Pernikahan

1493 Kata
Pagi hari Kia terbangun lebih awal dari biasanya. Ia mengerjakan shalat subuh kemudian dengan ragu keluar menuju ke dapur, mungkin saja ada yang bisa ia kerjakan di dapur, pikirnya. Kia berjalan ke dapur sambil melihat kemewahan rumah itu, kemari ia terlalu tegang hingga tak memperhatikan semuanya. "Kia, kamu sudah bangun?" sapa Miranda yang ternyata memang sudah sibuk di dapur bersama dengan Bibi. "Ada yang bisa Kia bantu, Bu?" tanyanya mendekati Miranda. "Nggak usah, kamu siap-siap saja , Ziko mengatakan jam 10.00 nanti akad nikahnya, kita akan pergi sebelum jam 10.00. Sebentar Ibu ambilkan pakaianmu dulu," ucap Miranda mencuci tangannya kemudian jalan cepat menuju ke kamarnya, Kia hanya bisa melihat dan duduk di meja makan. Ia merasa sangat asing di rumah itu. Tak lama kemudian Miranda datang dengan gaun di tangannya. "Ini gaun yang akan kau pakai saat akad nikah nanti, kamu coba dulu, Ibu memesannya di toko langganan Ibu kalau kamu tidak cocok kita bisa langsung menukarnya," ucap ibu memberikan gaun pengantin yang dipegangnya. Kia mengambil dan melihat gaun itu, terlihat begitu cantik. Kia masih tak menyangka jika hari ini ia akan menjadi seorang istri, semuanya berlalu dengan cepat menurutnya. Ini baru pertemuan keduanya dengan Ziko dan pertemuan berikutnya mereka akan menjadi suami istri. "Baiklah, Bu. Aku coba dulu ya," ucap Kia kemudian beranjak menuju ke kamarnya. Kia menatap pantulan dirinya di cermin setelah memakai gaun itu, gaunnya begitu pas di badannya. Ibu juga memesan hijab yang berwarna sama berhubungan Kia menggunakan hijab, tak lupa ibu juga menyertakan beberapa alat make up di dalam tas itu. Suara ketukan pintu terdengar membuat Kia menoleh ke belakang dan melihat Miranda yang sudah membuka pintu. "Bagaimana, Bu?" tanya Kia yang memperlihatkan gaun yang dipakainya. "Wah, gaunnya sangat cocok untukmu seperti gaun ini memang dibuat untukmu. Kia, apa kamu bisa make up?" "Nggak, Bu. Kia hanya memakai make up biasa saja saat ke kantor," jawabnya berkata jujur. "Setiap ke kantor Kia hanya memakai bedak dan lipstik tak ada alat make up lainnya." "Yaudah, sekarang kamu sarapan dulu setelahnya Ibu akan mendandanimu, sebaiknya kita bergegas biar tak terlambat nantinya," ucap ibu. "Iya, Bu. Kia buka dulu gaunnya," ucapnya kemudian ibu membantu membuka gaun pengantin Kia kemudian mereka turun ke bawah untuk sarapan bersama. Setelah itu Ibu langsung mendandani Kia walau bukan didandani oleh seorang MUA, tapi hasilnya sangat cantik. "Bagaimana menurutmu?" tanya ibu memberikan cermin kecil kepada Kia, Kia tersenyum melihat wajahnya yang semakin cantik. "Makasih, Bu. Kia suka," jawabnya masih dengan senyum di wajahnya. Setelah berdandan dan memakai kembali gaunnya serta dengan sangat teliti Miranda kembali membantu Kia memakai hijabnya. "Cantik," satu kata keluar dari mulut Miranda begitu melihat calon menantunya sudah berpakaian lengkap dan siap untuk berangkat. Walau hanya menggunakan kebaya dan juga make up seadanya ala ibu. Namun, itu mampu membuat Kia terlihat sangat cantik. "Sekarang sudah jam 08.30, Ibu juga siap-siap ya. Sebelum jam 10.00 pas kita harus sudah ada di sana," ucap ibu bergegas menuju kamarnya, ia juga harus bersiap-siap. Semua sudah siap Kia, ibu, dan juga ayah. Mereka langsung berangkat ke alamat yang Ziko berikan. Dalam hati ibu terus berdoa semoga putranya digerakkan hatinya saat ia melafalkan ijab kabul, mengikat Kia sebagai istrinya hingga Ziko tertarik pada Kia. Ia tahu jika anaknya sama sekali tak mencintai Kia, tapi ibu tetap berharap jika suatu hari nanti Ziko tergerak hatinya mencintai istrinya. Begitu sampai di sebuah gedung sesuai dengan alamat yang diberikan Ziko, Miranda melihat di gedung itu tak ada siapa-siapa. "Ayah apa benar ini alamat?" tanya Miranda mengira jika mereka mendatangi alamat yang salah. "Alamat sudah benar, kita masuk saja," ucap Wibowo berjalan lebih dulu. Miranda menuntut Kia untuk masuk mengikuti suaminya. Mereka bisa melihat di atas panggung sudah dihias sederhana dan ada dua orang di sana. Mereka adalah penghulu yang akan menikahkan Ziko dan Kia. "Apa mereka akan menikah di sana dan hanya ada kita saja?" tanya ibu menatap Wibowo suaminya, yang sudah menanyakan langsung pada penghulu tersebut. Wibowo tak menjawab yang hanya memandang pada Kia, dengan pandangan bersalah. "Nggak apa-apa kok, mungkin kak Ziko terlalu sibuk dan hanya bisa menyiapkan ini semua," ucap Kia yang membuat ibu menghela nafasnya, menantunya itu terlalu baik untuk mendapat perlakuan seperti apa yang putranya lakukan. Ibu tak bisa membayangkan bagaimana jika ia tahu kenyataan tentang Kiran. "Kalian sudah datang? Sebaiknya kita mulai sekarang," ucap Ziko yang muncul dari belakang mereka dengan dua orang temannya dan dua orang pengacara yang akan dijadikannya sebagai saksi pernikahan mereka. Semua sudah bersiap di meja tempat dilaksanakannya ijab kabul, hanya ada ibu ayah yang menghadiri pernikahan tersebut dari pihak keluarga. "Saya terima nikah dan kawinnya Kia Agmika binti Susanto dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai." Ziko mengucapkannya dengan satu tarikan nafas. Kata sah membuat Kia tersentak dan setetes air mata, kini statusnya sudah menjadi seorang istri dari Ziko Admaja. Bukan hanya situasi pernikahan mereka yang membuat Kia meneteskan air matanya. Namun, Kia teringat akan almarhum ayahnya. Mendengar Ziko menyebutkan nama ayahnya membuat sayatan kecil di hatinya yang meninggalkan rasa perih yang tak tertahankan. Ia menikah tanpa adanya sosok ayah sebagai walinya. Kia mengusap air matanya dan mencoba untuk tersenyum kemudian mencium punggung tangan Ziko yang telah resmi menjadi suaminya kemudian beralih kepada kedua mertuanya. Selepas acara Ziko langsung menemui pengacara di ruangan lain di gedung itu. "Aku sudah melaksanakan wasiat kakek apa ada lagi yang harus aku lakukan?" tanyanya. Pengacara tersebut sudah menduga jika Ziko pasti akan menanyakan hal itu, ia sudah menyiapkan semuanya. "Silahkan Anda tandatangani berkas ini dan semua harta peninggalan kakek Anda akan menjadi milik Anda." Dengan senyum tipisnya Ziko langsung menandatangani semua berkas-berkas tersebut, Sekarang semua harta milik kakeknya Sudah aman di tangannya. Ziko menghampiri Kia yang sedang berbicara dengan kedua orang tuanya. "Ayah, Ibu aku akan membawa Kia ke Apartemenku, mulai sekarang dia akan tinggal disana," ucapnya. 'Tentu saja, Nak. Kia sudah menjadi istrimu. Tolong kau jaga istrimu baik-baik Ibu yakin kau akan bertanggung jawab atas keputusan yang telah kau ambil, sekarang Kia adalah tanggung jawabmu," ucap ibu menasehati putranya. "Iya, Bu. Aku mengerti," jawabnya. "Kia sesekali mampirlah ke rumah, jika Ziko sedang keluar kota kau boleh datang ke rumah. Jangan sungkan ya pada Ibu." "Baik, Bu." Hanya itu yang diucapkan oleh Kia, kemudian Ziko pun membawa Kia ke Apartemennya. Sesampainya di Apartemen Ziko langsung membawa Kia ke salah satu kamar. "Ini kamarmu, mulai sekarang tidurlah di sini," ucap Ziko membawa masuk koper Kia, Kia pun ikut masuk ke dalam kamar yang menurutnya sangat besar. Namun, ia bingung saat Ziko mengeluarkan koper lain dan ingin keluar kamar. "Kamu mau ke mana?" tanya Kia memberanikan diri untuk bertanya. "Aku akan tidur di kamar tamu, mulai saat ini kamar ini akan menjadi kamarmu. Walau kita sudah menikah kita akan tidur dikamar yang terpisah, aku harap kau mengerti," ucap Ziko kemudian berlalu meninggalkan Kia sendiri di kamar utama di Apartemen itu. Ada perasaan sakit di hatiku walau ini adalah sebuah perjodohan apakah harus mereka tidur berpisah, sekarang mereka adalah suami istri ada hak dan kewajiban yang harus mereka penuhi. Kia mencoba untuk sabar dan berpikir positif, mungkin Ziko masih membutuhkan waktu untuk mengenal dirinya. Malam hari seperti layaknya seorang istri Kia memasak makan malam untuk mereka. "Aku sudah menyiapkan makan malam, ayo kita makan," ucapnya saat melihat suaminya keluar dari kamarnya. "Kau makanlah, aku sudah ada janji di luar, aku akan makan di luar malam ini," ucap Ziko berlalu begitu saja mengabaikan Kia yang berdiri mematung memandangnya. Kia dengan perasaan kecewa berjalan menuju meja makan. "Oh ya, satu lagi," ucap Ziko membuat Kia langsung berbalik dengan harapan Ziko tak jadi keluar dan akan menemaninya makan, "Mungkin aku takkan pulang malam ini, jadi tak usah menungguku. Tidurlah lebih dulu," lanjut Ziko. Kia hanya senyum terpaksa mengiyakannya. Kia terus melihat punggung Ziko hingga menghilang di balikq pintu. Kia menggigit bibir bawahnya ini adalah malam pertama mereka, bukan pernikahan seperti ini yang diharapkannya. Kia selalu membayangkan malam pertama yang romantis dan penuh cinta, tapi apa yang terjadi sangat jauh berbeda dari bayangan. Kia memegang dadanya, menguatkan dirinya sendiri yang tak tahu harus berbuat apa. "Ayah, doakan Semoga Kia sabar menghadapi rumah tangga ini, Kia akan mencoba menjadi istri yang baik sesuai pesan ayah," lirih Kia yang sudah bisa meraba seperti apa rumah tangga yang akan dijalaninya. Sementara itu di sebuah restoran mewah Ziko dan beberapa temannya merayakan pesta ulang tahun Kiran. Hari ini Kiran kekasihnya merayakan ulang tahunnya yang ke-25, Ziko memberikan hadiah sebuah mobil mewah untuk Kiran. "Sayang terima kasih, aku sangat suka hadiahnya, kamu memang pria yang romantis tahu apa yang setiap wanita inginkan," ucap Kiran mengecup pipi Zico kemudian berlari menghampiri mobilnya yang sudah terparkir di depan restoran tersebut. Ziko sengaja membooking restoran itu khusus untuk merayakan ulang tahun Kiran dan hanya mengundang beberapa teman dekat mereka saja. "Kiran aku sangat mencintaimu apapun akan aku lakukan agar membuatmu bahagia," ucapnya dan langsung mendapat pelukan dari Kiran. Mereka pun menghabiskan malam itu dengan berpesta, Ziko larut dalam kesenangannya bersama Kiran dan teman-temannya. Tak sedikitpun ia mengingat jika ada wanita yang baru saja dinikahinya Sedang sendiri menunggu kedatangannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN