Setibanya di lantai dua puluh, Emily dan Reymod keluar dari lift. Emily mengigit bibir bawahnya, dia begitu gugup berdua dengan Reymond saat ini. Apalagi status mereka saat ini adalah suami-istri dan parahnya mereka sedang berjalan menuju kamar hotel mewah yang telah di persiapkan oleh Reymond.
Sekali-kali Emily memberanikan diri memandangi Reymond yang berjalan di sampingnya. Ketika tiba di depan kamar hotel mereka, Reymond mengambil kunci kamar yang berbentuk kartu elektronik, kemudian dia menempelkan kartu itu di knop pintu dan pintu kamar terbuka. Reymond mempersilahkan Emily untuk memasuki kamar hotel itu terlebih dahulu. Setelah Emily masuk, Reymond mengekor dibelakang Emily. Reymond tidak melepaskan pandangannya dari tubuh Emily.
Emily memandang takjub kamar hotel ini, sepasang matanya melebar saat melihat tempat tidur berukuran besar di hiasi oleh kelopak bunga mawar dan di sudut ruang kamar ini Emily juga menemukan tiga koper berukuran besar. Di meja, Emily juga melihat beberapa potong pakaian wanita dan pria.
“Aku sudah mempersiapkan segalanya, jadi kau tidak perlu khawatir...,” kata Reymond memecahkan keheningan yang terjadi. Dia melewati Emily sambil membuka jasnya, lalu dia meletakan jasnya di sofa. Dan kemudian dia membuka kemeja putih yang membaluti tubuh kekarnya.
Emily berdehem sasaat, wajahnya tertunduk ketika melihat Reymond tanpa malu membuka kemeja dihadapannya. Tidak lama Reymond menghampirinya dan merengkuh wajahnya membuatnya menatap Reymond. Jantungnya berdebar kencang ketika tatapannya bertemu dengan Reymond.
“Kita masih punya waktu dua jam lagi sebelum kita pergi ke Paris...,” kata Reymond dingin.
Napas Emily tercekat ketika wajah Reymond semakin dekat. Reymond menatap Emily begitu dalam, jemarinya menghusap pinggir bibir Emily membuat wajah Emily merona.
“Kau begitu cantik,” puji Reymond dengan senyuman tipis, “aku sudah lama mengagumimu....,” ucapnya berbisik.
Emily hanya menatap Reymond tanpa mengatakan apapun. Sungguh dia tidak tahan ketika Reymond menatapnya seperti sekarang. Sepasang mata elang berwarna abu-abu itu telah membuatnya tersihir.
Tidak lama Emily merasakan bibirnya basah. Reymond tengah menciumnya sekarang, Reymond menciumnya begitu panas. Emily yang terbawa perasaan membalas ciuman Reymond. Dia melingkarkan kedua tangannya di leher Reymond dengan kaki berjinjit.
Reymond terus mencium bibir Emily, sejak pertama kali mencium bibir Emily dia tidak pernah bisa berhenti memikirkan Emily. Baginya Emily adalah candu untuknya. Sekarang Emily adalah miliknya, dia bebas melakukan apapun kepada Emily. Apalagi saat ini tidak ada penolakan dari Emily. Kemudian Reymond melepaskan ciumannya dan mendorong tubuh Emily ke atas tempat tidur.
Napas Emily semakin tidak teratur ketika Reymond merangkak di atasnya, tubuh berotot dengan enam kotak diperut Reymond sangat menggoda, dia tidak bisa melepaskan pandangannya dari sana. Reymond terlihat sangat menggairahkan baginya.
Emily memejamkan kedua matanya ketika merasakan napas hangat Reymond di leher jenjangnya. Kedua tangan Reymond sedang berusaha membuka gaun yang masih membaluti tubuh Emily. Tidak lama erangan Emily terdengar melenguh ketika Reymond mencium lehernya.
“Rey...,” erang Emily.
“Yah...,” balas Reymond, suaranya terdengar serak, dia sedang menahan dirinya yang ingin segera meledak.
Saat Reymond ingin mencium bibir Emily kembali, tiba-tiba ponselnya berdering membuat mereka terkejut. Reymond langsung bangkit dari atas Emily dan mengambil ponselnya yang berada di saku belakang celananya. Keningnya berkerut memandangi layar ponselnya, tanpa berpikir panjang dia mengangkat panggilan telepon itu.
Emily hanya menatap Reymond dengan kening berkerut.
“Yah Bel? Apa kau baik-baik saja?” tanya Reymond kepada suara disebrang sana, wajahnya terlihat cemas. Kemudian dia berjalan menjauh dari Emily, “syukurlah jika kau baik-baik saja...,” ucapnya bernapas lega.
Emily bangkit dari tidurnya dan duduk di pinggir tempat tidur sambil membuka ikat rambutnya. Dia tidak mengalihkan pandangannya dari Reymond sedikitpun, dia sangat penasaran dengan siapa Reymond berbicara sekarang. Tidak lama tawa Reymond terdengar.
“Yah aku akan segera menemuimu, aku juga merindukanmu....,” kata Reymond dan mematikan sambungan teleponnya. Lalu dia berbalik memandangi Emily kembali, “istriku menelpon...,” katanya kepada Emily.
Emily mengangguk, “mengapa dia tidak datang ke pernikahan kita?” tanyanya hati-hati, dia memberanikan dirinya untuk bertanya hal itu.
Reymond tersenyum, “istriku sedang hamil, dia tidak boleh terlalu lelah...,” jawabnya.
“Kapan kau akan mengenalkanku kepada istrimu?” tanya Emily lagi.
“Itu masih terlalu jauh untuk di bahas...,” kata Reymond santai dan berjalan menghampiri Emily, “bagaimana jika kita teruskan sesuatu yang tertunda tadi?” tanyanya memandangi Emily penuh harap.
Emily bangkit berdiri dan berjalan menjauh dari Reymond. Kemudian dia mengambil pakaian wanita di atas meja dan berjalan menuju kamar mandi.
Reymond menaikan satu alisnya dengan tawa renyah, “Em, kau mengabaikanku?!” tanyanya berteriak dan berjalan menuju kamar mandi untuk bergabung dengan Emily, tetapi sial pintu kamar mandi di kunci oleh Emily dari dalam, “Em, kau tidak boleh mengabaikanku! Aku suamimu sekarang dan aku sedang ingin!” katanya.
Emily menghembuskan napasnya kesal mendengar perkataan Reymond. Bisa-bisanya pria itu mengatakan hal seperti itu di saat suasana diantara mereka agak tegang setelah istrinya menghubunginya tadi.
“Oh Tuhan Rey! Berhentilah berteriak seperti anak kecil!” teriak Emily kesal setengah mati, Reymond terus berteriak di luar sana, “jika kau sedang ingin, pergilah ke istri pertamamu! Aku tidak bisa melakukannya denganmu!” serunya marah. Entah apa yang terjadi dengannya, hatinya terasa sakit ketika istri pertama Reymond menghubungi. Baru saja menyandang istri Reymond hatinya sudah mulai terasa sakit.
“Damn it!” umpat Reymond, “aku menginginkamu Emily! Tolong jangan merusak hari pertama pernikahan kita! Ini adalah hal yang pertama untukku dan aku ingin---“ ucapnya terputus, Bella menghubunginya di waktu yang tidak tepat dan membuat situasi ini menjadi buruk, “baiklah aku akan menunggumu di lobby hotel...,” katanya akhirnya, dia sedang mencoba menahan amarahnya.
Ini adalah hari pernikahannnya dan Reymond tidak ingin merusak hari pernikahannya. Dia ingin hari pernikahannya dengan Emily berkesan indah, bukan berakhir dengan pertengkaran. Tetapi di hari pertama pernikahan mereka, mereka bertengkar.
Emily hanya terdiam memandangi dirinya di cermin, sepasang matanya mengembang. Baru saja menikah dengan Reymond dan menyandang sebagai istri Reymond, mereka sudah bertengkar. Seharusnya dia tidak marah ketika istri Reymond menghubungi, seharusnya dia sadar diri, dia hanya istri kedua untuk Reymond. Dan sebelum mereka menikah, baik dirinya dan juga Reymond telah menandatangani surat perjanjian yang telah Reymond buat. Dia akan mencoba meminta maaf kepada Reymond nanti.
***