Bab 2. Costumer yang bikin mumet

1569 Kata
Arindi sudah bekerja pada sebuah Bank konvensional di kota Makassar selama hampir 2 tahun. Sifat Arindi yang cerewet dan blak-blakan, membuatnya tidak bisa menyimpan rahasia. Bahkan tidak jarang dia menambah-nambah ceritanya agar semakin menarik. Demikian halnya dengan hubungan asmaranya dengan Arman, semua temannya pun telah diberitahu kalau sebentar lagi mereka akan menikah, dan merencanakan bulan madu di Tanjung Dara pada libur akhir tahun nanti. Dia menggambarkan ekspresi wajah yang sumbringah dan bahagia, saat menceritakan rencana honeymoon sekaligus menyambut malam tahun baru di sana. Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tiada berguna. Mungkin itulah pepatah yang tepat untuk Arindi. Dia kini terus saja meratap dalam hati, karena hubungan asmaranya dengan Arman sudah kandas. Penyesalannya bukan karena putus, akan tetapi rasa malunya yang entah akan disembunyikan dimana, bila nanti ketahuan tidak jadi menikah. Hal itu membuatnya banyak diam dari biasanya. Dia benar-benar menyesal sudah bercerita panjang lebar kepada kedua temannya itu. Waktu istirahat menjelang, Arindi masih betah untuk bekerja. Dia tidak sadar jika Putri sudah berada di sampingnya. "Hai Rin! Makan yuk!" Arindi hanya mendongak sebentar lalu kembali sibuk dengan komputernya. "Duluan aja, aku masih sibuk, masih ada costumer yang harus aku layani! ". Putri hanya angkat bahu, " ya sudah, aku duluan ya sama Sesil! " sambil meraih tasnya lalu pergi meninggalkan tempat itu. Arindi hanya melirik sekilas sambil membuang napas berat. Setelah costumernya yang terahir selesai dilayani, Arindi pun beranjak berdiri dari kursinya hendak mencari tempat makan. Namun, baru saja dia hendak melangkah keluar dari mejanya, Pak Menejer sudah menyapa duluan. "Bu Arin! sudah selesai?" Arindi sedikit kaget dibuatnya. "A ... eh iya Pak, sudah! " Pak Manager tersenyum, "baguslah, sekarang ikut aku, ada tamu penting yang harus kamu layani!" Arindi hanya mengangguk "baik Pak! " Dengan hati terpaksa, Arindi mengikuti Managernya masuk ke ruangannya. Saat memasuki ruangan itu, sudah tampak seorang Lelaki duduk membelakangi pintu. Arindi menjadi sedikit penasaran. Pak Manager segera duduk di depan Pria tadi sambil memperkenalkan Arindi. "Nah Pak Evan, ini dia pegawai yang akan melayani Anda, perkenalkan ini Arindi, dan Arindi, ini Pak Evan munandar, pelanggan kita!" Arindi dan Evan saling menjulurkan tangan hendak berkenalan. Namun alangkah kagetnya Arindi saat tahu siapa pelanggan itu. Matanya terbelalak, "Kau ...! " Arindi tidak melanjutkan ucapannya karena takut ketahuan oleh Managernya. "Kalian sudah saling kenal? " Arindi sontak tergagap mendengar pertanyaan Managernya. "A ... ee ... tidak Pak! " "Evan," singkat dan santai ucapan Evan sambil menyalami tangan Arindi yang masih melotot kaget, seakan-akan dia tidak mengenal Arindi. Arindi hanya mampu nyengir kuda sambil menjabat tangan Pria itu. Setelah mereka bersalaman, Pak Manager pun tersenyum puas. " Nah, Bu Arindi, tolong kamu layani Pak Evan ya, karena Beliau ingin mencairkan dana sekarang!" Arindi mencoba menyela, "tapi Pak, bukannya sekarang jam istirahat? " Muka Pak Manager langsung berubah masam mendengar penolakan Arindi. "Bu, Beliau ini pelanggan tetap kita yang paling utama, jangankan jam istirahat, bahkan saat tutup pun harus kita layani kalau perlu! " Evan hanya tersenyum penuh kemenangan saat mendengar pengakuan Pak Manager. Arindi hanya mengangguk pasrah. "Baik Pak! " Dengan kesal dan menggerutu, Arindi keluar dari ruangan untuk mengambil slip penarikan. "Apes banget sih aku, semalam dia buat aku diputusin, sekarang aku juga yang harus ladenin dia, preeeet!! " Mulut Arindi komat-kamit sambil dimonyongkan. Dia tidak sadar jika Pak Satpam sedang melihatnya. "Bu Arin kenapa kok sampai monyong begitu? Hahaha! " Arindi kaget dan langsung tersadar dari kekesalannya. "Eh hehe... iya nih Pak, pala aku lagi mumet banget, gara-gara pelanggan yang manja, eekkkhhh!!" Gigi Arindi dikeratkan sambil menarik kasar kertas slip penarikan, kemudian berlalu. Pak Satpam hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Arindi kembali masuk ke dalam ruangan Pak Manager. "Ini Pak silahkan isi slipnya! " Evan menyambut slip tersebut tanpa basa-basi, kemudian mengisinya dengan nominal yang dia inginkan. Begitu selesai, Evan pun menyerahkan kembali slip itu pada Arindi. "Tolong cepat ya, soalnya aku buru-buru! " Arindi hanya bisa mengangguk pelan sambil menyambut kertas itu. Saat keluar, Arindi berpapasan dengan OB yang hendak masuk pula ke dalam ruangan sambil membawa minuman. Arindi menatap OB itu dengan perasaan geram. "Pake dikasi minum segala? Iikkkhhh kenapa harus orang itu sih, benar-benar bikin mumet nih ati! " Arindi dengan cekatan menghitung uang yang akan dicairkan itu. Setelah selesai, Arindi pun memasukkannya di dalam amplop yang agak besar, karena dana yang dicairkan dalam jumlah yang besar. Begitu selesai, dengan cepat Arindi membawa amplop itu masuk ke dalam ruangan Manager. "Ini Pak uangnya! " Evan menerima amplop itu lalu memeriksa isinya. Begitu selesai, Evan mengulurkan tangan hendak bersalaman "Baiklah Pak, saya permisi, dan terima kasih atas pelayanan Bapak dan juga pegawai Bapak! " Pak Manager pun menyambut tangannya. "Sama-sama Pak, terima kasih telah setia bersama kami! " Selesai berjabat tangan, Evan melangkah keluar tanpa menoleh sedikit pun pada Arindi, seakan-akan dia tidak pernah menyesali perbuatannya semalam pada Arindi. Hal itu membuat d**a Arindi seakan terbakar api amarah yang bergejolak. Tangannya terkepal keras, dan berusaha menahan kesal. Dia pun ikut melangkah keluar ruangan. Akibat kesal yang masih membekas, keinginannya untuk keluar makan siang pun sirna. Akan tetapi, karena perut terus meminta, dengan malas Arindi menelpon Sesilia. "Halo, Sil, tolong beliin makanan ya, aku sibuk banget, ga sempat keluar! " Arindi terus terdiam dan merenungi nasibnya. Dia tidak habis pikir, kenapa Pria tadi seakan tidak mengenalinya, padahal baru semalam mereka bertemu dan membuat masalah besar untuknya. Air mata Arindi keluar tak tertahankan. Akibat rasa kesal bercampur marah yang tidak bisa dilampiaskannya. Dengan gigi mengerat keras, Arindi menghapus air matanya dengan kasar. Cepat-cepat dia menuju ke toilet untuk membasuh muka. Agak lama juga dia di dalam sana. Saat keluar dari toilet, Sesilia dan Putri juga sudah kembali. "Rin, nih makanannya! " Arindi menerima kotak makanan itu dengan senyum terpaksa. "Makasih ya, bentar aku ganti uangnya! " Arindi meletakkan kotak makannya di meja lalu merogoh tasnya. "Ah gak usahlah, aku traktir kok! " Sesilia menolak sambil duduk di kursi. Putri pun ikut duduk. Arindi lalu menutup kembali tasnya, "thanks ya Sil, " sambil ikutan duduk dan mulai menyantap makanannya. Putri yang tadinya diam, menoleh ke Arindi. "Eh Rin, kamu tahu gak ... " "Gak, aku gak tahu! " sambung Arindi cepat membuat Sesilia dan Putri tertawa. " Hahaha aku belum kelar ngomongnya! " Arindi pura-pura kaget sambil tertawa, "oh iyakah, haha sorry sengaja, hahaha! " Putri cuma bisa manyun sebentar. "Ariiiin, aku serius! " Arindi hanya mengangguk sambil terus tersenyum, "oke, apa? " Putri menoleh sejenak ke Sesilia lalu perlahan menarik napas. "Emm tadi itu, kita lihat Arman, pacar kamu lagi berduaan dengan cewek! " "Ukhuuk", hampir saja Arindi tersedak makanan. "Emm mungkin sekertarisnya kali, dia memang suka bepergian berdua kalau lagi ada kerjaan di luar kantor." Arindi berusaha menenangkan hatinya dengan berprasangka baik. Putri dan Sesilia sejenak saling pandang, lalu kembali menatap Arindi. "Apa kamu yakin Rin, Arman itu setia? " Arindi berusaha keras untuk tidak menampakkan kegalauannya, dan yang lebih tepatnya, dia berusaha menyembunyikan kekacauan hubungannya dengan Arman. "He e aku yakin ... yakin banget malah, hehe! " Arindi tersenyum paksa hingga nasi yang ditelannya, terasa bagai duri yang menancap di tenggorokannya. Begitu sakit dan perih rasanya. Cepat-cepat dia ke dapur pura-pura hendak minum. Bahkan air minum pun terasa keras ditelannya. Jam istirahat sudah berahir saat Arindi ke luar dari ruang dapur, sehingga Arindi tidak harus berbincang lagi dengan kedua temannya itu. Mereka pun kembali sibuk dengan tugas masing-masing. Saat jam kerja berakhir, Arindi memilih pulang lebih dulu, tanpa harus berbasa-basi dengan teman-temannya. "Aku duluan ya, soalnya kepalaku agak pening! " Sikap Arindi yang tidak biasa itu, terasa janggal oleh Putri. "Eh Sil, Arindi kenapa ya hari ini, kayaknya ada yang aneh? " Sesilia hanya angkat bahu, "Entahlah, kayaknya dia lagi ada masalah pribadi deh, atau sebenarnya dia sudah tahu kalau Arman itu selingkuh? " Putri menatap Sesilia tak percaya, "tapi kenapa dia bilang tidak tadi? " Sesilia cuma tersenyum sambil menepuk bahu Putri. "Mungkin dia malu mengakuinya, lihat saja nanti, kalau sudah hilang galaunya, pasti dia cerita semuanya, jadi tunggu saja tanggal mainnya!" Seraya berlalu menuju parkiran. Putri pun mengikutinya di belakang, dengan pikiran masih menerawang. Seminggu telah berlalu, tapi Arindi masih juga belum cerita apa-apa soal hubungannya dengan Arman. Dia juga lebih banyak diam dari pada bergosip seperti biasanya. Hal itu membuat Putri semakin penasaran. Lain halnya dengan Sesilia, dia tampak tenang-tenang saja dan tidak terlalu terpikirkan dengan perkara perubahan sikap Arindi. Putri benar-benar tidak tahan dengan rasa penasarannya, apalagi sudah yang kedua kalinya, dia melihat Arman berduaan dengan wanita yang sama dan tampak sangat mesra. Dia pun memberanikan diri bertanya pada Arindi saat mereka makan siang bersama di sebuah warung makan. "Ekheem," Arindi dan Sesilia langsung menatap Putri begitu mendengar suara dehemannya. "Napa Put? " Putri cuma nyengir menanggapi pertanyaan Sesilia. "Emm, Rin, boleh aku tanya sesuatu gak? " Arindi mengangguk penuh heran, "ya, ada apa? " Putri segara memperbaiki posisi duduknya yang tidak salah. "Emm ... begini, eee ... kamu yakin Arman ga selingkuh? " Arindi menggeleng pelan dengan mata berputar seakan berpikir. "Emm ... aku sih ... yakin ... dia gak selingkuh ... cuma ... beberapa hari ini ... memang gak pernah ... hubungi aku lagi sih ...! " Putri dan Sesilia saling pandang mendengar Arin yang terbata-bata. "Arindi, kamu gak curiga gitu? " Putri ikut mengangguk mengiyakan pertanyaan Sesilia. Arindi sekali lagi tersenyum sambil menggeleng, walau hatinya membantah perkataannya. "Gak lah, aku selalu yakin dengan kata hatiku! " Arindi langsung tertunduk dan berpura-pura mengaduk makanan, karena hatinya mengatakan 'sebenarnya kami sudah putus' dan untuk menutupinya dia cepat-cepat menyuap makanannya. Putri sebenarnya masih penasaran dengan Arindi, akan tetapi dia enggan untuk kembali bertanya. Dia hanya memilih menikmati makanannya, walau dengan rasa penasaran. Sebaik apapun bangkai ditutupi, pasti akan tercium juga. Demikian juga dengan hubungan Arindi yang hancur. Undangan pernikahan Arman sampai pada Putri juga Sesilia, kecuali Arindi, dia tidak kebagian undangan. Putri yang memang sudah penasaran, langsung menelpon Arindi yang sedang bersantai menikmati hari libur sambil membaca novel onlinenya. Acara membaca novel Arindi pun terganggu dengan panggilan Putri. "Halo Put, ada a ... " Belum lagi selesai Arindi bicara, Putri sudah menerobos. "Halo Rin, Arman mau nikah sama perempuan lain, kok bisa? " Suara Putri yang lantang membuat Arindi langsung menjauhkan ponsel dari telinganya. Tapi segera didekatkan kembali begitu mendengar berita itu. "Apaaa? Menikah? Apa maksud kamu Put? " d**a Arindi bagai dihimpit beban berat, pandangannya terasa kabur. "Ya menikah, bentar aku kirimkan foto undangannya ya! " Tidak lama berselang, foto undangan Arman telah terpampang di dalam HP Arindi. Melihat itu, Arindi langsung menutup mulutnya. Dia tidak tahu harus berbuat apa, mau teriak atau mau menangis. Kembali ponselnya berdering, tapi Arindi tidak menjawabnya. Air matanya sudah lolos membasahi pipi. Putri yang penasaran makin penasaran saat Arindi tidak menjawab panggilannya. Dia pun mengirimkan pesan lewat aplikasi chat. *"Rin, kamu gak papa kan? "* Masih tidak ada respon dari Arindi. Putri tidak putus asa. Dia kembali mengirim chat. *"Rin, kamu jawab dong!"* *"Bukannya kalian akan segera menikah, kenapa malah menikah dengan orang lain?" * Chat yang bertubi-tubi dari Putri itu, membuat Arindi mau tak mau akhirnya menjawab juga. *Sebenarnya, kami memang sudah putus, cuma aku ga mau kalian tahu kalau kami sudah putus"* *Aku yang putusin dia, soalnya orang tuaku sudah memilihkan jodoh untukku"* Arindi kembali membual untuk menutupi rasa malunya. Dia tidak ingin terlihat menyedihkan. Meskipun di dalam hatinya dia takut, kalau nanti teman-temannya itu akan menanyakan perihal perjodohannya, akan tetapi, Arindi tidak mau ambil pusing, baginya, yang akan terjadi nanti, biarlah diurus nanti pula. Hati Arindi makin bertambah galau dengan kebohongan yang baru dia buat. Dalam hatinya menyangkal, 'bagaimana jika dia malah tidak nikah-nikah juga', Arindi hanya bisa menjambak rambutnya kuat-kuat. "eekkkhhhh! " Tidak tahan dengan perasaan kacaunya, Arindi pun langsung menghubungi Arman. Akan tetapi Arman sama sekali tidak menjawab panggilannya. Arindi makin kesal. "Aaakkhhhh! Hiks ... Hiks ... kenapa kamu setega itu Armaaaaann! Huaaaa!! " Arindi hanya bisa terduduk lemas di lantai kamarnya dengan tangis yang tiada terbendung. Perlahan Arindi melirik telepon genggamnya di atas nakas. Dengan penuh kekesalan dia bangkit dan segera menyambarnya. Jari-jemarinya segera mengetikkan sesuatu di sana. Tiada lama terdengarlah suara deringan di seberang. Sekali, dua kali terdengar deringan, namun hingga bunyi deringan berahir, panggilan Arindi pun tidak terjawab. "Eekkkhhhhh! " Arindi melempar ponselnya dengan kesal ke atas ranjang. Dia semakin sedih. Dikala Arindi tengah sesenggukan sendirian, tiba-tiba pintu kamar ada yang membuka. Arindi dengan cepat mengangkat wajahnya dengan kaget. Buru-buru Arindi menghapus air matanya. "Andini? Sudah selesai baksosnya? " Arindi memasang senyum semanis mungkin, agar kesedihannya tidak diketahui adiknya. Andini, adik Arindi yang tinggal serumah dengannya, baru saja pulang dari kegiatan BAKSOS yang diadakan kampusnya. Melihat keadaan Kakaknya yang berantakan, dia jadi heran. "Kak, kamu kenapa? Habis nangis ya? " Arindi kembali tersenyum, "hemmp, ga papa kok Dek, aku ... emmm ... habis baca novel aja, ceritanya sedih banget, hehe." Arindi pun duduk di tepi ranjang. Andini ikutan duduk. "Kak, kalau mau bohong itu yang bagus dong, jangan terlalu kentara! " Seraya melepaskan jaket dan sepatunya. "Kak, ada apa sih , cerita dong! " Seraya menoleh menatap Arindi. Arindi hanya diam dan tidak menanggapi pertanyaan Adiknya. Perlahan air matanya kembali menetes. Melihat hal itu, Andini semakin penasaran. Sambil memegang pundak Arindi, "hei Kak, ada apa sih, bicara dong! " Arindi makin terisak. Melihat Kakaknya makin sedih, Andini memilih hanya diam sambil terus mengelus-elus punggung Kakaknya. Perlahan Arindi berhenti terisak. Andini menatap Kakaknya itu dengan penuh iba. "Kak, ada apa? " Lembut suara Andini. Arindi menoleh menatap Adiknya seraya mengusap pipinya yang sembab. "Hiks ... Arman bakal nikah sama perempuan lain Dek ... hiks ... hiks." Mata Andini langsung terbelalak. "Whaaattt, kok bisa? " Arindi hanya mengangguk sedih. Air matanya kembali mengalir. "Bukannya Kak Arman bakal melamar Kakak secepatnya? " "Iya Dek, Kakak juga ga ngerti hiks, hiks, hmmmp, se ... hiks ... mua ... hiks ... karena Kakak salah ... hmmmp ... masuk mobil cowok, terus ... hiks ... dia salah paham dan langsung mutusin aku huaaaa! " Mendengar pengakuan Kakaknya, Andini langsung geram. "Alaaah, alesan banget deh, cuma gara-gara begitu doang langsung diputusin, aku yakin Kak, itu cuma modus, mooodduus! " Arindi menatap Adiknya yang mencak-mencak penuh Amarah itu. "Modus sih modus, tapi jangan teriakin aku juga kali Dek! " serentak mereka tertawa bersama. "Sorry Kak, terbawa emosi sih, eh tapi aku yakin deh, itu cuma modus buat putus doang! " Arindi menatap adiknya sejenak, lalu menarik napas dalam. "Hmmmp, sebenarnya, cowok pemilik mobil yang aku salah masuk itu, sok ngaku-ngaku kalau kita ini pacaran waktu Arman memergoki kami berduaan dalam mobil, makanya Arman marah terus langsung mutusin aku, hiks, semua gara-gara orang itu, dasar cowok gak punya hati, hiks! " Andini hanya menganga sambil geleng-geleng kepala, "kok bisa Kak? " Arindi hanya mengangguk sedih. "Kurang asem banget sih tuh orang Kak!" Lagi-lagi Arindi hanya mengangguk. Perlahan Andini mendekat dan memeluk Kakaknya. "Kak, yang sabar ya, aku yakin, semua ini akan ada hikmahnya Kak, dan semoga Kakak akan segera bertemu jodoh yang lain ya Kak!" Sambil mengusap air mata, Arindi mengangguk sedih. "Semoga ya Dek, hanya saja, hee ... hiks ... mau ditaruh dimana muka Kakak, semua orang tau kalau aku merencanakan honeymoon di akhir tahun nanti Dek, aku benar-benar malu! " "Kak, jangan diambil hatilah , biarkan saja orang mau bilang apa, kalau ada yang tanya kenapa, bilang aja 'kalau bukan jodoh mau apalagi' gitu aja Kak! " Arindi melirik kesal ke Adiknya, "enak memang kalau cuma ngomong! " Andini menarik napas, "Hemmp, Kak, selain pasrah menerima kenyataan, gak ada yang bisa Kakak lakukan, ayo coba pikir, mau ngapain coba? " Arindi kembali menatap Adiknya. Nasihat Adiknya cukup mengena di dalam hatinya. Melihat Kakaknya masih diam menatapnya, Andini kembali melanjutkan nasihatnya. "Kak, jangan sedih, nanti pas waktu cuti Kakak, kita ajak Bapak sama Ibu juga Andri buat liburan bareng, gimana? " Kini Arindi mengangguk sambil tersenyum, Ia menyetujui usul Andini. "Iya juga ya, kapan lagi aku bisa menyenangkan Bapak sama Ibu?" Mereka langsung tersenyum sambil berpelukan. "Nah Kak, aku yakin lagi nih, batalnya acara honeymoon Kakak tuh, biar Kakak bisa membahagiakan orang tua dulu, kan seharusnya sebelum mencari kebahagiaan sendiri, memang harus membahagiakan orang tua dulu, ya kan Kak? " Arindi mendelik, "maumu itu! " Mereka tertawa lepas bersama. Dan kesedihan serta kegalauan hati Arindi sedikit terobati. Pernikahan Arman telah berlalu setengah bulan lamanya. Dan selama itu pula, Arindi terus merasakan malu di hatinya. Betapa tidak, hampir setiap hari, temannya terus bertanya "kapan kamu nyusul Arman?" Arindi hanya bisa tersenyum suram. "Belum, mau nyenengin hati orang tua dulu lah, habis itu baru mencari kebahagiaan!" Sesilia dan Putri hanya bisa bersorak, "uuuh ... cieeeeh anak berbakti, hahaha! "
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN