Putra menatap noda merah di sprei itu lama. Ia merasa gila. Mungkin ia memang tidak waras. Bagaimana mungkin ia yang selama ini begitu menjaga diri bisa melakukan hal semacam ini pada seorang wanita. Wanita yang bahkan tidak begitu ia kenal dengan baik. Sahabat dari kekasihnya sendiri.
Gaya pacarannya dengan Devina selama ini sangat sehat. Terlalu sehat malah. Sampai-sampai Devina sering memprotes dan mempertanyakan apakah dirinya normal atau tidak. Jangankan melakukan hubungan sampai sejauh ini. Ciuman saja tidak pernah. Bukan karena ia tak memiliki nafsu. Hanya saja ia ingin menjaga dan melakukannya ketika mereka benar-benar sudah sah sebagai suami istri.
Namun, kiriman foto dan video Devina dengan seorang pria di kamar hotel itu benar-benar membuatnya meradang dan kalap. Di depannya, Devina begitu manis dan penurut. Tapi ternyata semua itu hanya topeng belaka. Perempuan itu tak lebih hanya seorang w************n yang menjijikkan di matanya. Melihat Devina dilirik laki-laki lain saja ia tak rela. Apalagi membayangkan perempuan itu sampai dijamah pria lain.
Bagaimana mungkin amarahnya tidak meledak?
Apalagi sejak kemarin perempuan itu tidak bisa dihubungi sama sekali. Hingga kewarasannya menghilang membuatnya melampiaskannya pada alkohol. Bahkan lebih dari itu, ia melampiaskan kemarahannya itu pada orang yang tidak seharusnya.
Apa yang harus dilakukannya kini? Ia sudah mengambil mahkota berharga seorang gadis? Haruskah ia bertanggung jawab? Tapi mereka melakukannya tanpa paksaan. Putri menerima semua perlakuannya. Bukankah itu artinya mereka mau sama mau? Tidak ada yang dirugikan bukan?
Putra menggeleng frustasi. Bagaimana bisa tidak ada yang dirugikan? Bagaimana masa depannya nanti? Apa suaminya akan menerima apa adanya?
"Bagaimana kalau dia hamil?" Pria itu menggusap wajahnya frustasi. Ini gila! Benar-benar gila!
Dengan kasar ia memasukkan sprei itu ke dalam bak besar, digabungkan dengan rendaman cucian kotor lain. Hatinya terus berperang dan ia nyaris gila memikirkan semuanya.
"Sayang!" Suara manja nan nyaring dari seorang perempuan yang dulu begitu ia cintai itu tiba-tiba terdengar menjijikkan di telinganya.
"Sayang. Kamu lagi ngapain? Kok kamu yang nyuci. Mbak Samidah mana?" Devina memang begitu ia bebaskan selama ini keluar masuk rumahnya. Jadi, perempuan itu biasa datang dan pergi sesuka hati. Bahkan meski ia tak ada di rumah sekalipun.
Putra masih diam, kebingungan dengan apa yang kini ia rasakan. Di satu sisi ia jijik dan benci dengan perempuan di hadapannya kini. Tapi di sisi lain ia pun merasakan hal sama pada dirinya sendiri.
"Sayang ...." Devina mendekat takut-takut. Bukan apa-apa. Ia tahu sudah keterlaluan. Padahal ia sangat tahu bahwa kekasihnya itu paling tidak suka diabaikan. Sedangkan kemarin dengan sengaja ia mematikan data selulernya demi menikmati pesta lajang bersama teman-temannya.
"Sayang. Kamu marah?" Devina mendekat dan memeluk manja tubuh atletis itu. Biasanya semarah apapun Putra. Pria itu akan luluh jika ia sudah bersikap manis dan manja.
"Sayang. Maaf. Kemarin aku kecapekan, terus ketiduran, deh. Aku juga baru sadar kalau handphone aku mati, belum sempat aku charge." Devina mulai mengeluarkan rayuannya. Tapi Putra tak bergeming. Ia justru semakin bertambah jijik dan muak dengan alasan yang Devina berikan.
Ketiduran darimana? Jelas-jelas semalam ia menghabiskan malam dengan Putri di kamar Devina. Lalu perempuan ini ketiduran di mana?
Putra memejamkan matanya frustasi. Ia mengutuk perbuatan Devina tapi di satu sisi ia pun mengutuk dirinya sendiri. Ini sungguh membingungkan. Putra benar-benar merasa gila dengan apa yang ia rasa kini.
"Sayang ...." Devina menarik tubuhnya kecewa. Karena kekasihnya itu diam saja. Pun tak membalas pelukan darinya.
"Pulang, Dev. Aku pengen sendiri." Dengan terpaksa Putra mendorong tubuh ramping yang kini nampak menjijikan di matanya itu. Entah sudah berapa pria yang pernah menjamahnya. Memikirkannya membuat Putra tiba-tiba merasa mual. Bahkan ia enggan untuk melihat wajah cantik Devina yang dulu begitu dipujanya itu.
"Dev?" Kekecewaan Devina bertambah. Ketika Putra memanggilnya dengan nama, itu artinya pria itu sedang marah besar kepadanya.
"Sayang. Aku minta maaf." Wanita itu tak berputus asa. Ia menyusul pria itu dan memeluknya dari belakang. Tak lupa dengan jurus andalannya. Putra paling tidak tahan jika melihatnya menangis. Selama ini begitulah pola yang sering ia mainkan untuk membuat Putra memaafkannya dan selalu berhasil.
"Lepas." Putra sudah sekuat tenaga menahan amarahnya. Karena kalau tidak, ia tak yakin bisa menjaga tangan ataupun mulutnya untuk tidak bicara kasar.
"Nggak mau. Sebelum kamu maafin aku, aku nggak akan lepas," ujarnya keras kepala.
"Lepas, Dev. Sebelum aku bersikap kasar sama kamu." Ancaman itu terdengar tak main-main.
"Tapi jangan marah," rajuknya dengan nada manjanya yang memuakkan di telinga Putra.
Wanita itu menganggap ancaman Putra hanya sekedar gertakan saja. Hingga ketika pria itu benar-benar melepas jeratannya dan mendorongnya kasar hingga terjatuh. Wanita itu benar-benar shock bukan main dibuatnya.
"S-sayang ...." Mata Devina seketika berembun. Tak menyangka Putra yang selalu lembut dan memujanya itu bisa melakukan hal semacam ini padanya.
"Jangan menguji kesabaranku, Dev." Pria itu meraup wajahnya kasar. "Sumpah. Aku nggak bisa lanjut lagi. Kita selesai sampai di sini," ujarnya kemudian dengan wajah memerah menahan amarah.
"S-selesai?" Devina bangkit dengan susah payah. Karena kakinya menggunakan heels yang cukup tinggi. "Maksudnya gimana, Sayang? Aku nggak ngerti. Sebentar lagi kita menikah. Apanya yang selesai?"
"Pernikahan kita batal," jawab Putra dingin. Enggan menatap wajah cantik bertopeng itu.
"Batal gimana, Sayang? Aku salah apa sama kamu? Selama ini aku selalu nurut apapun yang kamu bilang. Aku jauhi teman-temanku cuma buat kamu. Sekarang kamu tega begini sama aku." Air mata Devina berhamburan. Ia tidak sanggup kalau Putra sampai meninggalkannya.
"Salah apa? Kamu masih tanya salah kamu apa?" Putra mulai murka. Rahangnya mengeras, menunjukkan betapa marah dan kecewanya ia saat ini.
"Tunggu di sini. Aku akan tunjukkan di mana letak kesalahan kamu." Setelah selesai bicara. Pria itu menuju ke kamarnya. Ia sengaja meminta untuk Devina tidak mengikutinya. Karena ia tidak ingin perempuan itu sampai menginjakkan kaki di ruang pribadinya. Tidak akan ia ijinkan.
Sementara itu Devina mulai cemas. Firasatnya buruk dan pikirannya mulai menduga-duga. Jangan-jangan Putra mengetahui kegilaannya di luar yang selama ini ia lakukan diam-diam.
"Nggak mungkin. Nggak mungkin Putra tahu," gumamnya mencoba menenangkan diri. Tapi jikalau pun dugaannya benar. Putra pasti akan memaafkannya. Karena pria itu cinta mati padanya.
Sayangnya, sepertinya kesalahannya kali ini tak bisa ditolerir lagi. Itu terbukti dengan sikap kasar Putra yang melempar lembaran foto tepat ke wajahnya. Tidak hanya satu tapi ada banyak dan lemparan itu begitu menyakiti.
Wajah wanita itu pias ketika tangannya berhasil meraih satu lembar foto yang menampilkan dirinya dan Dewa yang masuk ke sebuah hotel. Ia segera mengambil lembaran foto yang lain dan menemukan banyak fotonya yang menggila di klub malam bersama teman-temannya. Di antaranya ada pose yang cukup intim dengan beberapa teman prianya.
"Kamu sudah ingat salah kamu di mana, kan?" Pria itu begitu dingin. Tidak ada ekspresi apapun selain marah dan marah. Tanpa Devina tahu, bahwa di saat yang bersamaan Putra pun sedang marah pada dirinya sendiri.
"S-sayang. Aku bisa jelasin. I-ini nggak seperti yang kamu pikir. Aku cuma ...." Mulut Devina seketika bungkam. Ketika tiba-tiba Putra melempar satu foto pamungkas yang membuatnya tak bisa lagi menyangkal perbuatannya.
"S-sayang ini bukan aku." Sanggahan demi sanggahan dari mulut Devina benar-benar membuat Putra muak. Entah bagaimana bisa ia cinta setengah mati pada wanita bermuka dua seperti Devina.
"Dengan bukti sebanyak ini kamu masih mau menyangkal?" Putra tersenyum sinis. "Apa perlu sekalian aku kirim video m***m kamu sama selingkuhan kamu itu ke keluarga besar kita?" Pria itu mulai lepas kendali dan bicara dengan nada tinggi.
"J-jangan, Sayang. Maaf. Sumpah aku khilaf. Malam itu aku mabuk." Devina berusaha merangsek maju dan merayu. Sayangnya, segala sanggahan Devina sebelumnya. Benar-benar sudah membuat seorang Putra sulit percaya. Belum, pria itu juga berperang dengan kesalahannya sendiri.
"Khilaf itu cuma sekali, Dev." Putra mengangkat tangannya. Memberi tanda supaya Devina tidak melewati batasnya.
"Aku juga cuma sekali melakukannya, Sayang. Please ... maafin aku. Aku berani sumpah. Malam itu aku cuma khilaf karena mabuk." Devina mengindahkan peringatan Putra dan tetap maju memeluk tubuh pria itu. Ia tidak mau kehilangan pria sebaik Putra yang selalu memperlakukannya bak seorang ratu.
"Lepas, Dev." Tangan Putra mengepal erat. Matanya memejam kuat. Ia benar-benar harus menahan diri. Bagaimanapun ia seorang pria dan tak ingin mengotori tangannya dengan memukul seorang wanita.
"Aku nggak mau. Aku nggak mau pisah. Percaya aku ... aku benar-benar khilaf." Tangis Devina pecah. Wanita itu tergugu. Ia menyesali perbuatannya yang telah melampaui batas akhir-akhir ini.
"Lepas. Atau aku akan bongkar kelakuan kamu ke keluarga besar kita," ancam Putra dingin. Dulu, ia akan cepat luluh ketika Devina sudah meneteskan air mata. Tapi kini hatinya seolah sudah mati rasa.
"Kita selesai sampai di sini. Aku sudah nggak bisa percaya kamu lagi." Putra melepas paksa pelukan Devina. Tidak peduli tangis wanita itu kian sesenggukan karena keputusannya.
"Kamu paling tahu seperti apa aku, Dev. Kesalahan kamu fatal. Aku nggak bisa ...." Pria itu melangkah ke depan, membukakan pintu untuk Devina.
"Dan asal kamu tahu, Dev. Semalam aku ke aparteman kamu." Putra menjeda kalimatnya. Kembali teringat dengan dosa yang telah ia lakukan sendiri. "Dan kamu bilang kamu ketiduran. Kamu ketiduran di mana?" Pria itu bertanya tanpa menoleh sedikit pun ke wajah yang seakan korban paling tersakiti itu.
"Aku ketiduran di tempat Put ...." Kalimat Devina terhenti. Ia baru teringat kalau semalam Putri ia minta datang ke apartemennya untuk mengerjakan tugas kuliahnya.
"Putri?" Kali ini Putra berbalik. Tapi ia sendiri tak yakin seperti apa rupa wajahnya kini ketika menyebut nama wanita yang semalam menyerahkan kehormatannya pada dirinya itu. "Kamu menginap di tempat Putri di saat Putri menginap di apartemen kamu. Apa itu masuk akal, Dev?"