14~Jinak

1790 Kata
Afiya sekarang berada di dalam kamar nya, sudah beberapa jam berlalu pasca selesai mendengar cerita Alvaro. Setelah mendengar semua cerita Alvaro. Afiya sungguh di buat berfikir keras tentang Ervin Apa Ervin tidak berfikir bagaimana jika Alvaro membawa masalah ini ke rana hukum ? Ah... Untuk apa Afiya berfikir tentang itu bukankah jawaban nya sudah jelas. Uang nya akan melindungi nya dari yang di sebut hukum. Semakin banyak uang yang kau miliki maka semakin banyak juga aturan yang dapat kau langgar. Intinya Orang kaya kebal akan hukum. Afiya lalu mengambil ponsel nya berniat menelfon Ervin tanpa, memikirkan sopan santun menelfon di jam tengah malam ini yang menunjukan pukul 10.p.m Baru nada sambung pertama telfon Afiya sudah di angkat. Ervin memang sedari tadi terus memegang ponsel nya. Yang memang sudah menunggu Afiya menghubungi nya. 'Kenapa baru nelfon sekarang. Daritadi kemana aja ?' Ucap Ervin langsung dengan suara dingin nya setelah mengangkat telfon dari Afiya. 'Ervin, aku mau ngomong sama kamu' 'Ngomong aja tapi, jangan bahas Alvaro' Afiya mengernyit bingung bagaimana ia akan bicara jika yang akan di bicarakan nya Alvaro sedangkan Ervin melarang nya membahas Alvaro. 'Aku mau bahas tentang Alvaro' "Ck. Kamu kalo di kasih tauh itu dengerin. Aku kan udah bilang jangan bahas Alvaro lagi' Ervin mulai tersulut emosi nya tetapi, masih berusaha di tahan nya. 'Kamu nyuruh orang mukul Alvaro ? Kamu udah gila Ervin, mukulin anak orang sampai babak belur gitu ? Kamu nggak kepikiran sama orang tuanya yang khwatir liat muka Alvaro' 'Afiya, aku nggak suka bahas ini!!!. Lagian ini semua karena kamu, kalo aja kamu nggak dekat dia lagi dia nggak bakalan kayak gitu.' Suara Ervin mulai meninggi. 'Ak--' Afiya berhenti bicara ketika mendengar suara pria paruh bayah dari bawah yang memanggil nya yaitu ayah nya yang ternyata sudah pulang dari luar kota. "AFIYA... PAPA UDAH PULANG DARI LUAR KOTA. AYO TURUN PAPA BAWA BANYAK OLEH - OLEH UNTUK PUTRI PAPA" 'Besok Aku jemput' Ucap Ervin di sebrang telfon lalu panggilan terputuskan, sepertinya teriakan ayah Afiya sampai di telinga Ervin. Afiya menghela nafas nya sebentar lalu beranjak turun ke bawah untuk menemui ayah nya yang baru pulang dari luar kota. Sementara Ervin sendirian di dalam kamar nya yang besar tetapi, terasa dingin meskipun penghangat ruangan sudah di nyalakan dan AC telah di matikan tetapi tetap saja hanya kedinginan yang di rasakan oleh Ervin. Setelah panggilan yang Ervin putuskan karena, mengerti jika Afiya sedang di panggil oleh orang tua nya dan juga sebenar nya untuk menghindari pertengkaran nya dengan Afiya yang membuat nya menyulut emosi. Setidak nya Ervin sudah mendengar suara Afiya dengan begitu dia sudah cukup tenang meskipun belum sepenuh nya karena hubungan mereka yang tidak dalam keadaan baik. Ervin tertawa miris melihat keadaan nya. Ervin yang selalu di nomor dua kan oleh orang tua nya setelah saudara kembar nya, bahkan setelah saudara kembar nya itu sudah tidak ada Ervin masih di nomor dua kan oleh pekerjaan. Hanya tinggal Afiya yang ia miliki seorang, satu - satu nya harta berharga nya.Milik nya seorang. Ervin harus mempertahan kan Afiya bagaimana pun cara nya. Jika Afiya benar - benar pergi maka sudah di pastikan kehidupan Ervin akan hancur berlebur - lebur karana saat ini pusat dunia Ervin terletak pada seorang Afiya. Ervin kembali ke dunia nyata setelah mendapat pesan LINE dari Afiya. Seorang yang telah di klaim milik nya. Afiya: Besok kamu nggak usah jemput aku ke sekolah. Papa mau nganter ke sekolah Ervin: Yaudah aku besok nggak jemput kamu ke sekolah. Aku sayang kamu Setelah itu tidak ada balasan yang di dapatkan oleh Ervin, Afiya hanya membaca pesan nya. Ervin lalu menelfon Dirga. Tidak ada yang dapat di lakukan Ervin di rumah besar ini. Sendirian. Sehingga Ervin memang selalu keluar rumah, Ervin hanya sesekali di rumah selebih nya di luar. Sesekali memang Dirga dan Bayu menginap di rumah Ervin untuk menemani Ervin . Ervin juga tinggal dengan beberapa pelayan yang bertugas dengan perkejaan rumah juga dengan 2 orang satpam yang menjaga di depan rumah nya. "Hallo" terdengar suara Dirga yang setengah berteriak karena suara gaduh. "Ck. Lama banget sih lo ngangkat telfon doang" Gerutu Ervin kesal "Sorry - sorry. Gue lagi di club makanya nggak kedengaran kalo hp gue bunyi. Kenapa lo nelfon ?" " lagi bosan aja. gue nyusul ke sana" Setelah itu telfon pun terputus. Ervin lalu mengambil jaket nya, juga kunci mobil nya dan berlalu keluar. Pagi ini Afiya berangkat bersama Ayah dan Ibu nya. "Afiya, papa dengar kamu udah punya pacar ya ?" tanya ayah Afiya yang sedang fokus menyetir mobil. "Mama pasti kasih tauh papa kan" tuduh Afiya "Nggak apa - apa kali kalo papa tauh Afiya" bela mama Afiya "Iya, masa cuma mama doang aja yang di kasih tau Papa nggak. Jadi kamu udah punya pacar kan ?" timpal Ayah Afiya "Hmm" balas Afiya cuek "kapan - kapan kenalin dong sama papa juga." Afiya hanya bergumam tidak jelas menanggapi ucapan ayah nya "Papa pasti suka. Anak nya ganteng, sopan juga loh bicara sama mama" Ucap ibu Afiya menjelaskan ke ayah Afiya. "Mama udah ketipu tampang kali. Nggak tauh aja kelakuan asli nya" rutuk Afiya dalam hati. "Papa jadi tambah penasaran aja" ucap ayah Afiya yang mendengar cerita ibu Afiya. Ibu Afiya terus bercerita tentang Ervin, sedangkan Afiya hanya menghembuskan nafas mendengar cerita ibu nya dan juga sesekali ayah Afiya yang menggoda putri nya. Afiya sudah merasa sangat bosan berada di dalam mobil mendengar ocehan ibu nya yang terus bercerita tentang Ervin di tambah mood Afiya pagi ini yang sedang buruk gara - gara memikirkan kejadian Alvaro. Hingga taklama Afiya sudah sampai di sekolah. Afiya segera berpamitan ke pada orang tua nya lalu berlalu turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam area sekolah. Afiya segera menuju kelas nya menyimpan tas nya lalu beranjak keluar mecari Ervin. Sekolah masih cukup sepi, Miya juga belum datang ke sekolah. Afiya melihat jam tangan yang melingkar di tangan kiri nya yang baru menunjukan pukul 06.15 a.m yang berarti biasa nya Ervin tidak akan muncul di jam seperti ini. Bahkan jika Afiya berangkat bersama Ervin tidak pernah sepagi ini. Afiya memang berangkat cepat karena bersama ke 2 orang tua nya yang memang harus menghindari kemacetan jalanan kota jakarta. Tetapi, dugaan nya salah. Afiya melihat Ervin beranjak turun dari mobil nya setelah memarkirkan mobil nya. Afiya langsung menuju ke arah Ervin. "Ervin" panggil Afiya. "Kamu udah datang." tanya Ervin setelah berbalik menatap Afiya. "Kita perlu bicara" ucap Afiya. "Iya. Kita emang perlu bicara" ucap Ervin menyetujui ucapan Afiya. Dan sekarang mereka berada di belakang sekolah yang sepi. "kamu yang nyuruh orang mukulin Alvaro ?" tanya Afiya. "Hm, aku yang nyuruh orang mukul dia" Jawab Ervin datar tanpa rasa bersalah. "Ervin kamu sudah gila ? Kenapa kamu nyuruh orang mukul Alvaro ?" seketika Afiya bertanya frustasi setelah mendengar jawaban Ervin. "Karena dia mau ngambil kamu dari aku ! .Dan sekarang kamu belah dia ?! " Nada bicara Ervin sudah meninggi bertanda jika di teruskan emosi nya tidak akan terkontrol lagi. "Afiya, asal kamu tauh aku juga masih marah soal yang kemarin di kantin, tapi aku udah nggak ngungkit - ngungkit lagi sekarang. Dengan maksud, aku nunggu kamu minta maaf. Tapi, bukan nya kamu minta maaf kamu malah bahas tentang Alvaro lagi !!!" sambung Ervin masih dengan nada yang tinggi. Afiya menghembuskan nafas nya lelah, percuma berdebat dengan Ervin tidak akan ada yang terselesaikan malah masalah yang semakin besar akan terjadi. "Ervin, aku capek sama kamu" ucap Afiya . "MAKSUD KAMU ? KAMU CAPEK SAMA AKU ? MAKSUD NYA APA ?!" Dan meledak lah emosi Ervin sekarang. Afiya yang mendengar bentakan Ervin menutup mata karena takut. Mengapa setiap Ervin marah Afiya akan selalu menyesali perbuatan nya yang membuat Ervin marah besar. Tetapi, perbuatan Ervin juga kali ini tidak dapat di toleransi. Ervin melukai Alvaro sampai babak belur begitu, juga sangat keterlaluan. Menumpahkan darah seseorang itu salah meski tidak sampai meninggal. Apalagi alasan nya sangat konyol. Karena ingin merebut Afiya. Yang benar saja. Afiya menghembuskan nafas nya sebelum kembali berbicara. "Kita Putus" Ucap Afiya. Seketika Ervin yang mendengar kalimat laknat bagi nya membeku di tempat mencerna semua nya. Afiya yang melihat Ervin diam, berjalan pergi dari hadapan Ervin. Sedangkan Ervin kembali tersadar saat Afiya berjalan pergi dari hadapan nya. "NGGAK. KITA NGGAK BAKALAN PUTUS. KALO KAMU BERANI MAJU SELANGKAH LAGI DARI TEMPAT KAMU. AKU BAKALAN BUNUH ALVARO DAN MIYA" Teriak Ervin frustasi sambil menatap punggung Afiya yang berhenti mematung mendengar ucapan Ervin. Afiya yang mendengar teriakan frustasi Ervin mematung di tempat nya. Apa Ervin sudah Gila ? Ya dia GILA. Afiya lalu berbalik menatap Ervin yang juga sedang menatap nya tajam. Ervin lalu mengeluarkan hp nya dari saku celana nya. "Kalo kamu masih tetap mau putus dari aku, aku bakal telfon bawahan aku sekarang" ucap Ervin dengan suara berat nya. Koneksi otak Afiya sudah tidak dapat bekerja lagi sekarang. Afiya di antara kebingungan yang dalam. Apa Ervin sungguh - sungguh ? Ervin lalu mulai menelfon bawahan nya tinggal menunggu bawahan Ervin mengangkat nya dan mengucapkan satu kalimat dan semua nya berakhir. Ya dia BERSUNGGUH - SUNGGUH. "Ervin jangan lakuin itu !" ucap Afiya yang sudah ketakutan. Ervin menaikan sebelah alis nya meminta penjelasan lanjut. Afiya menelan saliva nya sulit. Mata Afiya sudah panas dan berkaca - kaca. Afiya tidak dapat memikirkan jika Alvaro dan Miya tidak ada lagi di dunia ini. "Aku minta maaf karena udah bilang putus sama kamu. Aku juga minta maaf karena udah belah Alvaro. Aku minta maaf atas semua nya" ucap Afiya dengan air mata yang sudah mengalir dari mata nya. "Halo" Terdengar suara seorang lelaki mengangkat telfon Ervin. Afiya yang mendengar suara seorang lelaki mengangkat telfon Ervin langsung menatap hp Ervin yang sedang tertempel di telinga Ervin. Tinggal menunggu satu kalimat dari mulut Ervin dan semua nya benar - benar berakhir. "Kumohon" ucap Afiya memohon sambil menatap kembali mata Ervin. Ervin yang terdiam cukup lama langsung mematikan telfon nya tanpa mengucapkan sepatah kata kepada bawahan nya tersebut. Afiya yang melihat Ervin telah mematikan telfon nya menghembuskan nafas nya legah dengan air mata yang masih mengalir. Ervin lalu membuka ke dua tangan nya. Afiya yang mengerti maksud Ervin membuka ke dua tangan nya berjalan ke arah Ervin dengan menangis. Sesampai nya di depan Ervin, Afiya menatap sebentar mata Ervin lalu mulai membuka tangan nya dengan gemetar untuk memeluk Ervin. Afiya menangis di pelukan Ervin. Menangis takut dan juga legah. Ervin mengusap punggung Afiya yang bergetar karena menangis. "Ssst..Tenanglah" ucap Ervin menenangkan Afiya sambil menciumi puncak kepala Afiya berkali - kali. Ervin sungguh lega karena, Afiya kembali kepada nya. Padahal baru beberapa menit yang lalu Ervin menahan nafas nya mendengar Afiya mengucapkan kata yang laknat bagi Ervin. Cukup lama Afiya menangis di pelukan Ervin hingga Afiya sudah mulai tenang. "Jangan ulangi lagi. Semuanya." ucap Ervin kepada Afiya yang masih memeluk nya. Afiya hanya mengangguk mendengar ucapan Ervin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN