“Berengsek!!” Saking kesalnya aku sampai mengumpat sendiri memukul meja kerja. Gara-gara ulah Liana membuat Sally jadi berpikiran buruk dan memutuskan hubungan kami yang baru saja baikan. Entah disengaja atau tidak tetap saja perbuatan Liana sudah melewati batasan dan aku tidak mungkin menyalahkan kemarahan Sally. Liana adalah anak dari teman papa ku. Dia datang kemari sebagai perwakilan perusahaannya untuk meeting bersamaku dan Mark juga divisi keuangan membahas proyek kerja sama antar dua perusahaan. Awalnya gadis yang memang sering kali mengaku sebagai pacarku di Amerika bersikap professional membahas proposal kami satu per satu. Sampai meeting selesai, dia masih bertahan di ruanganku dengan alasan sedang menunggu jawaban kantor mengenai poin yang kami batalkan di dalam proposal mer

