Saat ini Reymond dan Emily berada di sebuah restoran. Emily hanya memandangi Reymond yang tengah melahap sarapan paginya. Emily hanya memakan sepotong roti croissant, perutnya terasa lapar, tetapi entah mengapa dia sangat malas mengunyah makan. Apalagi setelah membaca surat perjanjian pernikahan yang dibuat oleh Reymond membuat suasana hatinya semakin buruk. Dia tidak percaya Reymond akan membuat surat perjanjian pernikahan.
Emily memandang lekat-lekat wajah Reymond, penampilan Reymond saat ini jauh 1800 dari kecil dulu. Reymond tumbuh menjadi pria tampan dengan tubuh proporsional, belum lagi dia adalah pengusaha sukses. Jujur saja Emily sangat iri dengan perubahan dan keberhasilan yang Reymond dapatkan.
Selain itu, semenjak mereka tiba di restoran ini, Reymond menjadi pusat perhatian. Terutama para wanita, mereka begitu terpesona dengan Reymond. Reymond, pria itu bisa mendapatkan wanita yang dia inginkan dan Emily juga sangat yakin banyak wanita yang ingin menjadi istrinya, tidak peduli walaupun menjadi istri kedua, ketiga atau keempat. Tidak ada satupun wanita yang bisa menolak pesona yang dimiliki oleh Reymond, termasuk dirinya.
“Kau yakin tidak ingin pesan apa pun lagi?” tanya Reymond menatap Emily.
Emily menggeleng dengan senyuman tipis, “Rey,”
“Yah,”
“Aku masih penasaran dengan surat perjanjian yang kau buat, aku tidak habis pikir denganmu, mengapa kau begitu percaya diri sekali membuat surat perjanjian itu? Isi surat perjanjian itu seakan menyudutkanku,” kata Emily akhirnya.
Reymond membersihkan pinggir mulutnya dengan serbet, lalu menyesap gelas yang berisi air mineral, tidak lama dia memandangi Emily yang sedang menatapnya dengan kening berkerut, “aku kan sudah mengatakan padamu tentang alasanku membuat surat perjanjian pernikahan itu, yah aku hanya tidak ingin setelah kita menikah, kau tidak terlalu banyak berharap padaku. Yah misalnya cinta? Aku tidak bisa memberinya untukmu, karena cintaku hanya untuk istriku…,” katanya dengan senyuman.
Emily menggeleng gusar mendengarnya, “jika kau mencintai istrimu kau tidak perlu menikah lagi!”
“Tentu saja perlu,” kata Reymond dengan tangan melipat menatap Emily.
“Aku benar-benar tidak mengerti denganmu Rey!”
“Aku tidak meminta kau untuk mengerti,” sahut Reymond kemudian dengan senyuman mengulum.
Emily memajukan wajahnya, “dengar Rey, aku tidak peduli dengan surat perjanjian yang kau buat, aku hanya peduli dengan kondisi yang sedang dihadapi oleh ayahku saat ini. Dan kau tidak perlu merisaukan segala sesuatu yang terjadi kedepannya setelah kita menikah, karena kita menikah bukan atas dasar saling mencintai…, aku juga tidak akan mengusikmu dan istrimu…,”
Reymond mengulum senyumnya mendengar semua perkataan Emily, dia menatap Emily begitu lama, “baguslah jika begitu!” katanya akhirnya, lalu dia melihat jam ditangannya, “baiklah, aku harus kembali ke kantor…, kau mau ku antar?” tanyanya.
Emily menggeleng, “tidak usah repot-repot,” tolaknya bangkit dari kursinya, kemudian dia mengambil tas berukuran kecil miliknya dan mengapitnya. Dia melewati Reymond begitu saja tanpa berpamitan kepada pria itu.
“Emily!” panggil Reymond membuat Emily menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Reymond.
Reymond menghampiri Emily, setelah berada di hadapan wanita itu dia menatap Emily dengan senyuman. Lalu tangan kanannya merengkuh wajah Emily dan ibu jarinya menghusap lembut pipi Emily, “hati-hati…,” katanya dan berlalu dari hadapan Emily.
Emily hanya terdiam memandangi Reymond, wajahnya terlihat merona sekarang, jantungnya berdebar kencang diperlakukan seperti itu oleh Reymond. Sedetik kemudian dia berdecak kesal, “Reymond sialan! Diperlakukan seperti ini aku bisa baper selama seminggu!” keluhnya. Lalu dia keluar dari restoran dengan senyuman bahagia sambil memegang pipinya yang disentuh oleh Reymond.
***
Dua jam kemudian…,
“Kau serius Em, menyetujui permintaan Reymond untuk menikah denganmu?” tanya Dion seakan tidak percaya.
Emily mengangguk, dia tengah memandangi langit siang yang terik dari balik jendela ruangan kerjanya. Jemarinya memainkan bandul kalung yang melingkari leher jenjangnya. Dia menghubungi Dion dan Febby untuk datang ke kantornya dan menemani harinya yang agak sedikit buruk. Namun, hanya Dion yang datang, Febby sedang sibuk dengan pesanan kuenya. Sejak Reymond mengambil alih toko kue milik Febby, toko kue itu tidak pernah sepi dengan pesanan pelanggan.
“Aku sangat yakin dia hanya ingin mempermainkanmu, dia hanya ingin membalaskan dendamnya kepadamu…, kau lihat kan apa yang dia lakukan kepadaku dan juga pada Febby?” seru Dion menatap Emily dengan wajah marah.
Emily menghela napasnya, “aku tidak ada pilihan lain, aku harus menikah dengannya untuk menyelamatkan perusahaan ayahku…,”
Dion berdecak, “tapi kau tidak harus menikah dengannya, apalagi dia sudah mempunyai istri Em…,”
“Yah aku tahu…,” balas Emily tertunduk sedih. Permasalahan yang tengah dihadapinya saat ini sungguh rumit.
Dion berjalan menghampiri Emily, kemudian menarik pelan bahu Emily dan memeluk sahabatnya itu, “maaf aku tidak bisa membantumu banyak…, perusahaan keluargaku juga berada di ujung tanduk saat ini. Dan semenjak Reymond menawarkan kerjasama dengan perusahaan keluargaku, puji Tuhan perusahaanku mengalami sedikit kemajuan…,” katanya, “aku akan mendukungmu, jika itu yang terbaik…,”
“Terimakasih Dion…,” kata Emily membalas pelukan Dion.
Dion tersenyum tipis, “bagaimana jika siang ini kita makan es krim?” usulnya.
Emily mengangguk, “ide yang bagus…,”
Lalu Dion dan Emily berjalan keluar ruangan sambil bergandengan tangan.
***
Dua minggu kemudian…
Hari ini adalah hari istimewa, Reymond beserta keluarga besarnya datang kerumah Emily untuk melamar Emily kepada ayah Emily. Tentu saja lamaran Reymond diterima oleh keluarga besar Emily. Mereka begitu bahagia dengan acara lamaran ini.
Tetapi tidak dengan Emily, dari luar dia terlihat sangat bahagia, tetapi dari dalam dia begitu luar biasa sedih dan tertekan. Dia harus menikah dengan pria yang tidak dicintainya, yah meskipun pria yang akan menikah dengannya adalah pria tampan dengan kekayaan yang dimiliki olehnya. Tetapi yang benar saja, dia harus menikah dengan pria yang pernah dia bully dulu?! Itu sangat memalukan!
Selain itu, hati Emily bertanya-tanya dimanakah istri Reymond sekarang? Ingin bertanya pada salah satu keluarga Reymond, tetapi dia urungkan niatnya itu. Dia tidak ingin merusak suasana bahagia yang sedang terjadi saat ini.
Seluruh keluarga Reymond hadir, bahkan nenek Reymond sekarang tengah duduk disampingnya, sejak bertemu dengannnya nenek Reymond selalu menggenggam tangan Emily. Dan itu membuat Emily heran setengah mati. Keluarga Reymond begitu ramah kepada Emily, apalagi kedua orangtua Reymond. Bahkan ibu Reymond sampai memberikan Emily sebuah cincin pernikahannya dulu kepada Emily.
Emily benar-benar tidak enak hati menerima cincin itu, dia sudah menolak pemberian ibu Reymond. Namun, ibu Reymond memaksanya. Hingga akhirnya dia menerimanya.
Suasana di rumah Emily terlihat ramai, Emily tersenyum bahagia melihat kondisi rumahnya begitu ramai. Emily sangat merindukan suasana rumah yang ramai seperti sekarang. Lalu dia melihat ayahnya yang sedang sibuk berbincang dengan ayah Reymond. Seandainya saja ibunya masih hidup, ibunya pasti akan bahagia dengan semua ini.
Sementara itu kedua sahabatnya Dion dan Febby sedang asyik berbincang seru dengan saudara Reymond yang kebetulan seumuran mereka. Reymond meminta Dion dan Febby dan juga beberapa sepupu Reymond menjadi bridesmaid di acara pernikahannya dengan Reymond nanti. Dion dan Febby mau tidak mau menerima permintaan Reymond sebelum Reymond mengancamnya kembali.
Ayah Reymond asli orang Belanda dan saudara Reymond jauh-jauh datang dari Belanda untuk menyaksikan acara lamaran ini. Emily sangat terharu mendengarnya.
Tetapi di lain sisi dia memikirkan istri Reymond, apakah hati istrinya tidak sakit sekarang melihat keluarga besar sang suami melamar wanita lain? Napas Emily berhembus kencang memikirkan hal itu.
Tidak lama tatapan Emily bertemu dengan sepasang mata elang milik Reymond. Pria itu duduk tidak jauh dari hadapannya, pria itu tersenyum kepadanya. Emily langsung membuang wajahnya kesembarang tempat.
Reymond menggeleng melihat tingkah Emily, jujur saja dia sudah tidak sabar untuk menikah dengan Emily. Lalu dia bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Emily, setelah berada dihadapan Emily, dia mengulurkan tangannya membuat Emily menatapnya heran.
“Ikut denganku,” kata Reymond, “ayolah,” serunya ketika Emily menggeleng.
Dengan hembusan napas kesal, Emily menerima uluran tangan Reymond. Kemudian Reymond membawa Emily ke taman belakang rumah Emily.
“Kau senang?” tanya Reymond.
“Menurutmu?” tanya Emily balik dengan wajah cemberut.
Reymond hanya tertawa mendengarnya, dia sangat tahu Emily tidak begitu senang dengan lamarannya saat ini. Lalu dia menatap langit sore yang terlihat cerah, napasnya berhembus kencang, kedua telapak tangannya dimasukan kedalam saku celananya. Kemudian dia memandangi Emily lagi, senyumnya mengembang tipis melihat Emily yang juga sedang memandangi langit.
“Em,” panggil Reymond membuat Emily menoleh, “sebentar lagi kau akan menjadi istriku, jadi persiapkanlah dirimu…,” katanya.
Emily tersenyum kecut, “aku rasa aku tidak perlu mempersiapkan diriku, pernikahan ini terjadi atas keinginanmu dan aku terpaksa menerima pinanganmu demi ayahku…,” ucapnya.
“Kau sudah mengatakan hal itu berulang kali, aku sangat tahu kau terpaksa menerimaku…, tetapi aku berterima kasih padamu karena sudah memenuhi keinginanku…,” kata Reymond, wajahnya terlihat sangat serius.
Dengan hembusan napas, Reymond mengambil kedua tangan Emily dan menggengamnya membuat Emily menatapnya dengan kening berkerut. Reymond menatap lama wajah Emily, kemudian jemari tangan kanannya menyentuh pipi Emily.
Jantung Emily berdebar kencang, wajahnya merona sekarang dengan perlakuan Reymond saat ini. Wajahnya dengan Reymond sekarang begitu dekat sehingga gurat-gurat halus diwajah Reymond terlihat jelas.
“Aku sudah tidak sabar untuk mempersuntingmu…,” bisik Reymond membuat Emily tersentak kaget mendengarnya.
Sedetik kemudian Emily merasakan bibirnya basah, Reymond mencium bibirnya begitu lembut. Emily membalas ciuman yang diberikan oleh Reymond dengan mata terpejam.
Reymond tersenyum tipis di sela ciumannya dengan Emily, dia senang Emily membalasnya. Dia semakin merengkuh wajah Emily. Tidak lama dia melepaskan ciumannya dengan napas teratur. Dia memandangi Emily dengan mata menyipit.
Sedangkan Emily hanya tertunduk malu, dia merutuki dirinya sendiri karena membalas ciuman yang diberikan oleh Reymond. Lalu dia mencoba beranikan diri memandangi wajah Reymond.
“Rey!!” panggil salah satu sepupu Reymond membuat mereka berdua terkejut, “ponselmu berbunyi!” katanya.
Reymond mengangguk, lalu dia meninggalkan Emily begitu saja. Dia tergesa-gesa masuk ke dalam rumah Emily.
Emily hanya menatap punggung besar Reymond, dia menduga istri Reymond pasti yang menghubungi ponsel pria itu. Memikirkan hal itu membuat hatinya sedikit sakit. Lalu dia kembali masuk kedalam rumahnya dengan lesuh. Reymond telah membuat hatinya tidak menentu. Setelah tiba di dalam rumahnya dia mencari sosok Reymond, dan benar saja Reymond sedang menerima panggilan telepon itu menjauh. Emily tertunduk dengan hembusan napas melihat Reymond tertawa renyah berbincang dengan istrinya disana.
Seharusnya Emily tidak mempunyai perasaan aneh seperti ini. Dia menerima pinangan Reymond demi ayahnya. Lagipula dia juga tidak memiliki perasaan apapun kepada Reymond dan sebaliknya.
“Hayo lho!” teriak Febby mengejutkan Emily dan membuyarkan lamunan Emily tentang Reymond, “cie yang bentar lagi nikah sama Reymond!” godanya dengan tawa.
Dion merangkul bahu Emily, “Reymond aka Emon si mata kuda, gendut dan cupu yang sering dibully Emily sebentar lagi akan resmi menjadi suami Emily Johnson dalam beberapa mingggu lagi!” timpalnya.
Emily mendengus sebal mendengarnya, hari itu Dion dan Febby tidak pernah berhenti menggodanya.
***