Bab 12. Karyawisata

1648 Kata
Mana pernah Sally menduga kalau pemuda beraura dingin bak kulkas namun tampan itu ternyata sekonyol dan seabsurd itu, saking gilanya sampai nekat membuat nama kontak di ponsel Sally dengan nama my boy friend. Otak siapa yang tidak langsung konslet dan jadi panik meskipun akhirnya sumringah saat tahu yang menghubunginya dengan nama kontak berlebihan itu adalah Sean. "Kan memang aku boy friend kamu, ngerti bahasa Inggris kan coba diartikan ke bahasa Indonesia nya deh." Jawab Sean dengan entengnya tanpa merasa bersalah, lebih tepatnya pura-pura polos disengaja. Merasa terjebak dengan respon Sean, rasa malu gadis itu semakin menjadi. Emosinya juga naik karena Sally sedang kesal dengan kelakuan kakak tirinya tadi ditambah kelakuan konyol Sean yang sedang tidak tepat waktu. “Loh, kok malah diam. Coba diartiin, perlu aku kirim kamus?” Goda Sean bahkan terdengar suara kekehan pria itu dan membuat mood Sally semakin kesal saja terdengar dari deru nafasnya di telinga Sean. "Teman laki-laki. Udah puas!" "Puas banget lah. Lagian benar kan, Aku ini laki-laki bukan perempuan, kalau perempuan namanya girl friend dong." Suara tawa puas Sean terdengar kencang ditelinga Sally yang semakin kesal dengan ledekan Sean. “Tapi aku ngak suka, aneh banget kalau sampai dilihat orang lain. Lagian kalau semua aku kasih nama my boy friend my girl friend yah bingung bedain siapa saja. Ternyata otak kamu suka ngak sampai juga yah mikirnya. Aneh!” “Kenapa aneh? Buat aku tidak perlu punya banyak teman asal pertemanannya tulus dan aku menganggap kamu teman special lagi pula memangnya HP kamu biasa pindah tangan?” Cecarnya masih terdengar tawa renyah yang membuat Sally terpancing mengulum senyuman seolah tawa itu menular. “Yah ngak gitu. Hais, terserah deh. Ternyata kamu aslinya nyebelin banget yah, Sean.” Tidak lagi memakai sebutan kak padanya. “Rambut kamu setiap hari harus dikuncir kuda yah?” “Situ keberatan? Yang punya rambut aku kok.” “Kalau tanya aku iyah, aku keberatan kamu dikuncir. Cantiknya kelihatan dan menggoda murid cowok lainnya juga.” Ujar Sean dibalik sana membuat kening Sally tertekuk tidak mengerti apa hubungannya antara rambutnya yang dikuncir dengan menggoda murid di sekolah. “Ngaco ih. Ngak ada yah hubungannya kesana, otak kamu aja yang bengkok.” Percakapan satu jam dengan ekspresi berganti-ganti mulai dari Sally yang dibuat kesal karena terus-terusan digoda Sean sampai gelak tawa mereka berdua saling bercanda, membuat penat Sally memudar setelah pembicaraan tanpa arti itu. Hampir satu jam mereka mengobrol dan Sean terpaksa menyudahi karena dia dipanggil mamanya yang ingin meminta tolong. Sejak malam itu, hampir tiap hari Sean menghubungi Sally dan mengobrol lama setiap malam. Tapi anehnya sifat Sean akan kembali dingin, cuek dan menjaga jarak jika Sally bertemu dengannya di sekolah. Bahkan terlihat seperti orang yang tidak terlalu akrab. Seolah latah dalam berteman ternyata Mark sedang mendekati Ceri yang adalah sahabat Sally. Mark memang sudah menyukai Ceri sejak gadis itu masih duduk di bangku SMP. Melihat gelagat sahabatnya sedang mengincar teman baik Ceri maka Mark berinisiatif untuk maju mendekati Ceri dengan sering mengajaknya makan bersama di jam istirahat sekolah. Bak gayung bersambut, Ceri yang juga menyukai Mark menerima ajakan pemuda itu dan hal ini membuat Sean juga Sally sering duduk semeja ketika istirahat sekolah karena Ceri memaksa minta ditemani Sally begitu juga dengan Mark yang memaksa Sean menemaninya makan dengan Ceri dan Sally. Melihat Sean tidak memberikan protes meskipun temannya itu diam saja, Mark menganggap Sean tidak keberatan. Seminggu saling mengenal lewat obrolan mereka setiap malam, Sean mulai memahami makanan dan minuman Sally setiap hari di sekolah. Pernah sekali waktu kelas Sally terlambat keluar istirahat, Sean sampai rela diledek oleh Mark karena dengan percaya dirinya Sean sudah memesankan makanan dan minuman untuk gadis itu sehingga Sally tidak perlu tergesa-gesa makan. Diperlakukan manis dan seringnya mereka mengobrol di malam hari membuat prinsip Sally tentang hal berpacaran mulai runtuh. Dengan kesadaran penuh Sally memantapkan hatinya untuk menyukai Sean, karena ia merasa diperhatikan oleh Sean disekolah walaupun terlihat dingin ternyata mata Sean selalu memperhatikan gerak gerik Sally. Namun gadis itu tidak berani berharap lebih dan hanya menganggap Sean merasa nyaman dengannya melihat di kelasnya ada perempuan yang juga bisa dekat dengan pemuda itu. Semester 1 berlalu, SMA di sekolah mereka akan mengadakan pariwisata bersama untuk seluruh tingkatan kelas. Biasanya acara karyawisata ini disukai dan dimanfaatkan oleh siswa sekolah yang sudah berpacaran, karena mereka bisa duduk di bus berdua atau meluangkan waktu berduaan di tempat karyawisata. Para guru tetap mengawasi selama mereka yang berpacaran masih dalam batasan wajar dan tidak berlebihan. Murid kelas 3 diminta untuk menjaga murid kelas 1 dan 2. Kebetulan kelas Sean mendapat tugas menjaga sebagian siswa siswi dari kelas Sally. Tentu saja Ceri dan Mark yang baru saja jadian merasa senang sekali karena keduanya akan leluasa berduaan. Begitu juga dengan Sean dan Sally, walaupun status mereka hanya teman dan mereka hanya bicara melalui HP setiap malam namun ada ikatan yang mulai terjalin diantara mereka berdua meskipun tanpa status pacarana yaitu rasa nyaman. Setelah para guru panitia selesai memberikan arahan mengenai karyawisata hari ini di kelas masing-masing, Sally berdampingan dengan Ceri berjalan menuju bus. Sedangkan Sean dan Mark memilih berjalan dibelakang para gadis meskipun tetap menjaga jarak. Mira, gadis yang terang-terangan menyukai Sean merasa kecewa sekaligus kesal karena harapannya untuk bisa menghabiskan waktu bersama Sean di dalam bus pupus karena Sean lebih memilih Mark dan berjalan bersama Sally juga Ceri. Mark yang menjabat panitia langsung memanfaatkan kesempatan untuk mengatur siswa yang tergabung dalam kelompoknya. “Kenapa harus dipisah-pisah sih! Kita kelas tiga IPA semua kan harusnya yah barengan lah jagain kelas satu dua. Ngak perlu dipencar-pencar begini.” Ucap Mira yang tidak senang. Jiwa cemburu Mira timbul sejak menyadari tatapan Sean yang sering memperhatikan siswa baru yang cukup menjadi pujian para kaum Adam di SMA mereka ini. Terlebih lagi kebersamaan Sean dan Sally di sekolah sudah bukan lagi gossip belaka meskipun keduanya selalu terlihat menempel bersama Mark juga Ceri. “Penyalahgunaan jabatan namanya.” Lagi-lagi Mira mencecar dengan wajah sengitnya. “Kalau mau protes sama wali kelas saja sana, loe keberatan ngak usah pergi lah. Ribet banget jadi murid diatur! Malu sama umur, udah kelas tiga lagak kayak anak SMP!” Bukannya Mark ataupun Sean yang membalas melainkan ketua OSIS mereka yang kebetulan sefrekuensi dengan Mark menjawab ketus protes Mira. Begitu juga dengan John yang menjadi panitia ikutan protes dikelasnya karena tidak diberi kesempatan memilih anggota kelompok siswa yang akan dijaganya. Namun dia juga mendapatkan jawaban yang sama bahkan kena tegur wali kelasnya. Ketika tiba di area wisata, para siswa langsung diarahkan ke pendopo besar untuk menikmati makan siang mereka sebelum melanjutkan kegiatan bersama. “Sally dan Ceri tolong bantu panitia mengambil konsumsi yah.” Ujar panitia bagian konsumsi. “Iyah, Kak!” Mira sengaja menarik kursi Sally yang sedang mendapat tugas membantu mengambil konsumsi dan dibagikan ke kelompoknya. Gadis itu tidak menyadari kursinya sudah dipindahkan oleh Mira sedang siswa dikelompoknya tidak berani mengadu karena pelototan mata Mira yang mengancam mereka. Ceri sendiri tidak memperhatikan waktu sampai duluan, begitu meletakkan makanan di atas meja dia langsung pergi ke toilet ditemani oleh Mark tentunya. Sean yang baru saja kembali setelah dipanggil wali kelas melihat hal itu. Tanpa menegur ia menarik kursi itu dan mengembalikannya semula tanpa sepengetahuan Sally. Setelah meletakkan makanannya gadis polos itu kemudian duduk tanpa memperhatikan ke belakang membuat teman sekelompoknya mengulum senyum tidak kuat melihat sikap Sean yang dinilai mereka sebagai karakter pria sejati.. Kemudian Sean sengaja menghampiri Mira dan membuat gadis itu tersipu malu mengira Sean akan memintanya makan siang bersama. Namun Sean malah mengambil kursi yang tadinya diduduki Meri kemudian memberikan tatapan menusuk padanya. “Ngak butuh kursi kan? Aku lihat tadi kamu mengangkat kursi kelompokku jadi aku ambil disini karena kami kekurangan kursi.” Kemudian berlalu tanpa mempedulikan reaksi Mira setelahnya. “Ish, nyebelin banget sih! Sean!” Gerutu Mira tidak berani berteriak takut mengundang perhatian guru. Dipikirnya Sean tidak berani mengadukan perbuatannya pada guru panitia. Sedangkan Sally yang melihat Sean membawa kursi malah mengernyit tidak mengerti. “Kenapa bawa kursi, Kak? Kan sudah cukup.” “Cadangan, suka ada dedemit nyolong kursi di tempat ini. Makanya kamu harus hati-hati.” Jawab Sean enteng dan berhasil memecah tawa teman-teman sekelompoknya. Sedangkan Sally yang tidak mengerti maksud Sean dan tawa teman-temannya hanya mengernyit kemudian menatap sebal menganggap otak pria tampan itu bengkok lagi. “Gendeng!” Sepanjang acara karyawisata sekolah mereka baik Sean ataupun Mark tidak meninggalkan dua gadis pujaan mereka hanya Mark yang sesekali bolak balik. Meskipun tidak menyolok tetap saja Mira tidak suka melihat keakraban Sean dengan anak kelas satu itu apalagi sudah dia sudah beberapa kali memergoki Sean terkekeh bersama Sally disepanjang kegiatan. “Beneran deh loe jadi ngak enjoy, Mir kalau mata sama fokus loe cuma ke mereka. Biarin aja sih…” Ujar Abel yang dekat dengan Mira. “Dasar anaknya aja kegatelan, Bel. Pasti tuh anak gencar banget dekatin Sean sok dekat, sok kenal mentang-mentang sohibnya juga jalan sama Mark.” “Tapi loe jadi ngak fokus sama kegiatan kita, Mir. Ingat kita kemari bukan cuma jalan-jalan tapi ada tuga yang harus kita buat soal kegiatan kita disini.” “Ah! Bodo amat, ngak peduli. Ada loe ini, Bel.” Kemudian Mira berlari ke arah Sally juga Sean yang sedang berbalik badan mengabsen kelompoknya sebelum pulang. “Minggir gua mau lewat!” Seru Mira sengaja menabrak lengan Sally yang berdiri paling belakang. “Aww!” Sally yang tidak siap didorong, kakinya spotan mundur beberapa langkah ke belakang tidak seimbang. Dengan cepat Sean berlari menangkap lengan Sally, sayangnya karena sedikit panik tangan Sean mencengkram lengan Sally menahannya agar tidak sampai jatuh dan tangan satunya lagi menahan bahu Sally membuat posisi Sally berada di bawah kukungan kedua tangan Sean. “Cie… Ah so sweet banget.” Ledek murid-murid lainnya. “Kamu ngakpapa kan?” Tanya Sean dengan nafas menderu menatap Sally. “Ngak, aku ngakpapa. Ehm, boleh dilepas tangannya aku mau berdiri.” Pipi Sally merona merah, siapa yang tidak akan malu-malu kalau posisinya sevulgar ini di depan orang banyak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN