Bab 4 Berkenalan

1364 Kata
Sebelum pulang ke apartemennya, Milena menyempatkan diri untuk mampir ke tempat penjual buah-buahan yang berada di bawah gedung apartemennya. Tanpa banyak berbasa-basi dan berinteraksi, Milena segera beranjak pulang, ingin menyentuh ranjang di apartemennya. Tubuhnya benar-benar sangat lelah, lelah pikiran tepatnya karena perintah dan tugas pekerjaan dari Aldo terkadang sangat tidak masuk akal. Meskipun tadi mengenai musik untuk presentasi berjalan sukses tanpa komentar apapun dari pria monster itu akan tetapi tugas berikutnya, Milena di minta menyalin ulang semua informasi yang sudah di onlinekan oleh bagian humas mengenai perusahaannya dan yang lebih tidak masuk akalnya Aldo meminta Milena menulis semua informasi itu di sebuah buku dengan tulisan tangan. Belum lagi Aldo yang memanggil Milena dengan panggilan, ‘Mail …’ ‘Hei Mail, kamu tidak makan siang?’ ‘Mail, cepat selesaikan tugasmu!’ ‘Mail, buatkan kopi untukku!’ Ingin rasanya Milena berteriak mengatakan namanya bukan Mail, tapi dia tidak punya kesempatan sama sekali karena sikap Aldo sangat dingin, tidak bisa di bantah ataupun di ajak adu argumen sama sekali. Deringan telp memecah lamunan Milena yang sedang berdiri di depan lift untuk naik ke unit apartemennya. Milena melihat nama Mario tertera pada telp masuk di Hp-nya. Milena berhasil mengambil Hp dan menempelkan ke telinga di bantu bahu kanannya yang berjengit menahan Hp. Tangan kiri memegang kantong kertas berisi penuh buah jeruk dan tangan kanannya memencet tombol panel buka di lift juga ada tas yang menggantung di bahunya berayun karena gerakannya. Beberapa buah jeruk di kantong kertas yang di pegang Milena tidak seimbang sehingga meluncur jatuh ke lantai. Milena ingin menggerutu berbalik untuk memunguti buah jeruknya kembali akan tetapi seorang pria sedang membantu memungutinya dan meminta kantong kertas yang sudah kosong di tangan Milena untuk dia menyimpan kembali buah-buahan jeruk yang berjatuhan di lantai. Sang pria memberikan kode dengan alisnya menunjuk pada lift yang sudah sampai dan terbuka lalu dia juga ikut masuk bersama Milena ke dalam lift. Milena menekan tombol 22 di panel lift dan bertanya dengan tatapan matanya pada pria di sebelahnya yang masih memeluk kantong kertas berisi buah jeruk milik Milena. “Saya tinggal di 2201,” jawab sang Pria seakan paham maksud Milena yang bertanya dalam kode tatapan matanya. “Och!” Hanya itu yang keluar dari bibir Milena karena Milena tinggal di unit 2202 yang berarti bersebelahan dengan pria yang membantunya tersebut. Milena melihat Hp-nya dan ternyata sambungan telp sudah di putuskan oleh Mario. “Saya Louis,” sang Pria memperkenalkan dirinya ramah dengan senyuman manis di wajahnya pada Milena sambil memberikan kantong kertas berisi buah jeruk milik Milena. “Milena” balas Milena dengan sedikit senyuman. “Terima kasih sudah membantuku,” lanjut Milena lalu masuk ke dalam unitnya di bawah tatapan ramah Louis yang sekilas Milena menilainya tampan. Milena meletakkan kantong kertas belanjaan beserta tasnya di atas meja, terdengar ketukan di pintu unit apartemennya. “Boleh saya minta nomor telp mu, Milena? Yah kita bertetangga, mungkin nanti kita bisa saling membutuhkan pertolongan ...” ujar Louis sambil menggedikkan bahunya sopan dan tersenyum hangat. “Och oke,” Milena memberikan nomor telponnya pada Louis tanpa ada pikiran negatif apapun. Louis segera permisi kembali ke unitnya setelah mendapatkan nomor telp Milena. Tanpa sadar Milena ikut tersenyum membayangkan senyuman Louis padanya. Ini adalah hal terbaik dan satu-satunya yang terjadi padanya hari ini dan membuat Milena sejenak bisa melupakan kekesalan hatinya terhadap Aldo di kantor tadi dan Mario yang masih berani menghubunginya. Setelah membersihkan tubuhnya, Milena melihat stok isi kulkasnya untuk membuat makan malam. Memasukkan beberapa buah jeruk yang sudah dia cuci bersih lalu di kupas untuk di peras di ambil sari patinya. Saat menu makan malamnya sudah matang, Hp-nya berdering, panggilan telp dari Mario. “Masih berani kamu menghubungiku?” dengkus Milena kesal saat telpnya tersambung ke Mario. “Kenapa? Kan bukan aku yang salah! Kamu aja yang ga liat icon di Hp-mu kalau aku melakukan panggilan video padamu. Udahlah, kenapa sih? Cuma liat ini, jarak jauh lagi. Ga bisa aku apa-apain juga!” “Ya, ya. Mestinya kan kamu bisa bilang kalau panggilan itu videocall bukan diam aja. Sudah sampai di mana kamu melihat tubuhku? Ach ga usah di jawab, nyebelin!!!” Milena menggerutu sambil mengunyah daging domba bakar dengan mash potato yang dia buat sendiri. “Aku sudah lihat semuanya. Ga usah malu, toh kamu tuh ga ada seksi-seksinya kok. Biasa aja aku liatinnya. Tadi kenapa telpnya terputus? Udah pulang kerja? Kamu makan apa itu makan malamnya? Aldo masih susah di ajak bicarakah? Ngomong-ngomong apartemenmu nyaman kan? Maksudku lingkungannya asyik kan?” Milena menyemburkan jus jeruknya ke samping mendengar Mario mengatakan tubuhnya tidak ada seksi-seksinya dan masih berani bertanya sok perhatian akan lingkungan tempat tinggal Milena yang semuanya itu sudah Mario atur sebelum kepindahannya ke Aukland. “Denger ya Mario Bross! Semua ini tidak akan terjadi jika kamu tidak berbuat curang pada game ulang tahun perusahaan waktu itu. Kamu sengaja ingin memindahkan aku untuk menjadi sekretaris pribadi si Monster dingin itu. Ku rasa dia bukan manusia tapi alien! Sekarang untuk apa kamu berbuat sok perhatian sama aku? Merasa bersalah? Ga penting tau!!” maki Milena meledak sambil menusuk daging domba di piringnya dengan garpu yang menancap berdiri tegak lalu memasukkannya ke dalam mulutnya yang dia gigit rakus. “Astaga Milena Arrastia … Kamu tuh gadis makannya seperti itu, sangat tidak beretika tau ga? Aku peduli padamu, dan akan selalu seperti itu. Aku tidak berbuat curang, mana ku tau jika kertas yang berisi game itu akan menjadi keputusan untukmu di pindahkan ke Aukland. Sungguh, aku ingin kamu terus berada di sisiku. Please, jangan marah lagi yaa … Nanti cantiknya hilang loh,” bujuk Mario yang akhirnya sukses membuat Milena membuang nafas kasar. Mario tertawa geli jika Milena menyebutnya Mario Bross yang merupakan game kesukaan gadis itu saat dirinya punya waktu senggang. “Ya. Kamu sudah makan? Makan gih, ntar masuk angin lagi klo telat makan. Aku jauh loh, ga bisa leluasa terbang ke Jakarta kalau kamu sakit” ucap Milena calmdown, sudah kembali seperti biasanya. “Iya, aku akan makan. Bagaimana dengan Aldo, dia tidak menyusahkanmu kan? Jika kamu tidak sanggup bertahan di sana, aku akan minta Papa menarikmu kembali ke Jakarta …” “Tidak, jangan! Aku akan terbiasa dengan sikapnya. Jangan kuatir, Oke?” jawab Milena cepat. Milena dan Mario akhirnya bercerita banyak hal, Mario juga menceritakan beberapa kebiasaan Aldo yang sedikit nyentrik dan aneh bagi orang kebiasaan akan tetapi sebenarnya Aldo sangat profesional dalam mengelola perusahaan meski hatinya pernah di hempaskan oleh wanita sebelumnya. “Jadi kamu ingin aku menggoda Aldo, begitu maksudmu?” tanya Milena setelah mendengar kisah Aldo dari Mario. “Yah, nggak gitu juga, Tia. Setidaknya dengan kehadiranmu di sana bisa membuat si pria dingin itu terbuka kembali mata hatinya untuk melihat wanita bahwa tidak semua wanita itu menyebalkan, pengkhianat dan matrelialistis. Jadilah apa adanya dirimu di hadapannya. Dan ingat, jangan jatuh cinta padanya, oke?” “Kenapa aku ga boleh jatuh cinta sama dia?” tanya Milena penasaran. “Karena kamu hanya boleh jatuh cinta padaku!” jawab Mario setulus hatinya yang dia ucapkan dengan candaan. “Gundulmu! Aku sepertinya menyukai seseorang di sini, bukan monster dingin itu. Jangan kuatir!” ucap Milena yang membuat Mario menahan nafasnya sebentar. “Kamu masih baru di sana, hati-hati dan jangan berikan nomor telp mu pada siapapun yang baru kamu temui. Banyak psycopath di sana, berwajah tampan, senyum manis, awalnya senang membantu namun setelah kamu kenal nanti, dia tidak akan segan untuk menyiksa bahkan membunuhmu secara perlahan-lahan,” tutur Mario yang membuat bulu kuduk Milena merinding. Terdengar bunyi ketukan di pintu apartemennya cukup nyaring namun wajah Milena malah semakin pucat, keringat dingin mengalir deras di pelipisnya. “Tia, kamu kenapa? Kenapa wajahmu pucat? Tia … Arrastia! Milena Arrastia!! Hei, hallo … ?!” Mario berteriak memanggil Milena yang meletakkan Hp di atas meja makan. Milena berdiri di tengah ruangan tamu apartemennya menatap nanar ke arah pintu yang masih terdengar bunyi ketukan. Milena menggigil setelah mendengar apa yang Mario katakan tadi. Louis berwajah tampan, senyum manis, senang membantu dan tadi Milena baru saja memberikan nomor telpnya pada pria itu. “Ma-mario … Tolong aku! Ach!!!” Milena berlari ke meja makan berteriak di Hp nya yang masih tersambung dengan Mario lalu kemudian terdengar teriakan nyaring Milena dan sambungan telpnya dengan Mario terputus.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN