Tanpa disadari, Lisa terus menggumamkan nama suaminya, “Martin—” dalam tidur. Ia perlahan bangun setelah kalau mimpi indah itu berakhir. Bibirnya tersungging karena teringat hal itu. Sebuah mimpi yang terlihat nyata. Kini ia tahu itu bukanlah sebuah mimpi, melainkan kenangan yang terputar kembali. “Ngapain kamu? Manggil-manggil namaku terus? Masih kurang semalam?” tanya Martin yang sedang duduk bersila di lantai dekat ranjang. Ia bertelanjang d**a, pinggang sampai lututnya hanya terbalut handuk putih. Sementara tangannya sibuk mengipasi sebuah celana dalam putih dengan koran. Lisa bangun dengan punggung terasa remuk. Selama ini tubuhnya sudah terbiasa tidur di ranjang lembut nan empuk, jadi kasur itu adalah semacam siksaan. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuh telanjangnya. Lalu ber

