Tak tak tak, hanya suara dentingan sendok berbenturan dengan piring di meja makan panjang vila. Semuanya fokus memakan nasi goreng sebagai menu sarapan. Zelin membolak balikan matanya ke arah Dika dan Alan, pencernaannya sedikit terganggu karena ingin mengajukan permainan yang ia bicarakan dengan Vika tadi malam.
Setelah semua menyelesaikan makan barulah Zelin mengajukan rencana permainannya. Ia menjelaskan secara rinci sesuai dengan penjelasan Vika.
Intan mengernyitkan kening dan memanyunkan bibirnya, "Kalo tim nya Dika Zelin, Vika Alan, trus aku ama siapa? Kenapa nggak tim cewe dan tim cowo?" Intan merasa tersisihkan
"Pembagian tim udah bagus dan adil, ngga boleh ada perubahan" teriak Vika
"Kak Intan ama pak Maman cocok kok, pak Maman tinggi ama udah dewasa, pasti kak Intan yang menangin permainannya" Zelin ikut membela Vika
Hey, kalian berniat kencan ama pasangan masing masing dan mengacuhkan ku.. Sial nasib jomblo..
"Sekarang jam 9, kita selesaikan misi sebelum jam 12 siang, yang dapet pita merah paling sedikit dia harus jadi pelayan selama satu hari" Kata Vika mengingatkan, dia tanpa henti senyum senyum sendiri menatap Alan yang menjadi pasangan permainan
Tim dibagi menjadi tiga kelompok dengan satu kelompok beranggotakan dua orang, masing masing anggota mendapatkan rute peta berbeda.
"Pak awas loh kalau kalah, aku duduk di sini pak Maman yang nyari yah" Kata Intan, ia duduk santai dikursi payung panjang pantai, memakai kacamata hitam anti sinar uv, melipat kedua lengannya dan berselonjor menikmati air es ditemani sepoi angin pinggiran pantai.
Intan cekikikan melihat Vika yang berusaha keras ingin memegang Alan tapi ditolak. Bukan saatnya meratapi kejombloan dirinya.
Haish, karena vila pribadi jadi ngga ada cowok lewat.. Rutuk Intan
"Ini peringatanku yang terakhir, sebelum aku semakin membencimu, mundur satu meter dari sini" Alan menatap dengan tatapan tajam ke Vika
"Kalau aku bisa menjauh, aku juga mau.. Tapi sama halnya kamu suka sama Zelin, aku juga ngga bisa lepasin kamu begitu saja.. Aku duluan yang kenal kamu, kita selalu satu kelas sejak TK, kenapa kamu ngga liat aku sekali aja" Vika tiba-tiba bersikap vulgar, ia membuka semua pakaian dan hanya meninggalkan celana dalam dan miniset Pink yang manis.
Cekrek.. Alan memfotonya, ia menyeringai kemudian memegangi kepala belakang Vika, "Pake lagi, ok" bisik Alan dengan raut datar
Lihat, semua laki laki sama aja.. Tentu saja aku cantik dan lebih memikat..
Intan yang bosan menunggu hasil pak Maman akhirnya ikut masuk menyusuri hutan, dan tanpa sengaja melihat adegan Vika yang melucuti pakaiannya untuk menarik perhatian, Intan yang bersembunyi dibalik semak hanya bisa menutup mulutnya menahan suara yang keluar saking terkejutnya, dia ngga menyangka Vika melakukan hal yang diluar batas.
Njir, aku bakal dibiarin hidup apa ngga besok, jangan jangan Alan nyiapin preman buat nyulik Vika dan aku.. Kenapa tingkah anak sekolah dasar seabsurd dia.. Bisik Intan cemas tapi ia ikut mengagumi tubuh mulus Vika
Alan ngga mungkin ngga tergoda kan?
Kres, Intan tanpa sengaja menginjak ranting dan membuat suara. Vika terkejut dan dengan cepat memakai kembali pakaiannya.
"Siapa yah" Teriak Vika
Alan tersenyum kecut, "Curut hutan" ia tahu kalau Intan sedari tadi diam diam bersembunyi
Heh, si Alan sialan nganggep aku yang cantik ini Curut... Karena kesal Intan datang menghampiri Alan
"Sejak kapan kamu tau aku ngintip" Tanya Intan
"Loh, Intan? Tadi kamu liat semuanya?" Tanya Vika
"Kalian berdua ngga ada yang bener, Vika kenapa kamu ngerusak harga dirimu sendiri? Apa Alan nanti bakal jadi suami kamu di masa depan? Aku ngga bisa biarin kalian berduaan"
"kalau kamu sama kami, nanti pak Maman sendirian?"
"Ngga masalah, dia pasti udah ngumpulin banyak pita"
"Kenapa kamu cuma ngawasin aku ama Alan aja? Kan Dika ama Zelin juga bisa ngelakuin sesuatu, bisa aja diam diam menghanyutkan"
"Mereka mau ngelakuin ini itu ngga masalah karena mereka udah terikat" Intan sedikit melirik Alan tapi Alan tidak mengekspresikan rasa cemburu yang diharapkan Intan
Diwaktu yang sama tempat berbeda, Dika dan Zelin sama-sama serius mencari pita tersembunyi. Sesekali duduk beristirahat untuk minum dan makan snack yang dibawa Zelin.
"Kira kira mereka udah dapet berapa pita? Pokoknya Kita ngga boleh kalah" Zelin mengepalkan tangan kanan keatas untuk menyemangati diri
"Wah, Dika keringat kamu banyak.. Tunggu bentar, kayanya aku ada tisu di dalam tas" Setelah menemukan tisu ya, Zelin sendiri yang menghapuskan peluh Dika
"Eh, Dika liat di atas pohon itu.. Itu pita bukan?" Zelin menunjuk kesalah satu pohon, tanpa pikir panjang Zelin langsung memanjat pohon tersebut
"Zelin turun! Kamu orang apa monyet? Aku aja yang naik" nada suara Dika terdengar tidak senang
"Bentar lagi dapet.. Ops" tubuh Zelin kurang keseimbangan dan membuatnya terpeleset dari batang pohon penyanggahnya tadi
Bruk! Zelin langsung tidak sadarkan diri, Dika yang belum siap posisi, tidak sempat menahan jatuhnya Zelin ke tanah. Ia langsung menggendong Zelin dibelakang punggungnya.
Sehari aja ngga buat khawatir.. Ck..
"Zelin kenapa Dik?" Tanya Intan, debelakangnya Alan berlari mengejar Dika, Vika ikut membuntuti di belakang Alan
"Jatuh dari pohon waktu ambil pita" Ucap Dika ngos ngosan, Alan meminta salah satu pelayannya untuk memanggil dokter terdekat yang ada di sekitar vila.
"Ceroboh banget sih, kalau tau ngga bisa dijangkau ngapain diambil" Kata Vika
"Lukanya ada dimana?" Tanya Intan yang sudah memegang kotak p3k
"Biar aku yang kasih obat merahnya, Dika kamu obatin lututmu aja" Ucap Alan, Dika baru menyadari lututnya tergores, saat menggendong Zelin tadi karena tergesa gesa.
Alan mengusapkan kapas basah ke bagian luka yang kotor, untuk mensterilkan luka ia memberikan sedikit alkohol, setelah itu memberikan betadin dan memasangkan plester.
Beberapa menit kemudian dokter datang dan memeriksa keadaan Zelin. Ia mengatakan tidak ada luka yang fatal, asal lukanya tidak kotor dan diangin anginkan akan kering sendiri. Lalu dokter juga memberikan obat pereda nyeri antisipasi Zelin merasa kesakitan saat susah sadar.
"Tadi malam kalian tidur di kamar Zelin?" Tanya Alan, setelah melihat barang barang Vika dan Intan yang tersampir di sofa kamar
"Intan kamu yang kasih ide buat permainan mencari jejak?" Tanya Alan lagi raut wajahnya datar, tapi Intan tahu kalau Alan sedang menahan amarahnya
"Percuma aku bilang ngga juga kamu ngga bakal percaya.." Sahut Intan
Vika sedikit bergetar ketakutan, ia tidak menyangka bakal terjadi kecelakaan dan membuat Alan marah.
"Aku udah bilang kalau hari ini kamu harus pulang, tapi kamu ngga mematuhinya.." Alan menatap lurus Intan
"Aku pulang, ayo Vika kita pulang sekarang" Intan menarik lengan Vika keluar kamar
"Ngga bisa, Alan juga belum pulang.. Kamu sendiri yang janjiin aku bisa berlibur sepuasnya bareng Alan. Aku mau disini"
"Kak Vika, kamu ngga liat Muka Alan yang siap membunuh orang? Aku ngga mau nanggung konsekuensinya.. Ayo nurut pulang"
Vika bersikeras tidak mau pulang tapi Intan memberikan perintah ke sopirnya untuk memaksa Vika masuk ke dalam mobil.