Exel masih berkutat dengan layar komputer di depan, rasa lelah berujung pada kebosanan. Ia lalu mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja kerjanya. Sesekali ia memeriksa apakah ada panggilan atau pesan yang masuk. Tok tok tok Suara ketokan pintu membuyarkan lamunannya, seorang laki-laki berjas masuk membawakan sebuah undangan. "Apa ini?" tanyanya dengan raut wajah bingung saat menerima amplop coklat yang diberikan padanya. "Sepertinya itu undangan pesta, Tuan," jawabnya Exel lalu mengambil undangan itu dan membukanya dengan kasar. Raut wajah Exel berubah setelah melihat nama yang tertera di undangan pernikahan itu. Remasan tangan Exel menguat bersamaan dengan amarah yang ada pada dirinya. Dengan kasar ia membuang begitu saja ke lantai . "KELUAR SEKARANG!" perintahnya pad

