Bab 20

1152 Kata
Hari dimana dijanjikan Alan menjemputpun tiba, ia datang sendiri ke rumah Zelin. Dan Alan terlihat akrab dengan ayah Zelin. Mereka mengobrol santai dalam waktu yang cukup lama. "Jaga putriku dengan baik, kalau kamu sudah tidak mencintainya, antar dia pulang padaku seperti kamu menjemputnya sekarang sudah cukup" Kalimat tulus seorang ayah untuk menenangkan diri karena putrinya dibawa lelaki lain "Saya tulus dengan Zelin, ayah mertua tidak perlu khawatir" Sahut Alan, setelah itu ia membukakan pintu mobil untuk Zelin. Apa yang ada dipikiran kak Alan saat ini? Dia ngga kekurangan wanita yang mengejar-ngejarnya apa lagi sekarang dia punya jabatan penting.. "Acara peresmian pertunangan dua hari lagi bersamaan acara ulang tahun perusahaan.. Jangan tegang, mendekat lah sekarang" Tangan Alan menarik Zelin untuk mendekat, kemudian merangkul erat bahu Zelin. "Butuh waktu yang lama untuk sampai seperti ini, aku ngga akan mentoleransi kalau sewaktu-waktu kamu kabur dariku... Ingat baik-baik, kamu hanya perlu mengikuti semua keinginanku, ngga ada kalimat penolakan, harus patuh" Diktator licik.. Rutuk Zelin "Kenapa sekarang kak Alan berubah?" Tanya Zelin "Dari dulu aku seperti ini, ngga ada yang berubah" "Ini berbeda dengan ingatanku sewaktu kecil" "Kalau begitu buat ingatan baru mulai sekarang" Alan mendekatkan wajahnya ke Zelin "Aku masih ngga ngerti kenapa kak Alan ngelakuin semua hal diluar nalar, dari kirim mata-mata sampai mengancam ayah.. Kak Alan lebih tahu kalau aku ngga punya sesuatu yang istimewa, banyak gadis cantik yang menginginkan kak Alan, mau dari kalangan manapun pasti mereka tidak akan menolak" Zelin memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil "Aku suka aroma Zelin, ngga ada aroma semenenangkan yang dimiliki Zelin" Tiba-tiba Alan mencium leher belakang Zelin "Kak hentikan, kenapa kamu terus-terusan ngelakuin yang aku ngga suka sih" Zelin mencoba memberontak tapi cengkraman Alan semakin kuat "Dalam perjanjian aku boleh ngelakuin apapun, kenapa kamu terus menolak kenyataan sekarang kamu sudah dibawah kendali ku?" Apa-apaan lelaki satu ini? Semakin hari sikapnya bertambah arogan.. Akhirnya Zelin memilih diam selama perjalanan dan membiarkan Alan memeluknya sampai tiba ditujuan. Sebuah rumah besar dengan halaman yang sangat luas yang dibangun ditengah kota. Zelin ingat kalau pembangunan tempat tersebut sampai membuat macet parah selama satu tahun. Ia tidak berfikir kalau rumah itu sengaja dibuat Alan untuknya. Rumah besar yang untuk keluar dari sana kalau berjalan kaki harus melewati halaman yang memakan waktu lima belas menit. Terdapat dua penjaga rumah di depan gerbang, dan tiga penjaga di teras depan. Terdapat dua puluh pengurus rumah terdiri dari tukang kebun, juru masak, tukang bersih-bersih, sekarang berbaris memberi sambutan atas kedatangan Zelin. Alan menggandeng lengan Zelin dan mengarahkannya masuk ke kamar. Ukurannya berkali-kali lipat ukuran kamar biasa. Di dalamnya terdapat kamar khusus keperluan Zelin maupun Alan. Jadi seperti kamar dalam kamar. Berjajar koleksi baju, tas, sepatu dan perhiasan di kotak kaca khusus. Kamar ganti Alan tak kalah mewah dengan berbagi kemeja, jas, sepatu dan koleksi jam tangan mewah. "Aku akan memandikanmu, sekarang lepas semua pakaiannya" Ucapan tegas Alan terdengar seperti suara petir disiang bolong Siapa laki-laki dihadapkan ku ini? Wajah nya sama tapi kenapa kelakuan dan sikapnya sangat kontras? Apa sekarang ini lah wajah asli kak Alan? Sikap lembut, perhatian yang selama ini dia tunjukkan hanya kedok? Aku yang terlalu polos atau terlalu bodoh? Hah kedua pilihan sepertinya masuk kategori... Jadi karena Dika tau sifat asli kak Alan sehingga dia memperingatiku? Sikap ketakutan dan resah yang suka ditunjukkan Dika ternyata karena dia sudah mengenali wajah asli kak Alan? Sejak kapan? Kenapa aku ngga menyadarinya sedikitpun selama ini? Hati Zelin berkecamuk antara sedih, marah, kecewa dan frustrasi menjadi satu. Sekarang tubuhnya bergetar, ia tidak mampu menatap mata laki-laki yang dia anggap kakak tersebut. Orang yang dia sayangi dengan tulus ternyata memiliki maksud lain dari setiap perbuatan baiknya. Tapi Alan tidak bergeming, dia masih menunggu Zelin untuk membuka semua pakaian yang dikenakannya. Kenapa aku baru sadar kalau tatapannya selalu mengitimidasi? Tatapan yang siap menerkam musuh yang tidak disukainya.. Karena dalam benakku selalu tertuju pada Dika jadi aku ngga pernah mengamati berbagai ekspresi kak Alan.. “Kita belum menikah, biar aku mandi sendiri” akhirnya keluar juga kalimat dari bibir Zelin yang kelu. “Disini aku yang buat aturan, dalam surat perjanjian tertulis kamu harus mau lakuin apa aja yang aku perintah, dan kamu mengajukan syarat untuk bertunangan dulu sampai kamu lulus kuliah.. Tapi dari ucapanmu sepertinya lebih baik kita melangsungkan pernikahan besok saja “ Alan mengancam Zelin dengan sekali dalih, ia merasa diatas awan karena memegang kendali surat perjanjian Ngga bisa.. Jangan menikah!! Masalahnya akan rumit kalau kita menikah, aku mengulur waktu agar dia lama-lama bosan menungguku sehingga dia bakal nyari cewek lain buat jadi mainannya... Melangkahkan kaki secara perlahan, Jari Alan memainkan rambut panjang Zelin. Kemudian turun ke pundak dan Alan sedikit meremasnya, Zelin tercengang dengan senyum licik Alan, ia sama sekali tidak bisa menebak jalan pikiran laki-laki didepannya. Perlahan lagi jari Alan menarik sleting baju Zelin, kemudian ia merangkul pinggang kecil tunangannya tersebut sembari mencium pipi lalu bergeser ke leher. Alan menikmati aroma tubuh Zelin, tanpa sadar ia menghisapi leher putih yang menggoda itu. “Ini terlalu vulgar, kak hentikan! Sakit...” Zelin meringis ia mendorong Alan tapi tubuhnya tidak bergeming secuilpun, Zelin semakin berontak tapi semakin kencang Alan memeluknya Kemudian Alan dengan paksa memikul tubuh ringan Zelin ke dalam kamar mandi, secara paksa ia melucuti pakaian yang dikenakan tunangannya Sekarang apa? Semua kepercayaan diriku, kemaluan diriku, ia lucuti sampai tak tersisa.. Seberapa banyak ia tekan topeng asli miliknya? Kenapa.. Kenapa aku terlalu bodoh.. Pantas saja mereka meremehkan ku, sebego apa aku tidak menyadari hal hal kecil yang bisa menjerumuskan ku.. Difitnah mantan tunangan, dikhianati teman masa kecil, dimanfaatkan orang lain, dan sekarang dilecehkan orang yang kuanggap saudaraku sendiri.. Zelin tidak berhenti meneteskan air matanya, beban yang tidak bisa ia bayangkan, hidup indah yang selama ini dia rasakan ternyata hanya halu miliknya saja. “Gadis baik, maafkan aku.. Kamu pasti terkejut, tapi kamu harus terbiasa dengan ini, sebagai boneka kesayangan, kamu harus patuh pada pemilikmu, aroma tubuhmu tadi membuatku kehilangan kendali, aku akan menunggu kesiapanmu untuk mengambil keperawananmu, tapi bagian lain yang ingin ku sentuh ngga boleh kamu larang, karena kamu milikku karena kamu kepunyaanku jadi menurutlah. Aku hanya ingin memandikan tubuh manismu, jadi duduklah aku telah menyiapkan bak air hangat “ Zelin dengan ragu mulai memasukkan tubuhnya ke dalam bathub, dan Alan dengan lembut menggosokan spons sabun tubuh Zelin. Seusai memandikan, Alan menghandukkan Zelin dan mengeringkan rambutnya. Menyisirinya dan mengoleskan pelembab mahal pada wajah mulusnya. Layaknya bermain boneka, Alan mengurus segala keperluan Zelin. Waktu tidur pun Alan tidak berhenti menjauh, ia menyelimuti serta menepuk lembut punggung Zelin, dan setelah ia lihat sudah tertidur, Alan merangkul Zelin dari belakang. Dia menganggap ku sebagai mainannya, psikopat sepertinya pasti bosan bermain dengan mainan sehingga ia memilih manusia untuk menjadi mainan yang menyenangkan untuknya.. Mau sampai kapan aku harus patuh dan tunduk pada manusia ini, apa aku harus mengikuti keinginannya sampai dia bosan? Tapi bagaimana kalau kak Alan ngga akan pernah melepaskanku?.. Zelin pasrah dengan pelukan erat Alan, memberontakpun tak berguna karena dia tidak bisa lari dari cengkraman Alan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN