24. Perihal Cinta

2540 Kata
Hari tidak begitu cerah bukan berarti akan turun hujan. Sedari tadi Zean dan Mou Lizar mencoba menjelaskan hal itu pada Yuri, tetapi Yuri tidak mau mendengarkannya. Dia kekeh meminta pada gadis lugu itu untuk menginap di rumahnya. Bahkan siang hari belum terlewati, Yuri sudah memaksa gadis itu untuk menunjukkan jalan ke rumahnya. 'Ayolah, jangan merasa aku seperti orang jahat yang suka memaksakan kehendak. Gadis ini saja yang terlaku menurut dan takut. Wajar saja dia mengira aku adalah orang jahat. Namun, yang kulakukan ini demi membuktikan kalau dugaanku itu benar. Sebentar lagi pasar akan ditutup, bukan? Ini kesempatan yang bagus. Jika pemuda itu juga memperhatikan gadis ini, pasti dia mencari tau sedang apa gadis ini membawa kami bersamanya. Itu sudah cukup untukku mendekatkan mereka. Hmm, aku ingat guru Kahy mengatakan jika cinta juga bisa mengisi biji pohon dan membuat perubahan besar. Kesempatan ini juga tidak boleh disia-siakan. Pasti tidak akan berfungsi jika aku tidak menggerakkan hatiku juga. Itu berarti aku harus emosional lagi? Baiklah, tidak masalah. Aku sudah terbiasa dengan emosi bersimpati. Yuri, kali ini kau pasti bisa!' Yuri membatin seiring langkahnya keluar dari pasar. Sempat dia lihat pemuda penjual bumbu dapur itu memperhatikannya dengan gadis itu ketika melewati tokonya. Rautnya terlihat jelas sangat bingung. Gadis itu terus menunduk malu. Alisnya sampai bergetar hampir menyatu. Yuri tersenyum miring melihatnya. Keyakinannya semakin kuat. Kini Yuri terkikik menunduk saat berhasil keluar pasar. Zean meneleng heran tak habis-habis. "Pangeran, sepertinya Yuri merencanakan sesuatu," bisik Mou Lizar. Sangat dekat dengan Zean sampai Yuri dan gadis itu tidak bisa mendengarnya. Zean mengangguk, "Lihat gadis itu. Tangannya gemetaran, jarinya terus dimainkan sejak tadi. Yuri membuatnya takut? Ini seperti bukan Yuri saja." "Aku rasa gadis itu saja yang terlalu penakut. Aku mengkhawatirkan isi otak Yuri. Apa ada yang tidak beres setelah dia makan mentimun?" Mou Lizar semakin memicing. Bidikannya berubah menjadi desisan. "Kalau mentimun itu ada racun berarti aku juga berubah, tapi ini sikap Yuri yang sedikit aneh. Berarti bukan perkara mentimun." Zean menggeleng kecil. "Ha? Begitu, ya? Emm, kalau begitu memang ada yang dia rencanakan. Sshh, ini tidak akan turun hujan sungguhan, 'kan?" Mou Lizar mengusap kedua lengannya sambil menengadah ke langit. Uang yang dia dapatkan dari pertunjukan sihir semakin bertambah. Kantung uangnya semakin berat saja dibawa kudanya Yuri. Beberapa orang yang melihat pertunjukannya memintanya untuk kembali menghibur lain waktu. Itu saja sudah membuat Mou Lizar bahagia. "Hujan? Entahlah, kondisi alam sulit ditebak, tapi kurasa tidak." Zean ikut menatap langit. "Wah, sudah hampir sampai, ya?" pekikan Yuri menyita perhatian dua laki-laki itu. Gadis itu menunjuk jalan berbelok yang mulai menampakkan beberapa rumah yang tingginya sama rata. Banyak orang yang beraktifitas di sana. Mereka heran dengan keberadaan Yuri dan yang lain. "Ini ... benar-benar pemukiman yang hidup." Yuri memandang sekeliling tanpa terlewat satu pun. Senyumnya membuat semua orang heran. Zean dan Mou Lizar melakukan hal yang sama. Memperhatikan daerah itu tanpa berhenti berjalan. "I-iya. Kami memang hidup saling bergantungan. Di sebelah sana ada lahan luas yang khusus ditanami bawang." gadis itu menunjuk lahan yang ada di sampingnya dengan malu-malu. "Juga di sanalah tempat pemuda itu tinggal, 'kan? Itu yang mau kau tunjukkan, 'kan?" Yuri mengerti maksud gadis itu sampai gadis itu tersentak. "Ti-tidak! A-aku hanya memberitahumu." elak gadis itu dan memalingkan wajahnya. "Hahaha, tidak masalah. Kutunggu kau mengatakannya." Yuri justru tertawa ringan. Zean meneleng lagi, "Katakan padaku, apa rencanamu?" bisiknya pada Yuri. Yuri menoleh, "Hmm? Nanti kau juga mengerti sendiri. Tenang saja, kita tidak akan menginap nanti." Zean mendelik, "Apa maksudmu?" "Ssttt! Ini urusan cinta, kau mana mengerti?" Yuri berbisik lirih menutup bibirnya dengan telunjuk sambil melirik Zean dari atas sampai bawah. Zean melihat pakaiannya, "Apa? Kenapa melihatku seperti itu?" Wajah polosnya membuat Yuri ingin menepuk dahi. Padahal Yuri membicarakan hal tentang mereka berdua, tetapi Zean tidak menyadarinya. "Cinta yang kumaksud juga untuk biji pohon. Kalau tidak mengerti, ya, sudah." Yuri mengibaskan tangannya. "Ha?" Zean semakin meneleng. Mou Lizar kembali berbisik pada Zean. "Pangeran, apa yang dia bilang?" "Yuri bilang ini soal cinta. Kurasa antara gadis itu dan pemuda yang kulihat tadi," balas Zean berbisik. Tiba-tiba Mou Lizar merinding, "Jangan bicarakan kata sakral itu, Pangeran. Cinta itu mengerikan. Bisa membuat orang jadi gila." Zean mendelik lebih lebar, "Benarkah? Kenapa orang-orang yang mengalami cinta di negeriku tidak gila?" "Aduh, itu kata kiasan, Pangeran. Kau tidak mengerti sungguhan atau bohong?" Mou Lizar memicing. "Hmm, mengerti." Zean mengangguk menutup matanya sebentar. Mou Lizar terbelalak meragukan pemahaman Zean yang nampak polos. 'Aku jauh mengerti. Baiklah, kita lihat saja apa aksimu, Yuri. Aku harap memang tidak menginap di rumah orang lagi malam ini. Tentunya sekaligus mendapatkan energi positif untuk pembentukan cincin merah,' batin Zean. Gadis itu menunjuk ke sebuah rumah yang memiliki pagar kayu. Tanaman rambat mengelilingi pagar itu. Dia membawa Yuri dan yang lainnya masuk. Kuda milik Zean dan Yuri diikat di tiang rumah. Rumah yang sangat sederhana. Ketika gadis itu mempersilakan mereka duduk, tiba-tiba beberapa warga datang menyerbu mereka dan menanyakan identitas mereka. "Ma-maafkan aku. Kedua orang tuaku sedang ke ladang menanam sayuran. Kalian bersama para tetangga dulu, ya. Akan kubuatkan teh melati untuk kalian," kata gadis itu halus. Yuri hanya tersenyum tanpa menjawab, gadis itu sudah masuk ke rumahnya terlebih dahulu. Ketika dia menoleh lagi pada para warga, semua tatapan penuh tanya dilayangkan untuk dua kudanya. Tentu saja Yuri terkejut. "Hei, kalian dari jauh, ya? Apa kalian saudagar? Kudanya bagus sekali! Apa mereka dijual?" tanya salah satu dari mereka yang sangat antusias. "Apa?! Tentu saja tidak! Mereka hewan kesukaanku. Mereka temanku. Aku tidak akan menjualnya!" Yuri melebarkan matanya. "Begitu, ya? Sayang sekali, hewan dijadikan teman. Padahal aku ingin membelinya." "Iya, aku juga ingin membelinya." "Jika ditukar dengan beras dan gandum pasti desa ini bisa membuat gudang makanan pokok sendiri." "Kuda putih yang sangat kuat! Lihat kaki dan tubuhnya, kokoh sekali!" "Huaaaa, aku ingin naik kuda!" Mereka masih mengagumi dua kuda itu secara terang-terangan. Zean sampai membuka mulutnya lantaran heran. 'Kenapa mereka kagum pada kuda? Ini pertama kalinya kehadiranku diacuhkan oleh para wanita,' pikir Zean. Tidak heran Zean berpikir seperti itu, karena senua perempuan yang berada di depannya hanya tertuju pada dua kuda itu. Matanya sampai berbinar seolah kuda itu harta karun yang berharga. "Eee, maaf menyela. Apa kudaku sebagus itu?" tanya Zean hati-hati. "Ck! Mereka temanku, bukan kuda biasa!" Yuri melengos sambil melipat tangan di d**a. "Waaaaa! Kuda Yuri mendadak populer sekarang!" Mou Lizar memekik. "Memangnya apa bagusnya kuda?" tanya Yuri melirik dua kudanya. Ketika pertanyaan Yuri hampir dijawab, gadis itu keluar dari rumah membawakan tiga cawan teh melati yang sangat harum. Mereka semua terlena begitu juga dengan Yuri. "Harumnya!" pekik Yuri tanpa sengaja. Gadis itu mempersilakan Yuri dan yang lain untuk minum. Semua tetangga yang mengerumuninya pun mulai bertanya. Gadis itu hanya menjawab seadanya kemudian mereka pergi kembali beraktivitas. "Kenapa mereka antusias sekali? Benar-benar ramah. Ngomong-ngomong, terima kasih teh-nya." Yuri tersenyum membunuh teh melati itu. Mou Lizar sudah menghabiskannya lantaran haus. Zena bahkan tidak menyentuh cawan teh itu. Dia merasa tidak enak hati menerimanya. "Iya, mereka benar-benar ramah," gadis itu mengatakannya sambil menunjukkan wajah murung. "Kau terlihat frustasi lagi. Apa masalahnya sebegitu parah?" tanya Yuri. Dia meletakkan cawan teh melati yang isinya tinggal setengah. "Haish! Kenapa kau tidak jujur saja padaku? Aku akan menolongmu, apapun itu," sambungnya. Gadis itu terkejut. Mendongak memandang Yuri dengan mata lebarnya. Senyum Yuri semakin tidak bisa diartikan. "Tenang, aku akan membantumu. Aku ... adalah orang yang bisa diandalkan dalam urusan perasaan karena aku seorang pengendali emosi," kata Yuri agar gadis itu tidak menahan lagi hasratnya yang mulai percaya pada Yuri. "Apa?!" gadis itu terkejut tidak terkira. Kakinya sampai mundur selangkah dan dirinya terantuk tepian pintu. "Kau ... pengendali emosi?!" Yuri mengangguk cepat. Dia berhasil diri menggapai tangan gadis itu sampai gadis itu memekik dan kembali bergetar. "Aku akan membantumu mengatasi kegelisahanmu, teman baruku!" kata Yuri semangat. "Apa?! Teman baru dia bilang?" Mou Lizar terbelalak. Kemudian acuh tak acuh kembali menikmati harumnya teh melati. Tidak ada salahnya jika menceritakan hal itu pada Yuri. Tidak ada alasan baginya untuk menolak. Yuri memaksa sekaligus orang yang dipercayai. Gadis itu mempersilakan Yuri masuk sambil membicarakan orang tua mereka. Tidak menyangkal lagi jika semua dugaan Yuri benar dan gadis itu teramat malu mengatakannya. Zean dan Mou Lizar terkejut mendengarnya. "Kau masih kecil bagaimana bisa jatuh cinta?" tanya Mou Lizar. Gadis itu menghela napas panjang, "Lahan yang kuperlihatkan tadi, pemuda itu memang bekerja di sana. Dia temanku sejak kecil, tapi aku tidak berani bicara padanya. Kami bekerja bersama dan setiap hari bersama. Aku ... tidak sadar telah menyukainya. Tidak tau apakah dia menyukaiku karena aku adalah gadis yang membosankan. Aku terlalu takut untuk menunjukkan wajahku. Aku takut jika dia tidak melihatku. Jika aku mengatakannya dan dia menolak pasti rasanya akan sakit. Membicarakannya saja rasanya aku ingin menangis." Dia sudah terisak. Matanya diselimuti bercak air mata. Yuri sedikit iba dengan rasa takutnya, tetapi tidak suka dengan sisi pengecut gadis itu. Dia mendesah saling pandang dengan Zean dan Mou Lizar. "Lihat, 'kan? Aku harus membantunya. Jika tidak hatinya pasti akan sakit," kata Yuri pelan agar gadis itu tidak semakin terisak. 'Haishh! Aku bingung kenapa dia menangis?' pikir Yuri. Zean ikut menghela napas panjang, "Yuri, dia menangis sungguhan. Jangan mengejeknya lagi. Sebaiknya cepat kau selesai masalah ini, setelah itu kita pergi. Tidak baik membuang-buang waktu yang justru hanya memperkeruh perasaan orang." Perkataan Zean ada benarnya. Yuri juga sadar akan hal itu, tetapi dia masih harus mendapatkan pernyataan langsung dari gadis itu. Tidak disangka jika gadis itu akan menangis dan membuatnya tidak enak hati. "Baiklah-baiklah, gadis manis. Jangan menangis lagi. Aku akan mencobanya detik ini juga." Yuri berdiri. Sontak gadis itu berhenti menangis. "A-apa yang akan kau lakukan?" cicit gadis itu. Yuri menoleh tersenyum penuh percaya diri, "Menyatakan isi hati." Zean, Mou Lizar, juga gadis itu terkejut bersamaan. "Apa maksud Yuri?" Zean meneleng memandang punggung Yuri yang membelakanginya karena keluar dari rumah. "Dia mulai beraksi, ya? Yahh, aneh sekali. Hei, gadis penakut! Bolehkah aku numpang tidur selagi menunggu dia?" Mou Lizar menunjuk Yuri dan menghadap ke gadis itu. "Iya, silahkan," kata gadis itu pelan. Mou Lizar menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena geram dengan suara gadis itu yang teramat pelan. Ketika Yuri pergi dan Mou Lizar benar-benar merebahkan diri, Zean masih meneleng menerka apa yang akan Yuri lakukan. Lain dengan Yuri yang sudah tiba di halaman rumah. Dia melihat ada orang yang bersembunyi di balik rumah gadis itu. Dia pikir ada yang memperhatikan pembicaraan mereka sedari tadim lalu, Yuri melihatnya diam-diam. Ternyata orang itu adalah pemuda yang menjual bumbu dapur. Yuri tersentak dalam hati sekaligus merasa senang. 'Sudah kuduga kalau dia akan penasaran dan datang kemari. Aku harus bertanya langsung padanya,' batin Yuri. Mendekati pemuda itu yang masih nampak memperhatikan gadis itu lewat celah dinding rumah. Yuri yakin sekali sangat sulit mengintip di celah dinding dan tiang karena hampir tidak ada lubang sama sekali. Bagaimana pemuda itu bisa mengerti? Yuri menepuk pundak pemuda itu dua kali membuat sang pemuda terjingkat terbelalak. Yuri justru melebarkan senyumnya. "Hehe, hai! Kau sedang apa?" kata Yuri yang terlihat bodoh. Pemuda itu tidak bersuara. Dia langsung lari dengan kakinya yang bergetar karena ketahuan. Namun, Yuri memegangi ujung pakaian pemuda itu sehingga dia tidak bisa lari. "Ayolah, jangan jadi penakut juga. Aku heran karena ada orang yang begitu takut dan pemalu tanpa sebab yang masuk akal. Sshhh, walaupun yang satu ini masuk akal juga." Yuri memegangi dagunya berpikir sambil menatap langit. "A-apa?" pemuda itu akhirnya mengatakan sesuatu. Yuri langsung berbinar menatapnya dan pemuda itu tersentak lagi. "Le-lepaskan aku!" "Suaramu juga halus seperti gadis itu. Aku percaya seratus persen kalau kau juga pemalu." Yuri mengangguk-angguk. Justru terlihat sangat bodoh di hadapan pemuda itu. Tidak mau melepaskan ujung kain yang dia pegang walau pemuda itu sudah ingin lari sejak tadi. "Tenang saja, aku tidak akan memakanmu. Bagaimana kalau kita bicara? Aku sudah tidak punya waktu untuk basa-basi lagi," kali ini tatapan Yuri serius. Pemuda itu mengerutkan dahinya dan saat itulah Yuri mengerti betapa tampannya paras orang itu. Sederhana dan memikat siapa pun yang melihatnya. 'Dia ... polos seperti Kak Zean,' kata Yuri dalam hati. Matanya sampai tidak berkedip memandangi pemuda itu sedari tadi. Yuri memperhatikannya dengan telisik membandingkannya dengan Zean. Tidak sadar jika Zean berada di ambang pintu melihat itu semua secara diam-diam. 'Ternyata benar, pemuda itu yang menjadi pujaan hati gadis itu. Kenapa Yuri diam saja?' pikir Zean. Dia akan mengikuti kemanapun Yuri pergi dan mengawasinya. Tidak mungkin Zean akan meninggalkan Yuri sendirian. Sedangkan Mou Lizar dibiarkan menikmati tidur siangnya yang ditemani gadis penakut itu di dalam rumah. Yuri membuang napas panjang sebentar, "Ayo kita bicara." "Tu-tunggu! Siapa kau? Siapa kalian?" pemuda itu ditarik Yuri begitu saja dan dibawa ke lahan yang ditanami tanaman bawang tadi. Yuri tidak menjawab sampai sebelum tiba di ladang. Zean mengikutinya tanpa ragu. Seiring langkahnya selalu memperhatikan Yuri. Entah kenapa hati Zean tergerak untuk menunggu Yuri berbalik. Dia sangat ingin melihat ekspresi Yuri sekarang karena hatinya merasa tidak nyaman. 'Soal cinta ... Yuri bisa apa? Aku tidak tau apa yang dia rasakan saat ini. Dia sendiri tidak tau apa itu cinta dan sekarang mau menyatukan dua cinta yang belum pasti? Kau yang benar saja, Yuri. Kau sendiri yang bilang jika perasaan tidak bisa dipaksakan, tapi kenapa kau mengintrogasi pemuda itu juga? Tidak masalah untuk para rusa itu, tapi kali ini menyangkut hati manusia. Kau tidak boleh gegabah jika tidak mau menyakiti orang lain. Berbalik lah sebentar, biar aku lihat raut wajahmu. Apa kau gundah dan gelisah? Jika iya itu tandanya kau juga ragu melakukan hal ini. Mungkin bisa jadi kau terpengaruh oleh perasaan mereka. Kau, 'kan selalu begitu. Mudah terkontaminasi perasaan orang. Yuri, aku justru mengkhawatirkanmu,' kata Zean dalam hati. Setibanya mereka di lahan itu, Yuri meminta pemuda itu untuk duduk. Pertanyaan yang sama dia lontarkan pada pemuda itu. Zean terus memperhatikan mereka dari kejauhan. Di ladang itu ada beberapa orang yang bekerja dan pembicaraan mereka tidak akan mengganggu mereka lantaran Yuri duduk di tepi ladang yang sepi. "Pemandangan yang bagus, ya. Sama seperti dirimu," kata Yuri setelah diam beberapa saat. Pemuda yang terus menunduk itu menjadi sedikit mendongak. "Beginilah cara kami bekerja," sahut pemuda itu. "Apa? Ternyata kau sedikit bicara? Benar-benar tidak mirip dengan Kak Zean." Yuri memandang ladang bukan pada pemuda itu. Nampak pemuda itu mengerutkan keningnya tanda tidak mengerti. Seketika Yuri tertawa kecil. "Kau tidak tau, ya? Orang tampan yang punya ekspresi lugu sama sepertimu itu yang namanya Kak Zean. Dia ... orang yang sangat hebat, asal kau tau saja," sekadar informasi untuk memulai pembicaraan. "Oh, yang bersamamu tadi, ya?" pemuda itu menunduk lagi. Zean tahu jika sedang dibicarakan, tetapi keheranannya belum hilang. Sama dengan Yuri yang memperhatikan pemuda itu dengan begitu teliti, Zean pun memperhatikannya dari jauh. "Aku lihat kau sedang gelisah. Apa yang terjadi?" tanya Yuri pura-pura tidak mengerti. "Kau orang jauh, aku tidak bisa mengatakannya." pemuda itu berpaling. "Yahh, beginilah jika sudah berhadapan dengan cinta. Semuanya menjadi asing dan yang asing menjadi dekat. Gadis yang kau intai barusan sudah mengatakan semuanya padaku. Kau yakin tidak mau mengatakannya juga?" Yuri sengaja mendesak pemuda tersebut. Pemuda itu sampai melebarkan matanya. 'Rasa malu dan takut harus dipatahkan jika tidak urusan cinta tidak akan berjalan dengan baik. Ketakutan itu akan jadi penghalang, bukan? Jujur saja, aku justru takut pada jawaban kalian. Takut jika aku terbawa emosi, tapi memang itu yang harus aku lakukan agar biji pohon kembali terisi,' batin Yuri. Bisa dikatakan dia sedikit sedih lantaran ragu. Apakah caranya berhasil? Itulah yang ditakutkan Yuri. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN