THREE

1261 Kata
Satu kata yang terpatri jelas di benak August saat melihat gadis itu. Beautiful. Calon sekretaris sekaligus asisten pribadinya itu duduk diam di pojok ruang kerjanya. Dengan patuh melakukan apa yang ia pinta. Tanpa terasa sudah tiga jam lebih gadis itu duduk di sana. Diam-diam August meliriknya. Setelah kalimat terakhir yang ia ucapkan, gadis itu duduk diam menunduk di sana. Menautkan jari-jarinya. Tidak mengeluarkan suara namun tetap bergerak walaupun hanya sesekali. August memperhatikan gadis--yang jujur saja baginya sangat cantik--itu lebih cermat. Pipinya merah. Entah dari mana perasaan itu datangnya hingga August merasa iba pada Wendy. The infamous, ruthless, reckless, brutal, cold hearted The G. Seorang The G merasa iba pada gadis polos tanpa dosa hanya karena menyuruhnya duduk diam di pojok ruangan. Seketika ia menyesali dua kalimat yang ia ucapkan tiga jam yang lalu. August menghembuskan karbon dioksida dari paru-parunya yang dinodai oleh nikotin dengan kasar. Membuat Wendy tersentak di sana ketika mendengar suara bosnya, namun tidak berani mengalihkan tatapan matanya apalagi mengangkat kepalanya. Gadis itu takut. August dapat merasakannya. "Nona Wendy." This is it. Wendy akan dipecat. Hancur sudah karir pertamanya. Pekerjaan impiannya akan sirna. Hilang sudah kesempatannya. Wendy menggigit bibirnya. Keras. Menahan embun di matanya agar tidak menetes. Dengan takut mengangkat kepalanya, menatap pemilik gedung pencakar langit tempatnya berpijak kini. "Yes, Sir?" sahut Wendy. Suaranya agak bergetar. Mendengar suara gadis itu, August meringis dalam hatinya. Tetapi ia tetap me-manage untuk menampilkan wajah datar khasnya. Sial. Kali ini Nathan dan Adam benar-benar berhasil mempermainkannya. Gadis ini benar-benar penurut, polos dan berbeda. Tidak seperti sekretaris-sekretarisnya yang terdahulu, yang akan berujung mengenaskan hanya karena August menyuruh mereka duduk diam di sana. Tidak ada yang mampu menahan diri duduk diam lebih dari tiga puluh menit. Tidak ada yang mampu untuk tidak mengeluarkan suara lebih dari tiga puluh menit. Wendy benar-benar memiliki karakter yang sangat berbeda. Sangat penurut dan itu membuat August tercengang. Sial. Benar-benar sial. August kalah dalam taruhan ini. Nathan dan Adam benar-benar mempermainkannya. Lihat saja gadis yang menatapnya dengan mata takut itu sekarang. Membuat dadanya terasa berat dan bergemuruh. Tanpa disadari ia meremas bolpoin berlapis emas miliknya. That bastard. Nathan was right. August will getting hard, like real hard, just because saw her sit down there and heard her voice. Shit. She will be his submissive for real. Dialah satu-satunya. Fuck. She is the one. The only who can do whatever he wants. August tidak dapat memfokuskan kinerja otaknya. Wajah polos cantik dan lekuk indah tubuh gadis itu membuat hatinya bergemuruh dan menggila. Kali ini teman-temannya benar-benar berhasil menjebak August. Ia sudah tercebur dalam perangkap mereka. Mata August dan Wendy masih bertaut. Tidak ada yang ingin mengalah dalam kompetisi tatap-menatap ini. Mereka masih duduk di tempat masing-masing. August di singgasananya dan Wendy di pojok ruangan, duduk di atas sofa kulit berwarna putih yang sangat empuk dan mewah. Wendy terus menggigit bibirnya. Menahan keringat yang terus memenuhi pelupuk matanya. Tanpa ia sadari tangannya meremas ujung rok bermodel tube hitamnya yang membuat lekuk tubuhnya terlihat nyata. Memperlihatkan garis pinggulnya yang ramping dan terlihat sangat seksi dan menggoda. "f**k," desis August dengan suara sangat pelan. Desisan di bawah napasnya, saat melihat mata nanar Wendy yang sudah tidak dapat membendung air matanya. Keringat dari mata gadis itu mengalir ke pipinya. August Gold kalah. Ia memutuskan kontak mata terlebih dahulu. Wendy baru saja menyadari apa yang terjadi padanya ketika August mengalihkan pandangan matanya. Wendy segera menyeka air matanya dan menundukkan kepalanya. Meminta maaf. "I'm so sorry, Sir. Forgive my rudeness." Suara lembut dan bergetar itu lagi. August sangat yakin gadis ini sudah sangat takut padanya. Sial. Hatinya kembali terasa ditusuk-tusuk puluhan paku berkarat. Perih. August menghembuskan napasnya dengan kasar. Membuat Wendy yang duduk di ujung sana duduk semakin tegang. Pria berambut blonde itu mengambil ponselnya dan men-dial nomor Adam. Meminta temannya untuk naik ke ruangannya. Wendy gelagapan. Dia benar-benar akan dipecat. Padahal program OJT baru dilaksanakan hampir empat jam dan seketika ia akan dipecat. Di hari pertamanya dengan tes paling aneh sedunia. Wendy menyadari sesuatu. Ia bermimpi terlalu tinggi. Dia pikir menjadi sekretaris sekaligus asisten pribadi pemilik perusahaan raksasa seperti Gold Corp. akan segampang itu. Tidak. Salah besar. Lihat saja tes yang baru saja ia jalani. Ia harus duduk diam di pojokan tanpa bicara selama berjam-jam. Hasilnya? Ia gagal. Padahal ia hanya perlu duduk diam saja untuk mendapatkan pekerjaan ini namun ia gagal. Malah meneteskan air mata di depan bosnya di hari pertama ia bekerja. Sungguh tidak profesional. Wendy sadar bahwa dia masih bau kencur. Tidak berpengalaman. Tentu saja. Interkom dari pintu merah tak jauh dari tempat Wendy duduk berbunyi. Adam tiba. Benda canggih yang tertempel di belakang pintu merah itu bergerak otomatis membuka pintu ketika August menekan satu tombol di meja kerjanya. Adam masuk. Ia terkejut melihat pipi Wendy yang agak merah dan matanya yang agak sembab. "Ada apa?" tanyanya pada August Gold. August menghela napas sebelum berkata, "Sign contract." Kemudian kembali fokus pada berkasnya. Mendengar dua kata itu Adam tersenyum menang. Ia berjalan ke arah Wendy. Duduk di sebelah gadis itu. Mengulurkan tangannya. Wendy menatap Adam penuh tanda tanya namun tetap menjabat tangan Adam. Adam membuka file di tangannya dan menyodorkan bolpoin yang terselip di saku jasnya. "Congratulation, Miss Lawson. Welcome to our Gold Corporation. Selamat bergabung bersama kami. Dari sekarang anda resmi menduduki posisi Sekretaris sekaligus Asisten Pribadi pemilik Gold Corp., silakan tanda tangan di kontrak ini." Wendy tersentak. Matanya membulat. Mulutnya terbuka. Napasnya terhenti. Is it true? Adam tersenyum ramah padanya. August membuang muka. Berpura-pura fokus pada laptopnya.   oOo   The G menghembuskan asap hasil pembakaran tembakau dari paru-parunya, mengeluarkannya dari mulut dan hidungnya. Menatap bosan ke tiga orang yang duduk bersimpuh di hadapannya. Tiga orang yang babak belur dengan tangan dan kaki terikat. "Jawab!" Tiga ekor tikus got itu tersentak kaget saat mendengar suara Troy yang menggema ke seluruh ruang bekas pabrik tempat mereka berada sekarang. "Siapa yang menyuruhmu untu masuk dan menyebarkan garam murahan ini?" tanya Troy sekali lagi. Ia memainkan gunting rumput yang sedari tadi ada di tangannya. Troy loves to torture his victims. Ia mendekati salah satu sanderanya dan memposisikan gunting rumput itu ke jari jempol korbannya tersebut. "Anjingku belakangan ini suka bermain dengan benda aneh. Mungkin dia akan menyukai jempolmu," kata Troy dengan santai. Ia berhasil membuat napas orang itu semakin cepat dan tidak beraturan. Panik. Crack! Jempolnya terpotong. Diiringi dengan suara teriakan dan erangan yang terdengar sangat menyakitkan telinga. Adam dan Nathan hanya mampu menggelengkan kepalanya dengan wajah 'I am done with you, Troy'. "Childish," keluh Nathan. Menyaksikan hal tersebut, August mulai bosan. Terlalu lama. Membuang waktunya yang berharga. Terlalu bertele-tele. August mematikan cerutunya. Membuangnya sembarang dan berdiri. Merapikan jasnya. Membuat seluruh mata tertuju padanya. Ia mengambil pistol di sampingnya dan menembak orang yang berteriak kesakitan setelah jempolnya dipotong barusan. Bang! Peluru mengenai tepat di tengah-tengah jidat orang itu dan mati seketika. Melihat temannya mati tertembak, dua orang lainnya semakin panik. Memohon pada August agar tidak menghabisi nyawa mereka. August tidak peduli, ia menggerakkan pistolnya dan membidik ke arah orang kedua. Bang! Mati lagi. Darah bersimbah di sekitar tubuh-tubuh yang kini sudah tak bernyawa itu. August membidikkan pistolnya pada orang terakhir dengan malas. "Jangan! Tolong jangan bunuh aku! Please! Aku akan melakukan semua yang kau inginkan! Aku mohon!" Troy menggeleng pasrah. Habis sudah jatahnya untuk bermain bersama tikus-tikusnya. Melihat wajah August yang masih datar, orang itu segera berteriak, "Eagle! Eagel yang menyuruh kami masuk ke-" Bang! Dan orang yang belum selesai berbicara itu langsung terkapar mati dengan darah mengalir dari lubang tepat di antara dua kening dan bagian belakang kepalanya. Adam dan Nathan sekali lagi menggeleng pasrah. Troy berseru. Kesa. "Kau merusak kesenanganku, Tuan Gold! Ini benar-benar membosankan!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN