Mencoba Mengenalinya

1206 Kata
Hana membuka pintu dan berlari masuk rumah, melupakan aturan yang dibuat ibunya untuk mengucap salam. Air matanya sudah mengering, tapi dia tidak bisa lupa. Bagaimana bisa dia terlihat memalukan seperti tadi? Belakang roknya lengket, noda merah di sana hampir mengering dan sangat menjijikkan. “Baby? Kamu sudah pulang. Kenapa sendirian? Kak Aslan mana?” tanya Enzy—ibunya, ketika mereka berdua berpapasan di ujung anak tangga. “Enggak tau, jangan tanya aku! Aku lagi kesel ... hiks.” Hana kembali menangis karena teringat kesialannya hari ini. Ibunya mengernyit, tapi Hana belum mau bercerita sampai suasana hatinya membaik. “Koper kamu mana, Nak? Kamu pulang tidak bawa koper?!” Tap! Langkah Hana terhenti. “Koper?” Dia mencoba mengingat, sampai turun di pesawat tadi dia masih membawa koper pink princes kesayangannya. Sampai dia menabrak pemuda itu dan ... Hana menjambak rambutnya. “Ketinggalan di bandara! Hana dodol, kenapa bisa lupa, sih?!” teriak Hana frustrasi. Dia lupa membawa kopernya sendiri karena terlalu malu ketahuan tembus di hadapan pemuda itu. *** Brak! Devano membanting koper berukuran sedang dengan warna pink dan bergambar princes itu ke tempat tidurnya. Tidak lama kemudian tubuhnya pun menyusul, melepas penat setelah perjalanan sangat jauh. “Gimana bisa dia merepotkanku begini, dasar Bocah Kecil?” gumamnya, lalu menoleh ke arah koper. Dia pun kembali bangkit untuk melihat lebih dekat koper tersebut. “Ya, ampun. Badannya doang yang gede, masih suka beginian.” Devano mengejek lagi, tapi dia dilema apa harus membukanya atau tidak. *** Dua minggu kemudian. Suasana di salah satu rumah sakit Kota Jakarta ini sangat ramai, hampir berdesakkan malah. Maklum saja, pergantian musim menjadi salah satu faktor penyebab utamanya. Ah. Namun, sepertinya bukan. Devano contohnya. Dia dipaksa Nayla datang ke sini karena sejak semalam sakit gigi kumat. Padahal, Devano sudah berusaha untuk tidak mengonsumsi s**u kotak lagi. Sebagai gantinya, sekarang lebih sering minum s**u di sumber alami tanpa bahan pengawet ... eh? Plak! Devano menengok ke sana-kemari setelah menepuk kening sendiri, takut kalau Nayla mendadak datang dari sembarang arah. Wanita itu sering marah kalau dia berkata minum s**u murni di sumber alami, padahal maksudnya s**u murni betulan dari sapi. Kadang-kadang isi pikiran para emak memang selalu salah kaprah. Padahal Devano sendiri bingung Nayla mengartikan apa. “Kutil Kuda, mabar, yok! Bosen, nih, dari tadi maen sama orang, Aksa menang mulu!” Sebuah pesan masuk dari nomor Aksa Pradipta. Adiknya yang paling kalem sealam gaib. Dasar Adek enggak ada akhlak! Kelakuan sudah seperti orang tinggal di tengah hutan! Devano membalas pesan dari adiknya singkat. “Songong!” “Jadi mau nggak? Aksa mau bagi-bagi skin! Sayang, siapa tau berguna buat fakir miskin!” “Aksayton Kamvreto! Kalau deket kakak tabok itu mulut, kalau ngomong asal jeplak enggak pake lak-lakan!” “Lah, iyalah enggak pake lak-lakan. Ini, kan, diketik. Bukan lagi ngomong.” Devano mengirim emoticon kesal bagai gunung berapi mau meledak. Sudah bosan menunggu antrean selama dua jam, ada pesan masuk bukannya menghibur malah membuat tekanan darah tinggi naik! Dia pun memandangi lagi orang-orang yang duduk anteng di kursi tunggu, mereka masih cukup banyak. Sampai kapan lagi dia menunggu? Gigi dan gusi sudah berdenyut, perut lapar. Namun, tidak ada selera makan. Suara para bocah yang bermain di sekitar membuat kepalanya makin pening. Ah, andai saja kursi kosong di sebelahnya diduduki perempuan cantik, berkulit putih, berbadan sexy. Mungkin bisa lupa sakitnya gigi berlubang lebih sakit daripada ditinggal pacar. “Mau ke mana kamu?” Suara seorang wanita bertanya saat Devano ingin beranjak dari kursi. Dari suaranya, sudah bisa ditebak milik siapa itu. “Eh, Bu Dokter.” Devano melebarkan senyum garing. Wanita paruh baya yang mengenakan pakaian khas seorang dokter itu menatap garang. “Duduk lagi. Pasti mau kabur, ‘kan?” Wanita itu menebak dengan nada ketus. “Nggak! Siapa yang mau kabur? Vano cuma mau beli minum. Haus banget soalnya duduk dari tadi.” “Banyak alesan. Udah dibilangin berapa kali jangan kabur terus kalau periksa ke dokter gigi! Telinga kamu hilang fungsi apa mau mama hilangin betulan?” “Eh, eh, iya, jangan gitu juga, dong. Mama ngeri bener ancemannya gitu terus!” Devano berdecap kesal, lalu duduk lagi di kursi tunggu. Dia juga tidak mungkin kena amnesia, profesi ibunya adalah seorang dokter umum. Tercetak jelas nama di jas dokter miliknya—Dr. Nayla Agnesia. “Vano udah duduk. Jangan dipelototin terus, Maa. Usia Vano udah nginjek 25 taun—“ “Devano Mannasero!” Suara Nayla meninggi, membuat Devano sulit menelan ludah sendiri. “Terakhir kali mama suruh kamu periksa ke dokter, tapi hasilnya apa? Semalem yang merengek-rengek minta resep obat sakit gigi itu akibat apa? Mama belum terlalu tua buat ngelupain kebiasaan buruk kamu! Gigi berlubang yang dibiarkan lama bisa menyebabkan abses, yaitu kantong nanah di gigi dan gusi. Risiko lainnya juga bisa berkembang adalah endokarditis dan sinusitis, infeksi yang terjadi pada lapisan dalam dari ruang jantung dan katup jantung kamu! Kuman dari gigi berlubang juga bisa menyebar ke dinding rongga sinus dan menyebabkan infeksi sinus atau sinusitis—“ “Vano nyerah! Iya, iya, Vano yang salah. Jangan dilanjutin lagi, ini Mama bisa liat, ‘kan? Posisi duduk Vano udah kalem gini. Masa mau kabur,” kata Devano seraya mengangkat kedua tangan menahan serangan kata Nayla. Kalau Nayla sudah melafalkan kalimat saktinya yang tidak Devano mengerti, bisa-bisa sampai besoknya besok dan bulan besoknya lagi baru selesai. “Bagus! Ini mama bawain minum. Tunggu sampe giliran kamu tiba, mama kenal sama Dokter Rafli. Kalau kamu kabur ....” Nayla menyayat lehernya sendiri dengan ibu jari seolah mengancam tamat riwayat Devano Mannasero jika melarikan diri lagi. Devano cuma bisa cemberut menyaksikan sebotol air mineral di tangan. Ah ... mau dilihat berapa kali pun, ini bukan s**u cokelat. Aku berdiri di atas panggung Dan bernyanyi dengan lembut Sebuah nyanyian untuk menerangi lautan Aku melihat orang asing, sebuah wajah yang tidak kukenal Tatapan mata yang menyinari segala cahaya Siapa pun yang menggambarkan sosok wajahmu, siapa pun itu harus menghargainya Jika bukan karena lagu cinta ini menegangkan Diam-diam melewati pandanganmu Angin berembus di bajumu, aku tidak akan pernah bisa melupakannya Keceriaanmu meluluhkan hatiku yang keras Tanganmu yang hangat memberiku kekuatan dan ketenangan Mulai sekarang, kau adalah segalanya bagiku Kekasihku, kaulah duniaku Tidak perlu menggambar setengah dari wajahku lagi Aku tidak perlu orang lain untuk menghargainya Akhirnya aku mengerti mengapa lagu cinta ini begitu menegangkan Diam-diam melewati pandanganmu Angin berembus dan kau melihat ke arahku dari kejauhan Itu membuatku sangat bahagia Sebuah kecelakaan terindah Betapa beruntungnya aku, ada kau yang menggenggam tanganku Menyelamatkan sisa hidupku Devano langsung menoleh mendengar samar-samar sebuah suara bernyanyi dengan merdu di dekatnya. Tidak, bukan hanya itu. Namun, dia sangat familier dengan nada dan lirik yang dinyanyikan seorang gadis tersebut. Ya ... dia sangat mengenalinya. Lagu itu membuat hatinya bergemuruh, sedikit perasaan yang diantarkan oleh masa lalu padanya mulai menyentuh. “Kau ....” Devano ingin menyapa seorang gadis yang duduk membelakanginya, tapi dia telanjur dihampiri orang lain. “Baby? Udah dipanggil sama dokter, ayo.” “Udah? Tapi aku takut, Kak. Gimana kalau di dalem disuntik?” “Kamu itu mau periksa tenggorokan apa mau disunat? Mana ada di suntik-suntik! Udah ayo, nanti diserobot orang lain, lama lagi nunggunya.” Gadis itu ditarik oleh seorang pemuda yang mengajaknya pergi menemui dokter sebelum Devano sempat menyapa atau melihat wajahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN