✉ 4 || Riga Nara Neonatha

1069 Kata
    Aku sudah tahu kalau akhirnya akan begini. Sedari tadi, para peserta MOS diminta menutup mata. Kami digiring ke suatu tempat. Sesuai tebakanku, kami dibawa ke area pemakaman tua.     Aku mulai bisa menebak kemana tujuan kami ini saat kami mulai memasuki pekarangan dengan daun-daun kering yang berisik ketika diinjak. Belum lagi beberapa kali kakiku tidak sengaja mengenai batu nisan. Lalu terkadang, aku bisa menghirup aroma bunga-bunga yang menusuk indra penciumanku. Benar-benar lokasi yang cocok untuk melatih mental.     Saat ini, kami masih berpencar untuk mencari botol yang telah panitia sembunyikan di seluruh penjuru kuburan tua ini. Tak sampai satu menit, aku sudah menemukan botol yang diminta kakak panitia.     Sebenarnya aku ingin langsung kembali ke pos, namun mataku tak sengaja mendapati seorang cewek yang kukenali sebagai cewek penabrakku. Dengan iseng, aku mengikutinya.     Ia terlihat sangat serius dengan pencariannya. Ia mengobrak-abrik semak-semak lalu beralih meneliti nisan-nisan. Rupanya, ia tidak seberuntung diriku yang dengan mudah menemukan botol ini.     Tapi cewek itu cukup berani. Tidak seperti cewek-cewek peserta MOS lainnya yang jalan menggerombol, cewek itu berjalan sendirian. Ia juga tidak ragu untuk mengecek nisan-nisan yang mulai hancur karena digerus waktu.     Aku memilih terus mengikutinya. Aku memang punya rasa penasaran yang tinggi terhadap suatu hal.     Jujur saja, aku merasa heran dengan cewek itu. Apakah sedari tadi dia tidak menyadari keberadaanku?     Saat aku mencoba menepuk bahunya, dia menjerit. s**l, bisa-bisa kami dimarahi kakak panitia!     Tepat seperti dugaanku, kakak panitia tampak tergopoh-gopoh datang menemui cewek itu. Setelah memberi peringatan pada cewek penabrakku, kakak panitia itu menyeret cewek penabrakku hingga berdiri.     Cewek itu bilang, aku ini hantu. Sontak saja aku tertawa. Dasar b**o, zaman sekarang masih saja percaya yang namanya hantu!     Setelah diberi pencerahan oleh kakak panitia—bahwa aku ini bukan hantu—dengan takut-takut cewek itu memperhatikanku. Ia tampak bernapas lega saat pandangannya jatuh pada kakiku. Mungkin karena kakiku menapak di tanah, dia percaya bahwa aku ini manusia. Dasar cewek aneh!     Aku sempat takjub saat cewek itu tak menggubrisku sama sekali. Apa dia lupa dengan pertemuan kami tadi pagi? Dia hanya mengangguk singkat pada kakak panitia lalu berlalu pergi.      Oke, akan kuberi dia pelajaran. Aku mengikuti dengan langkah berisik. Sengaja kuinjak daun-daunan kering agar menghasilkan bunyi gemerisik. Tapi dia masih tetap tak peduli.     Pada akhirnya, cewek itu menemukan apa yang ia cari. Berhubung dia masih sibuk melepaskan ikatan tali yang menjerat pohon itu, aku menggunakan kesempatan yang ada untuk kabur. Perlahan-lahan, aku berjalan menjauhi cewek itu. Syukurlah saat cewek itu berbalik, aku sudah menghilang dari hadapannya.     Cewek itu terlihat pucat. Pasti dia mengira yang tidak-tidak soal hilangnya diriku. Aku tersenyum puas.     Cewek itu berlari-lari kecil di antara nisan-nisan dan kembali ke pos panitia. Begitu cewek itu pergi dari pos, aku segera keluar dari persembunyianku dan bergabung dengan cowok-cowok peserta MOS yang sudah berhasil menemukan botol.     Tak berselang lama, aku dan beberapa peserta MOS disuruh berjalan kembali ke sekolah tanpa pendampingan kakak panitia. Aku yakin banget kalau tidak banyak teman-temanku yang tahu arah kembali ke sekolah.     Aku memilih memimpin jalan. Jangan sampai kami tersesat dan kesorean sampai sekolah. Ingat kan, aku harus datang ke pertemuan pertama kandidat Raja dan Ratu Sekolah?     Kami sampai di sekolah tepat waktu. Sepuluh menit lagi upacara penutupan hari pertama MOS akan dilaksanakan. Aku menggunakan waktu sepuluh menitku untuk mendinginkan tubuh di bawah pohon. Badanku sudah berkeringat dan rasanya sungguh tidak nyaman.     Kalau bisa, aku ingin pulang ke rumah secepatnya. Tapi kan sore nanti aku masih punya urusan. Aku tidak boleh absen menghadiri pertemuan kandidat Raja dan Ratu Sekolah.     Oh ya, aku akan merahasiakan soal keikutsertaanku dalam pertemuan kandidat Raja dan Ratu sekolah dari orang tuaku. Aku yakin kalau mereka tahu, aku pasti tidak diizinkan untuk datang ke pertemuan itu.     Peluit terdengar menginterupsi lamunanku. Para peserta MOS yang tadinya berteduh di bawah pohon mulai berkumpul di tengah lapangan.     Tak sengaja, aku melihat seorang cewek berdiri agak terpisah dari panitia dan peserta MOS. Tapi kurasa dia adalah kakak panitia juga. Cewek itu menggunakan seragam OSIS dan jas almamater. Gayanya khas kakak panitia. Dia mengamati peserta MOS dengan serius. Wajahnya tampak berwibawa dan terkesan dingin serta kelewat judes.     Kakak panitia itu menoleh ke arahku. Mungkin karena terlalu lama kupandangi, dia jadi merasa tidak nyaman. Sebisa mungkin aku berlagak tidak pernah melihat ke arahnya. Saat beberapa anak menghalangi tubuhku, aku kembali melirik ke arah kakak panitia misterius itu. Hilang! Cewek itu sudah menghilang.     Oke, tenang. Pelan-pelan saja. Aku pasti bisa memastikan siapa cewek itu. Dan kuharap tebakanku benar. o0o     Upacara selesai. Aku segera mengambil tas di kelas dan mencari yang namanya ruang makan. Aneh, kenapa kami para kandidat harus berkumpul di ruang makan? Kenapa pula ada yang namanya ruang makan di sekolah ini?     Biasanya, di sekolah-sekolah hanya ada kantin atau koperasi. Jarang-jarang sekolah yang menyediakan ruang makan khusus.     Oke, aku sudah berjalan memutari sekolah dan belum menemukan yang namanya ruang makan. Aku berbelok ke kiri dan menyusuri lorong yang sepi. Nah, itu dia ruang makan. Aku mendekat ke ruangan itu. Masih sepi dan kosong. Rupanya aku adalah kandidat Raja dan Ratu pertama yang hadir di sini.     Sembari menunggu kandidat yang lain datang, aku mengeluarkan surat undangan yang tadi pagi kuremas hingga kusut dan nyaris sobek. Sejauh ini, aku masih bertemu dengan satu kandidat lainnya. Aku belum bisa menarik kesimpulan soal pemilihan kandidat ini.     Aku mendengar suara langkah mendekat. Salah satu kandidat kah?     Seorang cowok bertubuh atletis muncul dari balik tembok. Ia tampak celingukan mencari-cari. Persis sepertiku tadi.     Begitu melihatku, ia langsung mengangkat tangan seolah-olah kami pernah saling mengenal. Padahal aku yakin kalau ini adalah pertemuan pertama kami.     "Woi, Bro. Kandidat juga ya?" tanyanya sok akrab.     Aku tersenyum. "Yoi!"     Kami terdiam karena dia tampaknya sedang mengamati ruang makan yang kebetulan pintunya terbuka.     "Eh, nama lo siapa?" tanyanya lagi.     "Riga Nara Neonatha. Panggil aja Riga. Kalau lo?" Aku balik bertanya.     Cowok itu tampak berpikir sejenak. "Gue Andreas Biantara. Panggil gue Andre."     Aku mengangguk singkat. Kami terdiam lagi karena terdengar suara-suara kembali mendekat ke posisi kami. Lebih tepatnya, suara percakapan dua orang cewek.     Nah, itu dia cewek yang menabrakku tadi pagi. Cewek itu datang bersama seorang cewek dengan rambut panjang sepunggung yang diikat ekor kuda.     Andre menyapa keduanya dengan akrab. Yah, tetap saja dia terkesan sok kenal.     "Kalian berdua kandidat juga ya?" tanya Andreas dengan antusias.     "Iya. Salken, gue Meysa Ilona. Panggil aja Mey. Oh ya, dia Vienna Esterina Elara. Panggil aja Vien." Cewek berambut sepunggung itu memperkenalkan diri sekaligus memperkenalkan cewek penabrakku.     Andre mengulurkan tangan secara bergantian ke dua cewek itu, mengajak bersalaman. "Halo, Mey. Halo, Vien. Gue Andreas. Tapi panggil aja Andre, biar nggak kepanjangan."     "Gue Riga." Aku juga mengulurkan tangan dan disambut dengan antusias oleh Mey.     Saat aku berjabat tangan dengan Vienna, cewek itu tak bereaksi apapun. Apa dia tidak ingat aku? Sebenarnya cewek itu punya masalah apa sih dengan diriku? Dan anehnya, kenapa aku jadi uring-uringan sendiri! o0o
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN