“Sean…” Canggung dicampur debaran jantung menggila dan keinginan tidak waras di dalam otak keduanya menjadi gambaran perasaan Sally juga Sean saat ini yang tengah saling menatap dengan jarak sedekat ini. Kejadian ciuman panas mereka sepuluh tahun lalu seketika melintas dalam benak keduanya lagi. Dorongan dalam desiran darah Sean untuk memajukan wajahnya dan mengecup lagi bibir Sally semakin menjadi, bekerja dalam satu perusahaan dan hampir bertemu setiap hari membuat rasa benci Sean terkikis dikalahkan oleh rasa cintanya pada Sally. Namun keinginan itu pupus ketika Sally menunduk dan menoleh berlawanan arah dengan Sean membuat pria itu terlihat kecewa. Sikap sederhana Sally dianggap sebagai penolakannya kepada Sean dan hal itu membuat Sean kecewa lalu kembali pada mode dingin dan datar

