12

3026 Kata
Wren mengeluarkan belati kecil dari sepatunya dan menusukkannya tepat di telapak tangannya hingga darah menetes ke lantai. “Terima kasih. Tapi ingat ini sobat, aku, Wren, bersumpah dengan darahku akan menjamin keselamatanmu dengan nyawaku sendiri hingga kau bertemu saudaramu selama kau tidak menyentuh istriku tanpa izinnya. Kalau sampai itu terjadi, maka aku sendiri yang akan memburumu. Percayalah, neraka akan terasa seperti surga kalau hari itu sampai tiba dan tidak ada satupun tempat di dunia ini yang bisa menyembunyikanmu dari murkaku. Dan aku akan memberikan hadiah bagi siapa saja yang bisa membawamu ke hadapanku dalam keadaan hidup.”sahut Wren dengan senyum diwajahnya, tapi ancaman itu masih menggantung di udara. Aleandro dan Archard hanya mendesah pelan. Diam-diam berharap kalau Lorenz tidak akan pernah melakukan tindakan bodoh itu. Mereka tahu dengan sangat baik kalau Wren adalah vampir yang paling pemaaf di muka bumi. Dia akan memaafkan siapapun selama orang itu masih berguna untuknya, tapi sebagai mantan hunter Zac, Wren terkadang bisa bersikap sangat kejam dan sadis, tidak peduli siapa lawannnya. Aleandro mencondongkan tubuhnya ke dekat Lorenz. “Kami kaum vampir adalah makhluk paling posesif di dunia. Jangan ganggu apapun milik kami maka kau akan selamat.”bisik Aleandro pelan lalu kembali ke posisinya semula. “Kau yak...” “Kita ada masalah!”ujar sebuah suara dari arah pintu. Gavriel langsung menerobos masuk ke dalam kantor Wren bahkan tanpa pemberitahuan lebih dulu. Wren segera bangkit dan menghampiri Gavriel. “Apa yang terjadi pada Amelia?”tanya Wren cepat. “Zeroun mendatanginya. Mereka sudah tahu kalau Amelia ada di London. Mereka tidak melakukan gerakan apapun karena menunggu saat ini.”ujar Gavriel cepat. “Sial!”umpat Wren geram. “Dimana Amelia sekarang?” “Chale sedang mengawasinya saat ini. Mereka di apartemen Amelia.”ujar Gavriel cepat. Belum sempat Wren memutuskan apapun, Aleandro sudah melesat keluar dari kantor Wren. “Sial, sial, sial! Archard jaga Lorenz, aku akan menyusul Aleandro. Dia tidak boleh membunuh Zeroun sebelum kita tahu dimana persembunyian Conrad!”ujar Wren cepat yang langsung melesat mengikuti Aleandro. --- Apa yang Wren dan Aleandro lihat di apartemen Amelia nyaris membuat Wren meragukan kejujuran Gavriel. Gadis itu sedang menonton TV saat mereka masuk tanpa izin ke apartemennya. Amelia cukup kaget melihat kehadiran Wren dan Aleandro disana. “Ada yang bisa memberitahuku apa yang kalian lakukan disini?”tanya Amelia cepat. “Dimana dia?”tanya Aleandro dingin. Amelia menatapku dan Aleandro bergantian sebelum terpaku pada Aleandro. “Apa? Siapa?” “Jangan macam-macam, Amelia! Aku bahkan masih bisa mencium baunya!”sembur Aleandro. “Ah, kalau yang kau maksud adalah Zeroun, dia baru saja pergi. Kenapa?” Aleandro langsung menghampiri Amelia dan merenggut tangan gadis itu, “Jangan bercanda! Kau bilang dia baru saja pergi?”tanya Aleandro tajam. “Kau kenapa? Apa masalah sebenarnya?”tanya Amelia jelas terdengar tidak senang dengan kunjungan mendadak ini. Wren mendekati Aleandro dan Amelia, menarik Aleandro menjauh dari Amelia. “Biar aku yang bicara.”ujar Wren tenang. “Kau tahu siapa yang datang tadi, Amelia?” Amelia mengangguk pelan. “Tentu saja. Dia mengenalkan dirinya padaku. Jadi tidak mungkin aku tidak mengenalnya.” “Sampai sejauh mana dia mengenalkan dirinya padamu?”tanya Wren lagi. “Kalau yang kau maksud adalah apakah dia mengatakan kalau dirinya bawahan Conrad, maka jawabannya ya.” “Apa yang kalian bicarakan?” “Tidak banyak. Hanya kenyataan kalau dia memintaku ikut dengannya menemui Conrad.” “Dan apa yang kau katakan?”tukas Aleandro menyela Wren. “Apa yang kau harapkan?”tanya Amelia balik sambil menatap Aleandro tajam sebelum mengalihkan tatapannya pada Wren. “Aku bilang kalau kalau aku akan bicara denganmu, Wren. Aku menghargai apa yang kau lakukan untukku selama ini, karena itu aku pikir aku harus bicara dulu denganmu sebelum memutuskan apapun.”lanjut Amelia kemudian. “Dan dia pergi dengan sukarela?” “Tentu saja. Sepertinya Kang Conrad tidak ingin siapapun melukaiku. Jadi dia memilih pergi dalam damai.”sahut Amelia cepat. Wren mengangguk paham. “Terima kasih kau masih menghargaiku. Jadi apa keputusanmu?” Amelia mendesah panjang sebelum meletakkan remote TV di meja dan berjalan ke jendela. “Aku akan pergi bersama Zeroun, Wren. Jangan ikut denganku. Ada hal yang ingin kutanyakan padanya.”ujar Amelia pelan. “Jangan bodoh, manusia!”sembur Aleandro sebelum sempat ditahan Wren. “Kau kira vampir kuno sepertinya bisa diajak bicara semudah itu?! Apalagi setelah apa yang dia lakukan! Dia tidak akan bekerja sama tidak peduli apa yang kau tawarkan padanya!” “Tenanglah, Aleandro. Kita harus mendengarkan apa yang Amelia inginkan.”bujuk Wren pelan. “Lanjutkan.” Amelia menatap Aleandro dingin, dia benar-benar tidak mengerti dengan sikap Aleandro yang selalu berubah-ubah. “Aku hanya ingin menanyakan beberapa hal padanya. Setelah itu aku akan kembali kesini. Aku manyukai hidupku selama ini dan rasanya akan sulit menjalani hidup tanpa semua orang yang kukenal selama ini.”ujar Amelia pada Wren. “Aku harap kau masih menerimaku di pasukanmu nanti, Wren.” Wren tersenyum menenangkan. “Tentu saja. Kau selalu diterima ditempatku, Amelia. Setidaknya kalau kau kembali kau akan menyelamatkanku dari kemurkaan Lily.”ujar Wren ringan. “Jadi kapan kau akan pergi?” “Besok.” “Besok? Seolah kau sedang merencanakan untuk liburan saja.”sembur Aleandro lagi. Wren melemparkan tatapan menegur pada Aleandro. “Baiklah, aku mengerti. Lakukan apa yang kau inginkan dan tolong bawa ini.”ujar Wren sambil menyerahkan sebatang logam berbentuk tabung dengan tombol kecil di salah satu sisinya dan di sisi yang lain terdapat lingkaran bening. Amelia mengamati benda yang hanya sebesar jari telunjuk itu, bingung. “Apa ini?” “Kalau kau ingin kembali tapi mereka menahanmu, kami akan datang membebaskanmu. Tekan tombol kecil itu, dan begitu jarumnya keluar, tusukkan ke tubuhmu hingga berdarah. Saat darahmu masuk ke dalam tabung khusus di dalamnya, aku akan tahu dimana kau saat itu.” “Wow! Hebat!” “Hanya berfungsi pada mereka yang memiliki darah yang sama denganku.”sahut Wren pelan. “Kalau memang karena darahmu, apa ini bisa berfungsi padaku? Aku tidak benar-benar menerima darahmu, Wren.” “Ada dua sistem didalamnya, Amelia. Pertama GPS yang akan langsung aktif begitu kau menekan tombolnya, dan yang kedua adalah tabung khusus di dalamnya. Aku hanya takut kalau saat itu aku tidak berada di Picasa sehingga saat GPS.nya aktif aku tidak bisa segera ketempatmu.” Amelia mengangguk semangat. “Oke oke, aku mengerti.”sahutnya cepat. “Ah... Bisakah kau berjanji sesuatu padaku, Wren?” “Tentu.” “Jangan katakan apapun pada Lily. Dia akan murka padaku kalau dia tahu. Satu-satunya orang yang tidak ingin kulawan adalah istrimu. Aku menyayanginya.”ucap Amelia pelan. Wren menggeleng pelan. “Kau mengumpankanku pada macan tidur, Amelia.”bisik Wren pelan. Vampir itu terdiam selama beberapa detik sebelum mengangguk kecil. “Akan kuusahakan. Tapi maafkan aku kalau pada akhirnya dia akan tahu. Aku tidak akan bisa merahasiakan apapun darinya lebih dari satu hari.” Amelia terkekeh pelan. “Aku menyayangi kalian. Dan kalau boleh jujur, aku iri terhadap kalian. Setelah semua yang terjadi selama dua tahun ini, kau dan Lily seperti pasangan yang baru jatuh cinta, hubungan kalian impian seluruh pasangan di dunia.” Tiba-tiba Wren memeluk Amelia. “Terima kasih. Bukan untuk rasa sayangmu padaku, tapi untuk rasa sayangmu pada Lily. Kau membuatku semakin ingin melindungimu.” “Jangan bercanda!”tukas Amelia dan Aleandro bersamaan. Amelia menatap Aleandro heran sebelum mendorong Wren menjauh. “Aku tidak yakin dia akan membiarkanmu kembali ke sini.”ujar Aleandro tiba-tiba, sambil menatap Amelia tajam, berusaha menutupi apa yang terjadi sebelumnya. “Dia tidak seburuk itu.”balas Amelia. “Kau tidak bisa mempercayai vampir semudah itu!”bentak Aleandro lagi. “Tentu saja! Aku juga tidak pernah mempercayaimu!”sembur Amelia dan kemudian menyesali apa yang sudah diucapkannya saat Aleandro menatapnya tanpa emosi. Wren langsung berdiri diantara kedua orang itu sambil merentangkan tangannya. “Sudah cukup kalian berdua.”tegur Wren yang dengan sengaja melepaskan sedikit kekuatannya, walau tahu kalau itu tidak berguna pada Aleandro. “Amelia memiliki kecendrungan untuk mempercayai hal yang tidak bisa dipercayai, Aleandro. Lagipula aku tidak benar-benar melepaskannya. Dan Amelia, Aleandro mungkin benar, kau tidak bisa terlalu mempercayai kaum kami. Lihat aku, aku peduli padamu karena Lily peduli padamu.” “Aku tidak mempercayai ‘kaum’ kalian semudah itu. Aku hanya belajar dari pengalaman. Dan tolong katakan pada temanmu itu kalau aku bukanlah tanggung jawabnya, jadi dia bisa tenang.”sambung Amelia terdengar kesal, tapi tetap berusaha terdengar tenang. Sekali lagi Aleandro menatap Amelia tajam sebelum berbalik dan melesat pergi meninggalkan apartemen Amelia, mengutuk dirinya sendiri yang selalu lepas kendali saat berada di dekat Amelia. Semoga Tuhan membantuku menjauh dari wanita itu.pikir Aleandro lalu tertawa sinis. “Itu kalau memang Tuhan itu ada dan masih mau menerima doa dari makhluk sepertiku.”bisik Aleandro. *** Sebuah sedan hitam metalik Vauxhal Insignia berhenti di parkiran basement Picasa Center. Pintu kemudinya terbuka dan turunlah seorang wanita mungil mengenakan pakaian bernuansa coklat lembut. Rambutnya yang berwarna hitam pekat diikat tinggi di atas kepalanya. Setelah menutup pintu mobilnya, wanita itu meraih ponsel dalam saku jaket yang dan menelpon seseorang saat sebuah suara menyapanya. “Bagaimana mobil barumu, amour?”tanya Wren sambil menghampiri istrinya. Lily melirik sejenak ke arah mobilnya sebelum mengangguk pelan. “Seperti mobil-mobilmu yang lain, bagus. Hanya saja aku curiga kalau ini juga salah satu hasil modifikasi para teknisimu. Benar, bukan?”tanya Lily sambil menggandeng lengan suaminya sementara mereka berjalan menuju lift. “Hanya menambah ini dan itu.”sahut Wren lalu mengecup bibir Lily cepat. “Kaca dan body anti peluru, sistem GPS, dan beberapa ruang rahasia di beberapa tempat untuk menyimpan senjata.”jelas Wren kemudian lalu kembali mencium istrinya di dalam lift. Lily membalas ciuman Wren dan kemudian mendorong suaminya menjauh. “Itukah yang kau sebut ‘ini dan itu’?”tanya Lily skeptis. Wren hanya tersenyum menanggapi pertanyaan istrinya. Mereka masih berpelukan hingga panel digital menunjukkan angka 67. “Hanya memastikan kalau serangga kecil tidak bisa menyentuhmu saat aku tidak ada. Aku akan cemburu sekali pada mereka.”bisik Wren lembut. “Mereka sudah menunggumu di kantorku. Ayo temui mereka.”ujar Wren sambil menggiring Lily menuju kantornya. “Hallo, Aleandro. Hallo , Lorenz. Kalian sudah siap?”seru Lily begitu melihat kedua pria yang sedang duduk diam di dalam kantor Wren. “Mereka sudah siap. Hanya saja Aleandro memintaku mengatakan sesuatu padamu. Berjanjilah untuk tidak menambah masalah. Berjanjilah kau akan menyelamatkan dirimu sendiri kalau memang terjadi pertempuran, Aleandro tidak ingin mencemaskanmu. Berjanjilah kau akan bersikap manis selama misi ini, amour.”ujar Wren cepat. Lily menatap Aleandro kesal sebelum kembali menghadap Wren. “Aku berjanji, master. Aku akan menjadi anak baik selama misi. Jadi apa kami sudah boleh pergi atau aku harus membuat pernyataan tertulis?”tanya Lily cepat. Dalam satu gerakan cepat Wren merengkuh Lily dan mengecup bibir istrinya itu. “Aku tidak ingin kau pergi, amour. Karena itu jangan buat aku cemas.”bisik Wren sambil memeluk Lily erat. “Tidak akan. Karena itu jaga Amelia untukku, oke? Jangan beri dia misi berbahaya sampai keadaan aman. Aku ingin dia ada disini saat aku kembali.”balas Lily lembut. “Bisa kita pergi sekarang?”ujar Aleandro kuat, sengaja agar Wren dan Lily berhenti memamerkan kemesraan mereka dimana saja mereka inginkan. “Aku pergi, Wren.”pamit Lily sambil melepas pelukan Wren. “Dan tolong katakan pada siapapun yang bertugas menjaga tokoku agar jangan menyentuh pelangganku. Aku serius, sayang.”seru Lily sebelum menghilang dari pandangan Wren. --- Lily dan Lorenz tertidur dalam perjalanan sementara Aleandro menyetir mobil mengikuti instingnya keluar dari London melewati High Wycombe, dan kini mereka sudah tiba di Oxford. Vauxhall mungkin tidak secepat mobil-mobil Wren yang lain, tapi mobil ini cukup cepat untuk menempuh jarak London-Oxford hanya dalam 2 jam. Mereka bahkan tidak berhenti untuk istirahat dan terus melaju hingga keluar dari Oxford saat Lily menggeliat dan mulai terjaga. “Dimana kita?”tanya Lily serak, berusaha mengumpulkan kesadarannya. “Sudah melewati Oxford.”sahut Aleandro cepat, yang disatu saat dalam perjalanan sudah membuka jaketnya dan hanya mengenakan kaos lengan panjang abu-abu gelap dengan leher model turtleneck. “Apa kau sudah merasakan kehadirannya?”tanya Lily lagi sambil menegakkan tubuhnya dan menatap ke jalan sebelum melirik Lorenz yang masih tertidur di bangku belakang. “Kabar terakhir dari Alaric hanya ada sekawanan were yang bergerak melewati Gloucester. Kalau kita beruntung setidaknya mereka akan butuh makan dan istirahat setidaknya beberapa menit sebelum kembali meneruskan pelarian mereka saat kita tiba di Gloucester.”jawab Aleandro datar. Lily terlihat berusaha mencerna informasi yang diberikan Aleandro saat matanya menangkap papan nama sebuah toko yang menunjukkan lokasi keberadaan mereka saat itu. “Ah, aku mengerti! Kita akan memotong jalan melewati Burford, bukan Banbury.”seru Lily bersemangat. “Tapi apa kita tidak istirahat juga? Aku ragu L bisa bertahan lebih lama.”bisik Lily pelan. “Jangan cemaskan aku. Aku membawa RBC7 dalam jumlah cukup.”ujar suara di belakang. “Apa hanya itu makananmu sekarang?”tanya Aleandro yang melirik Lorenz melalui kaca kecil di depannya. Lorenz menggeleng pelan, “Aku baru saja makan sebelum pergi tadi. Aku cukup bisa menahan lapar dalam kondisi normal.”sahutnya ringan. “Bagus! Aku akan menikmati perburuan ini. Wren sudah terlalu lama mengurungku di rumah.”seru Lily bersemangat. Aleandro menambah kecepatan mobilnya begitu melewati Witney. “Apa semua makhluk disekitar Wren memang seperti kalian?”tanya Aleandro pelan. “Kalian?”ulang Lily bingung. “Kau dan Amelia. Aku tidak mengerti ada makhluk lain yang manyukai perburuan seperti kami. Kalian berdua bahkan bisa dibilang masih manusia, tapi kesenangan kalian akan perburuan nyaris sebesar bangsa vampir.”ujar Aleandro cepat. “Aku manyukai perburuan, bukan pembunuhan. Aku menyerang untuk melumpuhkan bukan membunuh. Setidaknya dalam hal itu aku berbeda dengan kalian para predator. Lagipula, apalagi yang bisa kulakukan selain menjaga toko untuk mencari kesenangan?”tanya Lily balik. “Bukankah dulu kau melakukan banyak hal sebagai manusia biasa?”sindir Aleandro. Lily menggeleng pelan. “Aku tidak tahu kenapa kau terkadang bersikap seakan membenciku, Aleandro. Kau tahu dengan pasti kalau setelah semua yang terjadi musim panas itu aku tidak benar-benar bisa berbaur dengan manusia lagi. Aku masih terlalu amatir dalam menahan aliran kekuatanku dan hal lainnya. Ada banyak makhluk abadi lain yang tertarik dengan aliran kekuatanku yang aku tidak tahu apa alasannya. Wren sudah mengajariku untuk menamengi kekuatanku agar tidak mengalir, tapi itu sulit.” Aleandro melirik Lily sejenak sebelum kembali berkonsentrasi pada jalanan di depannya. “Pantas saja Wren begitu mencemaskanmu. Jangan pernah ragu menyerang. Itu peraturan pertama dalam dunia kami. Sekali kau menyerang, hanya ada dua hasil, musuhmu yang terbunuh atau kau. Kami tidak pernah melumpuhkan karena itu berarti memberikan mereka kesempatan untuk menyerang balik.”gumam Aleandro mengabaikan ucapan Lily. Diam-diam Lily berterima kasih dalam hati pada Aleandro karena tidak melanjutkan masalah kekuatan aneh dirinya. “Aku mungkin menikah dan berpasangan dengan vampir. Tapi aku tidak pernah melupakan jati diriku. Masih ada darah manusia didalam tubuhku, aku tidak akan bisa semudah itu membunuh mereka atau siapapun selama mereka tidak mengganggu apa yang kumiliki.”ujar Lily dingin. “Dikatakan oleh seorang anak The Fallen Angel yang sudah membantai ratusan vampir bawahan de Avnas tanpa ampun.”ejek Aleandro ringan. “Selama tidak mengganggu apa yang kumiliki, sayangnya Eliza termasuk di dalam daftar kepemilikanku.”jawab Lily cepat. “Kau hanya setengah malaikat, Lily?”tanya Lorenz begitu memahami pembicaraan dua orang yang duduk di depannya itu. Lily mengangguk cepat. “Kau tidak berpikir kalau aku malaikat sesungguhnya bukan?”tanya Lily balik. “Aku hanya tahu kau adalah putri Lucifer, aku tidak tahu kalau masih ada setengah malaikat yang dibiarkan hidup.”gumam L tanpa sadar. Lily terkekeh pelan. “Aku bisa bertahan hidup sampai saat ini justru karena sudah pernah diburu oleh Pimpinan Angel Hunter dan berada diantara batas hidup dan mati, Lorenz. Kau tidak akan bisa membayangkan penderitaanku saat itu... Bukan penderitaan karena menghadapi kematian. Tidak, aku tidak takut mati, karena sejak dulu aku sudah belajar kalau kematian adalah sesuatu yang pasti akan mendatangi suatu makhluk, hanya saja waktunya yang tidak bisa dipastikan. Memikirkan kemungkinan kau akan meninggalkan orang-orang yang kau sayangi, orang yang kau cintai, itu yang membuat segalanya seperti neraka.” Beberapa saat kemudian, sebuah sedan hitam meluncur dari arah berlawanan. Aleandro menghentikan mobilnya di pinggir jalan, begitu juga dengan sedan tersebut. Seorang pria muncul dari sedan itu dan menghampiri mobil yang dikendarai Aleandro. “Mereka tidak ke Cheltenham, Aleandro. Orangku yang mengikutinya mendapati kalau mereka memutar arah keluar dari Gloucester dan memasuki Painswick. Kalau tebakanku benar, mereka akan muncul di Swindo beberapa jam lagi. Tapi bisa saja mereka kembali mengubah arah dan pergi kemana saja. Mereka ingin mengaburkan jejak.”ujar Alaric cepat. Aleandro mengangguk paham. “Baiklah. Teruskan tugasmu, Alaric.”ujar Aleandro yang kembali menyalakan mesin mobil dan mulai bergabung bersama lalu lintas Witney. “Aku pikir seorang eksekutor tidak memiliki klan.”ujar Lorenz setelah mereka berjalan cukup jauh dan berbelok menuju Carterton. “Aku tidak punya klan. Alaric bukan orangku.”sahut Aleandro datar seolah tidak ingin membahas apapun bersama Lily dan Lorenz. “Bukan? Tapi sikapnya...” Lily memalingkan kepalanya ke belakang. “Alaric anggota klan Libra. Dia yang bertanggung jawab atas Bristol dan sekitarnya. Seluruh penanggung jawab setiap kota di Inggris Raya sudah diberi tugas untuk melaporkan setiap gerakan yang mencurigakan. Alaric-lah yang  meyakini kalau sekawanan were yang memasuki Bristol tadi malam adalah kawanan Lazaro. Karena itu kita langsung mengejar mereka saat ini sebelum kembali kehilangan jejak mereka.”jelas Lily lalu kembali menatap jalanan. “Aku juga tidak mengerti kenapa Aleandro tidak membangun klannya sendiri. Dia jelas memiliki apa yang dibutuhkan sebagai ketua klan.”gumamnya kemudian. “Kalian berdua... Bisakah kalian berhenti membicarakanku, Wren, ataupun kaumku yang lainnya? Tidak ada untungnya bagi kalian membahas hal itu saat ini.”tanya Aleandro kemudian. “Hei, Aleandro! Kau selalu memperlakukanku seakan aku orang lain.”tegur Lily. “Oh, tentu. Kau jelas bukan salah satu dari kami.”sahut Aleandro ringan. “Aku pasangan Wren, secara hukum kalian, hukum manusia atau hukum manapun!”tukas Lily tajam. “As your wish.”gumam Aleandro pelan lalu memilih untuk diam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN