2

872 Kata
Jas almamater berwarna biru gelap milik Blue Eye University sudah melingkar manis di lengannya. Luna berjalan melewati koridor fakultas yang terasa lengang hari ini. Mungkin karena hujan mengguyur sejak pagi, banyak mahasiswa yang malas untuk berangkat ke kampus. Begitu pula dengan Luna. Kalau saja hari ini tidak kuis pasti ia tidak akan rela keluar dari dalam selimutnya untuk berangkat ke kampus. “Kuliah?” Suara yang sangat ia kenal terasa sangat dekat. Benar saja, Dimas sudah berada di sampingnya dan berjalan sesuai dengan irama kaki Luna. “Nggak, mau main bekel di ruangan dekan.” kata Luna sambil terus berjalan. “Oh, kuliah apa?” “Hukum bisnis.” “Oke, sampai jumpa.” Luna hanya bisa tersenyum melihat kelakuan Dimas yang langsung berlalu. Luna sudah terbiasa meladeni Dimas yang hanya datang sebentar lalu pergi begitu saja. Dimas, mahasiswa tingkat akhir yang sangat dikenal satu Fakultas Ekonomi. Bagaimana tidak, yang Luna tahu, banyak sekali gelar buruk yang diperoleh Dimas—nakal, jarang masuk kelas, playboy, cuek, dan masih banyak lagi. Sialnya, Luna terpaksa terus berurusan dengannya karena Dimas adalah mahasiswa pembimbingnya selama masa orientasi dua tahun yang lalu. “Kak Dimas?” Tanya Luna hati-hati saat menghampiri seorang lelaki yang ditunjuk oleh mahasiswa lain. Luna merasa seperti sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Sudah masuk ke universitas yang tidak ia inginkan, ditambah lagi pembimbingnya di kenal sangat nakal dan cuek. “Yap. Aluna Bimala?” Tanya Dimas seraya bangkit dari duduknya. Luna hanya mengangguk sebagai jawaban. “Ayo ikut gue.” Luna mengikuti langkah kaki Dimas sambil Dimas memperkenalkan seluruh sudut fakultas. Menceritakan sedikit sejarahnya, dan memberitahukan tempat-tempat favorit mahasiswa untuk berkumpul atau hanya untuk istirahat menunggu jam perkuliahan selanjutnya. Dimas mengajak Luna untuk beristirahat sejenak sambil memberitahukan ada Himpunan Mahasiswa Jurusan dan Unit kegiatan mahasiswa apa saja yang mungkin saja tertarik untuk ia ikuti. “Lo jurusan apa?” “Manajemen, kak.” “Nggak usah panggil gue ‘kak’, panggil aja Dimas,” Kata Dimas. “Kalau lo tertarik, bisa ikut himpunan mahasiswa manajemen, tuh. Bisa gue bantu kalau mau gabung.” Luna menjawabnya dengan senyum. Sungguh, ia sangat tidak tertarik dengan apapun yang ada di universitas ini. terlebih dengan fakultasnya. Pikiran Luna sejak saat ia di terima adalah bagaimana caranya agar ia bisa cepat-cepat angkat kaki dari universitas ini. “Masih capek?” “Nggak.” “Yuk, tinggal gedung Dekanat yang belum gue kasih tau ke lo. Setelah beres lo boleh balik." kata Dimas lalu bangkit dan mengulurkan tangan untuk membantu Luna berdiri. “Tapi ‘kan baru jam satu, kak. Di buku panduan jadwal pulang jam lima sore.” “Gue berani taruhan, setengah dari mahasiswa baru udah pada pulang. Sisanya tinggal mahasiswa sial yang dapet pembimbing kaku yang terlalu terpaku sama jadwal. Lagian, ngapain coba perkenalan kampus lama-lama? Nggak berguna,” Kata Dimas yang mulai melangkah. “Ayo.” Luna kembali melangkah mengikuti Dimas. Mereka masuk ke dalam gedung Dekanat. Dimas kembali memperkenalkan seisi gedung dekanat ini. Dengan segera Luna mencatat apa yang ia butuhkan. Walaupun ia tidak niat berada di sini, Luna tetap tidak ingin akhirnya ia seperti orang bodoh tidak tahu harus kemana saat ia harus pergi ke gedung Dekanat. Setelah selesai, Luna di izinkan pulang oleh Dimas. Begitulah kehidupan Luna sampai masa orientasi selesai. Pergi kemanapun ia selalu bersama Dimas—lebih tepatnya terjebak bersama Dimas. Sampai saat hari terakhir, setelah Dimas menunjukkan ruangan BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa), mereka duduk berdua di kantin sambil menikmati segelas es campur di hadapannya. Luna menatap Dimas yang sedang asik mengobrol dengan temannya yang sama-sama seorang mahasiswa pembimbing. Luna menyadari kalau sosok Dimas yang dikatakan orang lain sangat bertolak belakang dengan Dimas yang Luna kenal. Dimas itu orang yang baik, dan tidak nakal sama sekali. Tipikal Dimas adalah tipikal orang yang bisa mengerti orang yang sedang ada di hadapannya. Namun, entahlah. Luna tidak ingin mencari tahu tentang hal itu. Sampai di kelas, Luna mendapati hanya ada beberapa orang yang hadir. Hujan memang membangkitkan rasa malas terbesar bagi seluruh mahasiswa. “Hai, Luna.” Sapa Gaby, teman dekat Luna sejak masa orientasi. Ya, Luna memang tidak memiliki banyak teman, karena memang ia tidak ingin memiliki banyak teman. Karena baginya, kalau Luna memiliki banyak teman, maka akan banyak memori yang tercipta disini dan membuat Luna luluh dan mencintai kampusnya. “Hai, Gab.” Kata Luna sambil tersenyum. “Siap kuis hari ini?” “Lo tau gue nggak akan pernah siap.” Kata Luna lalu mereka tertawa. Setelah mereka puas tertawa, Luna mengeluarkan buku catatannya untuk membaca sedikit materi yang akan di ujikan sebentar lagi. “Selamat siang, Aluna Bimala.” Luna menoleh ke asal suara, ia langsung mengangkat kepalanya melihat Dimas sudah duduk di sebelahnya. “Dimas! Lo ngapain disini?” Belum sempat Dimas menjawab, Pak Robert, dosen hukum bisnis yang di kenal pelit nilai itu pun memasuki kelas. Dengan terpaksa Luna membiarkan Dimas duduk di sebelahnya. “Lun, ngapain kak Dimas di sini?” Bisik Gaby saat menyadari ada Dimas di sebelah Luna. Luna hanya menjawabnya dengan menggeleng sambil terus menatap buku di hadapannya. Luna hanya bisa menunduk menunggu bagaimana suasana hati dosennya hari ini. kalau nada suaranya naik, berarti mood-nya sedang buruk, dan begitu pula sebaliknya. “Dimas Gemilang! Kenapa kamu ada di kelas saya? Keluar!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN