EIGHT

1623 Kata
"Please, please, please, please!" gumam Wendy dengan tubuh bergetar. Tangannya menekan-nekan tombol lift. Ia harus naik secepatnya. Gedung tempatnya bekerja ini sudah sepi sekali. Hampir seluruh pegawai telah pulang ke rumah masing-masing selain security. Pintu terbuka. Wendy segera masuk ke dalam lift dan menekan angka dua puluh tiga. Ia melirik jam tangannya. Shit. Sudah hampir jam delapan. Tentu saja ia sudah sangat terlambat. Wendy menangis. Mengapa? Pertama, ia terlambat hampir satu jam dari batas waktu yang sudah ditentukan atasannya. Kedua, kakinya perih. Sangat perih. Betisnya lecet karena memaksa diri berlari dengan sepatu hak tingginya. Telapak kakinya juga terluka karena menginjak batu-batu kerikil yang ada di jalan. Untung saja tidak terinjak benda tajam seperti paku atau sebagainya. Ketiga, perutnya keroncongan karena lapar. Keempat, dia kedinginan. Kemungkinan suhu di luar gedung ini mencapai sepuluh derajat, mengingat kini sudah memasuki musim dingin. Ia hanya memikirkan bagaimana agar berkas itu tiba tepat waktu hingga lupa dengan kaki dan tubuhnya yang mulai membeku. Wendy merapikan tube skirt-nya dan merapatkan long coat-nya. Menggigil. Ia menghapus air matanya. Hidungnya merah terasa sesak, napasnya memburu, detak jantung dan nadinya belum beraturan. Bulir keringat sebesar biji jagung menetes dari dahinya. Kepala Wendy terasa melayang. Ia bersandar ke dinding lift merah tersebut. Lift berhenti dan Wendy segera menyeruak keluar ketika pintu terbuka. Bibirnya masih terus berdoa agar semuanya baik-baik saja. Semoga August Gold tidak memecatnya. Betapa terkejutnya Wendy saat ia tiba di depan pintu merah yang biasanya selalu tertutup rapat itu justru terbuka lebar.  Gadis itu diam bergeming di muara pintu, menyaksikan tangan atasannya itu berlumuran darah dengan wajah tanpa ekspresi. Dipipinya terdapat percikan cairan kental berwarna merah. "Kau telat." That low, deep, raspy and sexy voice. Wendy tidak mampu menjawab dan berkata apapun. Jangankan berbicara. Mengedipkan mata pun ia tak sanggup. Tenggorokannya kering. Perutnya mual apalagi ketika melihat mayat yang terus menerus mengeluarkan darah dari lehernya. Bosnya berjalan dengan santai ke meja kerjanya. Meletakkan bolpoin yang biasa ia gunakan untuk menandatangani berkas-berkas yang Wendy serahkan padanya. Bolpoin yang kini berlumuran darah itu. Did he just killed that man with a f*****g pen? A f*****g pen! Ia mengambil sapu tangan dari saku celananya dan membersihkan tangannya. Pria berambut pirang dan berkulit putih pucat itu mengambil ponselnya. Dengan santai menekan nomor pada layar iphone-nya. Wajahnya datar. Seperti biasa. Seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Seolah-olah mayat di tengah ruang kerjanya itu tidak ada. "Ryan, bersihkan ruanganku. Besok pagi tolong bereskan semua hingga tak ada noda atau debu sedikit pun." Ia mematikan sambungan telponnya. Kembali membersihkan wajahnya yang terkena percikan darah. Pria berperawakan kurus dan tidak terlalu tinggi namun tidak juga terlalu pendek itu melangkah menghampiri Wendy yang tengah syok. "Kau terlambat hampir satu jam. Sudah saya bilang, saya perlu berkas itu secepatnya dan sekarang sudah pukul berapa?" Pria tanpa ekspresi itu mendekati gadis yang tengah blank di depan pintu ruang kerjanya. Mengambil map merah berkas yang ia maksudkan dari tangan Wendy. "Baiklah, saya antar kau pulang sekarang." Lelah menahan syok yang diterimanya, akhirnya tubuh Wendy terjatuh lunglai. Pingsan. Namun sebelum tubuh Wendy menyentuh lantai yang dingin, August Gold segera menangkap, memeluk dan menggendong tubuh gadis itu masuk ke dalam ruangannya yang berantakan. Ia meletakkan tubuh gadis itu ke sofa putihnya dengan hati-hati. Sebelum ia merebahkan kepala gadis itu, August sempat menempelkan hidungnya ke leher gadis itu, menghirup aroma tubuh Wendy yang ternyata sangat manis dan lembut. Tanpa ia sadari, ia memejamkan matanya, merasakan nikmatnya aroma feromon gadis itu. August tak kuasa untuk tidak melihat bibir Wendy yang sedikit terbuka. Ia menyentuhkan bibirnya pada bibir tipis itu. Shit. Bibir itu sangat lembut dan manis. August segera menjilat bibir gadis yang sedang tak sadarkan diri itu. Seakan-akan bibir itu adalah lolipop atau popsicle yang sangat manis dan disukai anak-anak. "Hmm, sweet." August Gold segera melumat bibir itu. Mengecup bibir atas dan bibir bawah gadis yang tak sadarkan diri itu secara bergantian. Sial. Mengapa gadis ini harus pingsan sekarang? Ia tidak bisa melanjutkan ciumannya jika situasinya seperti ini. Ia harus menahan hasratnya. Setelah berhenti mengecup dan menjilati bibir Wendy, akhirnya August Gold merebahkan kepala gadis itu ke sofa. Ia membelai pipi gadis itu. Pipinya terasa sangat lembut. Selembut marshmallow. "August." August menoleh ke asal suara. Di depan pintu berdiri Ryan dan Nathan. Mereka masuk dengan santai seakan-akan tidak melihat apa yang baru saja August lakukan pada sekretarisnya. "Mengapa ada sampah seperti itu di ruanganmu?" tanya Nathan ketika ia berdiri di depan mayat itu. Membalikkan mayat tersebut dengan kakinya. "Ini punya siapa?" tanya Ryan seraya menenteng stiletto Wendy yang tergeletak di lantai, di tempat di mana gadis itu berdiri sebelumnya dan akhirnya pingsan dipelukan August. Ryan meletakkan sepatu itu ke atas meja kerja August. "Bereskan saja. Aku pergi," kata August seraya berjalan ke meja kerjanya. Ia nengambil jas, kunci mobil dan stiletto milik Wendy. Kemudian kembali menghampiri gadis itu dan menggendongnya, membawanya keluar dari ruang kerjanya. oOo         Perutnya yang perih dan mual membuat matanya terbuka secara paksa. Wendy meringis. Lapar. Wendy membuka matanya perlahan. Pandangannya masih agak buram. Ia mengerjapkan kelopak matanya beberapa kali hingga pandangannya mulai fokus. Ini bukan kamarnya. Ini bukan apartment kecilnya. Ia mencium aroma asing. Aroma maskulin. Feromon dan lemongrass. Betapa terkejutnya Wendy ketika merasakan sentuhan di pipinya. Bukan, yang menyentuh wajahnya bukan tangan dan jarinya. Menyadari itu Wendy segera menoleh ke kanan dan mendapati seorang pria berambut blonde dan berkulit putih pucat tengah menatapnya. Membelai lembut pipi gadis itu. Pria itu adalah August Gold. "Pagi," sapa pria itu. Napas Wendy tercekat. Tubuhnya mati rasa. Sekejap ia melupakan perih perutnya dan rasa pegal di seluruh tubuhnya. Bagaimana bisa ia berada satu kamar dan satu ranjang dengan atasannya itu? Apa yang sebenarnya telah terjadi? Otak Wendy segera bekerja dengan cepat. Menghantarkan memori-memori sebelum ia tenggelam dalam kegelapan. Memori mengerikan itu terpampang kembali. Membuatnya teringat betapa menyeramkannya pemandangan itu. August Gold dan mayat yang membanjiri lantai dengan darah yang merembes dari lehernya. Wendy refleks mengernyitkan tubuhnya, menjauh, memberikan jarak antara tubuhnya dan tubuh pria dingin di sampingnya. August Gold adalah pembunuh. Seketika seluruh tubuh Wendy terasa dingin dan menggigil saat menyadari fakta penting itu. Ia ketakutan setengah mati. Ia menatap horor August Gold yang kini duduk di sampingnya. Bertelanjang d**a. Memamerkan d**a bidangnya yang putih pucat. August merangkak mendekati Wendy. Mengurung tubuh gadis itu diantara kedua lengannya. Menghimpit tubuhnya. Wendy menarik napas kaget ketika ia merasakan sesuatu yang keras menyentuh abdomennya. Milik August. August mengangkat tangan kanannya, menyentuh wajah gadis itu sekali lagi. Jempolnya beristirahat di pipi lembutnya, sedangkan empat kemarinya yang lain menyusup ke leher dan helaian rambut gadis itu. Tatapan matanya benar-benar menyesatkan. Wendy semakin ketakutan. Ia menangis tanpa suara. Hanya air mata yang mengalir dari sudut matanya dan turun ke pipi. Bagaimana tidak? Bayangkan saja, ia sedang bersama atasannya yang ternyata adalah seorang pembunuh, di satu ranjang yang sama, dengan posisi dihimpit. Orang yang mengurungnya sedang ereksi. Ia akan diperkosa. Ia takut setengah mati. Tatapan August teralih dari manik mata Wendy ke air matanya. Napas Wendy sekali lagi tertahan saat merasakan lidah pria itu menjilat air matanya langsung dari wajahnya. Psycho. August menyeka air mata gadis itu dengan lidahnya. Rasa asin itu membuatnya terkekeh. Mata Wendy membulat sempurna melihat pria dingin itu tersenyum. Terkekeh seakan-akan ia baru saja melihat hal konyol. Ini pertama kalinya Wendy melihat senyum atasannya itu. Senyum gila. The facts are, August Gold benar-benar sangat tampan sekaligus terlihat sangat manis saat ia tersenyum. Dengan kerutan di sekitar mata kecilnya dan senyuman yang memamerkan gigi putinya yang sangat rapi. "Jangan menangis." Senyum August menghilang saat mengucapkan perintah itu. Wajahnya sangat dekat sehingga Wendy dapat merasakan napas yang tertiup dari mulut pria itu di permukaan bibirnya. Tatapan mata mereka kembali bertemu. Tatapan mata yang sangat lembut dan penuh dengan penuh afeksi. Akhirnya, August menghapuskan jarak antara bibir mereka. Mencium gadis itu dengan sangat teramat lembut dan hati-hati. Seakan-akan gadis itu akan hancur berkeping-keping jika ia menyentuhnya dengan kasar. Entah terkubur ke mana perginya hasrat sadism yang tersimpan di dirinya. Entah ke mana perginya sifat sadis dan brutalnya. Entah mengapa ia tidak ingin melukai gadis ini. Alih-alih menyakiti gadis itu seperti apa yang sering ia lakukan pada orang lain, August justru menciumi bibir itu dengan oh... bagaikan sentuhan dewi cinta. Seakan-akan ada sesuatu yang membuatnya ingin melindungi gadis ini. Tanpa disadari, Wendy mulai membalas ciuman lembut itu. Membalas kecupan-kecupan yang dilakukan August pada bibirnya. Merasakan manisnya bibir tipis pria itu. Entah ke mana perginya akal sehat Wendy, ia sadar bahwa ia membalas ciuman seorang pembunuh dengan tanda kutip atasan dan bosnya sendiri. Oh... jelas ia tak mampu menahan godaan itu. Segalanya terasa sangat benar untuk tubuhnya walaupun otaknya mengklaim ini adalah kesalahan fatal. Suara-suara kecupan mesra mulai terdengar saat mereka saling menghisap bibir masing-masing. August mendesah. Begitu pula Wendy. August merasakan sesuatu yang membuat dadanya terasa hangat. Terasa nyaman dan aman. Tanpa ia sadari ia tersenyum di antara kecupannya. Gadis ini membalas ciumannya. Itu adalah fakta penting bagi August, karena akan menjadi pertanda bahwa ia dapat melanjutkan tahap berikutnya. August bermain dengan bibirnya. Menggigit kecil bibir Wendy. Menyentuhkan giginya pada bibir gadis itu seraya tertawa. "Hmmh... Haha." Tawa dengan suara rendah, berat dan raspy itu membuat kupu-kupu di dalam perut Wendy berterbangan dengan liar. Wendy merasakan jari August menyentuh dagunya. Membuka mulut gadis itu dan memasukkan lidahnya. August menyentuhkan lidah mereka. Membuat Wendy mendesah sekali lagi. Mendengar itu, August mengeluarkan suara yang sama dan mulai menghisap dan mengecup tiap sudut bibir dan mulut gadis itu. "Mmmh..." desah Wendy ketika merasakan tangan August mulai menjalar ke leher dan d**a gadis itu. Ia melepaskan ciumannya. Wendy menangkap tangan itu dan menggeleng. August dengan wajah datarnya mengangkat kedua alisnya, menyiratkan pertanyaan yang menuntut dan memaksakan sebuah persetujuan. Wendy sekali lagi menggeleng namun manik matanya berkata lain. August terkekeh dan menggeram. Kemudian ia mulai mencium bibir gadis itu sekali lagi. More passionate than before.  Hotter and harder than before.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN