MENEMUKAN AXEL

1193 Kata
"Astaga, Macet!!!" Keluh Ezra yang memegang kendali mobil, Berbeda dengan ben yang masih sibuk berusaha menghubungi istrinya. "Hei nak, Papa punya ide!" Ben menyimpan kembali handphonenya, sudah berulangkali ia menghubungi Istrinya tetapi tak kunjung ada jawaban sama sekali. "Papa sendiri yang bakal Jemput Axel, kamu bisa putar balik mobil buat jemput ibumu dikantornya" "Tapi Pa.." Belum sempat Ezra menyelesaikan perkataannya, Ben langsung memotong kalimatnya. "Jangan Membantah Papa, Cukup ikuti aja!" Ketus Ben pada putra sulungnya itu, ezra hanya menghela nafas aja dengan ekspresi wajah yang cukup kesal namun enggan untuk membantah ataupun beradu argumen dengan ayahnya saat ini. "Dimana kita bertemu?" "Dirumah nak" Jawab Ben penuh yakin, "Tak ada waktu untuk melarikan diri disituasi kota yang sedang kacau saat ini" Ezra hanya mengangguk saja. "Good luck boy" Ucapnya sembari menepuk bahu Ezra, ia langsung keluar dari mobil dan berlari melewati kerumunan mobil yang tampak memenuhi seisi jalan. Untungnya Lokasi Sekolah Axel hanya berkisaran beberapa blok dari kantor ben, sehingga pria itu tidak terlalu lelah untuk sekedar berlari kesekolah putra bungsunya itu apalagi ben juga cukup hafal mengenai daerah dikota Andalas ini mengingat dirinya adalah sosok yang cukup berpengaruh disana. Akan tetapi betapa kagetnya Ben tatkala melihat gerbang sekolah yang sudah rusak , dan beberapa mayat satpam yang tergeletak didepan gerbang serta beberapa mobil yang terbuka dan sebagian juga ada yang hancur didepan gerbang. Tanpa pikir panjang ia langsung berlari mengambil alih salah satu mobil yang tidak terkunci dan masih terdapat kunci mobilnya disalah satu jok kursi depan, lalu ia berlari kembali kedalam halaman sekolah, disana tampak banyak tumpukan mayat yang tergeletak pucat dengan kondisi yang sangat mengerikan. Ben tak dapat menyembunyikan suasana hatinya saat ini, ia tampak kaget menatap sekeliling area sekolah yang tampak menjijikan dengan suasana kacau. "Oh Tuhan!!! Kasihannya kalian nak!" Gumamnya, mata ben tak dapat menyembunyikan kesedihan bercampur rasa jijik saat melihat beberapa mayat siswa SD yang tergeletak dibawah kakinya. Namun perhatiannya teralihkan seketika, tatkala saat ia melihat seorang guru perempuan yang menatapnya dari jarak beberapa meter dengan wajah pucat dan mata berwarna hitam pekat. Guru itu menyeringai licik kearah Ben, tangannya terlihat jelas menggenggam sebuah pisau dapur yang mungkin aaja ia peroleh dari dapur kantin sekolah. "Ada yang bisa saya bantu, pak?" Tanyanya lirih, ia perlahan-lahan melangkahkan kakinya dengan terus mempertahankan senyuman seramnya itu. "Gimana mungkin Infeksi itu menyebar sampai sini? itu adalah hal mustahil... harusnya butuh beberapa jam untuk bisa menyebar keseluruh kota dan...astaga, apa aku salah perhitungan atau ada hal yang aku kurang teliti?" Gumamnya terus menerus, ia berlarut-larut dalam lamunan tersebut sampai tak sadar kalau langkah guru perempuan itu telah semakin dekat. "Bapak, Bisa saya bantu?" Tanya guru perempuan itu lagi, kini tangannya sudah bersiap-siap untuk menusuk-nusuk tubuh Ben secara brutal. Untung saja suara bel sekolah yang berbunyi keras membuyarkan lamunan Ben, ia langsung sigap menahan tangan wanita itu dan merampas paksa pisau dari tangan guru tersebut. "Aku harus membunuhmu sebelum kau bermutasi total, Maaf.." Gumamnya lagi, ia langsung menusuk pisau itu tepat di leher guru perempuan tersebut sampai darah segar berwarna hitam menyembur keseluruhan pakaian Ben. "Warnanya hitam pekat, monster seperti apa yang sudah kami buat... benar-benar menjijikan" Keluhnya , ia langsung membuang pisau itu dan berlari memasuki gedung. "Axel????? Ini Papa..." Teriaknya, ia terus berlari kelantai dua, ruangan kelas axel yang saat ini berada dikelas 5 SD. "Wow..ini sangat menjijikan!!!" Keluhnya lagi, ketika ia melihat tumpukan mayat siswa di lantai dua yang memenuhi koridor lantai. Kini perasaannya sedikit khawatir terhadap keberadaan Axel, ia tak bisa membayangkan hal-hal buruk menimpa putra bungsunya itu. "Oh Tidak!!!! Axel...Dimana kau nak???" Teriaknya, ia mulai berlari disepanjang koridor, melewati barisan mayat beberapa staff sekolah dan siswa seusia Axel. Akan tetapi hatinya hancur seketika tatkala mendapati ruangan kelas yang sudah kosong, tak ada satupun orang lain disana selain beberapa bangku yang berantakan dan papan tulis yang sudah roboh kelantai. Kakinya langsung lemas, ia terduduk dilantai kelas sembari mengepalkan tangan sekuat-kuatnya. Matanya tak bisa menyembunyikan perasaan kecewa dengan bayangan mengerikan tentang sang putra. "Maafin Papa, Ax..." Lirihnya, ia hanya mendudukkan kepalanya saja Seakan-akan ia tak lagi sanggup menegakkan kepalanya, kini ia sudah benar-benar putus asa dan jujur rasanya ia tak sanggup membayangkan kehidupannya tanpa keberadaan Axel. Ditengah kesedihannya itu, mendadak sebuah tangisan terdengar cukup jelas ditelinganya. Suara tangisan anak kecil yang berasal dari dalam lemari penyimpanan dengan kunci yang masih menggantung . Tentu saja Ben yang tadinya sudah berputus asa langsung bergerak mendekati lemari yang terbuat dari kayu jati berukuran besar dengan ketebalan yang sangat sempurna itu, ia merasa yakin kalau suara tersebut adalah suara putranya. Dengan cepat, ia membuka pintu lemari yang terkunci tersebut dan betapa senangnya ben saat melihat Axel terduduk meringkuk didalamnya. Axel yang saat itu hanya merintih ketakutan langsung memeluk ayahnya, saat ia tahu kalau pria yang berada dihadapannya adalah sang ayah. Kini tangisannya semakin kuat, ia terlihat sangat ketakutan dengan jemari tangan yang gemetaran hebat dan keringat penuh disekujur kulitnya. "Hey, kau gak apa-apa kan nak?" Tanya Ben, ia menggendong Axel keluar dari sana. Axel enggan menjawab, ia hanya memeluk erat tubuh Ben sembari menangis pelan penuh ketakutan. "Papa disini, Semua akan baik-baik saja nak jadi tidak usah takut!" Ucap lembut Ben, ia berusaha menenangkan ketakutan Axel. "Aku mau ketemu Mama, Pa.." Lirih Axel, ben hanya mengangguk saja dan mulai melangkahkan kaki keluar ruangan. "Iya Ax, kita bakal pulang ya" Ben mencoba menenangkan Axel sembari berjalan keluar kelas, untungnya koridor lantai dua cukup hening dan aman untuk dilewati seperti sebelumnya sehingga tak menunggu waktu lama akhirnya mereka sampai juga dilantai dasar sekolah yang tanpa disadari oleh Ben bahwa beberapa staff sekolah telah berbaris menunggunya didepan gerbang seakan-akan mereka memberikan isyarat untuk tidak membiarkan Ben keluar dari lingkungan sekolah ini. Ben hanya bisa menghembuskan nafasnya saja, ia mencoba menenangkan dirinya dari rasa takut dan khawatir. "Ada apa Papa? kok berhenti?" Tanya Axel yang memang tidak tahu karena pandangannya menghadap kearah tangga dan membelakangi gerbang sekolah karena gendongan depan, namun tak bisa dipungkiri bahwa ia tetap merasa ketakutan karena ia yakin kalau ada sesuatu hal mengerikan yang membuat papanya berhenti tepat dibawah tangga. Ben tak menjawab, ia hanya menuruni Axel dari gendongan depan sembari menutup mata Anak itu dengan telapak tangannya dan membalikkan badan axel membelakangi gerbang. Ben berjongkok sejenak, kini ia bisa menjangkau tinggi badan Axel dan menatap serius ke anak laki-laki itu. "Kamu bisa lari kan?" Tanya Ben, Axel hanya mengangguk saja sembari memelas ketakutan. "Selagi Papa menghadapi mereka, kamu harus lari kedalam mobil ya dan tunggu Papa disana!" Axel hanya menggelengkan kepalanya saja, ia terlalu takut untuk melakukan hal itu. "Ax dengar Papa! Kamu harus berani supaya kita bisa pulang" Ucap Ben yang memegang kedua bahu Axel, tatapannya terlihat sangat serius sembari sesekali melirik kearah para staff sekolah yang masih berdiri mematung didepan gerbang seakan-akan tengah menyaksikan tontonan televisi antara Ben dan putranya saja. "Ax, kalau kamu sayang sama Papa berarti kamu harus nurut sama perintah papa sekarang!" Axel hanya terdiam sejenak, cukup lama ia menatap ayahnya sampai tak sampai satu menit akhirnya ia mengangguk pelan dengan kesan yang sedikit ragu . "Makasih nak" Ben memeluk Axel, lalu ia berdiri kembali dan bersiap-siap menjadi umpan udah anaknya. "Hey Kalian!!!! Kemarilah!!!" Teriak Ben, bersamaan dengan tangan kanannya yang memberikan isyarat agar Axel bersiap-siap untuk berlari .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN