucapkan kata-kata perpisahan kepada cinta pertamanya, pria yang telah membuatnya tergila-gila sejak dirinya duduk di bangku sekolah menengah atas. Pria yang berhasil membuatnya menyimpan rahasia kecilnya di dalam toples mini di sudut kamarnya. Pria yang telah memberinya angan-angan akan cinta seindah bunga dandelion yang mekar dan bertebaran. Semua telah berubah, asa, angan, cinta, kepercayaan, semuanya telah hancur. “Cerai?!” Di seberang meja, Rhaevan berdiri hingga membuat kursi yang semula ia duduki berderak hampir terguling. Matanya tajam tersorot pada sosok rapuh yang duduk di seberangnya. “Ya, kita bercerai saja.” Iselin menjawab dengan nada yang lelah. Mentalnya telah hancur, fisiknya terlalu lelah untuk menghadapi badai yang sedang berputar-putar memporakporandakan rumah tangganya. “Aku tidak mau bercerai, tidak ada alasan bagi kita untuk berpisah.” Rhaevan menolak dengan keras. Saat itu juga Iselin mendongak, ia yang semula enggan untuk memperkeruh suasana memandang suaminya, tampak kesal, marah, dan muak. Seandainya cintanya tidak begitu lebih besar, maka tangan kecilnya pasti sudah mendarat di wajah tampan yang rupawan itu—menamparnya dengan keras untuk meluapkan seluruh emosinya. Iselin terlalu mencintai pria itu hingga rasanya begitu menyesakkan. Iselin menghela nafasnya, ia kembali mendorong berkas-berkas yang ada di depannya. Itu adalah bukti yang telah ia kumpulkan sejak dirinya merasa ada perubahan pada suaminya. Dari foto kebersamaan di restoran, ke sebuah klinik, di sebuah toko bunga, hingga bukti-bukti chat dari ponsel suaminya yang ia cari tahu secara diam-diam. “Apa semua ini kurang dijadikan sebagai alasan, kamu selalu mencintainya … sejak dulu bahkan sampai ….” Iselin berhenti, ia memandangi semua foto-foto itu, melihat senyuman suaminya yang jarang sekali ia dapatkan tapi perempuan yang ada di foto tersebut mendapatkannya dengan mudah—bahkan tanpa berusaha keras. “Iselin ….” Rhaevan berjalan memutari meja makan rumah mereka, berlututlah dia di hadapan istri yang telah dia nikahi tiga tahun ini, meraih tangan mungil yang mengepal di atas paha itu. “Semuanya salah paham, aku dan dia tidak pernah berselingkuh.” “Lalu apa namanya, Rhae?” “Aku ….” Rhaevan menoleh, melihat foto-foto yang berserakan di atas meja. “Bukankah sudah aku jelaskan sejak kedatangannya. Dia sendiri, dia baru saja bercerai dengan suaminya, mentalnya hancur, kau tahu bahwa aku tidak mungkin menghianatimu….” “Tapi kau mengembalikan mentalnya dengan menghancurkan mentalku.” Iselin menarik tangannya dari genggaman Rhaevan. Hatinya semakin remuk mendengar jika suaminya lebih peduli pada mental perempuan lain daripada istrinya sendiri. “Iselin… bukan seperti itu, kau salah paham…” Rhaevan tetap pada pendiriannya. Iselin berdiri, ia menjauhi Rhaevan seperti menjauhi tahi ayam yang ada di depannya. Iselin tak ingin Rhaevan menyangkal perselingkuhan itu tapi ia ingin Rhaevan menyangkal bahwa pria itu mencintai perempuan yang ada di foto tersebut. Tapi, kenyataan hampir tak selalu sama dengan apa yang diharapkan. Rhaevan sama sekali tidak menyangkal jika dia memang mencintai perempuan itu, malah terkesan selalu melindunginya—melindungi cintanya. Sungguh ironis sekali, di sisi lain Iselin mati-matian mencintai Rhaevan dengan segala kekurangannya, di sisi lain Rhaevan masih menyimpan cinta untuk perempuan lain dan perempuan itu tidak pernah bisa dikalahkan oleh Iselin. “Aku tidak salah paham, aku tahu jelas apa yang terjadi dan apa yang aku mau.” “Tapi aku tidak mau bercerai.” “Kau harus memilih, Rhae. Kau tidak bisa memiliki kami berdua. Tapi ….” Iselin kembali memberikan jarak dengan melangkah mundur. “Kali ini aku yang mengalah, kita bercerai saja.” “Iselin! Aku tidak akan menceraikanmu!” Rhaevan meninggikan suaranya, ia melangkah maju yang membuat Iselin melangkah mundur karena saat ini ia melihat sesuatu yang lain dari diri Rhaevan. Kemarahan yang tak pernah ia tunjukkan selama pernikahan mereka, rasa ingin mendominasi yang tak pernah ada sebelumnya. “Jangan keras kepala, aku tidak akan melepaskanmu begitu saja. Kenapa kau tidak mau mendengarkanku?” Ada getar dalam suara Rhaevan, ia sedang menahan amarah dalam dirinya yang bergejolak. “Aku sudah cukup mendengarkan, aku sudah bersabar selama lima bulan terakhir. Selama ini kau tidak pernah ada waktu untukku, kau tidak pernah memilihku sejak dia kembali! Sejak awal kau tidak memilihku, Rhaevan!” Amarah yang sama berkobar dari diri Iselin juga baru dilihat oleh Rhaevan, selama ini, sejak dia mengenal Iselin. Ia hanya tahu jika gadis itu dibesarkan dengan dimanja oleh orang tua dan kakak lelakinya, mungkin seringkali membuat drama untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, atau merajuk, tapi tidak pernah marah. Bahkan sepertinya yang selama ini diingat oleh Rhaevan, perempuan yang sudah menjadi bagian hidupnya itu selalu tersenyum dengan mata berbinar. “Bukankah dari awal kau mengijinkannya … aku selalu meminta ijinmu.” “Meminta ijin? Kau tidak pernah melakukannya. Semua kata-katamu bukan ijin, itu pemberitahuan.” “Aku tidak menyangka bahwa kau memiliki pemikiran yang sempit seperti ini, kau—” belum sempat Rhaevan menyelesaikan kalimatnya ponselnya berdering keras sekali sampai membuatnya teralihkan. Kedua manusia yang sedang beradu argumen itu menoleh ke arah letak ponsel Rhaevan berada, keduanya bisa melihat dengan jelas siapa yang menelepon Rhaevan di tengah pertengkaran ini. CLARICE. Nama itu jelas muncul di layar. Melihat itu Iselin memalingkan mukanya, ia tak ingin melihat raut wajah suaminya yang langsung melembut saat melihat nama itu. “Sebentar, aku—” Rhaevan ingin meminta ijin tapi melihat reaksi Iselin yang memalingkan wajahnya itu pun ia hanya bisa menghela nafas dan tetap mengangkat panggilan telepon itu. “Hallo, Clarice, nanti aku hubungi lagi—” belum sempat Rhaevan menyelesaikan kalimatnya, wajahnya menunjukkan perubahan, ia terlihat cemas. “Apa kau bilang, Violet demam? Baiklah aku akan ke sana. Jangan panik, ambil saja air hangat lalu kompres di lipatan tubuhnya. Oke?” Setelah mematikan ponselnya, Rhaevan mencari Iselin, perempuan itu sedang menatap ke arah luar jendela rumah mereka. Perlahan-lahan Rhaevan mendekat pada Iselin, ada keraguan di dalam dirinya, tapi rasa cemasnya lebih besar sehingga langkahnya tak berhenti dan mulutnya tak terkunci untuk berpamitan pada Iselin. “Violet demam—” “Aku mendengarnya.” “Aku harus ke sana.” “Serius, Rhae? Kau bilang tidak ingin bercerai tapi apa ini?” “Iselin, mengertilah … ini menyangkut keselamatan seorang anak kecil, apa kau tega jika Clarice mengurusnya sendirian?” “Pergilah.” Iselin sudah terlalu lelah. Selama ini ia sudah bertahan, ia tak ingin lagi mempertahankan sesuatu yang sudah rusak. Air yang tumpah tak bisa dikumpulkan kembali. Dan Rhaevan pun seperti orang dungu yang tak mengerti jika cintanya sedang diuji oleh Iselin, ia telah memilih Clarice daripada rumah tangganya. Malam itu mereka telah berjalan di arah yang berbeda, memilih untuk saling melepaskan. bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN