Bab 7. Suara Itu Lagi

1786 Kata
Jantung Sally berdebar tidak karuan. Hidupnya sudah penuh dengan ketidak adilan tapi kenapa memilih suami pun ia tidak berhak. Takdir macam apa ini yang membuatnya harus menikahi pria berwajah penuh bekas luka bakar yang ternyata adalah papa dari Sion. Sally berusaha berdiri meskipun lututnya terasa lemas. Pemuda itu menghampirinya dan mengulurkan tangan. “Namaku Ben.” Ucap pemuda itu menatap Sally dengan suara beratnya terus menatap wanita dihadapannya itu. Sally mendongak menatap kedua netra hitam Ben yang juga terkesima menatap dirinya. Apalagi ini, kenapa mata dan suaranya mirip sekali dengan Sean. Kutukan macam apa ini sampai-sampai kebencian Sean terus menempeli dirinya. “Hem… Hem…” Karena Sally tidak menjawab hanya berdiri mematung, Briana pun berdeham sengaja memberi tanda. “Sa-Sally.” Aku Sally. “Dia Miss Lili gurunya Sion, Pah.” Ujar Sion melompat bersemangat kegirangan karena keinginannya tercapai. Merasa ditatap curiga oleh Ben terlebih lagi beberapa hari lalu dia sempat berlaku tidak sopan pada papa Sion membuat Sally gelagapan. “Nama saya Sally tapi biar mudah diingat saya bilang ke Sion untuk memanggil saya Miss Lili. Oma juga tahu kok.” “Iyah betul, tapi karena Mama lupa nama aslinya cuma ingatnya Lili.” Ucap Reina membalas ucapan Sally. Dalam keluarga Sally hanya Briana dan Dania yang tersenyum bahagia melihat pemandangan yang tengah terjadi diantara mereka saat ini. Sedangkan Carol dan Raka sendiri nampak menyembunyikan kesedihan mereka meskipun tidak berani cemberut takut kena amuk Briana lagi dan akhirnya Raka akan terkena akibatnya. Jangan ditanya bagaimana perasaan Sally saat ini melihat wajah pemuda yang akan dijodohkan dengannya. Pantas saja Dania tidak bersedia dijodohkan dengan anak dari konglomerat ini, ternyata pemuda ini memiliki kekurangan dari fisiknya. Di wajahnya terdapat dua guratan bekas luka bakar bahkan hampir menutupi pipi juga bibirnya. Mungkin bagi Dania sosok pria dihadapan Sally saat ini layaknya seorang manusia berwujud monster menyeramkan. Namun saat mata Sally menatap mata Ben, entah mengapa jantungnya mulai menggila sampai lupa seperti apa wajah pria itu. “Jadi kamu mau kan menikah sama Ben, Sal? Meskipun kekurangannya secara fisik tapi Ben ini pewaris beberapa perusahaan Pak Samuel. Dia juga mulai punya perusahaan sendiri loh.” Ucap Briana tanpa memberi kesempatan Sally untuk mundur namun setiap ucapannya barusan tidak ada sedikitpun hal-hal yang mampu menggugah hati Sally karena yang dibahas hanyalah materi keluarga Ben saja. Bola mata Briana melotot setelah berdeham untuk kedua kalinya mengultimatum Sally supaya cepat-cepat memberikan jawabannya. “Iyah, aku mau nikah sama Ben.” Masih menatap mata Ben seolah sedang meluapkan kerinduannya pada tatapan mata itu. Papa Sion juga menatap mata Sally dengan perasaan yang sulit diungkapkan. Ben tercengang mendengar jawaban Sally yang langsung setuju. Katakanlah otak Sally sudah tidak waras, tapi mata itu seolah menghipnotis kesadarannya. Mendorong jiwa yang merindu seakan bertemu dengan pandangan yang selalu ia nantikan. “Terima kasih kamu mau menerima putra kami jadi calon suami kamu, Sal. Betul apa yang dikatakan orang-orang kalau putri bungsu Pak Raka ini memang hatinya seperti malaikat.” Ucap Pak Samuel tersenyum lega. Sedangkan Dania nampak merengut seolah tersindir dengan penuturan calon mertua Sally itu karena mereka tahu Dania menolak perjodohan ini setelah melihat wajah Ben dari foto pemberian Reina pada mamanya. “Kalau begitu, kita bisa bicarakan masalah mahar kan, Pak.” Seru Briana tidak sabaran. “Soal itu biar jadi urusan Ben dan Sally saja. Sebagai orang tua, kami mengerti kalau Ben dan Sally harus mengenal satu sama lain lebih dulu. Mungkin tahun depan baru kita langsungkan pernikahan mereka. Minggu depan kita datang kesini lagi untuk mengikat Sally sebagai tunangannya Ben.” Ucap Reina, ibu dari Ben yang langsung menangkap isi hati Briana. Briana mendengus sedikit tidak suka dengan ide dari orang tua Ben itu, sepertinya ia harus lebih bersabar untuk mengeruk harta keluarga Ben. Kalaupun memungkinkan dirinya juga rela dijadikan istri kedua Pak Samuel. Lihat saja kelakuan Briana setiap kali bertatapan mata dan senyuman manisnya dengan papa Ben, terlihat jelas sedang memancing perhatian pria paruh baya itu. “Kalau begitu kita pamit dulu.” Ucap Reina yang menangkap gelagat Briana dan membuatnya kesal. Ben menatap Sally kembali. “Boleh minta nomor kontak kamu? Biar kita bisa chat saling kenal?” Sally mengangguk namun tersadar akan sesuatu. “Harusnya Bapak sudah punya kan?” “Iyah saya lupa.” Ujar Ben sambil menggaruk tengkuknya juga merasa kikuk mengingat kejadian tidak menyenangkan waktu itu. “Yeay… Miss Lili jadi mama aku.” Seru Sion yang sedari tadi sudah menahan diri meluapkan kegembiraannya. Ben tersenyum membungkuk dan menggendong Sion yang melingkarkan kedua tangan di lehernya. “Papa janji yah Miss Lili jadi mamanya aku.” Ujar Sion memastikan kalau keinginannya akan benar-benar terwujud. “Hem, nanti kita kemari lagi buat melamar Miss Lili.” Jawab Ben. “Antar calon suami kamu ke depan, Sal.” Perintah Briana kemudian melangkah mendekati Reina dan Samuel. “Terima kasih sudah mau menerima putri kamu jadi menantu di keluarga kalian.” “Iyah.” Setelah Ben dan para tamu pulang, Carol langsung menghampiri putrinya. Wajahnya jelas sekali tidak terima putrinya harus menikahi pria dengan wajah penuh luka bakar itu. “Kamu yakin mau nikah sama, Ben?” Briana yang baru saja masuk dan mendengar pertanyaan Carol langsung naik emosinya. “Hei! Jangan coba-coba menghasut putrimu untuk tidak jadi menikah! Bagus ada konglomerat yang masih mau nerima perempuan rendahan kayak anakmu itu!” Kemudian Briana mendekati Sally tersenyum seraya mengusap lengan Sally dengan lembut, berbeda sekali dengan sikapnya Briana sebelum ini. Jelas saja karena mulai sekarang Sally adalah pohon uangnya. “Sally sayang, Mama suka kamu menurut. Kamu tidak akan menyesal menikah dengan Ben. Muka rusak bisa dioperasi lagi kan, jadi kamu ngak usah khawatir.” Kesal mendengar ucapan Briana, Carol akhirnya meluapkan kekesalannya. “Kalau pikiran Kak Bri seperti itu, kenapa ngak Dania saja yang dijodohkan dan Viko bisa kembali sama Sally. Ben punya banyak uang, ajak saja operasi plastik, beres kan.” “Ma...” Sally mengusap punggung Carol yang benar-benar tidak terima dengan nasib putrinya. “Heh, Tante tahu diri dong. Aku sama Ben itu jelas ngak selevel. Udah jelek, pakai bajunya norak. Mana mungkin aku gandeng cowok cupu begitu kemana-mana! Ngak level banget.” Seru Dania ketus sama sekali tidak memperlihatkan rasa hormatnya pada Carol. Sedangkan Raka tidak bisa berbuat apapun, ia hanya bisa menatap sedih nasib putri sambung yang sudah dianggap sebagai putrinya itu. Andai saja dia masih sekuat dan sebugar dulu tentu saja semua ini tidak akan terjadi. Setidaknya walaupun keluarganya membenci kehadiran Carol dan Sally tapi dia masih bisa melindungi mereka berdua dari kekesalan Briana ataupun almarhum orang tuanya dulu. “Udah ngakpapa, Mah. Aku capek mau mandi dulu yah. Aku ke kamar dulu, Papa Raka juga mesti istirahat.” Sebelum Sally masuk ke dalam kamarnya, ia mengusap bahu Raka. Meskipun ia tahu Raka bukan ayah kandungnya namun Sally sudah menganggapnya seperti papa kandungnya sendiri dan rela berkorban untuk Raka. Tanpa pria ini, mungkin dirinya dan sang mama akan menjadi gembel jalanan. Sally, Raka dan Carol selalu makan malam di dapur di tempat berbeda dengan Briana dan Dania. Mereka dilarang menyentuh meja makan mewah bertatahkan marmer murni itu sejak Raka sakit. Hanya kalau ada tamu yang datang atau orang kantor yang menjenguk Raka, mau tidak mau Bri mengijinkan suaminya di sana. Carol dan Raka tidak hentinya menatap wajah putrinya yang memberikan raut wajah datar seolah tidak terganggu sama sekali dengan perjodohannya. Setelah Briana dan Dania pergi meninggalkan suami dan istri mudanya barulah Carol mendekati putrinya lagi berusaha membujuk. “Sal, kita masih bisa pergi dari sini. Uang tabungan Mama masih cukup buat kita ngontrak rumah. Papa juga keberatan kamu dijodohkan sama Ben. Kamu masih bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik lagi dari Ben. Iya kan?” Ucap Carol lalu menoleh pada suaminya yang juga mengangguk. Sally tersenyum menanggapi kekhawatiran sang mama. “Aku ngakpapa kok, Mah. Lebih baik menikah dengan pemuda seperti Ben yang punya kekurangan daripada menikah dengan pria yang hanya melihat perempuan dari fisiknya saja.” “Kamu yakin Ben itu orangnya baik? Kalian juga baru ketemu tadi kan. Jangan bilang karena mata dan suaranya mirip dengan Sean.” Tebakan Carol benar sekali langsung mengena pada sasaran. Hal yang sama dirasakan Sally saat menatap mata Ben dan mendengar suaranya meskipun suara Ben lebih berat dari suara Sean. “Mama juga merasa sama yah sama pikiranku?” “Hem…” Melihat sikap putrinya, Carol tahu kalau ucapannya benar. “Jangan jadikan Ben sebagai pelampiasan cinta kamu dari Sean, Sal. Kalau memang kamu memilih Ben, Mama harap kamu juga menerimanya sebagai seorang Ben dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Bukan karena obsesi kamu karena penasaran sama Sean.” Sally tersenyum menanggapi penuturan dan dapat merasakan kekhawatirannya. “Mama sama Papa jangan khawatir. Aku ngak kenapa-napa kok. Waktu lihat Ben, berasa nyaman aja terlepas dari mukanya yang terkena luka bakar. Kan Tante Bri juga bilang bisa bawa Ben nanti operasi plastik buat nyembuhin luka nya dia. Lagian juga baru tunangan, nikahnya masih setahun lagi. Masih ada kesempatan buat saling kenal dulu. Kita ngak akan pernah tahu setahun lagi nasib kita bakal gimana kan, Mah.” Carol nampak menghela nafas masih belum ikhlas menerima keputusan putrinya. Namun Sally sudah dewasa dan ia hanya bisa menasehati putrinya, segala keputusan ada ditangan Sally. Carol percaya kalau Sally bukanlah gadis yang bisa membuat keputusan seenaknya tanpa berpikir jernih. Di dalam kamar tidurnya, Sally melihat sinar di layar ponselnya berkedip tanda pesan masuk. Sambil bersandar ia melihat pesan yang masuk. “Maaf karena pernah berpikir buruk sama kamu waktu itu.” “Iya.” Setelah itu Ben tidak lagi mengirim pesan balasan. Sally memandang ke atas lanit-langit kamarnya, pikirannya berkelana memikirkan kisah masa lalunya dengan Sean. Tidak banyak namun setiap hal yang sempat dilaluinya bersama Sean selama setahun begitu berarti dan masih jelas teringat. Ia mengangkat tangan kirinya, mengusap gelang yang sudah lama melingkat di sana. Tanda mata terakhir dari Sean saat mereka resmi berpacaran dulu. Sally mengambil ponsel miliknya kemudian dengan kesadarannya ia memotret tangan kirinya dengan langit-langit kamar sebagai alasnya. Kemudian ia memasukkan foto tersebut dalam sosial media miliknya dengan tulisan ‘Andai waktu boleh diulang kembali, mungkin aku akan meminta kejadian yang berbeda.’ Kemudian ia memasukkan lagu Dan Lagi yang dinyanyikan oleh Indra Sinaga dari grup Lyla. Air mata Sally jatuh kembali terbuai oleh kata-kata dalam lirik lagu tersebut. Seakan menyiratkan kata yang terpendam darinya untuk Sean. Haruskan dirinya berhenti menanti sampai disini, meskipun hatinya masih tidak mampu untuk menghempas nama Sean dari situ. Tangisan dalam diam Sally terusik dengan suara dering ponselnya. Tanpa berniat melihat siapa yang menghubungi, Sally langsung menggeser tombol hijau mengangkatnya. “Halo.” “Sally, kamu kenapa?” Mata Sally membola mengangkat tubuhnya karena terkejut dengan suara di balik ponsel yang ajaibnya suara itu sedang mengobati kerinduannya. ‘Sean!’ Ia mematung dengan detak jantung menggila seakan sosok Sean ada di balik suara itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN