Bab 6

1005 Kata
Sejak kejadian Dian, tidak seharipun Dika melupakan saat Alan memberikan Dian boneka berbie, pikiran nya kalut antara Alan sengaja memberikan atau memang tidak disengaja, sehingga ia merasa harus melakukan pengintaian diam diam untuk mengawasi sikap Alan yang sebenarnya. Apa dia orang berbahaya atau hanya sekedar dugaan dirinya sendiri saja. Dalam langkah rencana pengintaian, Dika sengaja sering mendatangi kelas Alan. Pura pura menanyakan mata pelajaran yang sulit, atau mengajak Zelin juga untuk sekedar mengobrol masalah tidak penting. Tidak ada yang aneh, teman kelas Alan menghormati dirinya selayaknya tuan muda, menjaga jarak tapi juga berusaha tidak menjauh, mereka menyapa ramah pada Alan, tersenyum, sesekali menawarkan membeli makanan di kantin, dan ada juga yang berusaha akrab dengan Zelin untuk menarik perhatian Alan. Dika mulai mengendorkan sikap waspadanya, walaupun masih terbesit kecurigaan tapi ia mencoba membenamkan pikirannya. Hingga satu minggu pengamatan, ada satu siswa laki-laki dengan santainya meminjam buku tugas Alan. "Aku pinjam yah" Tertulis Reno P di name tag seragam miliknya, ia langsung mengambil buku yang dipegang Alan tanpa mendengar persetujuan si pemilik buku "Eh, siapa gadis kecil yang manis ini? Pantesan Alan menolak cinta banyak cewek, selera kamu ternyata loli" Reno tanpa sopan memegang dagu Zelin Alan menyentakan tangan Reno dan mendorongnya dengan badannya, kini ia berdiri berhadapan dengan Reno. "Aku udah kasih tugasnya" Ucap Alan bernada dingin Reno menyadari tatapan Alan yang seolah siap membunuhnya kalau tidak dia hentikan candaannya, "Oke, oke.. Aku cuma bercanda, aku mau nyalin tugasnya dulu" "Zelin dengarkan aku baik-baik, kalau ada orang yang ngga kamu kenal tiba-tiba memegang kamu, entah pegang dagu, pipi atau yang lainnya langsung gigit dia atau langsung lari sejauh mungkin, oke? Aku serius ngomong ini, banyak orang jahat diluar sana" Alan menasihati Zelin sembari memegang kedua pipi Zelin Sekarang keduanya beradu tatap, "Tapi kak Alan boleh pegang?" Tatapan Zelin beralih ke tangan Alan yang memegangi kedua pipinya "Aku pengecualian, papa mama Zelin juga boleh" Balas Alan "Ehm, berarti Dika juga bolehkan?" Zelin langsung merangkul lengan Dika "Kayanya aku yang dalam bahaya kalau dipegang kamu" Sahut Dika "Dika ngga berbahaya, jadi dia boleh" Alan mengusap rambut Zelin dengan lembut Tapi sampah itu nggak bakal kapok kalau tidak diberi peringatan.. Alan menatap dingin ke arah Reno yang sedang menyalin tugasnya. Esoknya Alan mentraktir Zelin dan Dika makan dikantin, dipertengahan makan gerombolan geng Reno datang. Ia menyapa Alan dan mengedipkan mata kanannya pada Zelin. "Aku ngga suka sama kakak itu" Bisik Zelin ke Dika "Kalo dia macem macem biar dia ngerasain tinjuku" Balas Dika mengepalkan tangannya Srak.. Tiba-tiba map di meja milik Alan jatuh berserakan, Reno membantu mengambilkannya dan ia cukup tercengang ketika membacanya "Hey.. Ini kunci jawaban ujian besok?" Bisik Reno ke Alan "Gimana ini, kamu udah melihatnya.. Rahasiain yah, nanti aku yang kena marah" Sahut Alan Heh, jadi nilai sempurnanya itu didapat dari membeli kunci jawaban.. Orang kaya sombong ini, bukankah sudah keterlaluan menginginkan kesempurnaan dirinya sendiri.. Dengan kunci jawaban ini, aku bisa sepopuler diakan? "Tenang aja, aku ngga akan beri tahu siapapun, tapi aku boleh foto ini kan? Orang itu nggak boleh serakah" Reno tidak menyadari jebakan yang dibuat Alan. Ia membayangkan terlalu jauh, di mana dia akan terkenal dan menjadi idola wanita di sekolah. Dika diam diam memperhatikan Alan dan Reno, tapi ia tidak mengetahui apa yang mereka bicarakan, yang ia tahu tiba tiba Reno memfoto kunci jawaban kertas milik Alan yang terjatuh tadi. "Kak tadi bicarain apa? Kenapa ngomongnya bisik bisik gitu? Tadi kertas apa yang difoto kakak jelek itu?" Tanya Zelin "Bukan apa apa, cuma mbahas tugas.. Lanjutin makannya, mau tambah lagi ngga?" Balas Alan "Udah kenyang, sekarang kita pulang ke kelas aja lah, bentar lagi bel masuk" Kata Zelin Reno dengan kepercayaan diri malah menyebarkan kunci jawaban yang ia dapat untuk menarik perhatian siswa lain, beberapa ada yang percaya dan beberapa mengabaikan. "Kalian bodoh kalau nggak percaya jawaban ini, kita buktiin nanti pengumuman nilainya" Reno tidak berhenti menyombongkan kunci jawaban miliknya Sampai hari pengumuman nilai ujian tiba, Reno dan siswa lain yang mempercayai kunci jawaban palsu hanya bisa menelan ludah. Tidak ada yang lolos ujian, semua pelajaran harus ikut perbaikan nilai. Mereka yang tidak percaya kunci jawaban palsu tertawa mengejek, sedangkan yang mempercayai ucapan Reno menuntut pertanggung jawaban darinya. "Hebat.. Kak Alan paralel 1 lagi.. Dika juga masuk peringkat sepuluh" Zelin memberi tepuk tangan Dika tercengang melihat suasana dingin kelas lima ketika melihat pengumuman. Ia mendengar pertengkaran kakak kelas mengenai kunci jawaban. Dika menggigit bibir bagian bawahnya. Ia langsung menyadari kalau dugaannya mengenai kak Alan itu benar. Semuanya rencana kak Alan, baik berbie maupun kunci jawaban.. Jadi orang seperti apa sebenarnya kak Alan?.. Gara gara Reno sering minta jawaban tugas? Atau gara gara Reno godain Zelin? Kejadian yang aku tau ini selalu berkaitan dengan Zelin.. Seketika Dika merasa merinding, pikirannya merusak citra Alan sebagai orang yang dia kagum dulu. Brengsek! Alan sengaja buat aku jadi bahan tertawaan!.. Bisik batin Reno penuh amarah Mereka yang marah ke Reno melaporkan ke guru ketertiban meminta ujian ulang tapi ditolak, menambah masalah karena menyebarkan kunci jawaban palsu, Reno diberi hukuman membersihkan sekolah selama masa liburan akhir semester. Reno berlari ke kelas dan menyerang Alan, lengannya ia tekankan ke leher Alan, guratan emosi yang tidak bisa ia tahan. "Menyenangkan hah? Mempermainkan orang sepertiku.. Lihat nanti, aku bakal balas.." "Itu pilihan kamu sendiri Reno, aku hanya memberi umpan dan kamu sendiri yang memakannya, aku ngga memaksa kamu, kalau kamu punya otak buat berfikir harusnya kamu mikir kan? Umpan itu beracun atau tidak" Bisik Alan sedikit menyunggingkan senyuman "Hei lepasin cengkramanmu Reno" "Cepet tarik dia" "Kayanya dia sudah gila, nilainya dia sendiri yang jelek kenapa marah ke Alan" "Perangainya kan memang buruk" "Hampir saja aku percaya ama kunci jawaban yang ia sebar" Dan pembicaraan lainnya mengenai Reno menjadi tertawaan kelas lain. "Lagian anak bodo kaya dia kok bisa masuk heaven school? Malu maluin" Sikap bermartabat kak Alan apa hanya kedok? Dia beneran suka atau cuma menganggap Zelin sebagai.. Adik?!.. Dika masih beradu argumen dengan batinnya. Ia merasa setelah mengetahui dua kejadian itu harus waspada pada Alan. Tidak boleh terlalu ketara kalau ingin pergi menjauh. Tapi juga tidak boleh terlalu dekat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN