Puncaknya ...

1567 Kata

Usai kepergian Hana, Devano malah termenung di tempat yang sama. Dia melonggarkan sedikit ikatan dasi di lehernya, entah kenapa dia malah merasa tidak nyaman sama sekali. Apa dia sudah salah bicara pada Hana? Kenapa dia merasa tadi itu sangat kejam bagi gadis kecilnya itu? Devano tidak tahu bagaimana cara menyampaikan maksudnya kepada Hana. Hubungan mereka tidak direstui, Atha jelas-jelas menunjukkan ketidaksukaannya itu. “Gue nggak ada hati buat Hana, nggak ada! Tapi kenapa malah kayak gini?” Devano meremas rambutnya, dia frustrasi sendiri dengan keputusannya ini. Mengingat wajah cantik penuh air mata milik Hana, hatinya sakit. Devano pun beranjak dari sofa, kedua kakinya seakan tidak mematuhi perintah agar menjauh dari Hana. Dia berlari kecil menyusul kepergian Hana. Dengan napas yan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN