Bab 2. Memaksakan Perjodohan

1809 Kata
10 Tahun kemudian. “Kapan kamu akan muncul dan mengatakan salahku, Sean.” Hidup itu tidak adil. Itulah yang dirasakan oleh Sally, gadis yang berusia 25 tahun. Ia tidak pernah memilih untuk bisa dilahirkan dalam keluarga berantakan ataupun keluarga harmonis. Bahkan dalam nalar pikirannya yang kini sudah berusia dewasa, segala hal yang terjadi dalam hidupnya pun bukanlah kesalahannya. Jatuh cinta dan disambut dengan balasan perasaan yang sama membuat Sally jatuh sejatuhnya pada kakak kelasnya bernama Sean. Namun mana disangka kalau ternyata pria itu meninggalkannya pergi begitu saja, masih belum seberapa nyatanya kepergian Sean justru menorehkan luka yang begitu dalam karena mereka sempat berdebat oleh Sean yang marah besar kepadanya. Itu baru masalah cinta, ternyata peliknya masalah hidup Sally bukan hanya soal cinta namun dalam keluarganya pun ia tidak pernah mengalami kehangatan sebuah keluarga. Dijuluki sebagai anak dari perusak rumah tangga orang sudah biasa ditelan oleh hati Sally sendiri. Mama Sally ditinggal mati oleh suaminya kemudian jatuh cinta pada sahabat lamanya dan menikah kembali. Mana pernah disangka kalau ternyata suami baru sang mama ternyata sudah memiliki istri dan anak. Jadilah sejak itu Sally dan mamanya harus melebarkan hati menerima segala cemoohan dari istri pertama dan anak dari Raka, suami kedua Carol. Disinilah awal ketidak adilan hidup Sally yang harus ia jalani sampai di usianya sekarang. Yang bisa dilakukan Sally selama ini selalu mengalah dan menelan kelakuan buruk dari ibu tiri dan kakak tirinya. Carol sang mama hanya berkata kalau ini sudah jadi takdir mereka. Tapi tidak dalam nalar Sally, baginya semua hal yang terjadi dalam hidup mereka bisa diubah asalkan memiliki keinginan kuat untuk merubah nasib mereka. Saat ini Sally sedang duduk dengan pacarnya bernama Viko. Bagi Viko, Sally adalah kekasihnya meskipun gadis itu tidak menjanjikan bahwa hatinya dapat mencintai Viko. Sally sendiri menerima mencoba membuka hati pada Viko karena pria ini yang selalu menemaninya melewati trauma di masa lalu yang hampir saja merengut kesuciannya. Sayangnya Dania sang kakak tiri juga mencintai Viko yang adalah teman kuliahnya dulu. Disatu sisi, Sally merasa senang bisa lepas dari rajukan Viko tapi disisi lain dia akan kehilangan Viko yang selalu menemaninya pergi hanya karena takut bertemu dengan seseorang yang ditakutinya sampai sekarang. “Maafkan aku, Sal. Aku terpaksa mengikuti keinginan Papa dijodohkan dengan Dania.” Ucap Viko mendesah sedih harus mengungkap kenyataan yang harus diterimanya. “Aku sudah menduganya kok.” Viko terperanjat menatap Sally bingung. “Sal..” “Kak Dania memang selalu mengatakan kalau kamu itu miliknya sejak kamu datang ke rumah. Untung saja aku belum jatuh cinta sama kamu yah, Vik.” Ucap Sally memperlihatkan senyumnya. “Tapi aku ngak cinta Dania, Sal. Aku maunya kamu yang jadi istriku.” Tiba-tiba Viko menggenggam tangan Sally dengan erat memandangnya berharap Sally mau menuruti ide yang menurutnya sebagai jalan keluar. “Kita kawin lari saja, yuk. Aku yakin kamu pasti akan mencintaiku setelah menikah denganku, Sal.” Sally menarik tangannya lepas dari genggaman Viko menatapnya kesal sendiri. “Aku belum senekat itu untuk menghancurkan keluargaku sendiri, Vik. Kalau memang garis hidup kalian berjodoh, mau sekuat apapun berusaha pasti akhirnya tetap bersatu. Dan soal rasa, kamu tahu sendiri sejak dulu aku tidak pernah menjanjikan apapun sama kamu.” “Jadi kamu rela kalau aku menikah sama Dania?” Ucap Viko merasa kecewa Sally tidak mempertahankannya. Viko Adiratama. Pemuda 28 tahun yang sudah dua tahun ini selalu melindungiku. Viko mengenal Sallu sejak gadis itu masuk kuliah dan sempat menolongnya melewati rasa trauma yang dulu pernah menimpa Sally. Penerimaan Sally pada Viko semata karena rasa balas budi, bukan karena cinta. Itu sebabnya ia tidak merasa sakit hati sedikitpun saat mendengar berita pertunangan Viko dengan kakak tirinya. “Kalau kamu berharap aku akan mempertahankanmu, kamu salah, Vik. Seharusnya dari awal kamu juga tahu kalau aku hanya menganggapmu sahabat, tidak lebih sebagai seorang kakak saja. Lagipula, mama mu juga pernah mendatangiku dan menyuruhku untuk menjauhimu. Aku tidak mungkin bisa menikah sama kamu kalau harus membuatmu bertengkar dengan mama mu sendiri. Kamu tidak akan pernah tahu rasanya terasing dari keluargamu. Sungguh tidak enak.” “Maaf.” Hanya itu yang bisa Viko katakan sambil mengusap wajahnya frustasi terlihat begitu putus asa. “Padahal kalau kamu bersedia, aku pun ikhlas meninggalkan keluargaku berikut fasilitas dari mereka. Aku benar-benar cinta sama kamu, Sal.” Sally tersenyum getir. “Jangan pernah melepaskan sesuatu yang nantinya akan kamu sesali, Vik. Menikahlah dengan Kak Dania, aku ikhlas.” “Tapi aku yang ngak ikhlas, Sal! Kamu kok kayak ngak ngerti perasaanku sama sekali!” Sally mendengus kasar, lihat saja bahkan Viko mulai bertingkah seperti kakak tirinya yang selalu mencari celah untuk membuatnya merasa bersalah. Sally mengalah pada Dania semata-mata karena tidak ingin sang mama menjadi korban amarah ibu tiri dan anaknya. Meskipun Raka sang papa lebih menyayangi Sally dan mama nya sampai sekarang, namun dengan keadaannya sekarang Raka hanya bisa pasrah diam menatap istri kesayangannya jadi bulan-bulanan Briana sang istri tua. Viko menggenggam tangan Sally, berusaha membujuknya kembali agar mau menuruti keinginannya. “Sal, aku cinta kamu dan mau berkorban meskipun seumur hidup kamu tidak mencintaiku pun aku rela. Asalkan kamu mau nikah sama aku.” “Maaf, Vik. Kalau kamu hanya memikirkan perasaanmu saja, maka aku harus memikirkan perasaan mama ku dan juga keselamatan papa ku. Jangan paksakan yang tidak mungkin terjadi. Menikahlah dengan Kak Dania.” Genggaman tangan Viko terlepas sambil menatap kecewa pada Sally. “Kalau memang aku tidak bisa meruntuhkan kerasnya hatimu, kita sudahi saja hubungan ini. Sejak awal kamu hanya memanfaatkan kebaikanku karena aku yang terus mendekatimu.” Rasanya Sally sudah cukup jengah berada di restoran berhadapan dengan Viko. Perlahan, sifat asli Viko mulai terlihat. Rasa kecewanya pada Sally justru ia luapkan dengan terus menghujam Sally dengan perkataan menuduhnya. “Anggaplah aku memanfaatkan kebaikanmu dan menyesal sudah mengenalmu. Lagipula tadi aku sudah meminta maaf juga kan. Anggap saja aku munafik supaya kamu bisa ikhlas menikah sama Dania nanti.” Ucap Sally datar dan dingin menantang ajakan Viko. Tidak terima mendengar penuturan Sally, Viko bangun dari tempat duduknya dalam kemarahan yang terlihat dari kepalan tangannya dan meninggalkan Sally sendirian di sana. Sally menghirup banyak oksigen masuk dan menghelanya kasar. Dirinya tidak sakit hati dengan sikap Viko barusan. Hidupnya sejak kecil sudah sulit, orang yang lahir dengan keistimewaan sebagai pewaris seperti Viko tidak akan bisa mengerti bagaimana jadi seorang Sally. Bukan hanya dirinya saja yang harus dipikirkan, ada mama ditambah lagi sekarang dengan papa nya yang harus ia pikirkan dalam setiap tindakan yang diambilnya. “Maaf, Vik. Memang lebih baik seperti ini karena kamu tidak akan pernah bisa berada di posisiku. Kamu tidak pernah merasakan keputusasaan di tengah kubangan serigala namun tidak bisa pergi dari sana.” Kemudian Sally pun beranjak dan kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaannya. Hanya pekerjaan yang mampu membuatnya melupakan rumitnya kehidupan yang ia jalani saat ini supaya akal sehatnya tidak melenceng dan memilih jadi orang gila atau bahkan bunuh diri. Di dunia ini hanya ada empat orang yang saat ini mampu memberinya kekuatan untuk bertahan, mamanya, Ceri sang sahabat, Sion anak didiknya saat kuliah dulu juga Sean. Berharap pria idamannya itu muncul satu hari nanti dan mau meluruskan kembali kesalahpahaman yang dulu pernah terjadi sampai membuat mereka berdua putus. Menjelang waktu pulang kerja, Sally melihat notifikasi pesan di ponselnya. Salah satunya dari sang mama. “Sal, nanti kamu langsung pulang yah. Briana bilang kamu harus sudah ada di rumah sebelum jam enam.” Bahu Sally naik turun mendengus kasar. ‘Ada apa lagi, Tante Bri mau ngapain lagi sih.’ Tidak ingin membuat sang mama dalam masalah, Sally bergegas pulang ke rumah. Saking takutnya, Sally memutuskan pulang dengan taksi daripada angkot. Keputusannya memang tepat, 5 menit lagi Sally hampir saja terlambat. Baru saja kakinya menginjak masuk lantai rumah, suara Briana sudah menggelegar. “Dasar anak jallang! Sudah dibilang sebelum jam 6 malah jam segini baru sampai! Duduk kamu!” Seru Briana menggebu-gebu. Sally yang sudah terbiasa mendengar ocehan Briana itu hanya diam tidak protes ataupun berusaha menjelaskan. Lebih baik diam daripada bicara meskipun benar. Itulah yang dipelajari Sally dengan kelakuan mama tiri nya itu. Lihat saja belum juga pukul enam tapi dirinya sudah dimaki-maki seakan-akan sudah menunggu lebih dari satu jam. Memang niat Briana ingin memakinya saja. Sally duduk bersebelahan dengan Carol, menemani Raka yang duduk di kursi roda. Melihat raut wajah kedua orang tuanya kening Sally mengerut. Carol menatap Sally seperti mengiba, mata sang mama nampak mengembun menahan tangis. Begitu juga dengan papa nya, membuatnya bertanya-tanya ada masalah apa lagi kali ini. “Ada apa, Tan? Apa ini soal pertunangan Kak Dania sama Kak Viko?” Mendengar pertanyaan Sally, tatapan Briana semakin menusuk membuat Sally meringis meskipun masih tidak tahu apa salahnya. “Kamu sudah berhasil membujuk Viko kan! Aku tidak mau Dania seperti gadis murahann saja yang harus memohon ke Viko karena kehadiranmu. Minggu depan, kamu dan mama mu tidak perlu hadir di sini. Kalian aku bebaskan keluar sehari, menghilanglah dan kembali sore nanti. Awas kalau sampai kalian mengadu yang tidak-tidak pada keluarga yang lain!” Ancam Briana menatap nyalang ke arah Sally, Carol bahkan suaminya sendiri. “Viko mau menerima Dania kok, Tan.” Jawab Sally. “Bagus! Kamu tahu kan kalau aku sampai marah seperti apa!” Sally hanya mengangguk diam. Sejak Raka terserang struk dan lumpuh, Briana yang menggantikan posisi suaminya. Sejak saat itu keangkuhannya semakin menjadi dan semakin berkuasa di rumah ini. Tentu saja Sally dan Carol semakin menderita karena sejak bekerja, Briana sama sekali tidak mengeluarkan sepeserpun uang untuk mengobati Raka. “Iyah, Tante.” “Bagus. Aku menyuruhmu pulang cepat karena tadi sore, kita baru menerima tamu kehormatan. Seorang konglomerat pemilik beberapa perusahaan besar. Katanya dulu kakek kalian saling menjodohkan cucu masing-masing jika memang sepasang. Sayangnya, cucu dari pihak mereka itu terkenal kejam dan mudah emosian.” Sally masih diam mencoba mencerna maksud dari ucapan Briana. Mengapa menceritakan perihal ini kepadanya. “Tapi karena putriku sudah punya pilihan lain yaitu Viko. Jadi aku menawarkan kamu yang menjadi calon istri keluarga mereka. Aku rasa dengan latihan yang sering kuberikan, kamu pasti bisa menghadapi suami seperti itu bukan?” Tutur Briana menyeringai menyebalkan. Sedangkan bola mata Sally membola saat mendengar ucapan Briana. “Mak-maksud Tante, aku dinikahin sama anak pengusaha itu?” “Yah, baik kan aku. Setelah nikah, kamu bawa mama dan papa mu ke rumah baru suamimu di sana. Bebanku terangkat dengan kamu menikah nanti. Tidak harus melihat muka kalian lagi di rumah ini.” “Tapi, Tante bilang kalau orang itu mudah emosian. Aku ngak mung…” Belum selesai Sally meneruskan, pipinya sudah merasa perih karena tamparan cepat dari Briana. “Aku tidak meminta persetujuanmu! Kamu mau atau ngak, aku tidak peduli. Pokoknya kamu harus menikah sama anak mereka, titik! Kalau kamu menolak, papa kamu akan aku buat sengsara sampai masuk rumah sakit. Kamu tahu kan biaya rumah sakit itu tidak kecil!” Seru Briana tertawa lantang. Kalau saja tidak memikirkan mama dan papa-nya, Sally ingin meludah wajah wanita paru baya itu dan mencakarnya sampai tidak berbentuk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN