Perasaan itu mungkin sama, seperti saat ini jika aku memilih untuk melompat dari jembatan 2 tahun lalu. Tenggelam jauh dalam dinginnya air yang terasa seperti mencekik dan menyesakkan. Semua samar, cahaya lampu malam itupun rasanya tak mampu menerangi perjalanan singkatku, bayangan seseorang itupun aku yakin perlahan lenyap, seperti saat ini— saat pria itu menghilang seiring dengan napas yang tak lagi bisa kuperjuangkan dan kedua mataku yang tak sanggup lagi untuk menatapnya. Jika aku pergi waktu itu mungkin ini yang aku rasakan.
-🍷-
— 2 Years ago —
"Hey, may i ask you!"
Aku yakin angin malam tidak terlalu kencang tapi aku mendengar suara lain seperti tiupan angin menyentuh telingaku. Aku tak ingin goyah meskipun kedua mataku cukup berair, karena menurutku malam itu adalah waktu yang sangat tepat, udara yang dingin, salju turun, suasana yang tenang dan tersembunyi.
"Ma'am, bisa bantu aku?"
Dari sekian banyak sebutan dia memilih 'ma'am'. Suara dan panggilan norak itu melenyapkan sedikit niatku, semua karena suara berat yang berhasil membuatku menoleh untuk menatap sekilas siapa orang bodoh itu. Orang bodoh yang mengajukan pertanyaan pada orang yang sedang menangis dan duduk di pagar jembatan dengan dua lapis pakaian kemeja dan sweater juga celana bahan panjang di malam yang dingin. Aku cukup yakin dia terkejut melihatku.
"Bisa aku bertanya di mana cafe terdekat dari sini?"
Pertanyaan polosnya yang sampai saat ini masih aku ingat, aku tahu itu usahanya. Pria itu tidak ingin membuatku terkejut dengan kehadirannya yang tiba-tiba, berusaha tidak terlihat panik meskipun aku tahu dia bisa membaca gelagatku. Jika dipikirkan lagi, siapa yang tidak bisa membaca? Ada seseorang duduk di tepi sungai, di malam yang gelap, di tengah salju musim dingin dengan putus asa.
Aku tak menjawabnya, hanya diam dan terus menatap pria kikuk bermata rubah itu dengan datar, kacamata ber-frame hitam bertengger di hidung kokohnya malam itu sedikit berembun.
"Jika kau tidak sibuk? Bisa antar aku ke sana? Akan kuberikan cokelat hangat sebagai gantinya."
Konyol, aku hanya mampu tersenyum konyol karena dari sekian banyak minuman hangat di dunia ini dia memilih cokelat hangat untuk orang yang akan mengakhiri hidupnya di musim dingin.
Dalam keheningan itu aku kembali menoleh menatap sungai yang mungkin belum sepenuhnya beku, memantapkan hati untuk melompat tanpa peduli tentang apapun yang aku tinggalkan. Tubuhku seperti mati rasa, setidaknya sampai beberapa menit yang lalu, sampai aku merasakan kehadiran seseorang yang memberikan sedikit kehangatan lewat tindakan dan kata-kata. Aku yang tak merasa dingin mendadak menggigil merasakan udara malam yang berhasil membuat bulu kudukku berdiri, anehnya hatiku sedikit hangat, tidak sedingin tadi dan untuk sedikut kehangatan itu aku mulai menangis.
Mengapa di saat semua orang pergi meninggalkanku, memilih untuk melepaskan tanganku, pria itu datang dan menjadi satu-satunya manusia yang tersisa untuk meraih dan menggenggam tanganku erat seolah tak mengizinkanku pergi.
Aku menangis, menangis sejadi-jadinya, menatap sepasang mata rubah yang berusaha keras menarikku kembali dengan kedua tangannya sementara aku ingin pergi.
"Please," pintaku putus asa, aku memohon padanya karena mendadak ini semua menjadi begitu menakutkan.
"Hang on! Jangan lepaskan tanganmu karena aku tidak akan melepaskanmu! Kau tidak ditakdirkan mati hari ini!"
Mata berbinarnya seolah memohon, namun hatiku jauh lebih memohon ketika melihatnya, 'Tuhan izinkan aku bertemu seseorang yang tidak akan pernah melepaskan tanganku dan akan selalu menggenggam tanganku erat seperti saat ini.'
-🍷-
— 5 Months Later —
Pagi menyapa dari segaris celah jendela yang nyaris tertutup rapat oleh gorden, seisi kamar hotel yang Regina tempati terasa suram, redup karena hanya ada lampu tidur yang cahayanya nyaris menghilang. Saat itu Regina membuka kedua matanya, mendapati pakaiannya kotor entah karena apa tapi ia punya hipotesa. Mendapati hal seperti itu di pagi hari tentu bukan sesustu yang baik baginya, sesuatu yang buruk mungkin telah terjadi tapi mungkin ia tak ingat apa. Dengan perasaan takut ia terduduk, menyalakan lampu dan berusaha menatap pantulan dirinya dari layar posenl.
"Oh f**k!"
Wajah Regina terbenam diantara kedua telapak tangannya frustrasi. Bagaimana ia menyaksikan wajahnya kotor seperti anak kecil yang baru saja menghabiskan satu wadah nutela tanpa roti dan satu kotak pizza besar. Begitulah penampilannya, wajah dan pakaian yang terlihat begitu berantakan karena ia bisa melihat cokelat, saus, dan paperoni yang masih menempel di pakaiannya.
"Good Morning, Miss Watson."
Suara dan langkah kaki itu tak juga jadi penguat untuk Regina mengangkat tegak kepalanya. Ia masih menyembunyikan kekacauan di wajahnya dari sososk Sean asisten pribadinya yang pagi itu masuk dan menyalakan satu per satu lampu kamar tidur.
"Sudah kubilang singkirkan semua makanan dan jangan menyisakan makanan apapun di sini saat kau pergi."
"I'm not— aku hanya menyisakan dua potong pizza karena kupikir kau akan memakannya saat aku pergi."
Regina mengangkat wajahnya untuk menatap Sean yang pagi itu sudah terlihat rapi dangan setelan kemeja, dasi, dan celana bahan. Memang semalam mereka sempat melakukan rapat berdua karena perlu membahas beberapa hal penting tentang pekerjaan dan Sean memesan satu kotak pizza yang nyaris pria itu habiskan sendiri.
"Did it hapen again?" tanya Sean khawatir.
"Do i have to say it? Look at me!" Kedua mata Regina menatap tajam Sean yang merasa bersalah.
"I'm so sorry. Aku tidak akan meninggalkan makanan lagi."
Regina tak menanggapi, ia hanya menyingkirkan selimut dan meninggalkan ranjangnya.
"Ini sudah ketiga kalinya dalam sebulan bukan? Perlu aku buatkan janji untuk bertemu dengan dokter Richard?"
Regina terdiam sebentar, mematung tanpa menatap sosok Sean yang wajahnya berubah khawatir karena Regina memberi hening yang cukup lama.
"Tidak perlu, tidak separah dulu. Mungkin karena aku terlalu banyak pikiran."
Kata-kata itu membuat Sean mengangguk dan meninggalkan ruangan kamar untuk menunggu Regina yang bersiap.
-🍷-
Di dalam mobil Regina lebih banyak melamun dan Sean yang berada di kursi pengemudi menyaksikan tatapan kosong Regina yang duduk di kursi belakang dengan perasaan gusar. Kedua matanya sibuk, sesekali menatap jalan, melirik spion kanan dan kiri, juga spion tengah hanya untuk memastikan perjalanan mereka aman dan Regina baik-baik saja. Semua karena kejadian lima bulan yang lalu, saat wanita itu berada dititik terendahnya, membuatnya harus memperhatikan wanita itu yang terlihat angkuh dan kuat dari luar namun tidak pada kenyataannya.
"There! Let's start this beautiful morning with tea."
Sean menyuru Regina melihat cup holder di kursi tengah namun wanita itu tak bergeming.
"Hari ini kita akan rapat dengan perwakilan tim perencanaan dan pemasaran tentang pemilihan kandidat pihak ketiga untuk handling event besar kita di New York dan Paris, sekaligus acara tahunan kita, pastikan kau memilih pihak ketiga yang mereka rekomendasikan dengan baik karena kita perlu mensukseskan acara ini. Kita sudah melakukan yang terbaik selama satu tahun ini untuk mengembalikan citra Charlotte."
Regina diam-diam menatap kedua mata Sean dari spion tengah dan pria itu menyadarinya. Membuat kedua mata mereka bertemu tapi justru membuat Sean takut, takut jika ia membuat kesalahan.
"Sean, bukan kah kau terlalu akrab denganku sampai-sampai kau merasa santai sekali saat berbicara tentang pekerjaan denganku?"
"Oh! I'm sorry, Miss Watson. Karena kupikir kita belum di kantor, so— It will not happen again."
Regina tersenyum konyol.
"Nevermind, i'm joking! Lagi pula kita sudah mengenal sejak kecil. Kau juga cukup tampan, cukup seksi, dan cukup pintar untuk bisa lulus dari sekolah yang sama sepertiku jadi kau bisa bersikap santai denganku jika hanya kita berdua. Are you single, Sean?"
"Ya?"
"Mengapa terkejut? Aku sedang beranya apa kau single bukan bertanya apa kau gay atau menyukai keduanya!"
Sean tertawa kikuk mungkin jika Regina bukan bossnya, ia sudah mengumpat.
"Kau mau mengenalkanku dengan seseorang?"
"Tidak, aku hanya ingin memberi saran untuk tidak menyia-nyiakan wajahmu yang cukup tampan itu. That's a wasted."
Sean melirik lagi sosok Regina dari spion tengah, mendapati wanita itu tak lagi menatapnya hanya menatap keluar sembari bersandar nyaman dan terus meracu.
"Banyak perempuan yang mungkin mengatre untuk berkencan denganmu atau sekedar tidur denganmu, tapi kuingatkan kau untuk mencari perempuan baik, Sean."
"Tiba-tiba?"
"Hanya ingin mengatakannya saja, banyak orang suka menjadi villain dalam sebuah hubungan, baik laki-laki atau perempuan, dan aku salah satunya."
Senyum kecut Regina di akhir kata-katanya Sean temukan saat ia diam-diam mencuri pandang. Hanya pria itu yang tahu semua hal tentang Regina, tanpa terkecuali. Bagaimana wanita itu terjerumus dalam manipulasi emosi dari ayah kandungnya sendiri untuk dijadikan senjata media. Bagaimana pertunangan dan pernikahan impian dengan sososk Evan hancur begitu saja karena sikap Regina, bagaimana Regina menjadi bagian dari hancurnya kehidupan pernikahan sahabat baiknya Kellan yang juga nyaris kehilangan posisinya sebagai pemimpin utama dari perusahan keluarga Halord. Regina terlibat dalam kehancuran itu hingga ia kehilangan semua hal dan orang-orang penting dalam hidupnya. Meskipun dalang dari semua yang terjadi adalah ayah Regina tapi Regina tidak bisa berhenti menyalahkan dirinya sendiri, Regina tidak bisa mengingkari bahwa ia juga menjadi bagian dari semua kejahatan itu, dan semua itu sudah lebih dari cukup untuk membuatnya menjadi sosok penjahat tidak hanya dalam hidupnya sendiri tapi juga dalam kehidupan orang lain.
-🍷-