22. MENIKAHLAH IBU

1053 Kata
"ini sudah beberapa hari rayen, tappi mulut mereka masih saja terus membicarakan Ibuku. apa yang harus aku lakukan?" Putri suatu pagi ketika baru saja kembali terdengar di telinga seseorang membicarakan ibunya yang di malam Minggu pergi dengan seorang pria. "Tenanglah Putri Kau tidak perlu emosi seperti itu apalagi masih pagi-pagi seperti ini. Apa kau sudah bertanya kepada ibumu tentang hal ini? apa kata ibumu?" tanya rayon sambil membawakan bakul kue Putri. "Aku tidak berani Bertanya kepadanya Rayan. jika memang itu benar aku ikut bahagia jika Ibu memang sudah menemukan cintanya yang baru tahu aku sudah mengikhlaskan untuk kebahagiaan Ibu Rayan. tidak apa mungkin jodoh Ibu dan Ayah memang sudah usai. hanya saja tidak enak sekali di telingaku ketika mendengar seseorang membicarakan Ibuku. Terlepas dari apakah itu benar atau tidak. rasa yang tidak nyaman sekali ditelingaku Rayen," ujar Putri. "kau harus terus bersabar Putri. Iya, kita tidak bisa menyempal satu persatu mulut mereka dengan kue-kue mu bukan? kalau pun bisa, ku rasa sudah mereka telah kenyang mereka pasti akan bicara lagi tentang apapun yang mereka sukai, yang membuat mereka senang. jadi kita tidak bisa menampar mereka satu persatu bukan? Sudahlah jangan terus memikirkannya sudah membuatmu hilang. kalau kita sekarang menyerah dan setiap hari membawa susa kue yang masih banyak, ibumu pasti akan kecewa bukan? Ayoolah.. bersemangatlah kita akan lewat jalan itu saja. Semoga saja tidak ada orang yang membicarakan ibumu lagi AYO!!, "ajak rayon lebih bersemangat. Putri pun menuruti kata-kata rayen. Putri bahkan lebih bersemangat lagi mengais rezeki pagi ini. mereka pun memilih Jalan berbeda yang biasanya mereka tidak lewat itu. sepertinya Rayen benar bahwa di jalan itu memang tidak ada yang bicarakan Kinanti. kalaupun ada mungkin tidak terdengar di telinga putri. putri sangat bersyukur sekali tentang hal itu. dagangan Mereka pun Laris Manis di Gang yang 1 itu yang tidak pernah mereka lewati. "Nah kau lihat aku yang sudah kosong apa kataku benar bukan? apa sekarang kau sudah lebih baik?" tanya Rayin kemudian menyerahkan baku yang telah kosong kepada putri.Putri "kau benar sekali rayen. terima kasih terus selalu memberi aku semangat motivasi. aku memang salah tapi ya sudahlah. Aya kita pulang kita dan bersiap-siap ke sekolah pagi ini cerah,"ajak putri kemudian. "Rayen, sekali lagi terima kasih ya dan maaf pagi ini tidak ada kue untuk ibu dan omahmu. kau benar-benar telah memilih jalan yang benar rayen. ternyata di gang yang tadi la, rejeki kita lebih banyak pagi ini. makasih ya. aku masuk," putri melambai kepada raihan. Rayen pun tersenyum lalu balas melambai ke arah Putri yang sudah didepan pintu rumahnya. sudah bertahun-tahun ini Putri dan rayen bersahabat. mereka tidak pernah bertengkar apalagi memperdebatkan masalah yang tidak penting. sesekali mereka akan berselisih paham tetapi Rayen selalu bisa membuat Putri tersenyum lagi dan memperoleh hatinya kembali. Putri selalu saja bisa mereda setelah rayen memberinya lelucon kecil. "Putri sudah pulang? Bagaimana pagi ini Put?" tanya Ki nanti melihat Putrinya sudah kembali. "Alhamdulillah bu, lebih baik bu pagi ini aku laris manis kuenya pun habis. beruntung sekali rayen memilih jalan tidak pernah kamu lewati. akhirnya kue-kue kita habis bu," ujar putri tersenyum. "Alhamdulillah jadi hari ini ibunya Raihan tidak menerima kue ya? Ya sudah nanti Ibu kasih lauk saja buat nanti siang bagaimana?" ujar Kinanti kemudian menyiapkan sarapan. "Ibu aja yang kasih ke rumahnya rayon Kalau Putri yang kasih sayang si Rayen suka nolak Bu, biar Ibu aja atau kalau nggak suruh Nisa ataupun beni saja. iya," ujar Putri kemudian menghabiskan sarapannya. "Iya iya nanti Ibu suruh Nisa kalau nggak Beni aja yang nganterin. kamu kelaparan sayang?" tanya Ki nanti melihat putri begitu lahap menghabiskan sarapannya. "Iya Bu aku kelaparan semangatku akhirnya kembali lagi," ujar putih tersenyum kearah ibunya yang ikut tersenyum mendengar perkataannya. "Syukurlah kalau Putri sudah kembali Semangat lagi. Ibu ikut senang,"ujar KiNanti ikut membereskan dapur. "Ibu, boleh Putri bicara sesuatu?" tanya tanya Putri kemudian setelah menghabiskan sarapannya dan mencuci kembali piringnya. "Iya kenapa Putri sayang?"ujar Kunanti lalu mengajak Putri duduk di kursi. sebelum bicara putri menarik nafas panjang kemudian menghembuskan nya. lalu memulai mengajak ibunya berbicara sambil memegang tangan sang ibunda. "Maaf bu, sebenarnya bu, putri udah mendengar gosip ini, sudah berhari-hari ini. tetapi putri belum berani untuk bicara sama ibu. tetapi lama-kelamaan putri bosen juga dengar orang ngomong ini bu terus. sekarang putri cuma mau mastiin aja ke ibu, apa kabar benar yang mereka semua bilang tentang ibu. nggak papa kan?"tanya Putri. "Ya Put, tanya aja, daripada Putri makin penasaran kan?"tanya Kinanti. "Iya bu, Putri denger ibu kemarin sempet pergi sama tetangga kita. Apa benar ibu malam minggu itu janjian sama pak Riga di tebing? aem.. maksud Putri tidak seperti itu bu? Putri bukan marah atau apa. Putri hanya ingin tau, apa ibu dan Pak Ruga..,"kata kata Putri terhenti. "Ah iya putri, ibu memang kemarin emang lagi sama pak liga dan ibumu yang mau nunggu di tebing itu. apa yang mereka katakan bener kok. maaf ya bikin putri menjadi nggak enak ketika mendengar mereka membicarakan ibu,"ucap Kinanti. "Maafkan Putri Abu jadi putri yang nanya langsung ke ibu kayak gini. putih sama sekali Bukannya ingin mencampuri urusan ibu bukan seperti itu. Putri ikhlas kok kalau Ibu sudah bahagia dengan laki-laki yang mencintai ibu. apa ibu bahagia sama Pak Riga? kalau ibu bahagia sama Pak Riga, maka Menikahlah bu Putri rela dan ikhlas kok, "ujar Putri membuat mata Kinanti berkaca-kaca. "aku terima kasih sayangnya Ibu. tetapi pernikahan ini tidak semudah yang dibayangkan sayang. Ibu Harus berpikir ulang. Pak Riga memang sudah melamar Ibu kemarin tapi Ibu masih ragu sayang. ibu takut kegagalan yang sama akan kembali menghadapi. ibu takut Putri, Nisah dan Beni jadi ikut korban karena pernikahan ini. Ibu Belum berani Putri," ujar Kinanti mengajak bicara Putri dari hati ke hati. "Kenapa Ibu harus ragu dan takut Bu? salat lah Bu Putri pun akan salat dengan doakan Ibu Semoga ibu bahagia dengan pilihan Ibu kali. jangan lagi ragu dengan pilihan yang mau ibu buat. Kinan Yakin dek Biisa sama Dek Beni juga akan ikhlas kalau Ibu memang bahagia dengan pilihan yang ibu buat," Putri mencoba meyakinkan. "Oh makasih banget ya putri-putri bener-bener anak ibu yang paling kusayang. Makasih ya Putri. doain aja semoga apa yang dipilih sama ibu nanti akab jadi kebahagiaan untuk kita semua. terima kasih sayang. ayo siap-siap ke sekolah nanti kamu terlambat," ujar Kinanti mengingatkan hari yang sudah beranjak dari pukul 6. Putri pun tersenyum kemudian memeluk sang ibu kemudian berkata, "bahagia la bu. Ibu sudah lama Sendiri. Putri pengen ngeliat ibu bahagia lagi dan tersenyum terus menyambut kebahagiaan ibu sendiri," ujar Putri melepaskan pelukannya sambil tersenyum kemudian mengambil handuk lalu masuk ke kamar mandi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN